6 thoughts on “Peringkat UM Versi 4ICU Tahun 2005-2012

    mohfaiz

    (31 Januari 2012 - 12:28)

    Ya memang peringkat yg semakin menurun ini sangat memprehatinkan sekali. Menurut pengamatan saya hal ini disebabkan karena kurangnya kerjasama antara penyedia infrastruktur (TIK), pengisi berita (Humas), dan pengisi elearning (fakultas & jurusan). TIK berkewajiban meningkatkan infrastuktur terutama kecepatan aksesnya, Humas harus pandai mencari berita berbasis mahasiswa tdk berbasis pejabat, sedangkan fakultas dan jurusan harus bisa memotivasi terbangunnya pembelajaran berbasis elearning kalo perlu diisi dengan konten2 pembelajaran yg bisa diakses masyarakat luas. Saya yakin peringkat UM akan semakin menanjak, Hidup UM!

    Johanis Rampisela

    (27 Januari 2012 - 12:14)

    Pada tanggal 24 Januari 2012, saya membuat tulisan tentang “Mengapa Lelang Bandwidth UM 2012 Gagal?” Tulisan itu merupakan suatu pengamatan terhadap perkembangan IT UM. Tulisan tersebut tidak disetujui oleh Pusat TIK sehingga tidak diterbitkan. Saya kemudian menelepon Kasubag TIK dan dijawab akan dilihat. Setelah 4 jam, belum diterbitkan juga, saya menelepon lagi dan memperoleh jawaban bahwa sedang dibaca oleh Kapus TIK. Besoknya, saya telepon lagi ke Kasubag TIK dan dijawab bahwa tulisan diserahkan ke ULPBJ. Sampai saat ini tulisan masih dalam status DICEKAL. Tanggal 27 Januari, saya kemudian memuat tulisan tersebut dalam bentuk komenta di SUARA KITA ternyata tidak sampai 10 menit kemudian komentar tersebut sudah DICEKAL lagi. Sampai kapankah Pusat TIK akan menggunakan kekuasaan MENCEKALNYA? Jika ada suatu tulisan yang kritis, sebaiknya tetap diterbitkan kemudian Pusat TIK menggunakan hak jawab dalam bentuk komentar.

    Terima kasih, mudah-mudahan Pusat TIK masih menggunakan pikiran sehatnya untuk tidak MENCEKAL komentar ini.

    Johanis Rampisela

    (21 Januari 2012 - 06:14)

    @Pak Wahed,
    1. Sudah sepantasnya jika saya tetap menyumbangkan pikiran untuk UM. S1 di IKIP Malang, S2 karena jasa IKIP Malang, dan mengajar sejak masih bernama IKIP Malang sampai berubah menjadi UM sekarang ini.

    2. Pada tanggal 22-08-2011, saya sudah membuat tulisan “Prediksi 10 Besar Webometrics Indonesia Januari 2012” (http://berkarya.um.ac.id/?p=6290). Selain itu, pada tanggal 6 Oktober 2011, saya menulis surat ke Rektor dan sempat menjelaskan ke Rektor dan memberi saran perlunya perbaikan indikator Webometrics. Surat telah didisposisikan ke PR IV dan sudah dirapatkan di Pusat TIK. Salah satu usaha Pusat TIK adalah membuat blog, sayangnya, sampai saat ini sejumlah subdomain masih belum diperbarui atau masih mati.

    3. Blog BERKARYA dan SUARA KITA memang hanya berpengaruh sedikit untuk pemeringkatan Webometrics tetapi sangat berpengaruh untuk pemeringkatan 4ICU. Hal ini disebabkan karena kunjungan adalah satu dari 3 indikator 4ICU. Blog BERKARYA dan SUARA KITA adalah blog yang sangat banyak dikunjungi oleh warga UM.

    4. Saya sependapat dengan Pak Wahed bahwa blog yang banyak dikomentari akan menyumbangkan traffic web yang besar pula. Saya telah menuliskan saran tentang pengelolaan komentar secara detail di SUARA KITA dalam artikel “Banyak Komentar Belum Diterbitkan di SUARA KITA dan BERKARYA” (http://suara.um.ac.id/?p=5631) tanggal 16 Januari 2012, malahan saya juga sudah menelepon ke Pusat TIK untuk menjelaskan maksudnya. Hanya sayangnya sampai saat komentar ini dibuat, hal ini belum ditanggapi baik dengan perbuatan maupun secara tulisan. Mudah-mudahan Pak Wahed sebagai staf di Pusat TIK dapat ikut mrndorong perbaikan pengelolaan komentar maupun tulisan sehingga tanpa dimoderasi.

    Malang, 21 Januari 2012
    Johanis Rampisela (Dosen Fisika FMIPA UM)

    wahed

    (20 Januari 2012 - 14:46)

    Salut buat Pak Jo…, walau sekarang tidak lagi di Pusat TIK tapi tetap memperhatikan perkembangan IT di UM, saya yakin hal itu dikarenakan kecintaan bapak pada UM. Ditunggu pak…,prediksinya tentang peringkat UM di Webometric, dan jangan lupa saran-sarannya dong. Buat bu Fatmawati, pengaruh blog berkarya atau suara kita terhadap pemeringkatan WEB memang ada bu, walaupun itu kecil. Dan saya sependapat jika tulisan pada berkarya dan suara kita sebaiknya tanpa dimoderasi. Toh jika ternyata ada tulisan yang tidak pantas, admin masih bisa MENGHAPUS. Dan yang perlu dijadikan catatan, blog yang menyediakan kolom komentar biasanya banyak menyumbang trafix web, yang otomatis juga berpengaruh pada pemeringkatan sebuah web. Saya yakin TIK sebagai pengelola akan memperhatikan saran ibu.

    Noor Farochi

    (19 Januari 2012 - 11:34)

    Iya Bu Fat, sekarang katanya memang semua harus dimoderasi dulu tanpa pandang bulu, hampir semuax jd malas. Sampai-sampai P. Dawud di komen tulisan satunya memberikan PREDIKAT & PERINGKAT SANGAT MENYEDIHKAN

    fatmawati

    (18 Januari 2012 - 10:59)

    Kalau tulisan di “Berkarya dan Berkarya” dan “Suara Kita” memiliki peran dalam perolehan peringkat, beberapa bulan ini saya menjadi “anak yang hilang” alias tidak aktif membuka-buka apalagi menulis dan berkomentar. Jujur saja kalau dulu buka website um menjadi menu sarapan pagi dan makan siang sebelum pulang. Sejak dimoderasi saya males menyusuri website kita ini. La masak sih kalau saya menjawab komentar pembaca yang terkait dengan tupoksi saya, masih juga dimoderasi. Belum lagi, jawaban atas komentar pembaca terbitnya lama sehingga “kecepatan” unit kerja dalam merespon pertanyaan/komentar menjadi “kehilangan momentum”. Saya tidak tahu mengapa pengelolaan yang sudah sangat bagus diubah. Menurut saya, pimpinan unit kerja baiknya tdk perlu dimoderasi, karena apa yang
    ditulis dalam media merupakan salah satu bentuk akuntabilitas kinerja ybs.
    Trima kasih.
    Salam.
    Fatmawati, Kabag Kemahasiswaan

Komentar ditutup.