Melampaui Panggilan Tugas (Bagian Ke-2)

MELAMPAUI PANGGILAN TUGAS

(Bagian Ke-2)

Pembaca yang budiman sebelum kisah dua ibu guru yang mendadak menjadi bidan kita lanjutkan, ada baiknya kita mengingat kembali kisah nyata yang terjadi di Desa Kisaran, Asahan, Medan, Minggu dini hari, 10 Januari 2016 yang menimpa Ibu Farida Hanum (ditayangkan Metro TV tanggal 11 Januari 2016). Sunguh tragis nasib bayi Ibu Farida Hanum yang proses persalinannya dibantu oleh Bidan DS. Apa yang terjadi? Sungguh memilukan! Ibu Hanum melahirkan kepala bayi tanpa badan. Tubuh dan anggota badan bayi tertinggal di dalam rahim ibundanya.

Metro TV memberitakan bahwa terjadi malpraktik yang dilakukan oleh Bidan DS. Entah mengapa malpraktik itu bisa terjadi. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa kemungkinan bayi sudah meninggal saat di dalam perut ibundanya. Juga ada yang berpendapat bahwa sang bidan bukan lulusan diploma kebidanan. Bermacam-macam dugaan dari masyarakat, antara lain bahhwa sang bidan adalah perawat kesihatan bukan bidan, bahwa yang bersangkutan tidak memiliki izin praktik sebagai bidan, dan lain-lain. Terlepas dari semua itu, yang jelas sudah ada korban bayi yang meninggal dunia.

Kembali pada kisah dua ibu guru SM3T, yang sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pasien. Kira-kira apa yang ada di benak mereka? Ada pertarungan sengit antara batasan tugas sebagai guru dengan tugas kemanusiaan. Keduanya berbekal suatu keyakinan bahwa Tuhan akan membimbingnya dan setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Berbekal ilmu yang tak begitu mendalam tentang fisiologi reproduksi wanita dan endokrinologi maka keduanya berusaha keras untuk menyelamatkan ibu dan anak.

Entah secara kebetulan, ibu guru olahraga mengambil posisi di samping dada pasien, sedangkan ibu guru biologi mengambil posisi di bawah telapak kaki pasien. Tidak lama kumudian ibu guru olahraga memberi aba-aba kepada pasien seperti berikut.

“Ibu…, nafasnya diatur mengikuti aba-aba saya…, nafas ditarik…, nafas dilepas, tarik…, lepas…, tarik…, lepas…, tarik…, lepas.

“Oek! Oek! Oek…!” Suara tangis bayi memecahkan keheningan belantara kehidupan. Telah lahir anak manusia dengan selamat. Ibu dan anak mendapat kurunia keselamatan dari Tuhan, Sang Pencipta alam semesta (ilustrasi penulis).

Kisah nyata tentang bidan-guru yang bertugas di Daerah 3T disampaikan oleh Dr. Totok Bintoro, M.Pd, Tim Pengembang Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, yang bertindak sebagai narasumber ke-2 pada acara “Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Tahun 2015”  yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Pendidikan Profesi Guru (P4G), Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang (UM) pada hari Rabu, 25 November 2015, tempat Graha Cakrawala UM, waktu pukul 09.00—13.00 wib.

Informasi yang disampaikan oleh Dr. Totok Bintoro, M.Pd tentang bidan-guru sangat menarik perhatian Peserta Semnas PPG 2015. Khususnya bagi Dra. Hj. Latifah Shohib, Anggota DPR RI Komisi X, FPKB Tahun 2014-2019, yang membidangi pendidikan. Sebagai narasumber ke-3 berkesempatan mengusulkan kepada Dr. Totok Bintoro, M.Pd, selaku  anggota tim pengembang, agar Guru Program SM-3T, sebelum ditugaskan di daerah 3T, terlebih dahulu dibekali pengetahuan praktis/singkat tentang pertolongan pertama pada proses persalinan.

Pembaca yang budiman, secara umum setiap orang yang mengenyam pendidikan minimal tamat SD bisa membelajarkan siswa SD tentang perkalian bahwa 2 x 3 = 6, lebih-lebih perwira TNI atau dokter yang bertugas di daerah perbatasan, pasti bisa. Meskipun mereka belum tentu tahu (secara teoritis), apa yang dimaksud  dengan pembelajaran bermakna seperti ilmu yang telah dimiliki oleh sarjana pendidikan matematika bahwa perkalian itu adalah penjumlahan yang berulang, contoh 2 x 3 = 6 berasal dari penjumlahan yang berulang: 2 + 2 +2 = 6.

Di daerah terpencil—dokter atau TNI yang merangkap tugas sebagai guru SD—mungkin  suatu ketika tanpa disengaja–dalam menyampaikan materi pembelajaran terdapat kekeliruan maka di kemudian hari dapat dibetulkan. Tetapi bagaimana dengan guru SM3T yang merangkap tugas sebagai bidan, bila keliru dalam menangani proses persalinan, apa yang akan terjadi? Sungguh mulia para guru SM3T yang dengan hati-hati dan ikhlas membantu persalinan. Semoga mereka kelak setelah selesai bertugas dan lulus mengikuti pendidikan profesi guru (PPG) segera diangkat menjadi CPNS.

 Selesai

Melampaui Panggilan Tugas

 

MELAMPAUI PANGGILAN TUGAS

(Bagian Ke-1)

Banyak nasihat yang kita dengar bahwa sesuatu yang melampaui batas itu tidaklah baik. Menurut pendapat penulis, tidak semua yang melampaui batas itu bernilai negatif, ternyata ada yang bernilai positif. Beberapa hari ini, masyarakat kita telah dikejutkan oleh ulah seorang anggota DPR RI (oknum yang terkait dengan isue tambang emas Freeport), yang dianggap melakukan sesuatu di luar kewenangan atau melampaui panggilan tugas.

Kali ini penulis tidak akan membicarakan sesuatu yang telah terjadi di Gedung DPR RI tetapi mencoba mengapresiasi informasi yang berhubungan dengan para guru yang telah melampaui panggilan tugasnya sebagai seorang guru.

Sebelum membicarakan para guru yang bertugas di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Sejenak kita mencari tahu tugas dan kegiatan para tentara kita dan beberapa tenaga kesihatan di daerah perbatasan Negara Republik Indonesia dengan negara tetangga.

Sebagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), telah melaksanakan tugas di daerah perbatasan selama beberapa bulan. Sebagai prajurit yang profesional tentu sudah dibekali dengan segala sesuatu yang terkait dengan pengamanan teritorial. Secara rutin atau berkala, mereka melaksanakan patroli di sepanjang garis perbatasan dengan wilayah negara tetangga. Ternyata anggota TNI tidak hanya melaksanakan patroli keamanan saja tetapi juga menggantikan tugas guru dalam proses pembelajaran bagi para siswa, khususnya siswa sekolah dasar.

Begitu juga dengan hal yang dialami oleh sebagian dokter muda—yang mendapat tugas di daerah terpencil—juga merasakan hal yang sama, seperti yang dialami oleh sebagian prajurit TNI, yakni merangkap tugas menjadi seorang guru. Namun bagi mereka, merangkap tugas menjadi seorang guru adalah hal yang wajar. Mengingat mereka pernah menjadi siswa atau mahasiswa tetapi bagaimana dengan dua orang guru yang tergabung dalam Program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T), yaitu guru bidang studi pendidikan olahraga dan guru bidang studi pendidikan biologi—secara tiba-tiba mereka berdua mendapat tugas membantu persalinan seorang wanita warga desa.

Betapa kagetnya mereka berdua. Betapa tidak! Mereka berdua masih gadis. Tentu mereka berdua belum pernah hamil. Apalagi mereka belum pernah melihat proses persalinan. Tugas membantu proses persalinan bagi mereka bukanlah hal yang mudah. Terdorong oleh rasa tanggungjawab yang telah dipercayakan kepada mereka maka berangkatlah ke rumah pasien yang hendak melahirkan. Apa yang terjadi kemudian?

Bersambung…

Vonis Hakim… (Bagian Ke-2)

VONIS HAKIM YANG MENGEJUTKAN

(Bagian Ke-2)

Pelaksanaan sidang  di pengadilan tentunya akan berlangsung secara bertahap, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Setiap negara memiliki undang-undang yang mengikat setiap warga negaranya.  Sidang pengadilan di Indonesia mengikuti tahapan dan tata cara persidangan perkara pidana  di pengadilan negeri, secara umum diatur dalam KUHAP (UU. No. 8 tahun 1981).

Secara garis besar, proses persidangan pidana pada peradilan tingkat pertama di pengadilan negeri untuk memeriksa perkara biasa terdiri dari empat tahap. Pertama, pembukaan sidang pemeriksaan perkara pidana. Kedua, sidang pembuktian, apabila hakim/majelis hakim menetapkan bahwa sidang pemeriksaan perkara harus diteruskan maka acara persidangan memasuki tahap pembuktian, yaitu pemeriksaan terhadap alat bukti dan barang bukti yang diajukan. Ketiga, sidang pembacaan tuntutan pidana, pembelaan dan tanggapan-tanggapan. Keempat, sidang pembacaan putusan. Sebelum menjatuhkan putusan, hakim mempertimbangkan putusannya berdasarkan atas surat dakwaan, dan segala sesuatu yang terbukti di persidangan, tuntutan pidana, pembelaan dan tanggapan-tanggapan tersebut akan menjadi dasar putusan.

Bagaimana dengan perkara yang sedang kita bicarakan? Langsung! Lho? Bagaimana? Tanpa tahapan peradilan? Wah…, jangan-jangan ini hanyalah dagelan semata. Tidak! Ini betul-betul terjadi. Hanya saja ini adalah pengadilan keluarga. Sudah barang tentu tidak mengikuti tahapan seperti persidangan yang sesungguhnya. Jadi…, sebelum hakim membuka sidang, jaksa bisa langsung membacakan dakwaannya. Dalam sidang yang sesungguhnya, surat dakwaan bisa berisi puluhan, ratusan bahkan ribuan lembar halaman ukuran kwarto. Kali ini…, jaksa hanya membuat surat dakwaan setebal 1 (satu) lembar kertas ukuran kwarto. Adapun isi dari surat dakwaan hanya lima poin (lihat pada tulisan bagian ke-1).

Bagaimana dengan reaksi terdakwa? Tanpa menunggu waktu yang lama—dengan  percaya diri—terdakwa  langsung meminta izin kepada hakim untuk menyampaikan pembelaannya.

“Yang mulia Ibu Hakim…, perkenankanlah saya mengajukan keberatan (eksepsi) atas semua tuduhan/dakwaan yang ditujukan kepada saya”.

“Saya persilakan kepada terdakwa untuk menyampaikan keberatannya”, jawab hakim ketua.

Sambil berdiri dengan sikap hormat, terdakwa membuka catatan yang telah dibuatnya selama pembacaan dakwaan berlangsung.

 

Bersambung…

Vonis Hakim yang Mengejutkan

VONIS HAKIM YANG MENGEJUTKAN

(Bagian Ke-1)

 

Saat sedang bersantai, kadang tanpa kita sadari, sambil membersihkan meja dapur, kita melantunkan lagu yang bertemakan cinta. Walau syair atau lirik lagu tersebut kadang berkonotasi negatif. Satu contoh, ada untaian kata dari lirik lagu yang perlu kita renungkan kembali, yang berbunyi: “Terlanjur basah…, ya sudah mandi sekali…”. Lagu Dangdut yang dinyanyikan oleh Meggi Z ini, menggambarkan suatu kesalahan yang tak begitu besar—yang tak begitu sulit untuk diperbaiki tetapi karena suatu keengganan maka dibiarkan begitu saja berlalu, tanpa ada keinginan untuk memperbaikinya bahkan sengaja malah diperparah.

Dalam menapaki kehidupan ini, kadang kita sebagai orang tua merasa selalu benar dalam hal mendidik putra-putrinya. Parahnya lagi, bukan guru, bukan dosen, bukan kyai, bukan pendeta, bukan biksu dan bukan ahli pendidikan tetapi berlagak tahu segala hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Mudah-mudahan pembaca tidak termasuk orang tua seperti ini. Kisah orang tua yang sok tahu tentang dunia pendidikan akan penulis ceritakan seperti berikut ini.

Hari Rabu tanggal 23 September 2015, ada seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di kursi tertuduh. Beliau dituduh telah menyalahgunakan wewenangnya. Jaksa membacakan 5 (lima) dakwaan seperti berikut.

Ke-1, terdakwa bukanlah seorang guru tetapi memaksakan anaknya yang ketika itu masih duduk di bangku sekolah taman kanak-kanak kelas nol kecil, untuk bisa membaca buku pelajaran.

Ke-2, terdakwa bukanlah seorang guru tetapi ketika anaknya duduk di bangku sekolah dasar kelas 3 sampai kelas 6, setiap malam dipaksa untuk memembaca materi pelajaran yang akan diajarkan oleh gurunya di kelas pada esok harinya.

Ke-3, terdakwa bukanlah seorang guru tetapi memaksakan anaknya untuk mengerjakan buku soal-soal ujian pada setiap hari Sabtu sore dan Minggu pagi.

Ke-4, terdakwa bukanlah seorang guru tetapi ketika anaknya lulus ujian SD dipaksa untuk mendaftar di SMPN 1 Malang padahal anaknya berkeinginan mendaftar di SMPN 5 Malang.

Ke-5, terdakwa bukanlah seorang guru tetapi ketika anaknya telah lulus dari SMAN 4 Malang dipaksa untuk mendaftar di Program Studi S1 Ekonomi Studi Pembangunan FE Universitas Brawijaya Malang padahal yang bersangkutan berkeinginan mendaftar di Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta.

Bersambung…

Energi Cinta

ENERGI CINTA

Setiap hari kita selalu disibukkan oleh aktivitas yang hampir tak pernah berkesudahan. Entah sebagai seorang mahasiswa, dosen, karyawan atau yang lainnya. Tidak ada salahnya bila kita menyisihkan waktu…, walau hanya sejenak, untuk berbincang-bincang tentang energi cinta. Apa itu energi cinta? Pembaca yang budiman, dan yang teramat khusus—sahabat muda yang belum pernah merasakan jatuh cinta. Jatuh yang paling nikmat itu adalah jatuh cinta, dan sakit yang paling sakit adalah sakit hati atau patah yang paling sulit untuk disambung adalah patah hati. Untuk itu, wahai sahabat muda waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!

 

Memang sudah banyak orang yang berusaha mendefinisikan cinta tetapi ternyata cinta itu sulit untuk didefinisikan. Cinta itu bukanlah matematika sehingga sulit untuk mengukur seberapa luas, seberapa dalam dan seberapa berat. Cinta itu misteri Illahi. Manusia hanya memiliki hak pakai saja (HPS) tetapi tidak pernah akan memiliki hak milik (HM). Meski seseorang telah menikah secara resmi, dan telah memiliki surat nikah, hal itu bukan berarti seseorang sudah memiliki surat hak milik (SHM) atas nama cinta.

 

Terus terang saja penulis terinspirasi oleh syair/lirik lagu Arjit Singh yang berjudul TUM HI HO seperti berikut.

 

“…Tere liye hi jiyaa main

Khud ko jo yoon de diya hai

Teri wafaa ne mujh ko sambhaalaa…”.

 

“…Hidupku hanya untukmu

aku telah memberikan hidupku untukmu

kesetiaanmulah yang telah menjagaku…”.

 

Dalam mencari energi cinta, penulis menangkap “Teri wafaa ne mujh ko sambhaalaa” sebagai rambu-rambu atau penunjuk jalan. Dengan kesetiaan itulah maka energi cinta akan kita dapatkan. Sudah cukup jelas bahwa kesetiaanlah yang akan menjaga cinta kita. Sehebat apapun cinta kita kepada sang pacar, kepada sang suami atau kepada sang isteri bila tidak memiliki kesetiaan maka akan terjadi turbolensi atau loss power. Bagaikan pesawat terbang yang terbang tinggi…, tiba-tiba mesinnya mati. Apa yang akan terjadi kemudian? Hancur berkeping-keping!

porno porno izle rokettube mature sex izle