REMBULAN TERSENYUM… Bagian Ke-15

REMBULAN TERSENYUM DI LANGIT MELONGOANE

(Bagian Ke-15)

Oleh: Djoko Rahardjo*

Semilir angin pantai membelai rambutku…,  teriring senyum manis yang terselip di sudut bibir mentari pagi…, dan sayup-sayup kudengar nyanyian sekawanan burung Camar…, yang sedang menari-nari di angkasa biru.  Butir-butir embun pagi yang tersisa…, masih menyempatkan diri untuk hadir bersama  anak-anak negri di daerah perbatasan…, yang ikhlas menyambut kedatanganku.  Pagi yang  indah. Pagi yang cerah. Secerah harapan hatiku. Di sini…. Di ujung negri ini…. Aku akan mengabdi dan berbakti pada ibu  pertiwi.
Nun jauh di sana,,,, di tengah lautan, di antara gulungan ombak, terlihat speed boat yang ditumpangi oleh Pak Amin dan rombongan masih terapung-apung, seperti perahu mainan yang sedang dipermainkan oleh ombak.
“Pak Djoko! Saya di sini!“ Begitu suara Ibu Zusan Arni Landang memanggil namaku.
“Selamat pagi Bu Zusan!“  Tegur sapa yang terlontar dari mulutku.
“Di mana yang lainnya?”
“Masih di sana Bu!” Kuarahkan jari telunjukku ke tengah laut.
“Bagaimana…, sehat-sehat, kan?” Dia  bertanya sambil berdiri di tepi  pantai.        .
“Semua sehat!  O ya… saya tadi tidak sempat menjawab telepon Ibu!” Sambil menjabat tangannya, aku ceritakan kisahku yang membuat detak jantung terasa seperti akan berhenti.
“Syukurlah…, Bapak masih diberkati oleh Tuhan Yesus” Begitu  komentarnya.
Lima belas menit kemudian…, tibalah rombongan “pasukan pendarat” dari Universitas Negeri Malang yang terdiri dari Drs. Amin Sidiq, M.Pd (Kepala Biro AAKPSI), Drs. Erry Hidayanto, M.Si (Dosen Jurusan Matematika), Dr. Heri Suwignyo, M.Pd (Dosen Jurusan Sastra Indonesia), Drs. Dwi Haryoto, M.Pd (Dosen Jurusan Fisika) dan Koprol (bukan Kopral) Ali Rohmad , Staf Banpur (“bantuan nempur” bukan bantuan tempur).

FOTO PENDARATAN PASUKAN DARI UM

 
Keterangan foto: Pak Dwi bersiap turun dan Pak Heri Suwignyo sedang mengamati ranjau
“Selamat pagi Bapak-bapak! Sehat-sehat semua?”
“Alhamdulillah, kami masih diberi keselamatan dan kesihatan oleh Allah swt.!”
Pagi itu…, terasa hangat dan sedikit romantis. Senyum manis yang tersungging dari bibir Ibu Zusan Arnilandang, M.Pd, M.Si, Kepala Seksi Pendidikan, Kantor Dikpora Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Membuat hati kami terasa sejuk sekali.
“Pak Djoko…, mari kita mampir dahulu ke Kantin Bubur Manado!”
“Terima kasih Bu. Kami ingin segera mandi dan istirahat di hotel!” Begitu pinta Sersan Kopassus Djoko Rahardjo.
Memang belum pernah ada di dalam catatan sejarah…, seorang  sersan mengambil alih komando pasukan dari seorang “commodore” atau laksamana pertama/brigadir jenderal . Ya baru kali ini ada cerita seperti ini. Hehehe…, jangan keliru menafsirkan pangkat SERSAN KOPASSUS. Itu…, singkatan dari SERius tapi SANtai ketika sedang minum KOpi PAnas SUsu Sapi.
Nampaknya…, Ibu Zusan  sudah menyiapkan mobil Panther biru, mobil dinas Kadis Dikpora Kab. Talaud.
“Bu Zusan…, saya dan Pak Ali naik bentor (becak motor)! Pak Amin dan rombongan yang lain naik mobil.
Sepuluh menit kemudian…, rombomgan sudah sampai di Helena Beach Hotel. Setelah istirahat sejenak untuk menghilangkan kepenatan, kami diajak oleh Para Trainer TEQIP Kabupaten Talaud untuk foto bersama.

FOTO BERSAMA TRAINER TEQIP KABUPATEN TALAUD

Keterangan foto:
Persis di tengah, berkaos putih adalah Pak Amin, sebelah kiri beliau yang memakai celana Jean’s adalah Ibu Zusan. Paling kanan adalah Pak Heri dan yang paling kiri adalah Pak Dwi Haryoto

TAMAT

Catatan Penulis:
Bagian Ke-15 ini adalah tahap  akhir  dari tulisan  yang berjudul REMBULAN TERSENYUM  DI LANGIT MELONGOANE, yang menceritakan perjalanan TIM dari UM mulai dari Bandara Sam Ratulangi Manado—Pelabuhan Manado—Pelabuhan Melongoane. Sedangkan tulisan yang akan datang, berjudul PERAWAN DESA BERTEROMPAH EMAS akan menceritakan saat pelaksanaan diseminasi guru dan lain-lain sampai dengan pulang ke UM. Supaya tidak membosankan maka akan saya selingi dengan tulisan yang lain. Informasi tambahan dari penulis bahwa beberapa tulisan bersambung yang sudah dimuat di web  UM dan masih berlanjut adalah
1. The Power of Love (Bagian Ke-2)
2. Semar Takon (Bagian Ke-2)
3. Rahasia Hidup Bambang Sumantri (Bagian Ke-3)
4. Di Depan Pintu Sorga Kartini Menagis (Bagian Ke-3)
5. Kearifan Mahaguru Abiyoso dan Mahaguru Bismo (Bagian Ke-3)
6. BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH (Bagian Ke-21) dll.
Konsep tulisan (cerita bersambung) yang sudah ada dan akan di unggah di web UM
1. Perawan Desa Berterompah Emas
2. Taj Mahal di Kaki Gunung Ranai dll.

The Hills Hotel-Batam, 28 Oktober 2012

*) Djoko Rahardjo, Staf Subbag Sarana Akademik  BAKPIK  UM

 

Post Author: Djoko Rahardjo

5 thoughts on “REMBULAN TERSENYUM… Bagian Ke-15

    djoko rahardjo

    (3 November 2012 - 22:36)

    Terima kasih Pak Hendyat atas apresiasinya. Waduh…, saya jadi terpacu untuk menulis yang lebih baik lagi. Mudahan-mudahan saat pensiun nanti, saya menjadi penulis yang memiliki kwalitas.

    djoko rahardjo

    (3 November 2012 - 22:31)

    Untuk Anakku Aldrin Ali Hamka di Universitas Rostov, Rusia, bahwa baliho yang berjudul “BRENTI JO BAGATE” atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti “BERHENTILAH MABUK KAWAN” akan saya jelaskan pada tulisan yang berjudul “PERARAWAN DESA BERTEROMPAH EMAS”. Namun tulisan tersebut akan saya tangguhkan karena akan saya selingi dahulu dengan tulisan yang berjudul “TAJ MAHAL DI KAKI GUNUNG RANAI”.

    Hendyat Soetopo

    (3 November 2012 - 11:10)

    Pak Djoko luar biasa. Cerita perjalanan yang memang riil dikemas bagai bacaan novel, dikira bukan cerita riil. Salut Pak Djoko, Semoga Pajk Djoko terus berkarya……

    djoko rahardjo

    (2 November 2012 - 21:02)

    Wah…, kalau tidak keliru ini Djoko Rahardjo Junior, yang sedang menempuh pendidikan di PPs Universitas Rostov Rusia. O ya Karya Ilmiahmu yang sudah dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unibraw sudah saya baca. Namun…, Karya Ilmiahmu yang sudah dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Internasional, Universitas Novocherckass, Rusia tidak saya baca karena ditulis dalam bahasa Rusia. Saya berharap agar Karya Ilmiahmu yang lain yang sudah mendapat rekomendasi dari salah satu jurnal ilmiah di London, Inggis segera terbit. Amin

    Hamka Ali

    (2 November 2012 - 03:57)

    Luar biasa karangan yang ini Bapak Djoko. Saya mengikuti dari edisi pertama hingga terakhir. Pak Djoko memiliki gaya bahasa yang unik, dan dapat mempengaruhi emosi para pembaca cerpen bersambung ini, kadang tegang, kadang berkelakar, serta memberikan gambaran-gambaran latar dengan apik. Namun, sepertinya ada yang tertinggal dari karangan tersebut… Yaitu “Baliho” yang belum diceritakan mengapa..

    Meski demikian, luar biasa
    Teruslah berkarya dan Berkarya Pak Djoko.

Komentar ditutup.