Prof. Drs. H.M. Achmad Ichsan Berpulang Ke Rahmatullah

Baru saja kami mendapat kabar duka dari Prof. Dr. Adnan Latief.

 

Inna lillahi wainna ilaihi Rajiun.

 

Telah wafat Prof. MA Icksan Rektor IKIP Malang.

Beliau menjabat Rektor selama dua periode 1978  – 1982 dan 1982– 1986.

Beberapa perubahan yang terjadi sewaktu Pak Ichsan menjabat:

 

1. Dibukanya program diploma (S01, S02, S03) sebagai upaya pemenuhan kebutuhan guru SLTP dan atau SLTA

2. Perubahan istilah dari ‘departemen’ menjadi jurusan

3. Penyempurnaan pelaksanaan sks dan pengembangan konsep adanya multi strata, multi entry program.

 

Semoga amal perbuatan beliau mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Ditempatkan di tempat tertinggi bersama Nabi dan Rasul Allah di surganya.

 

 

Amin ya Robbal Alamin.

 

DUA PNS UM DIINCAR WARTAWAN

DUA PNS UM DIINCAR WARTAWAN

Oleh: Djoko Rahardjo*

 

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah nasib dua orang PNS UM yang sedang “diincar” oleh wartawan.  Memang dalam melakoni hidup ini, kadang terasa begitu cepat perjalanan sang waktu. Roda kehidupan terus berputar. Kadang ada di atas. Kadang ada di bawah. Kadang kita tertawa. Kadang kita  menangis. Kita tidak tahu, apa yang akan terjadi pada esok hari? Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Hanya Tuhan yang dapat menentukan kehidupan ini. Apa yang bisa kita perbuat? Kita tidak dapat menentukan takdir ini.
Ada baiknya…, sebelum kita membicarakan nasib dua orang PNS UM ini—kita mengenang dua tokoh Manusia Indonesia yang tercatat dalam lembaran sejarah. Pertama adalah Rudy Hartono Kurniawan dan yang kedua adalah Kusni Kasdut. Siapa yang tidak kenal dengan dua tokoh ini? Hampir semua masyarakat Indonesia yang sekarang berumur lima puluh lima tahun atau lebih pasti mengenalnya. Secara kebetulan tulisan ini penulis ketik saat jaga malam di Pos Kamling  Perum Asoka Hills, Desa Sumbersekar, Dau, Malang.
“Pak Djoko, saya mengenal Rudy Hartono melalui bacaan tetapi Kusni Kasdut belum pernah saya kenal. Kusni Kasdut itu siapa?” Tanya Mas Devi, teman ronda penulis di pos kamling yang lahir pada tahun 1980.
“Kedua tokoh itu sangat terkenal di era tahun 70-an. Rudy Hartono adalah pemain bulutangkis Indonesia, juara All England 7 (tujuh) kali berturut-turut. Sedangkan Kusni Kasdut adalah penjahat yang paling ditakuti. Dia tidak segan-segan membunuh korbannya. Polisi harus bekerja keras menangkapnya karena setiap dimasukkan ke penjara selalu dapat melarikan diri. Keduanya sangat terkenal, bedanya yang satu bernilai positif dan yang satunya lagi bernilai negatif”. Begitu jawaban dan sedikit ulasan penulis padanya.
Bagaimana dengan kedua PNS UM yang sedang diincar oleh wartawan? Bacalah kliping koran Jawa Pos Radar Malang dan koran Malang Pos berikut.

KLIPING JAWA POS

 
 

KLIPING MALANG POS

 
 
Kedua orang PNS UM tersebut di atas, saat ini berdinas di Sub Bagian Sarana Akademik BAKPIK UM. Bagaimana komentar Anda?

 

Malang,  19 Januari 2013

*) Staf Subbag Sarana Akademik BAKPIK UM

GALERI FOTO KITA

TAK KENAL MAKA KETERLALUANLAH KITA

(Bagian 1)

Oleh: Djoko Rahardjo*

Siapakah orang (Juara Nomor 2) yang ada di dalam foto di bawah ini? Beliau berjasa sekali pada UM!

Keterangan: Beliau adalah Pensiunan PNS UM yang telah menjuarai lari 100 meter.

KERINDUAN

KERINDUAN

Oleh: Djoko Rahardjo*

Bila rasa rindu sudah sampai di dasar lubuk hati. Bila rasa rindu sudah melampui batas demensi ruang dan waktu. Bila rasa rindu menggelora di dalam dada dan tak terbendung lagi. Apa yang akan terjadi? Pernakah Anda merasakannya? Ada beberapa “kisah nyata” yang hendak penulis paparkan di bawah ini.
Hiruk pikuk peserta festival drama di Lab Drama, Gedung E6  FS UM yang sedang mempersiapkan diri, mulai terasa. Pagi itu, Sabtu 22 Oktober 2011, sekitar pukul 08.30 wib., ada beberapa Siswa SLTA yang ada di Kota Malang dan sekitarnya,  sedang berlatih drama di halaman samping gedung FS. Secara kebetulan–pagi itu bersamaan dengan pelaksanaan Tes Kemampuan Bahasa Inggris (TKBI) bagi Mahasiswa UM Angkatan 2011—dilaksanakan di Aula FS—yang terletak persis di depan lab drama.

“Pak! Ada orangtua yang ingin bertemu dengan pejabat FS!” Kata panitia festival drama.

“Dimana beliau sekarang?”

“Di sebelah barat gedung!”

Kutimggalkan meja tempat presensi peserta TKBI yang berada di bawah tangga lab. drama. Kuhampiri kakek tua yang berbaju putih, bercelana krem, dan  bertopi laken putih. Kugandeng tangannya, sambil berjalan tertatih-tatih, beliau bertanya: “Siapa yang menjadi Ketua Jurusan Sastra Indonesia?”

“Prof. Dr. Maryeni, M.Pd”, jawabku.

“Apakah saya dapat menjumpainya?”

“Maaf Pak! Kita tidak dapat menjumpainya sekarang karena hari Sabtu perkuliahan libur”.

Langkah kami terhenti di depan meja panitia festival. Kuperkenalkan beliau kepada beberapa mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia.

“Adik-adik…, beliau adalah Prof. M.A. Icksan, Mantan Dekan Fakultas Sastra dan Mantan Rektor IKIP Malang. Perlu Anda ketahui…, hampir semua  Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia FS UM yang ada sekarang ini, pernah menjadi mahasiswanya. Termasuk Kajur Sastra Indonesia, Dekan FS, Pembantu Rektor II dan Rektor UM”.

Setelah bercerita cukup lama, beliau berpamitan kepada kami. Seperti saat kedatangannya, ketika pulangpun kuantar sampai di tempat parkir. Ada beberapa orang petugas parkir FS yang sedang berjaga. Salah satu diantara mereka, kuminta kesediaannya untuk mengantar beliau sampai ke rumahnya.

Apakah hanya Prof. M.A. Icksan saja yang merindukan pertemuan dengan koleganya? Tidak! Masih ada beberapa Pensiunan Dosen dan Karyawan IKIP Malang atau UM yang memiliki perasaan rindu kepada tempat mereka “mengabdi” beserta sahabat dan teman sejawat. Berikut ini ada 2 (dua) orang sahabat penulis yang memiliki perasaan tidak jauh berbeda dengan Prof. M.A. Icksan.

Di suatu pagi—setelah sholat Subuh–pada beberapa bulan yang lalu—penulis menerima SMS dari seorang teman—yang telah pensiun dua tahun yang lalu. Isi dari SMS tersebut cukup pendek: “Yok opo kabare konco-konco nok kantor? Sak iki opo yo sik pancet sibuk?” (Bagaimana kabarnya teman-teman di kantor? Sekarang ini apa masih tetap sibuk?). Penulis mengira SMS ini hanya ditujukan kepada penulis pribadi. Ternyata tidak! Setibanya di Kantor Subbag Sarana Pendidikan UM, penulis memberitahaukan kepada kawan-kawan: “Saya tadi pagi menerima SMS dari Pak Asma’un”.

“Sama!” Jawab kawan-kawan di kantor, hampir serentak.

“Ada apa ya, Pak Asma’un kok meng-SMS kita? Mudah-mudahan beliau tidak ada apa-apa!“ Komentar penulis.

Kira-kira sekitar pukul 14.00 wib., beberapa teman pergi ke rumah Bapak Asma’un, S.Pd, di Desa Klandungan, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Beberapa menit kemudian, rombongan sudah sampai di rumah beliau. Apa yang terjadi?

“Gak onok opo-opo, aku mek kangen Kantor Sardik karo kepingin ketemu konco-konco kabeh! (Tidak ada apa-apa, saya hanya rindu melihat Kantor Sardik dan kepingin bertemu dengan kawan-kawan)”.

Rupanya rasa rindu “semacam ini” juga dirasakan oleh Bapak Wahyudi Sudibyo, B.A.–mantan PNS UM—tempat  tugas terakhir di Laboratoium Geografi—yang pensiun dua tahun yang lalu.

Hari Sabtu, 4 Agustus 2012, sekitar pukul 16.50 wib. Penulis bertamu ke rumah beliau di Tlogamas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Sore itu, suasana rumah terasa hangat. Sebab, semua anggota keluarga ada di rumah: Isteri, kedua anaknya, kedua menantunya dan ketiga cucunya menyambut penulis dengan ramah dan hangat. Penuh kekeluargaan. Maklum…, sebagai sahabat, kami bertemu terakhir setahun yang lalu. Ketika itu, beliau sedang mempunyai hajat menikahkan putrinya yang nomor dua.

“Assalamu’aalaikum!” Sambil menjabat erat tangannya, kutanyakan padanya: “Bagaimana kabar Pak Wahyudi dan seluruh keluarga? Sehat-sehat semua?”

“Alhamdulillah, saya dan seluruh keluarga sehat-sehat. Bagaimana dengan Pak Djoko dan keluarga di rumah? Sehat-sehat?” Begitu tegur sapa yang hangat darinya.

Sambil menuntun cucunya yang nomor dua, dia berkata: “Sebetulnya…, saya kepingin berkunjung ke kantor dan bertemu dengan kawan-kawan tetapi saya sungkan”.

Kami bertiga berbincang-bincang tentang kenangan masa lalu. Secara bergantian…, Nyonya Wahyudi (Mbak Tutuk, Pensiunan PNS UM, tempat tugas terakhir di Kantor Lembaga Penelitian UM) menanyakan tentang kemajuan yang telah dicapai UM. Kurang lebih 15 menit kami berbicara, tiba-tiba HP penulis berbunyi, ada telepon dari Isteriku: “Pak…, sebentar lagi kita berbuka puasa! Apakah Bapak sudah membeli lauk-pauk?” Jawabku singkat: “Sudah!”

Pembicaraan kami berhenti sampai disitu. Penulis berpamitan. Sambil menjabat erat tangan Pak Wahyudi, sahabatku, kukatakan kepadanya: “Insyaallah…, cerita ini akan kutulis di website UM!” Dalam perjalanan pulang …, penulis mencoba memahami beberapa komentar Pak Wahyudi dan Bu Tutuk, yang antara lain menyiratkan seolah-olah keberadaan Para Pensiunan Dosen dan Karyawan UM seperti pepatah “Habis manis sepah dibuang”. Mudah-mudahan hal tersebut tidak terjadi.

Sesampainya di laut…, kuceritakan semuanya…, kepada ombak—kepada karang—kepada matahari. Waduh…! Keliru,,,, Itukan syair lagu BERITA KEPADA KAWAN, yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade.

Nah…, yang betul…, hal ini kuceritakan kepada Isteriku di rumah. Sesampainya di meja makan kubuka lauk-pauk, kugandengkan dengan nasi hangat—kumakan bersama Istri dan Cucuku. Sambil menikmati hidangan berbuka puasa, kuceritakan semuanya, dan kusampaikan “pendapatku” seperti berikut.

“Bu…, salakah bila seseorang memiliki kerinduan dan ingin bertemu? Memang…, Broery Pesolima almarhum dengan Dewi Yul pernah berduet menyayikan lagu RINDU YANG TERLARANG, syairnya seperti ini: Kupuisikan…rindu dihatiku. Kuharap tiada seorangpun tahu….”

“Tetapi lebih tepat kerinduan mereka dilukiskan  seperti syair lagu yang dinyanyikan oleh Delly, vokalis Band The Rollies dari Kota Bandung yang terkenal di era tahun 70-an. Syairnya kurang lebih seperti ini: Adakah kerinduan dihatimu…, seperti yang kurasa….”

Kok jadi melangkolis, ya? Wah…, jangan-jangan Bapak dan Ibu Dosen serta Karyawan UM akan merasakan hal seperti itu, ketika pensiun nanti. Sebelum hal itu terjadi pada PNS UM, bagaimana bila penulis menawarkan OBAT ANTI RINDU? Ada-ada saja…. Seperti apa? Penasaran, kan? Hehehe…, ikutilah episode berikutnya!

DI PEMBARINGAN KEDAMAIAN PAK JO TIDUR

DI PEMBARINGAN KEDAMAIAN PAK  JO TIDUR

Oleh Djoko Rahardjo*)

 

Siang  itu matahari besinar agak redup, seakan ikut berduka atas kepergian Drs. Johanis Rampisela, M.S untuk selama-lamanya.  Di dalam Istana  Jalan Cikurai 11, Kota Malang terasa hening dan syahdu.  Di sana telah tidur dalam kedamaian seorang guru yang penyabar, penyantun, penyayang dan pengamal ilmu yang sejati. Kupandangi wajah pucat pasi yang seakan menyatu dengan pembaringan putih suci. Minggu tanggal 10 Juni 2012 adalah hari yang terakhir kali bagi semua yang hadir untuk bertatap muka dengan  dirinya. Sambil menatap wajahnya, tiba-tiba kenangan bersama dengan dirinya beberapa bulan yang lalu hadir dalam angan: “Hari ini, Pak Djoko  tidak sedang  Mendem Anggur, kan?” Kami berdua tertawa lepas, hehehe…. Rupanya beliau sudah membaca tulisan saya di Website UM, Berkarya dan Terus Berkarya yang berjudul MENDEM ANGGUR.
 
“Pak Djoko teruslah menulis di Website UM. Sudah kami sediakan  2 (dua) konten untuk diisi yakni Bahasa Arema dan Sastra Jawa. Saya pikir Pak Djoko mampu mengisinya. Memang…  untuk menjadi orang yang cerdas, jujur dan berani mengritik kebijakan pimpinan itu resikonya “cukup besar”. Kadang-kadang ide  atau gagasan yang baik dari kita tidak bermakna bagi pimpinan karena hal tersebut tidak sesuai dengan seleranya. Tetapi itulah faktanya. Semoga para pimpinan  di UM tidak alergi terhadap kritik yang membangun”. Saya tersontak dari lamunan, ketika ada dua orang yang datang untuk berdoa bagi jenazah.  Selamat tinggal Pak Jo! Semoga Pak Jo dapat istirahat dalam kedamaian.

 

Malang, 11 Juni 2012

*) Staf Subbag Akademik BAKPIK Universitas Negeri Malang

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.