Membangun Kapabilitas Inovasi dalam Menghadapi Persaingan Global di Era Disruptif

Saat Suryadi, S.Sn, M.Pd membuka seminar

Malang. Pusat Pengembangan Kehidupan Beragama dan Kuliah Universiter (P2KBKU) pada hari kamis (07/11/19) mengadakan Stadium General Matakuliah Universiter Manajemen Inovasi dengan mengangkat tema mengenai “Membangun Kapabilitas Inovasi dalam Menghadapi Persaingan Global di Era Disruptif”. Acara tersebut berlangsung mulai pukul 08.30 sampai 11.30 WIB. Acara yang menempati Aula Graha Rektorat lt. 9 tersebut diisi oleh pemateri utama yang berasal dari Universitas Negeri Surabaya, yakni Prof. Dr. Mustaji, M.Pd.

Seminar diikuti oleh kurang lebih 300 mahasiswa yang sedang menempuh matakuliah manajemen inovasi dan 40 mahasiswa yang telah menempuh matakuliah manajemen inovasi. Dalam sambutan Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed., Ph.D. mengemukakan bahwa adanya matakuliah manajemen inovasi bertujuan agar seluruh mahasiswa turut serta dalam berinovasi dalam bentuk produk. kemudian beliau juga mengemukakan adanya acara Stadium General Matakuliah Universiter Manajemen Inovasi tersebut bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa dalam membuat inovasi.

Suryadi, S.Sn, M.Pd., dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) sebagai moderator pada saat acara inti berlangsung . Bermula dari penjelasan mengenai tahapan revolusi industri Prof. Dr. Mustaji memulai seminarnya bahwa revolusi industri yang menyebabkan adanya era disruptif, adanya era baru terutama era digitalisasi memberikan ancaman sekaligus peluang di masa depan. Ancaman bahwa akan ada pekerjaan yang tergantikan oleh mesin dan peluang akan banyaknya pekerjaan baru di tahun 2025.

Tuntutan di era disruptif yakni persaingan yang ketat dalam memuaskan para konsumtif. Kemudian ekerjaan yang mulanya populer menjadi tidak populer lagi di era tersebut. Padahal Indonesia memiliki potensi alam yang lengkap untuk dijadikan inovasi dan memajukan negeri, yakni potensi laut, pertanian, industri dll. Beliau juga menyatakan bahwa pendidikan Indonesia telah mengalami kegagalan, terlihat dari banyaknya ujaran kebencian di media sosial yang dapat memicu vandalisme dan industri kebencian.

Beliau menegaskan bahwa Industri di masa depan membutuhkan skill yang berbeda di masa sekarang, yakni complex problem solving, social skill, system skill dan cognitive abilities. Sedangkan profil lulusan yang diinginkan oleh dunia kerja di masa depan yakni mampu berkomunikasi dengan baik, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, interpersonal dan memiliki etika yang baik.

Dengan diadakannya acara Stadium General Matakuliah Universiter Manajemen Inovasi tersebut diharapkan agar mahasiswa dapat mempersiapkan diri dengan baik di masa depan. Salah satu solusi utama agar dapat bertahan hidup di masa depan yakni dengan menyelaraskan pendidikan 4.0 dengan industri 4.0 dan seterusnya.

Pewarta: Ita Sukartina

Post Author: Admin Berkarya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *