Mahasiswa PPL yang Tidak Patut Ditiru

Jujur saja, saat menulis ini saya dalam keadaan emosi dan kecewa. Betapa tidak, karena seorang adik mahasiswa dari sebuah universitas swasta di Banyuwangi yang tengah PPL (Praktek Pengalaman Lapangan/praktek mengajar) di tempat kerja saya melakukan tindakan di luar etika yang sungguh tidak pantas dilakukan oleh seorang calon guru!

Di sekolah (SMP) tempat saya mengajar tengah diadakan lomba Mading. Seluruh Kelas pun sibuk mempersiapkan Mading untuk lomba tersebut. Sepulang sekolah, bahkan sampai sore mereka bertahan di sekolah untuk mengerjakan Mading.

Kemarin pun begitu, pukul 3 sore sekolah masih ramai. Tampak seorang mahasiswa PPL (kebetulan dia Ketua tim PPL) datang ke sekolah. Saya pikir akan membantu anak-anak. Eh, ternyata adik mahasiswa tersebut malah mojok dengan seorang siswi di dalam masjid sekolah, di samping mimbar khotbah.

Ya, saya tahulah, saya pun pernah menjadi mahasiswa. Saya dulu PPL di sebuah SMA yang usia murid-muridnya hanya terpaut 4 tahun di bawah saya. Pastilah ada kemungkinan ketertarikan, dari siswa ke guru PPL atau sebaliknya. Tetapi setidaknya pikiran jernih dan etika tetap dikedepankan, mengingat mahasiswa tersebut membutuhkan kerjasama dan bantuan dari pihak sekolah. tidak hanya itu, PPL adalah ajang berlatih, baik berlatih dalam kegiatan mengajar maupun berlatih pengendalian emosi berinteraksi dengan murid.

Kembali ke kejadian di sekolah. Yang dilakukan oleh adik mahasiswa tersebut dengan siswi saya adalah berpelukan dan berciuman. DI DALAM MASJID SEKOLAH.

Kontan saja teman-teman guru yang memergoki adegan tersebut marah dan menegur mereka berdua. Sungguh kami kecewa terhadap adik mahasiswa tersebut. Padahal saat itu di sekolah sedang ramai, banyak murid. Kalau memang tidak bisa membendung gairah, apakah tidak ada tempat lain selain di sekolah? Di dalam Masjid pula!! Duh, geleng-geleng kepala saya atas kejadian ini.

Kalau (calon) guru saja seperti itu, mau diarahkan ke mana murid-muridnya?

Tolong jangan ditiru!
Salam Hangat…
Hidup Dunia Pendidikan!

Post Author: Ningwang D. Agustin

seorang Guru bahasa Indonesia di sebuah SMP di Bondowoso

15 thoughts on “Mahasiswa PPL yang Tidak Patut Ditiru

    Ningwang D. Agustin

    (25 Maret 2011 - 13:43)

    Salam Hangat semuanya…
    Wah, saya mohon maaf jika tulisan ini dianggap tidak layak atau perlu dipertimbangkan lebih lanjut. Saya alumni UM dan baru bergabung di BERKARYA. Saya yang kurang teliti, saya pikir tulisan ini adalah sebuah opini tentang keprihatinan saya, maka saya kirimkan. Saya berterima kasih atas dimuatnya tulisan ini, sekaligus mohon maaf jika ada saudara dan sahabat yang kurang berkenan.
    Terima kasih..
    Saya akan terus belajar, salam hangat…

    CATATAN REDAKSI:
    BOLEH MENULIS OPINI DI BERKARYA. TERIMA KASIH ATAS PARTSIPASINYA. TERUS MENULIS, SEMANGAT!!!

    Arif

    (19 Maret 2011 - 20:11)

    memang tidak patut untuk ditiru, mestix sbgai pengajar harus brtindak profesional donk apalagi dia masih calon pengajar…!!!

    michael

    (18 Maret 2011 - 22:06)

    @pak Noor
    Kategori OPINI/Karya Tulis masih dimasukkan di Berkarya.

    karkono

    (18 Maret 2011 - 15:50)

    “tapi setidaknya bapak menimbang sekali lagi kalau mau membuat tulisan ini”…. Halim Muzaki, tulisan ini yang membuat Ningwang D. Agustin, seorang guru dan alumni UM. Jadi, jangan salah sebut dengan bapak… Mohon teliti dalam memberi komentar ya!

    PAUSE START

    (18 Maret 2011 - 13:39)

    PPL adalah latihan mengajar kan?

    Halim muzaki

    (17 Maret 2011 - 17:50)

    kita sadar bahwa hal itu memang tidak perlu dan tidak patut untuk ditiru,, tapi setidaknya bapak menimbang sekali lagi kalau mau membuat tulisan ini,, trima kasih

    Karkono

    (16 Maret 2011 - 10:58)

    Menurut saya, entah sudah dimuat di media lain atau belum tidak mengapa ditampung di wadah yang sangat efektif ini. JIka sudah dimuat di media lain, berarti secara kualitas paling tidak sudah diakui/dihargai oleh media lain tersebut. Selain itu, untuk menyosialisasikan ke warga UM bahwa banyak tulisan warga UM yang turut meramaikan media yang ada yang belum tentu warga UM sendiri mengetahuinya sehingga wadah ini sebagai tempat berbagi inspirasi tersebut. Yang perlu ditegaskan barangkali, jenis tulisan berkarya itu ada batasannya tidak. Misalnya, jika sifatnya keluhan, sepemahaman saya ada di kolom SUARA KITA. Namun, untuk tulisan di atas, sebenarnya bisa saja masuk di bagian BERKARYA ini jika dikemas menjadi tulisan opini yang lebih umum dengan kasus mahasiswa PPL tersebut sebagai contohnya sehingga tulisan di atas tepat perlu untuk dibaca tanpa harus merasa salah tempat.
    Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan.

    Noor Farochi

    (16 Maret 2011 - 07:01)

    Trus, posisi kategori baru OPINI pada halaman depan sebelah mana?

    Johanis Rampisela

    (16 Maret 2011 - 06:37)

    @Suryono, ekowahyu, Noor Farochi

    Sebelum menerbitkan tulisan ini, saya sadar bahwa akan ada pembaca setia BERKARYA yang akan mempertanyakannya. Masih terbayang dalam ingatan, ketika artikel warga UM yang dimuat dalam koran diterbitkan di BERKARYA maka awalnya ada sejumlah penolakan. Sekarang hal itu sudah diterima.

    Sebelum ini kita juga mengikuti opini/tulisan Pak Djoko Rahardjo tentang “Apa pendapat Anda ketika siang hari harus menyalakan lampu?” Akhir-akhir ini kita juga menikmati cerpen Pak Karkono yang juga pernah dimuat di media lain. Apa yang dimuat itu sebenarnya tak ada kaitannya secara langsung dengan UM tetapi dihargai oleh media lain. Hal itu kemudian memberi sudut pandang lain: apakah harus diterbitkan dulu oleh media lain barulah bisa dimasukkan ke BERKARYA? Bukankan akan lebih baik jika diterbitkan langsung oleh BERKARYA dan diwadahi oleh kategori baru yaitu OPINI? Dengan demikian tulisan yang ada akan lebih asli dan akan membantu menyalurkan aspirasi dan kemampuan menulis yang ada.

    Sejak awal tahun 2011, pada kategori sudah dimunculkan OPINI untuk mengantisipasi hal tersebut. Sesuatu yang mendorong perubahan itu adalah kata bijak yang saya jumpai:

    “Mustahil akan ada kemajuan tanpa perubahan. Orang-orang yang tak bisa mengubah pikiran mereka tak bisa mengubah apapun.” (George Bernard Shaw)

    Terima kasih atas pendapat yang disampaikan, mari menikmati kemajuan dan perubahan BERKARYA.

    Johanis Rampisela
    (Pengurus BERKARYA)

    michael

    (15 Maret 2011 - 18:15)

    Mungkin tujuan penulisan artikel ini sekadar mengingatkan:
    Ada mahasiswa di luar sana yang begitu, mahasiswa UM jangan sampai menirunya.

    Salam,
    Michael
    Mahasiswa PABTI

    Noor Farochi

    (15 Maret 2011 - 13:06)

    SALAH ALAMAT kalo ditulis di sini

    ekowahyu

    (15 Maret 2011 - 10:20)

    saya sudah email helpdesk tentang tulisan ini tadi malam,

    belum ada tanggapan…

    sepakat dengan Pak Suryono, tulisan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan berkarya maupun UM.

    Justru terkesan provokatif dan generalisasi profesi calon guru.

    regards,

    ekowahyu – fs um

    Suryono

    (15 Maret 2011 - 08:33)

    Kalau TKP bukan di Sekolah yang dikelola UM, dan pelaku juga bukan mahasiswa UM, mengapa peristiwa/kejadian ini ditulis disini?

    djoko rahardjo

    (15 Maret 2011 - 08:14)

    Calon guru seperti itu tidak dapat “digugu dan ditiru”. Ketika saya bertugas di Kantor Program Diploma IKIP Malang, sekitar tahun 1988, Ketua Program/Direktur Program Diploma, almarhum Prof. H. Widodo berkata: “Pak Djoko, untuk menjadi guru di Negara Amerika itu “tidak mudah”. Syaratnya, setelah lulus sarjana matematika atau sarjana prodi lainnya, masih harus mengikuti tes untuk menjadi guru (tes bakat dan mental/budi pekerti). Setelah dinyatakan lulus harus mengikuti pendidikan guru beberapa semester. Coba kita bandingkan dengan di Negara Indonesia, bagaimana?”

    j@y

    (15 Maret 2011 - 05:35)

    kelewatan ini! setuju pak/ibu, segera ditegur pak/bu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *