Khutbah Jumat Dekan FS UM di Awal Tahun 1433 Hijriah

Di Zaman ini banyak orang yang kurang peduli pada penyiapan kebutuhan hidup bagi generasi yang akan datang. Banyak pemimpin yang berbuat hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup “jangka pendek”. Begitulah kira-kira inti khutbah Jumat Prof. Dr. H. Daud, M.Pd, Dekan Fakultas Sastra UM pada tanggal 8 Muharam 1433 Hijriah (2 November 2011) di Masjid Al Hikmah UM.

Lebih jauh beliau menyontohkan, pembangunan di UM yang berupa gedung, taman dan lain-lain hasilnya akan dapat dinikmati 5 sampai 10 tahun ke depan. Penulis sependapat dengan beliau. Memang pemikiran yang bersifat futuristik ( wawasan ke depan) seringkali mendapat reaksi yang begitu kuat. Reaksi tersebut terkadang bernada “sumbang”. Sebagian dari keluarga kita masih belum “tanggap ing sasmito” atau belum tanggap akan isyarat perubahan zaman.

Pernah suatu ketika penulis berbincang-bincang dengan Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd (Dosen Jurusan Sastra Indonesia FS UM) bahwa sebagian warga kita masih belum berubah pola pikirnya (mindsetnya). Sambil berkelakar beliau mengumpamakan pola pikir sebagian mereka seperti makanan “universitas rasa IKIP”. Penulis juga merasakan resep masakan tersebut. Apakah para pembaca juga merasakan resep universitas rasa IKIP? Mari kita dukung program Rektor UM untuk segera merubah mindset tersebut. Setuju…?!

Malang, 5 November 2011
Djoko Rahardjo, Subag Sardik BAAKPSI UM

Post Author: Djoko Rahardjo

7 thoughts on “Khutbah Jumat Dekan FS UM di Awal Tahun 1433 Hijriah

    Djoko Saryono

    (14 Desember 2011 - 13:38)

    Saya kok dibawa-bawa ya? Omongan tahun 1990-an tent kontekstual saat itu …ketika IKIP Malang baru berubah jadi UM. Apa Sekarang masih relevan? Saya sendiri sudah tak yakin. Kino tantangan Dan tuntutAn sudah beda. Kenyataan IKIP Malang sudah jadi UM: bukan sekarat bersalin rupa, malah bermetamarfosa atau bertransformasi secara kelembagaan, managerial, akademis dan kultural. Kit a transformasi ini dengan integritas, komitmen dan kecintaan kepada UM.

    dawud

    (9 Desember 2011 - 16:00)

    Perubahan IKIP Malang menjadi UM dalam konteks perluasan mandat. Mandat pokok UM adalah sebagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan.
    Saya tidak alergi terhadap kritik, tetapi saya sedih kalau ada ungkapan deskriminatif, misalnya, tulisan Dik Syahri … ini mestinya pekerjaan rumah bagi dosen-dosen yang tidak berpendidikan (baca:dosen ilmu murni)untuk mengubah rasa ha… (“universitas rasa IKIP”). Kalau Anda tidak merasa inferior, saya merasa diinferiorkan dengan ungkapan seperti itu.
    Anda sendiri mengatakan itu ungkapan orang lain di tahun 1999, “Istilah “ universitas rasa IKIP” pertama kali saya dengar dari Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd tahun 1999” Anda pun menekankan sampai sekarang masih seperti itu dengan ungkapan “Kita sudah berubah hampir 12 tahun, tetapi rasa IKIP-nya masih terasa betul.” Ungkapan Anda ini pun, di samping kritik, saya nilai juga bernuansa menginferiorkan lembaga ini dan mengkerdilkan upaya lembaga ini mencapai kemajuan, yakni “tidak ada perubahan sama sekali selama 12 tahun ini”.
    Terima kasih
    Dawud, FS UM

    Moch Syahri

    (9 Desember 2011 - 09:28)

    Istilah “ universitas rasa IKIP” pertama kali saya dengar dari Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd tahun 1999. Pada saat itu, saya dosen mudah dan ganteng (he…just kidding) yang di magangkan (mungkin istilah yang pas diplonco he…) ke Beliau. Tidak hanya itu, istilah yang muncul lainnya antara lain “ lebih baik kecil jadi kepala dari pada besar tetapi jadi ekor”. Ucapan-ucapan Prof Djoko sempat di muat di surat kabar lokal. Kalau tidak salah ingat, akibat ucapannya, beliau sempat di panggil Rektor UM ,Almarhum Prof Nuril. Saya menangkap, ucapan-ucapan beliau lebih di tujukan untuk otokritik. IKIP Malang hebat, jelas, semua mengakui dan tidak ada yang meragukan. Bahkan dalam beberapa kesempatan saya mendampingi mahasiswa KKL, ungkapan kekaguman terhadap IKIP Malang nampak sekali. Barangkali yang pesan yang ingin disampaikan Prof Djoko ,setelah IKIP Malang berubah menjadi universitas, kira-kira apa perbedaannya. Sebab, dengan berubah menjadi universitas, UM akan bertarung juga dengan universitas-universitas lain yang lebih dulu mapan dalam bidang ilmu murni, misalkan UI, UGM, dan sejenisnya. Bahkan Prof Djoko sempat menganalog kan seperti ini “ Kita biasa juara sprint 100 meter, dan sekarang kita akan berlaga lari marathon” tentunya butuh persiapan dan stamina yang berbeda. Saya yakin tidak ada nada negatif dan rasa inferior dari ungakapan “universitas rasa IKIP” , semua itu lebih ditujukan sebagai otokritik untuk lebih maju. Seperti kata bijak, MENGKRITIK PERTANDA SAYANG DAN PEDULI ( sorry Prof Djoko, jadi bercerita masa lalu ha……)

    dawud

    (8 Desember 2011 - 19:42)

    Aku bangga jadi mahasiswa IKIP Malang (S1: 1980–1984; S2: 1987–1990: S3: 1993–1998). Aku juga sangat bangga sebagai alumni IKIP Malang. Saya juga sangat bangga jadi dosen IKIP Malang (1985–1999). Saya juga bangga jadi dosen UM (2000 sampai dengan sekarang). “Rasa” IKIP Malang mana sih yang tidak membanggakan? Yang saya rasakan sih, membanggakan: etos akademiknya, dosen pengajarnya, kedisiplinannya, dan lain-lain. Bahwa masih ada hal yang perlu dibenahi wajar. Alumni IKIP Malang dan alumni UM sangat dibanggakan koq oleh masyarakat. Komentar miring terhadap UM masih “rasa IKIP” tersebut, mungkin kritik untuk perbaikan; tapi bisa juga komentar tersebut sebagai indikator mental inferior saja.

    eny erawati

    (8 Desember 2011 - 03:30)

    how does it feels, to become parents,
    could only be feel when you are being parents.

    mungkin begitu ya pak.
    orang tua jarang memikirkan hidup buat dirinya. orang tua terbiasa memikirkan hidup buat anak anaknya. pada paparan wajar.

    but it also about education,
    if we teach them to be parents,
    they’ll learn what and how to become parents.
    but if we educate them to be parents,
    they’ll understand (and may be comprehend) what and how to be parents.
    so on,
    and so forth.

    maaf, respon yang tidak ilmiah.

    djoko rahardjo

    (7 Desember 2011 - 08:17)

    Hal-hal yang berkaitan dengan masalah akademik Pak Syahri lebih tahu dari pada saya. Naah… hal-hal berkaitan dengan masalah administrasi akademik dan administrasi umum saya sudah merasakan selama dua puluh enam tahun. Masih banyak yang harus dibenahi. Misalnya ketika merekrut CPNS administrasi hendaknya “melalui seleksi yang ketat” sehingga jelas kwalitasnya, dan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing unit kerja.

    Moch Syahri

    (6 Desember 2011 - 21:39)

    kalau ungkapan prof Djoko tersebut masih terasa. Kita sudah berubah hampir 12 tahun, tetapi rasa IKIP-nya masih terasa betul. Kira-kira kapan ya ada rasa lain he…..ini mestinya pekerjaan rumah bagi dosen-dosen yang tidak berpendidikan (baca:dosen ilmu murni)untuk mengubah rasa ha…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *