Kasidi Mosen: Solusi Komunikasi dengan Difabel Rungu

Upaya yang dilakukan oleh lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yakni Rendy Yofana Kusuma, Tinesa Fara Prihandini, Putri Karunia Wati, Sholeh Zhafry Zamzami, dan Suraji ini patut diacungi jempol. Pasalnya, mereka menciptakan sebuah aplikasi solutif yang dapat digunakan untuk mempermudah komunikasi dengan para difabel rungu. Aplikasi yang mereka ciptakan dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tersebut dinamai Kasidi Mosen, yakni aplikasi komunikasi dengan anak tunarungu dan tunawicara menggunakan standar bahasa SIBI dalam kegiatan SCSD.

Inspirasi dan ide mereka muncul ketika melihat kondisi di UM, terdapat juga mahasiswa yang berkebutuhan khusus. “Nyatanya dengan adanya mahasiswa disabilitas rungu membuat teman-teman mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan mereka karena tidak bisa menggunakan isyarat,” ujar Rendy Yofana, sang ketua tim Kasidi Mosen.

Terlebih, menurut Kementerian Sosial, pada 2010 jumlah penyandang disabilitas di Indonesia adalah 11,580,117 orang. Dari jumlah tersebut 3,474,035 (30%) penyandang disabilitas penglihatan, 3,010,830 (26%) penyandang disabilitas fisik, 2,547,626 (22%) penyandang disabilitas pendengaran, 1,389,614 (12%) penyandang disabiltias mental dan 1,158,012 (10%) penyandang disabilitas kronis.

“Di sini kami membuat aplikasi ini agar mempermudah teman-teman reguler yang tidak bisa menggunakan bahasa isyarat agar dapat berkomunikasi dengan teman-teman difabel rungu, sehingga tanpa belaajar bahasa isyarat mereka dapat berkomunikasi dengan lancar,” ucap Rendy.

Dalam pengembangannya, Kasidi Mosen menggunakan teknologi motion sensor dan image processing. “Sampai saat ini, aplikasi ini masih dalam tahap penyempurnaan di bagian pendeteksi isyaratnya,” lanjut Rendy. Tim Kasidi Mosen juga menggandeng salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di UM yang concern terhadap difabel, yakni UKM Gerakan Mahasiswa Peduli Inklusi (Gempita) untuk semakin menyempurnakan aplikasi.

“Ke depan, (penggunaan Kasidi Mosen, red) akan diperluas lagi ke seluruh Indonesia,” kata mahasiswa jurusan Teknik Elektro tersebut. Selain itu, menurut Rendy, nantinya tidak hanya akan mengembangkan aplikasi ini namun juga mengadakan sosialisasi ke komunitas rungu dan sekolah-sekolah yang berkebutuhan khusus. “Nantinya, aplikasi ini akan di-upload ke Play Store, sehingga masyarakat Indonesia dapat menggunakan aplikasi ini secara luas dan gratis,” tutup Rendy.

Penulis: Tinesa Fara Prihandini

Editor: Arvendo Mahardika

Post Author: Admin Berkarya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *