DUEL BETWEEN SUMANTRI AGAINST SOSROBAHU (PART ONE)

In wayang stories, most mighties one on one fighting is a duel between Bambang Sumantri against Arjuna Sasrabahu. There are no stories more mighty than that one. Although in Wayang Mahabarata story titled “Karno Tanding”, duel Adipati Karno against Janoko is categorized as great fighting. Or in another wayang story of Ramayana titled “The Death of Kumbokarno”, the story is still less mighty than Bambang Sumantri versus Arjuna Sasrabahu’s fighting.

Foto Kembar Sumantri dan Sosrobahu Mirip Rambo

Wonten ing cariyos ringgit purwa, perang tanding setunggal mengsah setunggal, ingkang paling kaloko namung cariyos “Perang Tandingipun Bambang Sumantri mengsah Arjuna Sosrobahu ”. Mboten wonten cariyos perang tanding ingkang langkung sora/kaloka kejawi namung cariyos kala wau. Nadyan wonten ing cariyos Ringgit Purwa Mahabarata kanthi lampahan “Karno Tanding”,  perangipun Adipati Karno mengsah Janoko, kalebet perang ingkang agung. Utawi wonten ing cariyos Ringgit Purwa Ramayana kanthi lampahan “Guguripun Kumbokarno”. Taksih kawon kaliyan cariyos kalawau.

Dalam cerita pewayangan, perang tanding satu lawan satu, yang paling dahsyat adalah “Perang Tanding antara Bambang Sumantri Melawan Arjuna Sasrabahu”. Tidak ada cerita perang tanding yang lebih hebat darinya. Meskipun dalam cerita Wayang Mahabarata dengan lakon “Karno Tanding”, perang tanding antara Adipati Karno melawan Janoko adalah termasuk perang tanding yang hebat. Atau dalam cerita Wayang Ramayana dengan lakon ‘Gugurnya Kumbokarno”. Masih kalah hebat dengannya.

Cerita ini diawali dengan pencitraan Maharaja Arjuna Sasrabahu, Raja di Kerajaan Mahespati seperti berikut.

Moho Prabu Arjuno Sosrobahu ing Mahespati misuwur adilipun. Prabawanipun upami kados padhanging srengenge ing mengsa katiga, Panjenanganipun kineringan ing sesaminipun ratu, awit saking kaprawiranipun ing paprangan. Mboten wonten ingkang saget nimbangi. Para ratu ingkang nunggil jaman akaliyan Moho Prabu Arjuno Sosrobahu kaupamekaken rembulan, Moho Prabu Arjuno Sosrobahu ingkang minangka srengenge, sorotipun angucemaken padhanging rembulan.

Maharaja Arjuna Sasrabahu di Mahespati terkenal adilnya. Kewibaannya bagaikan sinar matahari di musim kemarau. Beliau dihormati oleh sesama raja, karena keperwiraannya atau keahliannya di dalam mengatur strategi perang. Tidak ada yang dapat menandinginya. Para raja yang hidup satu zaman dengan Maharaja Arjuna Sosrobahu diumpakan rembulan, Maharaja Arjuna Sasrabahu yang menjadi matahari, cahayanya membuat suramnya cahaya rembulan.

Katrangan wonten ing cariyos utawi lampahan “Sumantri Ngenger” bilih priyagung kekalih meniko kados dene “jambe sinigar”. Radi ewet anggenipun mbedakaken pundi Raden Sosrobahu pundi Raden Sumantri. Bedanipun Raden Sumantri kaliyan Raden Sosrobahu wonten ing watakpun/sifatipun. Raden Sosrobahu meniko anggadahi sifat ingkang sabar, mboten rumaos yen diri pribadipun waskihto, lan tansah andap asor dhumateng sintena kemawon. Benten kaliyan Raden Sumantri ingkang anggadahi watak ugal-ugalan.

Keterangan yang ada pada cerita atau lakon “Sumantri Ngeger” ternyata kedua orang yang terkenal ini “bagaikan pinang dibelah dua” atau kembar identik. Agak sulit untuk membedakan yang manakah Raden Sosrobahu dan yang manakah Raden Sumantri. Beda antara Raden Sosrobahu dengan Raden Sumantri terletak pada watak/sifatnya. Raden Sosrobahu itu memiliki sifat penyabar, tidak merasa dirinya orang yang pandai/super, dan selalu merendahkan dirinya kepada siapapun. Berbeda dengan Raden Sumantri yang memiliki sifat yang ugal-ugalan.

Mbenjang bilih perang tanding menika badhe dipun melai, wonten ing sak lebetipun palagan, kekalihipun ngasruk busono kasatrian. Dhasar dedeg piyadeg ipun sami, busono utawi agemanipun inggih meh sami. Bedanipun wonten ing iket mustaka utawi udhengipun. Raden Sosrobahu ngagem udheng pethak, dene Raden Sumantri ngagem udheng cemeng, kados kagunganipun “Rambo”.

Kelak bila perang tanding (duel satu lawan satu) akan dimulai, dalam arena duel, keduanya memakai pakaian ksatria (prajurit utama). Penampilannya sama, busana atau pakaian (pakaian prajurit) nyaris sama. Bedanya ada pada ikat kepala atau udheng. Raden Srosrobahu memakai ikat kepala putih, sedangkan Raden Suamantri memakai ikat kepala hitam, seperti milik “Rambo”.

Saderengipun mlebet dhateng cariyos candhakipun, kawula ngaturaken agunging pangaksami bilih cariyos meniko  wonten bahasa Inggris ingkang lumebet. Bahasa Inggris penulis “awon sanget”. Pramila saking menika, kasuwun para sutrisno kersaa paring pitedhah dhateng kawula. Ing pangajab, mugi-mugi cariyos menika dipun waos kaliyan mahasiswa manca negari ingkang saweg ngangsu kaweruh wonten ing Universitas Negeri Malang. Matur nuwun.

Sebelum memasuki ke dalam cerita selanjutnya, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya bila di dalam cerita ada bahasa Inggris yang masuk. Bahasa Inggris penulis “sangatlah jelek”. Oleh karena itu, mohon para pembaca yang budiman berkenan memberi petunjuk kepada penulis. Dengan harapan, mudah-mudahan cerita ini dibaca oleh mahasiswa asing yang sedang belajar di Universitas Negeri Malang. Terima kasih.

 BERSAMBUNG…

 

Malang, 14 Mei 2012

Ki Dalang Djoko Rahardjo

dari Padepokan Subag Sarana Pendidikan BAAKPSI UM

DI DEPAN PINTU SORGA R.A. KARTINI MENANGIS BAGIAN II

DI DEPAN PINTU SORGA R.A. KARTINI MENANGIS

BAGIAN II

Tangis Haru pada Pawai Hari Kartini

Oleh: Djoko Rahardjo*)

Pagi yang cerah, kabut sutera yang menyelimuti kediaman R.A. Kartini berangsur-angsur meninggalkan peraduan dan berpamitan pada Sang Bagaskara untuk meninggalkan dinginnya malam yang telah memeluk mimpi-mimpi indah bersama Pendekar Wanita–Putri Sejati—Puteri Indonesia, harum namanya. Hari itu, Sabtu, 21 April 2012, pukul 10.00 wib., Nadya Ramadani (Ave), Siswa Play Group, Al-Ma’un, Jl. Asparaga, Sengkaling, Dau, Kabupaten Malang, bersama Ibundanya sedang melihat Pawai Mobil Hias, yang lewat di depan rumahnya.

Di dalam konvoi mobil hias itu, Siswa-siswa TK se Kecematan Dau sedang menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini:

Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini
Putri jauhari
Putri yang berjasa
Se Indonesia

Ibu kita Kartini
Putri yang suci
Putri yang merdeka
Cita-citanya

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendeka kaum ibu
Se-Indonesia

Ibu kita Kartini
Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya
Karena cintanya

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

(W. R. Supratman – Ibu Kita Kartini).

 

Foto Ave Cucunda Eyang Kakung Djoko Rahardjo

“Bunda, kakak-kakak TK itu kok cantik-cantik. Pakaiannya bagus-bagus, ya?”

“Ya cantik dong! Mereka semua kan di bawa ke salon kecantikan?”

“Bunda…, eee…, Ibu Kartini dulu apa juga rajin ke salon? Ibu Kartini dulu apa kuliah ke S2, seperti Bunda?”

Bundanya menatap Ave dengan penuh haru. Tak terasa air matanya jatuh di sudut mata yang terhalang kaca mata hitam miliknya. Andai saja kau tahu bahwa R.A. Kartini pernah mendapat beasiswa ke Negeri Belanda tetapi tidak jadi pergi karena “terlanjur dinikahkan” oleh Ayahnya. Betapa sedih hati R.A. Kartini saat itu. Seandainya kamu mengerti, pastilah kau akan menangis anakku…. Begitu suara hati Ibunda Ave,  Debrina Rahmawati, S.H.

“Bunda kok gak ngomong? Kenapa?”

Sambil menyeka air matanya, Sang Bunda berkata: “Di rumah rumah Ibu Kita Kartini ada Bedak Jawa untuk kecantikannya. Jadi, tidak perlu ke salon kecantikan”.

“Ooo…, begitu. Tapi Bunda…, bagaimana dengan kuliah Ibu Kita Kartini?”

“Oh…, mengapa bundamu kamu paksa untuk menceritakan tentang kuliah Ibu Kita Kartini? Tetapi baiklah! Begini Ve…, Ibu Kita Kartini belum sempat kuliah  tatapi beliau sudah menamatkan sekolahnya di Sekolah Belanda. Eee…, namanya…, apa ya? O ya, kalau tidak salah…, namanya… Europese Lagere School” .

“Kok ada sekulnya? Seperti Om Ali saja…, kalau minta makan ke Mbah Putri, begini…, Bu nedho sekul lawuhipun menopo?  Masak sekolah sama dengan sekul?”

“Hehehe…, Ve Ve…, kamu kok ada-ada saja”, Ibundanya dibuat menangis dan tertawa.

“Bunda…, Ibu Kita Kartini, apa juga menyetir mobil ke sekolah?”

Bundanya hanya geleng-geleng kepala. Nampaknya…, sudah kehabisan kata-kata….

 

Malang, 11 Mei 2012

*) Djoko Rahardjo, Kakek Ave, Staf Subag Sardik BAAKPSI UM

DI DEPAN PINTU SORGA R.A. KARTINI MENANGIS (Bagian 1)

Tak lelo lelo lelo ledung
Cup menenga aja pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayune

Tak gadang bisa urip mulyo
Dadiyo wanito utomo
Ngluhurke asmane wong tuwa
Dadiyo pandekaring bangsa…

TERJEMAHAN:

Timang-timang

Diamlah…, janganlah menangis

Anakku yang berparas cantik

Bila menangis akan hilanglah kecantikanmu

 

Saya berharap engkau dapat hidup sejahtera

Jadilah wanita utama

Meluhurkan nama orang tua

Jadilah pendekar bangsa…

 

Sungguh indah dan menakjubkan nasihat lagu ini…

yang menyebabkan R.A. Kartini tak dapat membendung air matanya

butir-butir air mata cinta kasih untuk kaumnya…

Wanita Indonesia

 

Ada apa wahai Kartini?

Adakah sesuatu penyebabnya?

Bukankah dirimu adalah pejuang bangsa?

Mengapa engkau menangis?

 

Begitulah pertanyaan-pertanyaan dari R.A. Ngasirah, Ibunda R.A. Kartini, Wanita Bangsawan Jawa, Isteri Bupati Rembang, Jawa Tengah.

 

Malang, 9 Mei 2012

Djoko Rahardjo, Staf Subag Sardik BAAKPSI UM

MANDATORY FIGHT FOR ARJUNA SASRABAHU

(Lanjutan Rahasia Hidup Bambang Sumantri)

Ringkasan cerita yang lalu (Bambang Sumantri Terprovokasi), bahwa Dewi Citrowati memberi dukungan pada Bambang Sumantri untuk menyoba kesaktian Maharaja Arjuna Sasrabahu.Memang selamana ini, setiap kali Citrowati menceritakan perihal calon suaminya, Sumantri selalu merasa dirinya direndahkan. Kali ini kesempatan bagi dirinya untuk unjuk gigi. Makhluk seperti apakah Sasrabahu itu?

 

 

Gambar  Maharaja Arjuna Sasrabahu

Sepulangnya dari pertemuan di tenda biru itu, Sumantri mulai memikirkan bagaimana caranya untuk menantang “perang tanding” melawan Rajanya. Setelah lama berfikir…, cara yang elegant adalah mengirim “surat tantangan” kepada rajanya. Di sinilah letak sikap “ugal-ugalan” dari Bambang Sumantri. Rajanya kok dilawan! Mungkin bila hal ini dilakukan di masa sekarang  maka dianggap sebagai tindakan subversif atau kudeta.

Gambar Maharaja Arjuna Sasrabahu “Mirip” Bintang Film Hollywood Brad Pitt

Meskipun Sumantri memiliki watak yang sombong tetapi terhadap rajanya masih menggunakan tepo sliro. Tepo sliro berasal dari bahasa Jawa, tepo = tepak = tepat, sliro = sariro = diri pribadi. Artinya,  ketepatan dalam menempatkan diri pribadi. Bahasa Jawa adalah bahasa yang memiliki unggah-ungguh. Tidak mungkin seorang abdi kepada rajanya menggunakan bahasa Jawa ngoko. Maaf tidak seperti bahasa Inggris, kepada orang tuanya  atau orang lain menggunakan kata “you” .

Surat tantangan tersebut ditulis secara berhati-hati. Berulang kali Sumantri  merevisi kata maupun kalimat.  Memilih dan  memilah kata yang dianggap paling tepat tidaklah mudah. Di sini penulis berusaha menggunakan bahasa Jawa pinathok meskipun bahasa Jawa yang dipakai sehari-hari adalah bahasa Jawa dialog Malangan.  Kira-kira begini isi surat tantangannya.
Dhumateng ingkang Sinuwun Maha Prabu Arjuna Sasrabahu

Keparenga abdi dalem Sumantri ngaturaken sembah pangabekti munggi konjuk ing sahandaping pepada.

Ing ri kalenggahan punika kulo soho Gusti Ayu Dewi Citrowati sakbrayat saweg tetirah wonten ing tapel wates Negari Mahespati.

Waleh-waleh menopo anggen kulo ngabekti dhumateng Panjenengan Dalem Sinuwun Maha Prabu Arjuna Sasrabahu,  kirang langkung sampun ndungkap kalih warsa/tahun.

 Sakderengipun kaperanga kulo nyuwun agunging pangaksami. Nalika samanten, kulo nate matur dhumateng Romo Begawan Suwandagni bilih kawulo badhe suwito dhumateng nalendro ingkang saged “ngawonaken” kasekten kulo.

Awit saking meniko, kasuwun Gusti Prabu Arjuno Sosrobahu kepareng nampi serat meniko kanhti bingahing penggalih.

Sembah pangabekti, saking abdi dalem Bambang Sumantri

 

TERJEMAHAN

Kepada Yang Mulia Maharaja Arjuna Sasrabahu

Izinkanlah abdi Sumantri menyampaikan hormat, semoga penghormatan ini sampai di hadapan/semoga berkenan di hati paduka yang mulia.

Pada kesempatan hari ini, saya beserta Dewi Citrowati beserta rombongan sedang beristirahat di perbatasan wilayah  Negara Mahespati.

Perkenankanlah berbicara apa adanya bahwa saya sudah mengabdi kepada Yang Mulia Maharaja Arjuna Sasrabahu sudah berlangsung selama dua tahun.

Sebelumnya, perkenankanlah saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bahwa beberapa saat yang lalu–pernah berbicara kepada Ayah hamba bahwa saya “hanya” mengabdi kepada seorang raja yang dapat mengalahkan kesaktian hamba.

Oleh karena itu, saya mohon dengan hormat agar Gusti Maharaja Arjuna Sasrabahu menerima (surat tantangan ini) dengan senang hati.

Salam hormat, dari abdi Anda, Bambang Sumantri

BERSAMBUNG…

 Malang, 8 Mei 2012

Ki Dhalang Djoko Rahardjo

dari Padepokan Subag Sarana Pendidikan BAAKPSI UM

 

 

BAMBANG SUMANTRI TERPROVOKASI

(Lanjutan Rahasia Hidup Bambang Sumantri)

Ringkasan cerita yang lalu (Surat dari Dewi Citrowati), Bambang Sumantri bertanya pada Dewi Citrowati, mengapa dirinya dipanggil menghadap? Tak lama kemudian…, Dewi Citrowati menjelaskan dengan hati-hati bahwa perjalanan dari Negaranya, Magada, hingga memasuki Negara Mahespati sudah beberapa kali menginap di hutan.

“Bukankah sekarang ini kita sudah berada di wilayah Negeri Mahespati? Mengapa kita tidak segera memasuki istana? Ada apa?” Suasana menjadi hening…, senyap…, tak ada kata yang terucap. Citrowati memandangi wajah Sumantri dengan penuh keheranan.

Sejenak Sumatri terdiam. Sambil menahan nafasnya…, dia mencoba menatap mata Citrowati, walau agak grogi tetapi akhirnya dia berucap: “Maaf Tuan Putri, sebagai seorang Putri Raja, kakak kandung Raja Magada, seharusnya Anda di jemput sendiri oleh calon suami Anda, Maharaja Arjuna Sosrobahu. Kenyataannya tidak demikian”.

Di dalam keheningan…, Citrowati teringat akan pembicaraannya dengan Adiknya—yang menggantikan mediang ayahnya—yang menjadi Raja di Kerajaan Magada, bahwa tidak seorang pun yang mampu dan sanggup menandingi keagungan dan kesaktian Arjuna Sasrabahu. Hal tersebut disampaikan di depan Bambang Sumantri– saat datang meminangnya untuk dijadikan calon permaisuri Arjuna Sasrabahu . Nampaknya, pembicaraan inilah yang menjadi ganjalan hatinya. Sumantri tersinggung! Penasaran! Cemburu!

“O…itu? Ya! Sekarang aku baru ingat akan pembicaraan kita bertiga di Istana Magada, beberapa hari yang lalu. Salakah aku bila membicarakan tentang kehebatannya? Bukankah semua Rakyat Magada dan Rakyat Mahespati tlah mengetahuinya?”

Raut wajah Sumantri terlihat merah tembaga. Matanya bak matahari yang membakar air lautan. Panas! Mendidih! Bergolak! Tubuhnya berguncang! Saat itu…, suhu udara di sekitar tenda naik, kira-kira hampir mencapai 50 derajat Celsius. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Sungguh dahsyat pengaruh ucapan Dewi Citrowati yang menghujam ke jantung hati Bambang Sumantri.

“Raden…, Panjenangan punika Satrio ingkang pinunjul ing jurit! Satrio ingkang waskitho! Raden…, Anda ini adalah Ksatria yang unggul di bidang pertempuran! Satria yang cerdas! Mengapa Anda meragukan kemampuan diri sendiri? Selama ini Anda selalu penasaran dengan kehebatan Maharaja Arjuna Sasrabahu? Mengapa Anda tidak mencoba kesaktiannya?”

BERSAMBUNG…

Malang, 19 April 2012

Ki Dhalang Djoko Rahardjo
Dari Padhepokan Subag Sardik UM

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.