Komunikasi Efektif Guru Atasi Arogansi Siswa

Oleh Dra Ella Faridati Zen, MPd

Kepala Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karir dan Kompetensi Akademik (P2BK3A) Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang (UM).

Dra Ella Faridati Zen, MPd

Merebaknya kasus AA, siswa SMP PGRI Wringinanom Kabupaten Gresik Jawa Timur yang sangat arogan dan melecehkan guru Nur Khalim, merupakan tamparan hebat bagi kancah pendidikan. Seorang siswa SMP yang sebentar lagi akan ikut Ujian Nasional, berani merokok di dalam kelas dan saat ditegur guru justru menantang berkelahi. Sungguh ini merupakan potret buram dunia pendidikan, yang seharusnya tidak boleh terulang lagi di masa mendatang.

Kasus pelecehan siswa terhadap guru tersebut, memang secara hukum telah berakhir, setelah dilakukan mediasi di Polsek Wringinanom Gresik. Hadir dalam mediasi tersebut guru Nur Khalim, siswa AA didampingi orangtuanya, Kepala Sekolah SMP PGRI Wringinanom Gresik, Yayasan PGRI Gresik, Dinas Pendidikan Gresik, Perwakilan Kementrian Sosial serta petugas Unit Pelaksana Terpadu Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Jawa Timur.

Begitu kasus pelecehan guru oleh siswa di Gresik ini meledak di Medsos, pihak Pusat Pengembangan Bimbingan Konseling Karir, dan Kompetensi Akademik ( P2BK3A) Universitas Negeri Malang sempat melakukan diskusi kecil dengan sejumlah dosen konselor. Para dosen konselor ini terdiri dari pakar bimbingan konseling serta pakar psikologi. Umumnya amat prihatin dengan hadirnya fenomena arogansi siswa yang berani melecehkan gurunya.

Perilaku Bermasalah

Jika disimak dari kasus tersebut, tampaknya memang siswa yang bersangkutan menunjukkan sikap atau perilaku bermasalah dalam penyesuaian sosial. Siswa menunjukkan sikap menentang, menantang serta arogan terhadap gurunya. Sikap arogansi itu menunjukkan bahwa siswa pelaku pelecehan pada guru memang memiliki masalah dalam perilaku dan pihak lembaga pendididikan seharusnya membantu menyelesaikan perilaku bermasalah tersebut.

Dilihat dari sisi perkembangannya, siswa berinisial AA itu kini berusia 15 tahun, ia berada pada masa remaja. Pada masa ini, individu sedang mengeksplorasi identitas diri dan identitas sosial. Pada individu yang berhasil dalam penyesuaian terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungannya, ia akan berkembang sebagai individu yang mampu menunjukkan eksistensi diri atau jati dirinya. Eksistensi diri itu bisa ditunjukkan melalui prestasi yang dicapainya, baik prestasi akademik maupun prestasi non akademik. Seperti mengikuti pentas seni, lomba robotik, olimpiade, olahraga dan sebagainya.

Namun pada sebagian remaja yang gagal dalam penyesuaian diri, bisa memunculkan perilaku yang tidak diharapkan, seperti ingin menunjukkan pada orang lain bahwa dirinya “hebat”, sok kuasa, sok kuat atau sok berpengaruh, seperti pada tinggah laku yang ditunjukkan siswa AA pada gurunya Nur Khalim. Siswa AA ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa menundukkan gurunya, karena itu dia lantas sengaja merokok dalam kelas dan saat ditegur berani menantang gurunya.

Kondisi yang lain, kemungkinan siswa yang bersangkutan ingin mencari perhatian dari lingkungannya, karena selama ini ia merasa kurang mendapat perhatian. Bisa jadi keluarga yang menganggap anaknya sudah gede, sehingga tidak mendapat perhatian dari orang tuanya. Karena itulah siswa AA akhirnya mencari perhatian di lingkungan sekolah lewat perilakunya yang arogan.
Peran Bimbingan dan Konseling

Bagaimanapun perilaku siswa, maka pihak guru dengan kompetensi pedagoginya, dituntut untuk memahami siapa peserta didiknya. Terlebih lagi guru bimbingan dan konseling (guru BK) atau konselor, ia seharusnya memahami karakteristik siswa dan segera mengidentifikasi para siswa yang bermasalah. Kepada siswa yang bermasalah, selanjutnya ditindaklanjuti dengan layanan responsif, membantu memecahkan masalah mereka dengan layanan konseling. Dengan demikian mereka terpecahkan masalahnya dan dapat mengadakan penyesuaian sosial secara efektif, serta tidak akan muncul perilaku yang agresif.

Peran bimbingan dan konseling di sekolah lanjutan (SMP, SMA, SMK atau MA), sangat diperlukan, mengingat para siswa pada jenjang pendidikan tersebut, berada pada masa remaja. Pada masa ini siswa memiliki ciri yang khas, di antaranya emosinya masih labil, pengaruh lingkungan dan teman sebaya lebih dominan dibanding dengan keluarga, dikenal banyak masalah, serta suka mencoba-coba sebagai upaya mencari identitas diri.
Ditinjau dari sisi perkembangan moralnya, remaja juga seringkali menunjukkan keraguan atas nilai moral atau aturan yang selama ini sudah diketahui. Muncul pertanyaan pada dirinya, benarkah jika melanggar nilai atau aturan ada sangsi pada dirinya. Sikap ragu tersebut ditunjukkan dengan perilaku menentang atau mencoba melanggar norma atau aturan yang berlaku.

Maka menjadi tanggung jawab konselor melalui layanan bimbingan dan konseling, membantu siswa dalam rangka memahami proses perkembangan yang sedang terjadi pada dirinya. Melalui layanan bimbingan yang diberikan konselor, diharapkan siswa dapat berkembang secara optimal, meliputi seluruh aspek kehidupannya. Siswa dapat menemukan jati diri dan menyesuaikan diri secara tepat atas terjadinya perubahan pada dirinya, seiring dengan proses perkembangannya. Penyesuaian diri secara tepat pada diri siswa yang berada pada masa remaja, dapat mencegah atas munculnya permasalahan dalam kehidupannya.

Terhadap siswa yang sedang menghadapi kesulitan atau masalah, baik terkait dengan aktivitas belajarnya ataupun dalam kehidupan sosialnya, maka konselor bertanggungjawab membantu mereka melalui layanan reponsif, dalam bentuk konseling. Seperti halnya kasus AA, maka konselor sekolah perlu menindak lanjuti dengan layanan konseling. Dengan demikian, AA dapat memahami dirinya dan dapat memecahkan masalahnya. Dari sisi perilaku sosial yang dapat diidentifikasi menunjukkan perilaku yang salah suai, diharapkan dapat perubahan, sehingga ia berkembang sebagai sosok siswa yang memiliki kepribadian yang lebih efektif.

Penyiapan Sosok Guru Berwibawa

Apabila disimak dari sisi guru, dalam video siswa AA melecehkan guru yang sempat viral di Medsos, menunjukkan sikap guru yang pasrah diperlakukan tidak sopan oleh siswanya. Sikap guru yang pasrah atas arogansi siswanya ini, tentu patut disesalkan. Seorang guru yang menguasai kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi pedagogi yang mumpuni, tentu akan menunjukkan sebagai sosok guru yang berwibawa. Dengan pola komunikasi yang efektif, baik secara verbal maupun non verbal, guru dapat menunjukkan kekuatannya dalam mempengaruhi siswa, tanpa harus menunjukkan sikap agresif. Sikap yang demikian ini, dapat berpengaruh pada siswa sehingga mereka merasa segan dan hormat pada guru dan tidak akan menjadikan guru sebagai obyek pelecehan ataupun obyek bully para siswanya.

Arogansi yang ditunjukkan siswa, bisa jadi karena hasil belajar yang mereka tangkap dari para guru atau lingkungan sekitar. Mereka secara sadar ataupun tidak sadar dari sikap atau komunikasi yang kurang tepat, telah menyakitkan siswa. Misal saja komentar guru “ begitu saja tidak bisa”. Kalimat ini mungkin bagi seorang siswa merupakan kalimat yang wajar, tetapi bagi siswa lain, bisa ditangkap sebagai pesan yang sangat menyakitkan, karena ia dianggap tidak mampu dan tidak dihargai. Perasaan sakit hati ini, lama kelamaan bisa menimbulkan sikap berontak dan menghasilkan perikalu arogan ataupun agresif.

Pola interaksi atau hubungan sosial antara guru dengan siswa yang diharapkan adalah guru dekat dengan siswa namun ada jarak sehingga siswa tetap menunjukkan sikap hormat. Pola hubungan yang demikian dapat diwujudkan jika guru memiliki keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi yang efektif baik dalam konteks formal (dalam proses pembelajaran) maupun dalam konteks informal (konteks hubungan interpersonal).

Penguasaan keterampilan komunikasi ini, tentu akan berdampak pada bagaimana pola hubungan antara guru dengan siswa. Tampaknyakemampuan pola komunikasi secara asertif juga harus dimiliki oleh seorang guru. Dengan kemampuan komunikasi yang asertif, maka guru dapat menyampaikan secara tegas mana yang “boleh” atau “tidak boleh”, tanpa menimbulkan perasaan sakit hati atau tersinggung pada siswa penerima pesan. Pola komunikasi asertif, dapat meminimalkan adanya salah paham dalam berkomunikasi. Inilah yang perlu dikuasai oleh para guru, agar mereka mampu “bersahabat” dengan para siswa namun tetap dihormati serta disegani.

Penguasaan keterampilan dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif, pada hakikatnya merupakan bagian dari kompetensi sosial guru. Namun di dalam kurikulum calon guru, materi kompetensi sosial tidak disajikan dalam suatu matakuliah secara khusus. Keterampilan dalam berinteraksi dan berkomunikasi diharapkan menjadi bagian dari karakter calon guru dan pengembangannya berlangsung dalam setiap proses pembelajaran pada setiap matakuliah yang disajikan.

Melalui strategi pembelajaran yang didesain oleh para dosen, diharapkan dinamika belajar di dalam perkuliahan, dapat menstimulasi keterampilan dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Dengan model-model pembelajaran seperti kooperatif learning, problem base learning, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam berinteraksi sosial dan berkomunikasi, di samping tentu menguasai monten materi yang sedang dipelajari.
Meskipun demikian, keterampilan dalam berinteraksi dan berkomunikasi perlu mendapat perhatian secara khusus dalam menyiapkan calon guru. Materi ini secara eksplisit harusnya menjadi kajian dan memberi kesempatan mahasiswa untuk berlatih, mengembangkan keterampilan yang dimaksud. Dengan demikian, menjadi semakin jelas siapa yang harus bertanggungjawab dalam mempersiapkan kompetensi kepribadian dan sosial calon guru.

Tampaknya matakuliah yang paling relevan memberikan materi yang mendukung capaian kompetensi pribadi dan sosial yaitu pada kelompok Matakuliah Dasar Pengembangan Karakter. Di antara kelompok matakuliah tersebut, mestinya membahas topik yang yang dimaksudkan untuk mengembangkan kompetensi pribadi dan sosial. Sehingga guru yang berwibawa, mampu berinteraksi dan berkomunukasi secara efektif bisa diwujudkan. Dengan demikian, peristiwa pembulian atau pelecehan terhadap guru seperti yang dilakukan AA, tidak terulang kembali di masa mendatang.

Post Author: Admin Berkarya

7 thoughts on “Komunikasi Efektif Guru Atasi Arogansi Siswa

    Angel

    (24 November 2019 - 21:41)

    Memang benar sekarang anak harus di didik dengan baik terutama nilai agama yang harus di tanamkan sejak dini

    umarfaisol

    (10 Mei 2019 - 09:41)

    Pendidikan anak perlu kolaborasi antara sekolah, orangtua dan lingkungan. Ketiganya perlu bekerjasama dan saling mendukung.

    Ade Mulyadi

    (4 April 2019 - 00:22)

    Didikan dari orang tua juga sangat penting, terkadang orang tua banyak juga yang salah mendidik anak.

    Rancah

    (15 Maret 2019 - 18:50)

    Memang pelecehan siswa itu sangatlah memalukan, dan entah bagaiman sikap siswa sekarang ini rasa hormat, taku dan segan sepertinya sudah semakin menipis. Hingga berita seperti ini kerap kita dengan di media online. saat ini. Menyedihkan.

    ConorMum

    (13 Maret 2019 - 06:52)

    sample college admission essays personal statement http://paperwritingservice.gdn/research-paper/primary-research-paper-examples.html free essay template

    LijiloMum

    (26 Februari 2019 - 06:01)

    Lirik

    (21 Februari 2019 - 05:10)

    Mungkin bisa lebih ke moral si anak mungkin? karena jaman kita dulu sma guru takutnya serasa takut dengan orang tua sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *