Ayah

Oleh Siti Nur Choirun Nisa, S-1 Pendidikan Bahasa Jerman

Aku terduduk diam, dalam heningan pagi ini. Hembusan angin yang seakan menjadi saksi antara air mata yang berjatuhan di pipiku, ku mengingat kenangan indah dalam memori ingatanku. Memori yang seakan kembali terekam, air mata terus menetes karena tak sanggup menahan kesedihan yang begitu mendalam.

 

Seorang gadis kecil dan ayahnya yang sedang tertawa bersama menikmati hari itu dengan penuh tawa, kebahagiaan yang terukir indah jelas di sana canda, tawa, kebahagiaan yang terukir tak ada sedikitpun sebuah kesedihan yang terjadi. Gadis kecil yang begitu ia sayangi yang ia perhatikan, yang mungkin kini tak pernah lagi ia tengok atau pun bertanya bagaimana hatinya. Jelas, aku merindukan semua itu darimu ayah. Sayangnya, aku tak bisa berbuat apapun bagaimana pun juga kau akan tetap pada sikapmu, kau akan selalu bersikap seolah aku orang asing di matamu.

Aku ingat ketika kau mengatakan “Ceritalah sesukamu, jangan pernah bersedih karena ayah akan bersedih jika kau pun bersedih” ayah kau ingatkah itu? Kata-kata yang sering kali kau ucapkan padaku. Air mata yang dulu terjatuh dan kau orang pertama, yang akan selalu bertanya apa kesedihanku, apa lukaku, bagaimana hatiku, apa yang membuatku sedih dan sebagainya.

 

Angin yang semakin kencang menemaniku dalam kesepian dan lukaku. Tak adakah hasratmu untuk bertanya padaku bagaimana keadaan hatiku, bagaimana cerita hidupku.

 

Ayah kau tau? Kau memang tak membuat sedikitpun luka pada fisikku. Tapi kau membuat luka yang dalam pada hatiku yang tak pernah kau sadari.

 

Kau tahukah mengapa aku tak pernah berbicara sedikitpun ketika kau marah padaku? Ketika kau kecewa padaku? Aku hanya tak ingin kau tau bagaimana lukaku lalu aku memilih untuk diam dam membiarkan air mata yang menjawab segala halnya. Kau tahukah, itu sangat menyayat hatiku.

 

Ketika kemarin kau bertanya

“Apakah kau tidak ingin tinggal bersama ayah? Kenapa harus kuliah jauh-jauh?” pertanyaan yang membuat hatiku tertusuk, yang membuat air mata tak kunjung terhenti jatuh dari mataku. Ayah aku tau, banyak sekali kesalahan yang sering aku lakukan kepadamu hingga kadang rasa kecewa pun sering aku berikan untukmu. Ya aku akui aku banyak kesalahan padamu tapi aku tak sedikitpun berniat untuk membuatmu seperti itu. Mengertilah, kadang aku melakukan hal yang membuatmu sakit hanya karena aku ingin kau tau bagaimana sakitnya aku juga ketika kau lakukan hal hal itu kepadaku.

 

Bukan aku tak ingin tinggal padamu, aku pergi hanya untuk mengejar impian dan melanjutkan pendidikanku. Aku hanya ingin kau tau, bahwa aku tidak ingin sedikitpun merepotkanmu. Hanya saja, kau selalu memandang aku jahat dan kejam padamu. Jika aku, tak banyak bicara padamu itu karena sering kali aku kau abaikan. Jika aku sering kali menjadi pendiam itu karena kau tak pernah sedikitpun berbicara padaku.

 

Seringkali aku menyimpan kesedihanku,

Seringkali aku menyimpan luka hatiku,

Seringkali aku menyimpan dukaku,

Itu semata mata hanya ingin kau tau, bahwa aku akan selalu merasa bahagia meski tawa dan senyuman itu bohong. Paling tidak, aku bisa menyembunyikan semuanya dengan baik.

 

Ayah,

Tak banyak yang kuinginkan darimu..

Aku hanya ingin kau tau bahwa aku merindukan masa masa dimana ketika aku bisa menjadi anak gadismu yang selalu kau pedulikan. Bukan soal materi dan fasilitas bukan soal kebutuhan juga. Tapi ini soal kehidupan dan kasih sayang lebih yang selama ini kurang kudapati darimu.

 

Jika saja materi yang selalu kau beri bisa membuat aku bahagia aku mungkin akan selalu bahagia.

Tapi sayang, materi tak mampu membuat kebahagiaan yang utuh. Aku hanya butuh kesederhanaan yang lengkap, kasih sayang yang tiada batas, keluh kesah yang sering kau dengarkan, itu saja sudah cukup membuat kebahagiaan yang tiada hentinya.

 

Pesanku, inginku hanya satu,

Aku hanya ingin bersamamu walau hanya beberapa menit

Tetapi paling tidak, aku mempunyai waktu untuk bersamamu. Bersamamu berbagi cerita kehidupanku yang mulai menapak dewasa.

 

“Ayah, aku merindukanmu. Biarkan aku memilih jalanku”

Post Author: Arvendo Mahardika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *