RENUNGAN: PERINTAH MEMBACA, JUGA PERINTAH MENULIS?

Wahyu Al-Quran yang pertama kali turun adalah ayat 1—5 Surat Al-‘Alaq. Iqra’ bismi rabbikalladzii khalaqabacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta (ayat 1). Kata iqra’ berasal dari kata qara’a yang pada mulanya bermakna ‘menghimpun’. Dalam kamus, qara’a dapat bermakna ‘menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu’. Kata iqra’ (‘bacalah’) dalam ayat tersebut tidak menyebutkan objek bacaan secara khusus. Oleh karena tidak disebutkan objeknya secara khusus, dapat dimaknai bahwa objek kata tersebut bersifat umum, yakni mencakup segala hal dapat dijangkau: bacaan wahyu Allah atau bacaan bukan wahyu, ayat tertulis atau ayat tak tertulis, ayat manziliyah atau ayat kauniah. Pendek kata, iqra’ merupakan perintah untuk menelaah, membaca, meneliti, mendalami semesta alam, masyarakat, diri sendiri, dan bacaan tertulis. Membaca itu harus dengan nama Tuhanmu—Allah Yang Maha Pendidik, Yang Maha Pemelihara (rabb)—yang menciptakan (semua makhluk, semua ciptaan). Objek kata khalaqa ‘menciptakan’ di sini juga tidak disebutkan. Ini berarti objeknya bersifat umum. Karena itulah, maknanya adalah Allah adalah pencipta semua makhluk, semua ciptaan.

Khalaqal insaana min ‘alaqin ‘yang telah menciptakan manusia dari ‘alaq’ (ayat 2). Ayat ini memperkenalkan Tuhan yang harus disembah manusia karena Dia adalah Tuhan yang menciptakan manusia. Manusia diciptakan dari ‘alaq ‘sesuatu yang menggantung, sesuatu yang menempel (di dinding rahim). Al-insaan ‘manusia’ bisa bermakna yang ‘senang, jinak, dan harmonis’ (uns); bisa bermakna ‘lupa’ (nis-y); dan bisa bermakna ‘gerak, dinamika’ (naus).

Iqra’ warabbukal akram ‘bacalah dan Tuhanmu Mahamulia’ (ayat 3). Ayat ini mengulang perintah membaca. Perintah ulang ini disertai dengan janji atas manfaat bagi siapa pun yang mau membaca. Bacalah. Bacalah. Bacalah. Tuhanmu itu—Yang Maha Pendidik, Yang Maha Pemelihara—itu Mahamulia, Maha Pemurah. Dia akan melimpahkan aneka karunia, beragam pemberian, bermacam-macam kemuliaan kepada hamba-Nya yang membaca, membaca, dan membaca.

Alladzii ‘allama bilqalam ‘yang mengajar manusia dengan pena’ (ayat 4). ‘Allamal insaana maa lam ya’lam ‘yang mengajar manusia apa yang belum diketahui (manusia)’ (ayat 5). Pada kedua ayat ini, dapat dipahami bahwa Allah mengajarkan dengan pena, mengajarkan tulisan, mengajari manusia tentang hal-hal yang telah diketahui sebelumnya dan Allah pun mengajari manusia, tanpa pena, apa yang belum manusia ketahui sebelumnya.

Ayat pertama merupakan perintah membaca, menelaah, meneliti, dan mengkaji alam semesta, jagad raya, makro kosmos (jagad gedhe). Ayat kedua merupakan perintah membaca, menelaah, meneliti, dan mengkaji diri manusia sendiri: mikro kosmos, jagad cilik. Ayat ketiga sampai dengan ayat kelima merupakan perintah membaca atas “ajaran” Allah yang tertulis dengan pena, baik yang telah diketahui manusia (tertulis sebelumnya) maupun yang belum diketahui manusia (tidak pernah tertulis sebelumnya).

Wahyu pertama tersebut merupakan perintah membaca yang komprehensif: membaca & menelaah semesta dan membaca & menelaah diri; membaca & menelaah yang telah tertulis dan membaca & menelaah yang tidak tertulis.

Oleh karena Allah mengajari manusia dengan pena, itu berarti perintah yang komperhensif juga untuk membaca (tulisan) dan menulis (tulisan). Mengajari manusia dengan pena adalah mengajari menulis. Perintah membaca disertai pula perintah untuk menulis. Objek menulisnya juga sama dengan objek membaca: alam semesta, diri sendiri, yang sudah dituliskan, maupun yang belum dituliskan. Perintah itu adalah juga perintah aktif-produktif menghasilkan tulisan, bukan hanya perintah aktif-reseptif membaca. Jika hanya dimaknai perintah membaca tulisan, pemaknaan itu terlalu sempit, yakni umat Islam hanya diperintah mengkonsumsi bacaan (orang lain).

Telah terbukti dalam sejarah, kejayaan suatu bangsa, kemajuan suatu kaum ditandai oleh kemampuan membaca dan menelaah yang diikuti dengan kemampuan menulis. Plato, Aristoteles contoh pembaca dan penulis di zaman kejayaan Yunani-Romawi yang jejak tulisannya ada sampai sekarang. Ibnu Rusydi (Avero), Ibnu Sina (Avesina), Aljabar, Al-Ghazali adalah pembaca dan penulis zaman kejayaan Islam yang jejak tulisannya abadi sampai sekarang.

Dewasa ini, tulisan pakar—terutama pakar dunia Barat—merajai dunia ini. Kehadiran media web dan blog saat ini menambah kemudahan orang membaca dan menulis. Saat ini, pribadi, masyarakat, komunitas, kaum, dan bangsa yang tidak produktif menulis menjadi makhluk konsumtif bacaan saja. Sering dijumpai juga menjadi makhluk “reflektif”, makhluk yang memantulkan kelemahan dan kesalahan diri sendiri kepada orang lain. Misal: bangsanya terjajah, menyalahkan bangsa lain; padahal bangsanya sendiri memang tidak mau bersatu: hobinya berperang hanya karena perbedaan aliran agama, pandangan primordial dan kesukuan. Contoh lain: ada komunitas yang menghasilkan vaksin tertentu berbahan baku babi, sebagian kelompok Islam hanya mampu memberi hukum haram penggunaannya, tetapi masih sedikit ghirah untuk menghasilkan vaksin yang halal. Kasus lain, ada komunitas tertentu yang berpandangan dan mengkritik pandangan ajaran Islam, sebagian kelompok umat Islam membotikot produk dari komunitas itu, tapi konyolnya masih menggunakan alat canggih produk komunitas tersebut (loud speaker untuk ceramahnya, transportasinya, laptopnya, perangkat lunaknya, dan internetnya).

Suatu keharusan menggapai kejayaan pribadi, masyarakat, komunitas, dan bangsa dengan melaksanakan dan merealisasikan perintah membaca dan menulis sebagaimana diamanatkan wahyu pertama tersebut. Komunitas kita, warga UM, mestilah berperan sebagai pencipta dan penyedia informasi tulis sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kita masing-masing. Menciptakan dan menyediakan informasi tulis itu dilakukan dengan menjadikan menulis sebagai bagian kegiatan aktif-produktif kita, termasuk melalui situs web um.ac.id ini. Bukankah menulis mesti didahului dengan membaca dan menelaah? Dengan demikian, dengan menulis, kita telah melaksnakan perintah Allah: ya membaca, ya menulis. Pahala kita berlipat ‘kan?

Malang, 17 September 2010

Dawud

Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Post Author: dawud

3 thoughts on “RENUNGAN: PERINTAH MEMBACA, JUGA PERINTAH MENULIS?

    Noor Farochi

    (21 September 2010 - 07:05)

    Wahyu Al-Quran yang pertama kali turun adalah perintah ’membaca’ , padahal Muhammad rasulullah SAW adalah buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis. Sehingga tepatlah tulisan tersebut di atas:
    ” Dalam kamus, qara’a dapat bermakna ‘menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu’. Kata iqra’ (‘bacalah’) dalam ayat tersebut tidak menyebutkan objek bacaan secara khusus. Oleh karena tidak disebutkan objeknya secara khusus, dapat dimaknai bahwa objek kata tersebut bersifat umum, yakni mencakup segala hal dapat dijangkau: bacaan wahyu Allah atau bacaan bukan wahyu, ayat tertulis atau ayat tak tertulis, ayat manziliyah atau ayat kauniah. Pendek kata, iqra’merupakan perintah untuk menelaah, membaca, meneliti, mendalami semesta alam, masyarakat, diri sendiri, dan bacaan tertulis. ” dst

    michael

    (18 September 2010 - 23:26)

    Mari kita menulis lagi…

    Michael
    (Alumnus FS UM)

    dahlia

    (18 September 2010 - 06:25)

    Jangankan menulis, bagi kita menulis adalah hal yang sangat suuuuliit..
    membaca saja …waduh suibuk…..kedua hal ini sebenarnya telah kita ketahui merupakan kunci kesuksesan.. baik secara pribadi maupun sebagai umat dan bangsa… tapi mengapa kita tidak memperbaikinya… melawan kemalasan…. malas adalah kunci kebodohan….bodoh kunci kemalaratan
    melarat kunci kedholiman…. mari kita perangi semua hal tersebut..
    mari kita bangkit untuk membaca…segera sebab ini adalah perintah Allah…. yang nota bene apabila melaksanakannya adalah IBADAH
    mari kita menulis…. manusia apabila mati yang ditinggalkan adalah tulisannya… mari membaca dan menulis dengan nawaitu IBADAH.. AMIEN3x

Komentar ditutup.