Patriot yang Tidak Lekang oleh Zaman

Ferril Irham Muzaki Sastra Inggris – FS UM

Plato berpendapat, setiap karya sastra melakukan mimikri,  mencoba membawa alam realitas di dunia nyata ke dunia imajinasi pengarang dalam berbagai tempat, entah itu panggung sandiwara ataupun tulisan-tulisan berupa novel, puisi dan cerpen. Ide Plato tentang adaptasi isu yang berkembang di masyarakat berkembang dengan luasnya, hingga dijadikan fondasi untuk membuat kritik sastra.

Sebuah karya sastra, tidak bisa dilepaskan dari masyarakat yang ada di sekitar penulis. Dalam tulisan ini, penulis dengan mengambil ide plato, mencoba menarik benang merah antara kenyataan hidup di dunia sepak bola Indonesia dengan sebuah novel karya Andrea Hirata, Sebelas patriot.

Novel sebelas patriot, menggunakan pola perbandingan sebagai media mengembangkan plot cerita. Andrea Hirata sengaja mengangkat kisah perjuangan tokoh “Ayah” untuk menggambarkan betapa hebatnya perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme Belanda. Isu yang coba diangkat oleh Andrea Hirata adalah semangat untuk  perjuangan melawan imprealisme di segala bidang.

Simbolisasi yang dipakai oleh Andrea Hirata adalah sepak bola. Penggunaan sepak bola sebagai media perlawanan sosial Andrea Hirata terhadap kaum imprealis menurut penulis adalah alat mendekatkan pesan dari novel ini kepada masyarkat. Sepak bola adalah olah raga rakyat, hampir semua orang bisa memainkannya. Sehingga, perasaan pembaca tentu lebih dekat dengan pesan ketimbang menggunakan media perlawanan yang lain.

Implikasinya, novel “Sebelas Patriot” yang ditulis oleh Andrea Hirata merupakan kritik sosial tentang melunturnya gejala nasionalisme. Korupsi, dan berbagai kejahatan kerah putih lainnya adalah simbol-simbol, menurut Bung Karno, Neo-kolonialisme. Perbedaannya dulu dilakukan oleh bangsa asing, sekarang dilakukan oleh bangsa sendiri.

Akhir kata, marilah kita berjuang bersama-sama melawan neo-kolonialisme dalam bentuk kejahatan kerah putih. Kita lawan di segala bidang, dengan cara masing-masing yang kita kuasai. Kalau Andrea Hirata melukiskan perlawanan itu dilakukan dengan media rakyat, sepak bola.

Post Author: ferril

1 thought on “Patriot yang Tidak Lekang oleh Zaman

    wulan

    (7 Agustus 2011 - 13:39)

    wwaaahhhhhhhhh….menarik ni…hehe…salam kenal dr calon pengusaha muda…wulan…EKP UM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *