Bahas Literasi Nusantara, Kolaborasikan Profesor UM dengan Doktor dari Singapura

Malang. Budaya literasi terus bekembang di sudut-sudut kampus Universitas Negeri Malang (UM). Kini ruang ruang-ruang literasi pun bisa dengan mudah ditemukan dan tidak melulu dilakukan di dalam kelas maupun gedung pertemuan. Seperti kegiatan literasi yang malam kemarin (25/9) dilakukan di Kafe Pustaka Perpustakaan UM ini. Dengan mengusung tema Literasi Kebudayaan dan Sastra Nusantara, Profesor dari UM dan Doktor dari Singapura pun dengan santai dan asyik memberikan kuliahnya.

Kedua tokoh pemateri itu yaitu Prof. Djoko Saryono Guru Besar Sastra Indonesia UM dan Dr. Azhar Ibrahim dari National University of Singapore (NUS). Dalam kegiatan ini Dr. Nanang Bustanul Fauzi Ketua Prodi Pendidikan Sastra Indonesia Universitas Brawijaya sebagai moderatornya. Prof. Djoko menerangkan bahwa Nusantara merupakan kawasan literat dan kawasan budaya. “Garis yang menyatukan kawasan Nusantara adalah bahasa, yakni Bahasa Melayu itu sendiri,” ungkapnya.

Terlebih menurutnya bahasa melayu tidak hanya bicara tentang Sumatra dan Semenanjung saja tetapi hingga Biak, Papua. Djoko menjelaskan di Nusantara sendiri pernah hidup 40 aksara, meskipun yang hidup sekatang hanya 5 sampai 8 saja dan kini mulai ada yang mencoba membangkitkannya di tengah-tengan masyarakat. “Sastra melayu Papua hidup di dunia digital seperti sastra anekdot-anekdot yang mereka buat,” ujar Djoko.

Djoko juga memaparkan pengalamannya dari perjalanannya mulai dari Indonesia Timur sampai Indonesia Barat. Dari situlah diketahui bahwa sastra hidup di kalangan masyarakat yang memang banyak yang belum diketahui oleh kalangan umum. Terlebih jika bicara Indonesia Timur pasti yang dikenal dan identik hanya dengan Sastra Lisannya. “Padahal di disana sastra tumbuh dan berkembang dengan baik tidak hanya Sastra Lisan saja,” papar guru besar yang baru menerbitkan buku berjudul Literasi ini.

Sehingga melihat kerjasama yang dilakukan UM dengan universitas di Thailand dan Malaysia merupakan wujud dari merajut kembali kesatuan yang dulu pernah ada sebagai Nusantara. Djoko berharap semoga Asean menjadi satu persatuan kebudayaan yang mewadahi kebudayaan-kebudayaan Nusantara. “Ini juga untuk kebaikan Sastra Indonesia karena Sastra Indonesia yang berkembang tidak pernah lepas dari akarnya, yakni Sastra Melayu,” tegasnya.

Sementara itu Dr. Azhar lebih memaparkan Sastra Nusantara yang berkembang di negaranya dan juga di Malaysia. Terlebih di Malaysia Sastra Melayu termasuk dalam Sastra Indonesia yang seperti dituliskan oleh para sastrawan Sumatra. Diantaranya seperti Hikayat Raja Pasai itu menjadi teks melayu paling tua disana. “Sastra Nusantara mencakup wilayah teritorial yang lebih luas. Sehingga harus ada pengetahuan mengenai kebudayaan untuk memahami Sastra Nusantara,” ungkap Azhar.

Nama                   : Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa : Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)

Alamat        : Desa Krecek, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri.

Post Author: Admin Berkarya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *