Ketika Mahasiswa Timur dan Barat Guyup dalam Diskusi di UM

Malang. Malam yang dingin Kota Malang tak menyurutkan para mahasiswa datang ke halaman Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM) untuk melakukan diskusi. Diskusi yang cukup seru menghangatkan suasana kala bahasan malam tadi (22/8) membahas pembangunan Indonesia Timur. Walaupun Kota Malang baru saja diterpa badai prahara soal bentrok mahasiswa Papua dan sebagian warga Malang, namun diskusi yang diprakarsai komunitas Lapak Diskusi ini terlihat guyup dan teduh. Terlebih malam itu dihadiri perwakilan  mahasiswa dari timur (Papua-NTT) maupun barat (Jawa-Sumatra) malam itu.

Diskusi yang dipantik Andhika Yudha Pratama dosen Universitas Wisnuwardhana ini pun cukup membuat para peserta berkobar dalam berbagai argumen. Terlebih ketika membahas soal pembangunan di Papua hingga menyayangkan peristiwa di Kayu tangan Kamis minggu lalu (15/8). Andhika juga menyayangkan beberapa diskriminasi yang dialami mahasiswa Papua yang ada di Malang akhir-akhir ini. “Perlakuan diskriminatif yang dialami oleh mahasiswa cukup menyentuh kalbu kita,” ungkap dosen muda asli Madiun ini.

Lebih lanjut Andika mengajak agar menghilangkan stigma dan stereotip negatif mahasiswa Papua di Malang. Terlebih yang kerap berkembang anggapan orang Papua orang terbelakang, pemabuk, kasar, tidak punya etika, kurang cantik atau tampan, hingga tidak beradab seolah-olah menjadi umum di masyarakat Malang. Ini yang membuat jarak antara mahasiwa Timur dan Barat khususnya Jawa semakin jauh. “Diskriminasi cukup ketara di masyarakat kita, contohlah kos-kosan. Tidak jarang warga Malang sendiri tidak mau rumahnya dihuni oleh mahasiswa dari Timur khususnya Papua,” ungkap dosen alumnus UM ini.

Selain itu, Andika juga menyayangkan peristiwa yang terjadi di Malang akhir-akhir ini. Terlebih dalam menyuarakan pendapat mahasiswa Papua seolah-olah dibatasi. Seperti ketika mereka menggelar aksi untuk melakukan kritik di muka umum. Masyarakat sekitar maupun pemerintah daerah menganggapnya sebagai aksi pemberontakan yang seolah-olah melekatkan bahwa mahasiswa Papua ingin merdeka sendiri. “Berkata  merdeka! Itu kan sudah biasa untuk masyarakat kita. Apalagi bulan ini Agustus pastinya banyak orang teriak Merdeka! Tapi mengapa ketika mahasiswa Papua teriak Merdeka! Kesannya sudah beda,” tegasnya.

Dari pantikan Andika pun banyak ditanggapi peserta diskusi, tidak terkecuali mahasiswa dari timur. Seperti Petu mahasiswa dari NTT menanggapi bahwa dia menyadari Sumber Daya Manusia (SDM) orang timur dan barat memang beda. Karena perkembangan  pendidikan di dua wilayah ini sudah sangat beda. Terlebih bernada suara keras dan terkesan memiliki karakter yang keras memang alamiah yang tidak bisa dirubah. Hal itu sudah menjadi identitas. “Memang karakter kita dari timur ya begitu, tidak bisa dirubah-rubah. Sehingga kita seharusnya saling bisa memahami,” ungkap mahasiswa Wisnu Wardhana ini.

Terkait pembangunan, Petu juga mengakui memang antara Indonesia Barat dan Timur memang timpang. Itu juga menjadi keresahan Petu dan kawan-kawannya. Dia juga mengira mahasiswa Papua dalam aksinya juga merasakan keresahan ini dan terwujud dalam kritik-kritiknya terhadap pemerintah. “Kritik yang disampaikan mahasiswa Papua itu jangan dianggap sebagai pemberontakan. Tapi kita harus pahami sebagai mengutarakan pendapat dan usaha mereka mendorong pemerataan pembangunan di Indonesia Timur,” tegasnya.

Thomas, mahasiswa UM asal NTT pun juga tadi malam mengutarakan pendapatnya. Menurutnya kebhinekaan dan keberagaman harus disikapi secara toleran. Jangan mudah dipecah- belah karena isu rasisme. Dia pun mencontohkan beberapa keteladanan toleransi yang terbentuk di tempat asalnya. “Soal keyakinan, seperti masyarakat muslim di daerah kami bisa membaur dengan masyarakat NTT yang mayoritas kristiani,” ujarnya.

Dia mencontohkan setiap perayaan natal yang bersuka tak hanya masyarakat kristiani saja tapi muslim pun juga. Terlebih di sana setiap Natal umat muslim kerap terlibat seperti mereka kerap menyuguhkan hidangan hingga ikut menjaga gereja. Hingga tidak jarang ketika umat kristiani mengadakan kegiatan di gereja, para umat muslim NTT diundang untuk memainkan kasidah dan qiraat di dalam gereja. “Begitu sebaliknya, ketika umat islam mengadakan lomba MTQ, kita yang kristiani juga ikut membantu. Toleransi tinggi di NTT,” tegas mahasiswa Pascasarjana UM ini.

Nama          : Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa  : Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)

Post Author: Admin Berkarya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *