UM Memiliki Dua… (Bagian Ke-5)

UM MEMILIKI DUA PASUKAN KHUSUS

(Bagian Ke-5)

Untuk mengubah perilaku guru dari penyampai pengetahuan ke pembangkit belajar, perlu dilakukan upaya secara sistematis pelatihan terpadu dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas dan dilakukan terus menerus (ongoing) secara siklus (cycle), yakni merencanakan, melaksanakan, mengobservasi, refleksi, memperbaiki pembelajaran, dilanjutkan melaksanakan refleksi, memperbaiki pembelajaran lagi, dan seterusnya. Proses peningkatan profesionalisme guru pola cycle tersebut, dikenal dengan lesson study.

 

Adapun hubungan antara Pembelajaran Bermakna, Lesson Study dan TEQIP terpolakan seperti pada diagram berikut.

TEQIP_LS

TEQIP UM memiliki energi, kekuatan karya ilmiah dan revitalisasi pembelajaran bermakna, seperti pada masing-masing diagram berikut.

ENERGI_TEQIP

KEKUATAN_KARYA

REVITALISASI

Memang masih banyak informasi yang lain tentang kiprah TEQIP UM dalam melaksanakan misinya untuk meningkatkan mutu para guru di sekolah dari Sabang sampai Merauke, khususnya guru sekolah dasar (SD). Di lain waktu, penulis akan mencoba menuliskan kembali tentang TEQIP UM. Adapun pasukan khusus UM yang ke-2, yang bernama Alumni SM-3T UM sudah ditulis pada judul lain: “Mencari Guru Yang Sejati”.

Selesai.

Malang, 19 Oktober 2015

Djoko Rahardjo, Tenaga Kependidikan pada LP3 UM

UM Memiliki Dua… (Bagian Ke-4)




UM MEMILIKI DUA PASUKAN KHUSUS

(Bagian Ke-4)

Standardisasi TEQIP UM meliputi 1) Standardisasi Pakar/Expert dan 2) Standardisasi Pelaksanaan TOT dan lain-lain. Persiapan pelaksanaan kegiatan training of trainer (TOT) selalu diawali dengan Pelaksanaan Workshop Standardisasi Expert UM yang meliputi bidang studi matematika, ilmu pengetahuan alam (IPA), dan bahasa Indonesia.

Mulai tahun 2011 PT Pertamina (Persero) Pusat Jakarta, selaku penyandang dana menghendaki agar Universitas Negeri Malang (UM) bekerjama atau bermitra dengan perguruan tinggi yang ada di daerah tempat pelaksanaan ongoing dan diseminasi guru bagi Trainer TEQIP UM. Oleh sebab itu, setelah pelaksanaan Workshop Standardisasi Expert UM dilanjutkan dengan Workshop Standardisasi dengan Expert Perguruan Tinggi Mitra.

Pola Kemitraan UM dengan Expert Mitra Tahun 2015

Pelaksanaan TEQIP tahun 2015, UM bermitra dengan 5 (lima) perguruan tinggi, yakni (1) Universitas Negeri Padang (UNP), (2) Universitas Pattimura (Unpati), (3) Universitas Negeri Palangka Raya (Unpar), (4) Universitas Halouleo (UHO), dan (5) Universitas Negeri Papua (Unipa) seperti pada diagram di bawah ini.

POLA_PT_MITRA

Pola Kemitraan Kerjasama Dalam Kegiatan

REV_MITRA1

Pola Kemitraan Kerjasama Dalam Kegiatan Ongoing

mitra_1

Standardisasi Kegiatan TEQIP

STANDAR TEQIP

Adakah hubungan antara Pembelajaran Bermakna, Lesson Study dan TEQIP?

Bersambung…

UM Memiliki Dua… (Bagian Ke-3)

UM MEMILIKI DUA PASUKAN KHUSUS
(Bagian Ke-3)

Produk nyata TEQIP UM berupa 1) pemberdayaan trainer dan guru peserta diseminasi di masing-masing daerah dan 2) perangkat pembelajaran yang telah teruji kehandalannya. Selama tahun 2010 sampai tahun 2015 TEQIP UM telah menghasilkan produk nyata seperti berikut.

Sumberdaya Trainer dan Guru Peserta Diseminasi TEQIP UM

Kelompok Guru SD

Jumlah pengawas, trainer dan guru SD peserta diseminasi TEQIP di seluruh provinsi adalah 3.524 orang. Lihat rincian pada tabel berikut.

REKAP_SD

Kelompok Guru SMP

Jumlah pengawas, trainer dan guru SMP peserta diseminasi TEQIP di seluruh provinsi adalah 810 orang. Lihat rincian pada tabel berikut.

rev_tbl_smp

Perangkat Pembelajaran 

PRODUK

Adakah standardisasi TEQIP?

 

Bersambung…

 

UM Memiliki Dua Pasukan Khusus (Bagian Ke-2)

UM MEMILIKI DUA PASUKAN KHUSUS

(Bagian Ke-2)

Kelebihan Alumni TEQIP UM terhadap guru yang lain adalah bahwa para guru yang menjadi trainer TEQIP UM: 1) telah mengikuti seleksi yang ketat di masing-masing daerah dan 2) telah melaksanakan program pelatihan berkelanjutan selama kurang lebih satu tahun, dengan POLA IN-SERVICE TRAINING TEQIP seperti berikut.

POLA_900

Sekilas Tentang TEQIP

sekilas1

Persebaran TEQIP Tahun 2010–2013

pesebaran_teqip

Bagaimana dengan produk nyata TEQIP?

Bersambung…

Mereka yang Pulang dan yang Pergi

Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) sudah memasuki tahun kelima. Ada pengalaman yang menarik bagi perguruan tinggi penyelenggara program, termasuk Universitas Negeri Malang (UM). Berbicara tentang mereka yang pulang dan yang pergi bagi guru yang tergabung dalam SM-3T adalah hal yang penting untuk diketahui.

Jadwal penjemputan bagi Peserta Program SM-3T yang telah menyelesaikan tugas dimulai tanggal 10 Agustus 2015 sedangkan jadwal pengantaran keberangkatan bagi Peserta Program SM-3T dimulai tanggal 18 Agustus 2015.

Data Peserta SM-3T UM Tahun 2015, yang pulang dari tempat tugas adalah angkatan ke-4 (tahun 2014) dengan jumlah peserta 161 orang, dan peserta program yang pergi ke tempat tugas adalah angkatan ke-5 (tahun 2015)  dengan jumlah peserta 262 orang. Adapun jumlah peserta di masing-masing daerah seperti pada tabel berikut ini.

 

TB_ANYAR

Sejauh manakah pemerintah memperhatikan kwalitas mutu pendidikan di daerah 3T? Setelah menjalani tugas mengajar selama satu tahun di daerah 3T maka para guru yang melaksanakan Program SM-3T telah memperoleh pengalaman yang berharga untuk dijadikan bekal di kemudian hari. Mereka telah merasakan betapa berat melaksanakan tugas di daerah 3T. Dengan segala keterbatasan, mereka harus berjuang untuk mendidik siswanya dengan penuh kesabaran. Pengalaman mengajar di daerah 3T akan diungkapkan oleh masing-masing guru yang mewakili daerah tempat mengajar, dalam bentuk saran seperti berikut.

I. KAB. KEPULAUAN SITARO PROV. SULAWESI UTARA

Rani Dewi Astari, S.Pd, Jurusan Bimbingan Konseling bertugas di SD GMIST PNIEL Biau Kecamatan Siau Timur Selatan menyampaikan saran seperti berikut.

  1. Pemerataan sarana dan prasarana sekolah harus segera dilakukan, karena tanpa adanya itu kegiatan pembelajaran disekolah akan sulit berkembang.
  2. Keaktifan setiap guru dalam proses belajar mengajar harus ditingkatkan.
  3. Kedisiplinan waktu proses belajar mengajar baik siswa maupun guru harus diperhatikan.
  4. Penempatan tenaga pengajar baik guru yang sudah PNS maupun guru dari peserta Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal harus sesuai dengan lantar belakang pendidikan mereka.
  5. Setiap orang tua harus ikut mengawasi putra-putrinya pada saat proses belajar mengajar di sekolah selesai.
  6. Setiap orang tua harus mendorong putra putrinya untuk lebih giat dalam bersekolah dan belajar di rumah.
  7. Pemerintah harus mengatasi masalah kekurangan tenaga guru, sehingga guru mengajarkan materi sesuai dengan keahliannya agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik .
  8. Program SM-3T harus tetap berlanjut untuk periode yang mendatang, mengingat kurangnya tenaga pendidik yang kreatif dan berfikir maju di sekolah sasaran dalam mengembangkan potensi sekolah dan siswa yang dimilikinya.

II. KAB. KEPULAUAN TALAUD PROV. SULAWESI UTARA

Diana Rahmawati, S.Pd, Jurusan Pendidikan Matematika bertugas di SMP Negeri 3 Essang menyampaikan saran sebagai berikut.

  1. Kementrian Pendidikan Nasional Indonesia tetap mempertahankan terselenggaranya program SM3T karena banyak manfaat yang dapat diperoleh melalui program ini. Salah satunya karena dengan program ini, masyarakat di daerah 3T menyadari bahwa mereka pun mendapatkan perhatian dari pemerintah.
  2. LPTK sebagai penyelenggar mempersiapkan peserta secara lebih baik dengan melakukan prakondisi sesuai dengan medan yang akan didatangi.
  3. DIKPORA Kabupaten Kepulauan Talaud lebih memperhatikan peserta SM-3T dengan melibatkan peserta dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan dinas pendidikan. Penempatan peserta SM-3T harus dilakukan secara merata dan memerhatikan kesesuaian antara disiplin ilmu peserta dengan permintaan sekolah agar perbaikan mutu pendidikan di daerah ini dapat lebih maksimal.
  4. Kepada Pemerintah Daerah untuk memperlancar percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T, diperlukan infrastruktur yang memadai seperti jalan, listrik, air dan sarana komunikasi terutama untuk mempercepat tersampainya informasi.
  5. Guru SM-3T menjadi tolak ukur guru-guru yang berasal dari daerah te
    mpat pengabdian penulis karena proses KBM yang cenderung lebih kreatif

III. KAB. MANGGARAI PROV. NTT

Laily Anisa Nurhidayati, S.Pd, Jurusan Pendidikan Matematika, bertugas di SMAN 2 Satarmese-Langke Majok Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyampaikan saran sebagai berikut.

  1. Kepada Pemerintah Daerah
  2. Untuk memperlancar percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T, diperlukan infrastruktur yang memadai seperti air, transportasi umum, infastruktur sekolah, dan sarana komunikasi terutama untuk mempercepat tersampainya informasi.
  3. Program SM-3T lebih dikoordinasikan dengan instansi pemerintahan setempat yang terkait. Sehingga, semua instansi dapat maju bersama seiring hadirnya program SM-3T ini.
  4. Kepada Pemangku Kebijakan Program SM3T
  5. Terkait dengan program SM-3T, agar kiranya adanya koordinasi dengan pihak-pihak terkait lebih disosialisasikan lagi seperti Pemerintah Daerah, Dinas Pendidikan perguruan tinggi setempat maupun organisasi kemasyarakatan.
  6. Memperhatikan kembali pola rekruitmen peserta SM-3T, syarat-syarat maupun pendaftaran peserta SM-3T, lokasi program SM-3T serta kompetensi minimal yang harus dimiliki peserta SM-3T agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai dengan maksimal.

IV. KAB. PEGUNUNGAN BINTANG PROV. PAPUA

Nurlaili Erdiana P., S.Pd. Jurusan Pendidikan Teknik Elektro, bertugas SMP Negeri Aboy, Distrik Aboy, Kab. Pegunungan Bintang, menyampaikan saran sebagai berikut.

  1. Untuk tenaga pendidik di Distrik Aboy, guru-guru yang penempatan di sana seharusnya lebih banyak mempunyai rasa tanggung jawab yakni berada di tempat tugas atau setidaknya bergantian di daerah tugas untuk mengajar siswa-siswa sehingga kemajuan pendidikan dapat dirasakan nantinya.
  2. Untuk pemerintah daerah di Distrik Aboy, diharapkan para staf pegawai berada ditempat untuk bersama-sama dengan perserta SM-3T membangun daerah 3T yang nantinya dapat dirasakan kemajuannya di masa yang akan datang.
  3. Untuk Dinas Pendidikan Kab. Pegunungan Bintang, diharapkan dapat lebih mentertibkan para tenaga pendidik untuk berada di daerah penugasan serta bantuan infrastuktur sekolah
  4. Untuk pemangku kebijakan SM-3T, lebih banyak berkordinasi dengan Dinas Pendidikan Kab. Pegunungan Bintang untuk lebih memilih dan memilah daerah yang tepat untuk penempatan peserta SM-3T. Sehingga kemajuan di daerah 3T dapat dilaksanakan bersama-sama dengan pihak-pihak yang lainnya.

V. KAB. SORONG SELATAN PROV. PAPUA BARAT

Yudis Ade Priyono Harto, S.Pd, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, bertugas di SMK Negeri Inanwatan Kab. Sorong Selatan, menyampaikan saran sebagai berikut.

  1. Pihak SMK Negeri Inanwatan
    1. Perlu adanya kesinambungan antara wali murid dengan pihak sekolah, sehingga setiap kebijakan yang diterapkan tidak menjadi pertentangan antara pihak sekolah dan wali murid
    2. Perlu pengadaan sarana dan prasarana yang memadai, khususnya alat maupun bahan-bahan praktikum Fisika, kimia, dan biologi
    3. Kedisiplinan siswa perlu ditingkatkan lagi, khususnya masalah kehadiran siswa selama proses belajar mengajar.
    4. Seluruh dewan guru perlu mendukung dan mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki oleh siswa.
    5. Pihak Distrik Inanwatan
    6. Perlu adanya sosialisasi kepada seluruh warga mengenai pentingnya pendidikan.
    7. Perlu adanya adanya kesinambungan yang baik antara pihak sekolah dengan pihak distrik
    8. Seluruh warga masyarakat perlu bahu membahu untuk menyediakan penunjang proses belajar mengajar, seperti pengadaan listrik kampong.
    9. Pihak Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
    10. Program SM-3T harus dilanjutkan, mengingat keberadaan guru SM-3T mampu memenuhi kekurangan tenaga pendidik, khususnya di daerah 3T .
    11. Kementrian pendidikan dan kebudayaan melalui Dinas Pendidikan daerah sebaiknya memperhatikan data-data kebutuhan tenaga pendidik di masing-masing sekolah, sehingga penyebaran guru SM-3T bisa merata, adil dan tepat sasaran.
    12. Pemerintah perlu memperhatikan kebutuhan dan fasilitas penunjang proses pembelajaran, khususnya di daerah 3T.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.