DI PEMBARINGAN KEDAMAIAN PAK JO TIDUR

DI PEMBARINGAN KEDAMAIAN PAK  JO TIDUR

Oleh Djoko Rahardjo*)

 

Siang  itu matahari besinar agak redup, seakan ikut berduka atas kepergian Drs. Johanis Rampisela, M.S untuk selama-lamanya.  Di dalam Istana  Jalan Cikurai 11, Kota Malang terasa hening dan syahdu.  Di sana telah tidur dalam kedamaian seorang guru yang penyabar, penyantun, penyayang dan pengamal ilmu yang sejati. Kupandangi wajah pucat pasi yang seakan menyatu dengan pembaringan putih suci. Minggu tanggal 10 Juni 2012 adalah hari yang terakhir kali bagi semua yang hadir untuk bertatap muka dengan  dirinya. Sambil menatap wajahnya, tiba-tiba kenangan bersama dengan dirinya beberapa bulan yang lalu hadir dalam angan: “Hari ini, Pak Djoko  tidak sedang  Mendem Anggur, kan?” Kami berdua tertawa lepas, hehehe…. Rupanya beliau sudah membaca tulisan saya di Website UM, Berkarya dan Terus Berkarya yang berjudul MENDEM ANGGUR.
 
“Pak Djoko teruslah menulis di Website UM. Sudah kami sediakan  2 (dua) konten untuk diisi yakni Bahasa Arema dan Sastra Jawa. Saya pikir Pak Djoko mampu mengisinya. Memang…  untuk menjadi orang yang cerdas, jujur dan berani mengritik kebijakan pimpinan itu resikonya “cukup besar”. Kadang-kadang ide  atau gagasan yang baik dari kita tidak bermakna bagi pimpinan karena hal tersebut tidak sesuai dengan seleranya. Tetapi itulah faktanya. Semoga para pimpinan  di UM tidak alergi terhadap kritik yang membangun”. Saya tersontak dari lamunan, ketika ada dua orang yang datang untuk berdoa bagi jenazah.  Selamat tinggal Pak Jo! Semoga Pak Jo dapat istirahat dalam kedamaian.

 

Malang, 11 Juni 2012

*) Staf Subbag Akademik BAKPIK Universitas Negeri Malang

Post Author: Djoko Rahardjo

6 thoughts on “DI PEMBARINGAN KEDAMAIAN PAK JO TIDUR

    dahlia

    (19 Juni 2012 - 08:01)

    selamat jalan pa yo, you are the friend, the best teacher, the best sciense and that all….. everything is good for you…. GBU …..

    kristanto

    (14 Juni 2012 - 22:39)

    INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN

    Bayu

    (13 Juni 2012 - 10:40)

    Meski saya bukan alumni dan bukan pula keluarga besar UM, namun saya termasuk yang sangat kehilangan beliau. Bagaimana tidak, setiap mengunjungi website UM, saya selalu menyempatkan untuk membaca tulisan-tulisan beliau, khususnya tentang webometrics. Kali terakhir saya bertemu dan bertatap muka langsung dengan beliau ketika materi klinik e-journal pada Penloknas Jurnal Ilmiah di Batu. Saya turut merasakan kenangan indah mahasiswa, kolega, dan segenap civitas akademika UM terhadap Pak Jo seperti komentar-komentar di atas meski saya bukan bagian dari civitas akademika UM, saya mendapatkan kenangan manis, rasa kagum sekaligus bangga serta semangat yang menular dari Pak Jo. Terima kasih, Pak Jo. Semoga sakitnya menjadi penggugur dosa, inspirasi dan semangatnya yang menular bisa menjadi amal jariyah dan sumber pahala tak bertepi di akhirat sana. Semoga kerja tulus ikhlasnya bisa menjadi sumber pertolongan di akhirat sana, insya Allah. Aamiin.

    djoko rahardjo

    (13 Juni 2012 - 08:11)

    Trima kasih Pak Dawud atas informasinya. Saya akan mencoba “mengkritisi” kebijakan para pimpinan UM. Insyaallah kritik saya bersifat “membangun” demi kemajuan UM untuk sekarang dan yang akan datang. Semoga para pimpinan UM “legowo” bila mendapat kritik yang cerdas, santun dan bermartabat.

    Bayu Gunawan

    (12 Juni 2012 - 07:40)

    Selamat jalan Pak Jo. Bapak sampai duluan di rumah Bapa.

    dawud

    (11 Juni 2012 - 11:19)

    Pak Djoko Yth.,
    (1) Sebagian bueesar pimpinan UM tidak alergi kritik, hanya sebagian kuecil yang alergi kritik: anggap saja keragaman untuk keseimbangan, tidak perlu disebut unik dan langka.
    (2) Untuk kasus Pak Jo, semua masukan Pak Jo telah ditanggapi dengan sangat positif dan apresitif oleh Piminan UM. Di antaranya, Pimpinan UM membentuk Pokja Revitalisasi teknologi informasi dan komunikasi. Pak Jo juga bagian dari Pokja itu.
    (3) Pak Jo juga sudah memberikan dasar-dasar pengembangan yang fundamental yang ditindaklanjuti oleh Pokja. Sebagian sudah dilaksanakan, sebagian dalam proses, sebagian ditunda karena menyiapkan prasyarat yang diperlakukan.

Komentar ditutup.