[JAWAPOS – Mahasiswa] Ubah Sendiri Citra Diri Perempuan

Ubah Sendiri Citra Diri Perempuan
Oleh
Gethsemene Kezia Bejaxhiu
Mahasiswi Fakulas Sastra Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang

PEREMPUAN, sebagaimana orang menyebutnya, adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sepadan dengan laki-laki. Pada dasarnya, perempuan dan laki-laki memiliki beberapa perbedaan mencolok yang membuat mereka dinamakan “perempuan dan laki-laki”.

Kaum lelaki lebih menggunakan nalar dan logika dalam berpikir dan mengatasi masalah. Kaum perempuan lebih menggunakan perasaan dan emosinya ketika mengadapi masalah. Dalam paradigma masyarakat, kaum perempuan selalu identik dengan “kelemahlembutan” dan “ketidakberdayaan”. Dua steriotipe itu mungkin membuat sebagian lelaki kurang menyadari potensi perempuan dan memperlakukan kaum perempuan dengan kurang tepat.

Banyak kejadian memilukan, antara lain, lelaki melarang perempuan berkarya, memiliki kegiatan di luar rumah, bekerja produktif di luar rumah, dan memiliki kehidupan sendiri. Yang tidak kalah penting, larangan meraih mimpi-mimpinya.

Memang, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah cara berpikir dan cara sebagian lelaki yang seperti itu. Yang bisa dilakukan perempuan adalah mengubah cara berpikir mereka dalam memandang citra diri sendiri.

Pada abad ke-18 seorang penulis, Mary Wollstonecraft, memaparkan dalam bukunya yang berjudul A Vindication of Rights of Woman, bahwa perempuan adalah Personhood (manusia secara utuh). Perempuan bukanlah mainan laki-laki atau lonceng milik laki-laki yang harus berbunyi pada telinga laki-laki tanpa mengindahkan nalar setiap kali mereka ingin dihibur.

Dalam perkataan lain, perempuan bukanlah “sekadar alat” atau instrumen  untuk kebahagiaan atau kesempurnaan orang lain. Sebaliknya perempuan adalah suatu tujuan, suatu agen bernalar yang harga dirinya ada dalam kemampuannya untuk menentukan nasib sendiri. Tidak ada seorang perempuan pun, tegas Wollstonecraft, yang seharusnya membiarkan kekerasan seperti itu dilakukan terhadapnya.

Ada banyak kasus di muka bumi ini yang mengindikasikan minimnya seorang perempuan menilai diri sendiri. Sebagian perempuan pasrah dengan rela bekerja setiap hari di dapur, mengurus anak, dan berdiam diri di rumah. Sebagian lagi “menjual diri” di rumah-rumah bordil. Sebagian lainnya mengisi hidup dengan gaya yang kurang baik sehingga menghasilkan kasus-kasus seperti aborsi, HIV/AIDS, penyakit kelamin, dan hamil di luar nikah.

Menjadi seorang perempuan yang notabene dianggap lemah dan tidak berdaya bukanlah halangan bagi perempuan untuk berpikir besar. Perempuan adalah sebuah pribadi. Sebuah kehidupan yang setara dengan kaum mana pun. Kaum perempuan hanya perlu berpikir lebih besar, menggunakan nalarnya serta berani out of the box. Oprah Winfrey dalam salah satu episode The Oprah Winfrey Show mengingatkan, “We have to fullfil women’s life and persuit of happiness. Just use your life.”

 Alangkah baiknya apabila kaum perempuan dan laki-laki saling menghormati dan melengkapi dalam membangun kehidupan yang sejahtera, bahagia, dan damai di muka bumi ini. Perempuan melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki dan laki-laki mengatasi hal yang tidak bisa diatasi oleh perempuan.  Tentu saja, semua hal itu dilakukan di bawah satu payung yang disebut saling menghormati dan menjaga. (*)

[HERVIEW]Senin, 17 Januari 2011 halaman 23

 

Post Author: michael

1 thought on “[JAWAPOS – Mahasiswa] Ubah Sendiri Citra Diri Perempuan

    djoko rahardjo

    (25 Januari 2011 - 10:11)

    Saya tertarik pada “penggalan kalimat” dari tulisan Saudari Gethsemene Kezia Bejaxhiu (Mahasiswi Fakulas Sastra Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang) yang berjudul Ubah Sendiri Citra Diri Perempuan: “Yang bisa dilakukan perempuan adalah mengubah cara berpikir mereka dalam memandang citra diri sendiri”.

    Komentar saya bersandar pada Kisah Pewayangan Jawa pada Lakon Gugurnya Maharesi Bisma. Di dalam lakon Gugurnya Maharesi Bisma dikisahkan bahwa yang layak menjadi Panglima Perang Pendawa adalah “Srikandi”.

    Ketika itu Bathara Kresna memberikan “wejangan” kepada Srikandi bahwa tak seorangpun yang dapat menandingi kesaktian Panglima Perang dari Kurawa (Maharesi/Mahaguru Bisma) kecuali Srikandi (seorang wanita/isteri Raden Harjuna).

    Mungkin untuk ukuran sekarang Mahaguru Bisma adalah seorang jenderal, ilmuwan, negarawan dan agamawan yang memiliki segala-galanya.
    Setiap “wayang” ketika mendengar bahwa Mahaguru Bisma menjadi panglima perang, hatinya berdegup kencang. Mereka dapat memperhitungkan betapa “dasyat” peperangan yang akan terjadi.

    Srikandi adalah seorang wanita yang “mampu dan mau” mengubah sendiri citra diri perempuan. Dengan izin Raden Harjuna maka berangkatlah ke Tegal Kurusetra tempat medan peperangan. Dalam peperengan itu Mahaguru Bisma gugur di tangan Srikandi.

    Inilah pelajaran dari para leluhur Bangsa Indonesia bagi Perempuan/Wanita Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *