KHUTBAH JUMAT: PUASA DAN IDEOLOGI

Pertama, Senin lalu, pengelola program Critical Language Scholarship (CLS)< FS UM,  menyampaikan bahwa 6 di antara 27 mahasiswa Amerika yang belajar bahasa dan budaya Indonesia ikut berpuasa tanpa henti. Padahal, mereka tidak beragama Islam. Untuk menjawab rasa penasarannya, seorang tutor bertanya kepada salah seorang di antara meraka “Mengapa dan untuk apa Anda berpuasa?”. Dia menjawab, “pain myself ‘menyakiti diriku sendiri’”.
Berbeda dengan kita yang sejak kecil diajari bahwa puasa itu untuk mejalankan perintah Allah, untuk menjadi insan yang bertakwa, peserta CLS tersebut menjawab secara lugas bahwa tujuan puasanya adalah untuk menyakiti diri atau menyiksa diri. Mungkin kita akan berkomentar bahwa puasa seperti itu tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Akan tetapi, jika kita mencoba memahami sudut pandang atau paradigma yang dia gunakan, dia telah mencoba  melakukan upaya untuk berempati kepada orang-orang yang tersakiti dan tersiksa karena kemelaratan, karena ketidakmampuan.
Berdasarkan kisah pertama tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa alasan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan dilandasi oleh paradigma atas perbuatan yang akan dia lakukan. Paradigma bisa mengarahkan kekuatan untuk melakukan tindakan: seberat, sesulit, sesakit apa pun tindakan itu. Paradigma bisa mengarahkan niat dalam melakukan tindakan: bisa niat benar, bisa niat salah; bisa niat mulia, bisa niat hina; bisa niat terpuji, bisa niat tercela.
Kedua, pada tahun 1970 saat saya kelas 3 SD, menjelang sore hari usai mengandangkan sapi yang saya gembala sejak pagi, saya ditanya oleh bibi saya yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indoensia kurang lebih
 “Nak, kamu masih puasa?”
“Masih, Bu Lik,” jawab saya.
“Lho, bibirmu koq basah?” selidik berikutnya
“Habis wudlu di pancuran terus salat di batu sungai,” jawab saya.
“Allah selalu siaga, tidak pernah tidur lho, Nak,” nasihatnya.
Saat itu, saya bisa menipu Bu Lik saya. Saat itu, saya bisa membuat alibi di hadapan Bulik saya. Akan tetapi, yang sebenarnya, saat itu bahkan sampai dengan sekarang ini, sudah 44 tahun lamanya, saya tidak pernah bisa menipu diri saya sendiri: bahwa ketika berwudlu di pancuran itu, saya telah minum beberapa teguk karena haus yang luar biasa, karena berjam-jam di tengah sawah saat terik matahari menyengat. Mungkin juga di antara hadirin ada yang memiliki kisah sejenis.
Berdasarkan kisah masa kecil tersebut, kita bisa menarik pelajaran bahwa kebenaran formal dan material tidak selamanya sejajar dengan kebenaran moral-substansial. Kebenaran formal-material dapat ditutupi, dapat direkayasa, bisa diatur. Kebenaran moral-substansial tidak pernah dapat kita tutupi, tidak pernah dapat kita rekayasa, tidak pernah dapat kita atur. Kita tidak pernah mampu menipu diri kita sendiri. Kita yang melakukan, kitalah yang mengetahui dan mengawasi. Juga, tentu saja, Allah mengetahui dan mengawasi kita.
Ketidaksejajaran kebenaran formal-material dengan kebenaran moral-substansial ini akan menjadi-jadi jika dilandasi oleh kepentingan dan kekuasaan.
  • Dalam konteks kisah asmara, kita mengenal julukan kepada lelaki (sebagai penguasa) oleh perempuan (yang dikuasai) dengan sebutan “serigala berbulu domba” karena Setelah kaudapatkan semua dariku, dengan begitu mudahnya aku kaucampakkan. Kaututupi sifatmu dengan warna madu. Rupanya engkau serigala yang berbulu domba. Tertawa engkau puas tertawa, dan bangga setelah kau lakukan. Tetapi ada yang kaulupakan, Hukuman dan keadilan Tuhan. Tiada dosa bebas tanpa balasan
  • Di Korea Selatan dan di Jepang, yang nota bene ada negara yang mayoritasnya non muslim, tetapi begitu kuat kontrol moralnya, seorang pejabat yang menjadi tersangka korupsi, misalnya, dengan cepat menyatakan mengundurkan diri, bahkan ada yang bunuh diri. Tidak jarang terjadi, bukan dia yang korupsi, tetapi kerabatnya atau anak buahnya yang korupsi, sang pejabat mengundurkan diri, walaupun bukti formal dan material belum dibuktikan di pengabilan. Coba bandingkan di negara kita: ada yang sesumbar gantung di tugu yang tinggi, ada yang sesumbar potong telinga, bahkan ada yang tidak risih promosi kenaikan jabatannya.
  • Penggalan kisah Mahabharata berikut dapat kita jadikan pelajaran.
(1) Dalam penggalan Bale Sigala-gala, Maharaja Destrarata yang ambisius itu, melarang Duryudana untuk membunuh Pandawa dan Ibu Kunti dengan mengatakan “Bagaimana aku mempertanggung jawabkan di hadapan Pandu di alam sana nanti kalau engkau Duryudana membunuh wanita yang lemah dengan membakarnya melalui cara licik, yakni seolah-olah istana tempat tinggalnya itu terbakar.
(2) Basukarna yang pembela setia Duryudana masih tergerak hatinya untuk membocorkan rencana jahat Kurawa yang akan membakar Pandawa dan ibunya.
(3) Basukarna pun masih mengorbankan ajian kesaktian pemberian dewa Surya kepada Basudewa Kresna agar dia bisa terbunuh oleh Arjuna dalam perang Baratayudha yang sebelumnya telah memberi isyarat kepada Kunti, ibu yang membuangnya, dengan mengatakan “Ibu, aku tahu Duryudana di pihak yang salah. Ibu, aku tahu Kurawa akan kalah. Akan tetapi, hanya dengan membelanya, Ibu, aku bisa melunasi hutang budiku terhadapnya. Biarkanlah aku tetap berperang melawan Pandawa, Ibu. Andai Arjuna yang mati, putera Ibu tetap lima karena aku masih hidup. Andai aku yang mati, puteri ibu tetap lima.”
(4) Adapun Sakuni—di Jawa disebut Sengkuni—merupakan simbol paripurna manusia yang rakus, tamak, pengadu domba, dan culas. Di tangan Sakuni, kebenaran bisa diubah menjadi kesalahan, dan juga sebaliknya. Dicurhati untuk merahasiakan sesuatu malah dipublikasikan. Nasihat untuk seorang kawan direkayasa menjadi fitnahan dan ancaman pencemaran nama baik.
Manusia model Sakuni tersebut mirip dengan gambaran dalam ayat 7 Surat Al-Baqarah
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةُُوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Ketiga, Rabu malam usai coblosan Pilpres kemarin, salah satu televisi mnyiarkan wawancara langsung dengan pimpinan tim sukses kedua calon presiden. Presenter perempuan menanyai salah satu tim sukses tentang hasil quick count bahwa jagonya kalah. Sang tim sukes menjawab, “Ini kan hasil dari lembaga ini dan disiarkan oleh tv Anda, yang seberanya tv Anda objektif tidak memihak. Tetapi, di tv satunya, jago saya kan yang menang.
Sang presenter menjawab “Lho kalau teve Abang kan sejak kemarin, sebelum coblosan pun sudah memenangkan jago Abang. Dari sini, saya bisa katakan, dulu berlaku adagium, jangan menasihati orang yang sedang jatuh cinta, percuma. Sekarang, adagium itu perlu ditambah, jangan menasihati tim sukses, percuma. Apa pun yang dilakukan rivalnya, pasti salah dan pasti jelek.”
Dari kisah ketiga ini, kita bisa menarik pelajaran bahwa buta hati, buta pikiran, berkaca mata kuda membutakan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Jika paradigma ini diterapkan dalam kehidupan sosial, bisa terjadi eksklusivitas dan taklid berlebihan: sebaik-baik anggota kelompokmu adalah lebih buruk dibandingkan anggota kelompokku yang terburuk; seburuk-buruk anggota kelompokku, masih lebih baik daripada anggota kelompokmu, sekalipun itu yang terbaik.”
Jika adagium itu terjadi suatu komunitas secara massif, kita sudah dapat memprediksi apa yang akan terjadi sebagaimana hadits Nabi
Idza wujidal amru ilaa ghairi ahlihi, fantadzirissa’ah
Apabila suatu urusan diserahkan kepada pihak yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.
Keempat, Selasa lalu, saya bertemu dengan seorang hafidz di UM ini dengan mengabarkan “Ustaddz sudah sehat? Kabarnya, pekan lalu Ustadz sakit.” Beliau menjawab “Alahamdulillah, sehat. Saya hanya menjalani jadwal yang telah Allah berikan, baik jadwal sakit maupun jadwal sehat.” Mari kita perhatikan firman Allah dalam Surat Al-Hadiid ayat 22–23 berikut.
مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَفِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {22
لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَافَاتَكُمْ وَلاَتَفْرَحُوا بِمَآ ءَاتَاكُمْ وَاللهُ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ {23
Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. 57:22)
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. 57:23).
Berdasarkan kisah tersebut kita dapat menarik simpulan bahwa kita harus menerima apa pun takdir Allah. Takdir Allah adalah pilihan terbaik untuk hamba-Nya. Walaupun sering kita jumpai, yang kita inginkan belum tentu dikabulkan, yang tidak kita inginkan juga sering kita terima.
Ada kisah seorang yang kali ketiga dipromosikan dengan nilai terbaik. Akan tetapi, yang diharapkan tidak terjadi, padahal andai dia diangkat, pelantikannya bertepatan dengan ulang tahun isterinya. Tentu saja dia dan isterinya kecewa. Setelah 2 tahun berikutnya, kekecewaan itu berubah menjadi rasa syukur atas karunia Allah, yakni tidak menjabat dalam jabatan itu. Kebetulan pejabat tersebut menjadi tersangka yang diproses dalam pengadilan tindak pidana korupsi oleh KPK. Dirasakan betul bahwa takdir Allah untuknya adalah pilihan terbaik untuknya.
DOA DALAM KHUTBAH KEDUA
Ya Allah, Ya Rabbi
Engkaulah Tuhan kami. Tiada Tuhan yang patut disembah selain Engkau.
Kau ciptakan kami dan kami adalah hamba-Mu, dan kami tetap pada sumpah dan janji kami kepada-Mu sekuat tenaga kami.
Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kami perbuat.
Kami datang kepada-Mu menyatakan pengakuan akan segala nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepada kami.
Kami datang kepada-Mu dengan segala dosa kami, maka ampunilah kami. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.
Ya Allahu, Ya Muhaimin, Yang Maha Memelihara
jadikanlah permulaan hari ini kebaikan,
pertengahannya keberuntungan,
dan akhrinya kesuksesan.
Kami mohon kepada-Mu kebaikan dunia dan akhirat kami, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih lebih dari mereka yang berhati kasih.
Ya Allah, Ya Wahhaab, Yang Maha Pemberi Karunia
kami mohon kepada-Mu keridlaan terhadap keputusan-Mu kepada kami,
kami mohon kelapangan hidup setelah kematian kami,
kami mohon kenikmatan memandang wajah-Mu yang mulia di akhirat nanti,
kami mohon kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu tidak dalam kesusahan yang menyedihkan dan tidak dalam cobaan yang meyesatkan.
Ya Allah, Ya Hafidz, Yang Maha Penjaga
kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat,
kami berlindung kepada-Mu dari hati yang tak khusuk,
kami berlindung kepada-Mu dari jiwa yang tak puas,
dan kami berlindung kepada-Mu dari do’a yag tak terkabulkan.
Ya Allah, Ya Waliy, Yang Maha Melindungi
kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kami perbuat dan yang belum kami perbuat.
Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kami ketahui dan yang belum kami ketahui.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat yang Engkau karuniakan,
kami berlindung kepada-Mu dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan,
kami berlindung kepada-Mu dari kejutan bencana dari-Mu,
dan kami berlindung kepada-Mu segala jenis amarah-Mu.
Ya Allah, Ya Baari’, Yang Maha Menata
perbaikilah untuk kami agama kami yang merupakan pelindung segala urusan kami,
perbaikilah keadaan dunia kami yang merupakan tempat kehidupan kami,
dan perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami.
Jadikanlah hidup kami sebagai tambahan bagi kami untuk berbuat segala kebajikan,
dan jadikanlah kematian kami sebagai peristirahatan akhir bagi kami dari segala kejahatan.
Ya Allah,Ya Mutakabbir, Yang Memiliki Kebesaran
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang banyak mengingat-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang banyak mensyukuri nikmat-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang sangat patuh terhadap perintah-Mu,
tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang selalu merendahkan diri di haribaan-Mu,
dan tolonglah kami menjadi hamba-Mu yang selalu berserah diri kepada-Mu.
Ya Allah, Ya Rahiim, Yang Maha Penyayang
kami mohon kepada-Mu agar kami dapat mencintai-Mu,
kami mohon kepada-Mu agar kami mencintai hamba-Mu yang mencintai-Mu,
kami mohon kepada-Mu agar kami mencintai segala perbuatan yang mendekatkan kami menuju cinta-Mu.
Ya Allah, Ya Qaabidh, yang Maha Pengendali
jangan Engkau biarkan pada diri kami ada suatu dosa tanpa Engkau ampuni.
Jangan Engkau biarkan pada diri kami suatau cela tanpa Engkau tutupi.
Janganlah Engkau biarkan pada diri kami suatu kesusahan tanpa Engkau berikan jalan keluar.
Jangan Engkau biarkan pad diri kami suatu utang tanpa Engkau lunaskan.
Jangan Engkau biarkan suatu hajat duniawi dan ukhrawi yang Engkau ridloi dan baik bagi kami tanpa Engkau penuhi,
wahai Yang Maha Pengasih lebih dari mereka yang berhati kasih.
Ya Allah, Ya Matiin, yang Maha Kokoh
kami mohon kepada-Mu ketetapan hati dalam segala urusan,
kami mohon kepada-Mu keteguhan kehendak menuju kebenaran.
Ya Allah, Ya Mujiib, yang Maha Mengabulkan
terimalah taubat kami, bersihkanlah dosa kami, kabulkanlah doa kami, kuatkanlah iman kami, luruskanlah perkataan kami, tunjukilah hati kami, dan lenyapkanlah keburukan hati kami.
Ya Allah, Ya Ghafur, yang Maha Pengampun
Ampunilah dosa kami
Ampuniah dosa guru-guru kami
Ampunilah dosa ayah ibu kami
Kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka mengasihi kami sepanjang hayat—kehidupannya

Masjid Al-Hikmah UM, 11 Juli 2014

 

BUKAN SALAH BUNDA MENGANDUNG (Bagian 2)

BUKAN SALAH BUNDA MENGANDUNG

Bagian Ke-2

Oleh: Djoko Rahardjo*)

 

Kesamaan antara kisah lahirnya Adipati Karno dalam cerita Mahabharata dengan lahirnya UU ASN 2014 terletak pada “dampak ikutan” yang terjadi di kemudian hari. Dampak ikutan yang terjadi pada kisah Mahabharata adalah “ketidaknyamanan” Arjuna sebagai kesatria tanpa tanding. Sebab ternyata tidak hanya Arjuna saja yang memiliki kemampuan olah kanoragan yang unggul sebagai  prajurit tetapi Adipati Karno pun juga memilikinya.
Karno adalah rival utama  bagi Arjuna pada saat Perang Bharatayuda di Tegal Kurusetra. Keduanya adalah panglima perang yang sakti mandraguna. Untuk mengikuti kisah ini, sebaiknya para pembaca melihat tayangan kisah  Perang Tanding antara Adipati Karno dengan Arjuna dalam kisah Mahabharata di ANTV. Penulis  hanya ingin mengaitkan dengan UU ASN 2014.
Ketidaknyamanan pada UU ASN 2014 adalah pelaksanaan kompetisi bagi “para calon pejabat struktural” menjadi terhalang. Penambahan masa kerja  2 (dua) tahun bagi pejabat struktural yang akan pensiun berdampak pada “tertundanya” kesempatan promosi bagi PNS yang memiliki syarat .
Dampak ikutan yang agak parah adalah bagi para calon pensiunan PNS yang menyatakan tidak mengambil pensiun pada tahun 2014 tetapi  mangajukan perpanjangan masa dinas 2 (dua) tahun.  Apa yang terjadi? Sungguh memilukan! Kisah ini terjadi dan menimpa pada beberapa orang PNS UM “papan bawah”.
Begini kisahnya…, ada seorang PNS UM yang akan pensiun  pada 1 April 2014 mengajukan kredit pinjaman uang  ke KPRI UM pada bulan Februari 2014. Berbekal uang Tunjangan Kinerja (Tukin) yang sudah diterimanya—ditambah dengan uang pinjaman dari KPRI UM—PNS tersebuti merenovasi rumahnya. Maklumlah karena ada 1 (satu) orang putranya tidak memiliki kamar tidur. Biasanya yang bersangkutan  tidur di ruang tamu, yang menghadap ke halaman depan rumah, yang tak berpagar.
Apa yang terjadi pada PNS UM tersebut? Ditagih KPRI UM! Buku Taplus BNI yang telah dimilikinya tidak ada saldonya! Sehingga Karyawan KPRI UM tidak dapat memotong gaji PNS yang bersangkutan. Lho kok bisa begitu? Nah…, kisah sedih ini dapat dipakai sebagai pelajaran bagi siapa saja yang akan menjadi seorang pemimpin. Bila kelak membuat UU harus segera membuat PP-nya sehingga untuk kasus seperti ini tidak terulang kembali. “Kasihan deh lu! Uang pensiun kagak jadi elu terima. Uang gaji sebagai PNS yang diperpanjang masa dinasnya, kagak nongol-nongol! Ditagih Karyawan KPRI UM lagi! Nasib elu mirip dengan  isi peribahasa BUKAN SALAH BUNDA MENGANDUNG”. Hehehe…, 5 (lima) bulan elu gigit jari alias tidak menerima gaji.
                                                                                                    
*) Staf Subag Umum LP3 UM

BUKAN SALAH BUNDA MENGANDUNG

BUKAN SALAH BUNDA MENGANDUNG

Oleh: Djoko Rahardjo*)

 

Rabu, 14 Mei 2014; Sekitar jam 09.15 wib; Bertempat di Ruang Komputer Lantai II Gedung TIK UM. Kami berdua, Prof. Dr. Dawud, M.Pd dan saya (penulis) sedang membicarakan kisah Wayang Maha Bharata khusus yang menyangkut “keberadaan” Adipati Karno di muka bumi.
Memang Karno pernah mendapatkan hinaan dari para raja dan para kesatria pada saat mengikuti Sayembara yang diselenggarakan oleh Raja Drupada. Sayembara tersebut diselenggarakan untuk memperebutkan Dewi Drupadi, putri Raja Drupada.
Karno mendapatkan hinaan dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati. Jika dibandingkan dengan bahasa gaul ABG masa kini, ternyata bahasa para raja dan para pangeran itu lebih jelek (ancur-ancuran). Misalnya cewek ABG yang sedang ditembak/ditaksir  oleh cowok yang bukan idamannya, paling dia menolaknya begini: “Emangya elu siape? Berani-beraninya nembak gue. Ngaca dong! Ngaca dong!”
Seperti apa kira-kira kata-kata yang dilontarkan oleh para raja dan para pangeran? Hal itu akan kita bahas di lain waktu. Kali ini yang hendak kita bicarakan adalah tentang kehadiran Adipati Karno atau Surya Atmaja di jagat ini. Semua rakyat di Kerajaan Hastinapura mengetahui bahwa dia adalah anak seorang kusir kereta kerajaan.
Apakah betul dia anak seorang kusir kereta kerajaan? Tidak! Dia adalah anak Dewi Kunti. Lho? Bagaimana bisa?  Bukankah Dewi Kunti hanya memiliki tiga orang anak kandung, yaiu Yudhistira, Bima dan Arjuna?  Sebelum menikah dengan Pandu Dewanata, Dewi Kunti adalah “pemuja Dewa Surya”. Saking seringnya  Kunti membaca mantra-mantra untuk Dewa Surya maka mengandunglah dia. Setelah bayi itu lahir lalu dia larung (dihanyutkan) ke sungai. Perjalanan bayi yang hanyut itu menyangkut di pohon, kemudian dipungut oleh seorang kusir kereta kerajaan.
Ada kemiripan antara lahirnya Karno dengan lahirnya UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Lho kok bisa? Peribahasa lama menyatakan: BUKAN SALAH BUNDA MENGANDUNG. Mohon maaf tulisan ini ternyata bersambung karena penulis sedang ada tugas meliput kegiatan MONITORING PPG di Aula LP3 UM.
                                                                                       Bersambung…       
*) Staf Subag Umum LP3 UM

Dengan KKNI, Tenaga Terampil Dapat Disetarakan dengan Sarjana

Jumat, 04/04/2014 – 09:39

Jakarta, Kemdikbud — Pemerintah siap menerapkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) pada tahun 2015. KKNI merupakan penjenjangan kualifikasi, dan kompetensi tenaga kerja yang menyandingkan sektor pendidikan dengan sektor pelatihan serta pengalaman kerja. Melalui skema ini, seseorang yang memiliki keterampilan dengan tingkat tertentu dapat disetarakan dengan sarjana (S1), bahkan doktor (S3).

KKNI terdiri dari sembilan jenjang kualifikasi, dimulai dari jenjang 1 sebagai jenjang terendah sampai dengan 9 sebagai jenjang tertinggi. Seorang pekerja dengan jabatan operator yang telah berpengalaman dan mengikuti sejumlah pelatihan kerja dapat disetarakan hingga diploma 1. Sedangkan teknisi atau analis yang memiliki jenjang 6 dapat disetarakan dengan sarjana (S1), dan seorang ahli dengan jenjang 9 dapat disetarakan dengan seorang doktor (S3).

“KKNI disusun berdasarkan ukuran hasil pendidikan atau pelatihan yang diperoleh melalui pendidikan formal, nonformal, informal, atau pengalaman kerja,” ujar Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kemdikbud, Lydia Freyani Hawadi, di Jakarta, (2/4/2014). Ia menjelaskan, kualifikasi yang terdiri dari 9 jenjang merupakan tingkat capaian pembelajaran yang disepakati secara nasional.

Sampai saat ini, jelas Lydia, ada 69 jenis keterampilan atau pendidikan yang diselenggarakan oleh Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP). Dari 69 jenis keterampilan itu, tercatat ada 28 jenis pendidikan yang memiliki Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) berbasis KKNI.

Dalam rangka memberikan kesempatan bagi peserta kursus dan masyarakat memperoleh sertifikat kompetensi telah terbentuk 30 Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK), 865 Tempat Uji Kompetensi (TUK), 1.000 penguji yang menyelenggarakan uji kompetensi. Acuan dalam penyelenggaraan uji kompetensi yaitu SKL dan KBK yang telah dikembangkan oleh Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Ditjen PAUDNI Kemdikbud. (Desliana Maulipaksi)

 

http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/2361

Penyelenggaraan BPP-DN 2014

Kepada Yth.
Direktur Program/Dekan Sekolah Pascasarjana
(terlampir)

Sebagai upaya meningkatkan kualifikasi akademik pendidik dan tenaga kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi kembali membuka pendaftaran beasiswa pendidikan pascasarjana dalam negeri (BPP-DN) untuk alokasi tahun 2014. Program beasiswa ini diperuntukkan bagi dosen tetap pada perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tenaga Kependidikan Tetap pada Perguruan Tinggi Negeri di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, PNS kantor kopertis dan PNS kantor pusat Ditjen Pendidikan Tinggi.

 

Unduh suratnya di sini

 

Sumber: http://www.dikti.go.id/?p=13791&lang=id

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.