Hakikat Umur Yang Panjang

HAKIKAT UMUR YANG PANJANG

Hari Rabu, 1 April 2015, pukul 08.15 wib, tempat diskusi di Kantor Sub Bagian Umum LP3 UM, kami berempat (penulis, Ibu Yayuk, Pak Bambang Eko B dan Pak Purwanto Poo) bekerja sambil berbincang-bincang mengenai orang yang diberi umur panjang.

“Bah (Abah) selamat hari ulang tahun”, begitu ucapan Ibu Yayuk kepada Pak Bambang.
“Wah…, sampeyan wis telat…, lairku tanggal 31 Maret”, kata Pak Bambang.
“Gak opo-opo…, sing penting diwenehi seger waras karo umur sing panjang”, jawab Ibu Yayuk.
“Wong-wong akeh sing keliru…, mosok lek nyanyi: panjang umurnya-panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia. Gak ngono, sing bener iku: kurang umurnya-kurang umurnya…, karena setiap tahun jatah umur kita berkurang satu tahun”, begitu komentar Pak Bambang.

Manusia tidak ada yang tahu, kapan ajalnya akan tiba. Dalam kaadaan bagaimana manusia itu akan menemuai ajalnya? Dimakah ajalnya akan dijemput oleh malaikat? Semua tidak ada yang tahu kecuali Tuhan Sang Pencipta. Manusia ada yang diberi umur panjang dan ada juga yang diberi umur pendek. Bila seseorang diberi umur yang panjang maka yang menjadi pertanyaan adalah untuk apa umur itu digunakan.

Ada suatu kisah dalam pewayangan Jawa tentang batas umur atau ajal manusia. Irawan adalah seorang pemuda yang ditakdirkan memiliki umur pendek. Suatu hari Sawitri bersama Ayahnya, Raja Aswapati dari Kerajaan Mandaraka atau Negeri Madras sedang berburu di hutan. Kebetulan saat perjalanan tersebut, kereta yang ditumpangi Sawitri melewati kebun milik Setyawan.

Dibalik kelambu jendela kereta—tanpa disengaja—Sawitri melemparkan padangannnya keluar jendela, dan tiba-tiba matanya bertatapan dengan wajah Setyawan yang sedang bekerja di kebun. Betapa hati Sawitri bergetar melihat ketampanan Setyawan. Sebagai seorang gadis belia tentulah akan tertarik dengan seorang pemuda yang rupawan. Wajar dan manusiawi bila Sawitri jatuh cinta pada padangan pertama.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan, singkat cerita Sawitri akan di nikahkan dengan seorang pangeran tetapi ia menolaknya. Sawitri sudah terlanjur cinta pada Setyawan. Sebagai seorang ayah yang bijak maka upaya yang dilakukan adalah bersamadi memohon petunjuk kepada Sang Hyang Jagat Girinata (Bathara Guru). Petunjuk Bathara Guru disampaikan melalui Sang Hyang Keneka Putra (Bathara Narada) agar diteruskan kepada ayah Sawitri.
Isi dari pesan Bathara Guru agar Sawitri membatalkan pilihan jodohnya kepada Setyawan. Menurut suratan takdir bahwa batas usia Setyawan hanya sampai satu tahun ke depan. Meskipun demikian Sawitri tidak menghiraukan nasihat itu. Akhirnya Sawitri menikah dengan Setyawan.

Setelah satu tahun usia pernikahan dilaluinya maka datanglah Bathara Yamadipati, dewa pencabut nyawa untuk mencabut sukma Setyawan.

Bersambung…

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.