Patricia Dwi Septianti: Tidak Melupakan Kebudayaan Negeri Sendiri

Patricia Dwi Septianti, mahasiswa Semester VI Jurusan Seni Tari Fakultas Sastra UM

REVISI

Tumbuh kembang di zaman serba modern tak membuat Patricia Dwi Septianti melupakan kebudayaan negeri sendiri. Mahasiswa Semester VI Jurusan Seni Tari Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) ini bahkan sejak kecil jago tari tradisional Jawa.

Tercata pada 2006 lalu, gadis kelahiran 11 September 1989 itu menjadi juara II tari tradisional kategori pelajar se-Malang Raya.

Lalu juara I tari piala Rektor dalam rangka Dies Natalis XIV Universitas Brawijaya (UB). “Dari kecil saya memang hobi nari. Terutama tari tradisional Jawa. Ada keindahan, kenikmatan, dan tantangan tersendiri saat membawanya,” ungkap dia.

Kendati sangat gandrung dengan tari tradisional Jawa, gadis yang akrab disapa Puput itu juga tergelitik mempelajari seni tari modern. Seperti modern dance hingga hip hop. Hasilnya cukup memuaskan juga. Karena pada Januari 2010 lalu Puput menjadi duta Prodi UM untuk mengikuti dance workshop by OCD Company USA di Jakarta.

“Saya ingin lebih profesional lagi menekuni tari tradisional dan modern, selain itu agar tradisi dan modern berjalan seimbang,” tandas Puput.

(Sumber: Radar Malang, 24/2/2010)

Post Author: humas

4 thoughts on “Patricia Dwi Septianti: Tidak Melupakan Kebudayaan Negeri Sendiri

    dahlia

    (2 Maret 2010 - 15:22)

    Seni memang indah… Seindah pencipta dan penciptaan-Nya, maka siapa yang berkecimpung
    sebagai seniwan bukan hanya mereka yang pandai menari, menyanyi, matung saja…. Semua dalam hidup dan kehidupan adalah seni….. Karena hidup dan kehidupan adalah indah…. Jangan hanya kesenian saja yang dianggap indah …. Kita selama ini semua salah …. Bahwa hanya kesenian saja yang indah….. Mari kita rubah pandang hidup yang salah…..
    Jadi hidup adalah seni dan kesenian, maka hidup adalah INDAH seindah pencipta NYA.

    SOGOL

    (2 Maret 2010 - 14:59)

    “Yang Maha Indah ” menampakkan pada mahlukNya dan melalui keindahan itu timbullah “Suasana qolbu ” sedang desah angin semilir bisa membuat antara tidur dan jaga ….dan semoga kenikmatan yang kita rasakan itu Yang Maha Indah menyertakan “Ghorizah imaniyah pada kita ” sebagai filter …mana yang bener bener seniman dan mana yang jahiliyah modern
    Wassalamu’alaikum semoga sukses

    Bang Iwan

    (25 Februari 2010 - 19:22)

    Tetap semangat dan teruslah berkarya

    Noor Farochi

    (25 Februari 2010 - 10:08)

    Selain “Tidak Melupakan Kebudayaan Negeri Sendiri”, semoga saja tidak juga lupa, untuk apa manusia itu diciptakan, semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *