Ring Tinju Senayan

CATATAN REDAKSI: KARYA TULIS INI DIBUAT OLEH WARGA UM DAN DITERBITKAN OLEH HARIAN SURYA.

Ada sebuah anekdot. Suatu hari di sebuah sasana tinju, ada seorang petinju mengeluh. Keluhannya, akhir-akhir ini order untuk naik ring tinju sangatlah jarang. Menurut salah seorang promotor tinju nasional yang cukup ia kenal, hal itu disebabkan masyarakat lebih tertarik menonton pertandingan tinju di senayan.

Menurut salah seorang analis olahraga, Ring tinju senayan cukup menarik bagi permirsanya, sebab, pesertanya dipilih langsung oleh rakyat, melalui pemilihan yang melibatkan jutaan penduduk negeri.

Bahkan membutuhkan dana yang sulit dibayangkan tumpukan uang seratus ribuan dalam dunia nyata. Menurut salah seorang wasit tinju, cara bertinju di ring Tinju senayan amat mirip dengan cara bertinju anak taman kanak-kanak (TK). Dia membeberkan sejumlah fakta-fakta sekaligus keheranannya. Bahwa tinju ala anak TK di DPR jauh lebih diminati ketimbang tinju professional.

Menurut wasit tinju kenalan saya itu, sidang kesimpulan akhir bailout Bank Century adalah bukti nyata dari pernyataannya tersebut, jelas hal itu membuat saya bertanya-tanya. Hati saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri saat melihat sidang kesimpulan akhir bank century.

Pertanyaan yang sama mungkin terlintas di benak pemirsa Indonesia yang melihat acara tersebut. Sungguh dalam hati saya merasa ada sesuatu yang janggal di sidang tersebut, sesuatu yang membuat saya bingung terhadap sidang tersebut.

Pertanyaan sekaligus rasa heran itu, apakah anggota Dewan Perwakilan Rakyat kita sudah tidak bisa mengimplentasikan pancasila nomor empat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan? Bukannya dengan memainkan tinjunya.

Dalam hati kecil saya bertanya-tanya, apakah pantas anggota DPR kita yang terhormat berperilaku layaknya, seperti yang dikatakan oleh Gus Dur bertahun tahun yang lalu, “anak TK”.

Saya sendiri tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Sebab anak tetangga saya yang masih taman kanak-kanak, tahu betul bagaimana cara berbagi, berempati dan berdiskusi dengan sesama.

Sungguh aneh tapi nyata. Setahu saya, anggota DPR yang terhormat minimal lulus Sekolah Menengah Atas. Berdasarkan pengalaman saya, selama menjadi pelajar di SMA, Pancasila selalu dibacakan oleh Pembina upacara tiap hari senin.

Malahan, dalam berbagai jurusan, sebut saja Pedidikan Kewarga Negaraan yang wajib diajarkan, baik untuk jurusan Ilmu Alam, Ilmu Sosial, ataupun Ilmu Bahasa, PKN selalu mengajarkan bagaimana menjadi seorang warga negara yang baik, dalam berbagai aspek kehidupan.

Salah satu aspek kehidupan yang diajarkan adalah bagaimana berperilaku sebagai manusia Indonesia yang Pancasilais.

Semoga saja, keluhan seorang petinju professional bahwa dia jarang naik ring karena kalah rating dengan ring tinju senayan segera berakhir.

http://www.surya.co.id/2010/03/19/ring-tinju-senayan.html

Ferril Irham M

Universitas Negeri Malang

ferril_im@yahoo.com

Post Author: ferril

4 thoughts on “Ring Tinju Senayan

    nhaya

    (28 Maret 2011 - 15:38)

    BoLeh juga sentilannya,,,
    hemmm tapi sayangnya,,, suara kita sulit nembus dinding ring senayan yang dah di tambal dengan uang gepokan nie…

    ekowahyu

    (23 Maret 2010 - 10:13)

    @NoorFarochi

    setuju….

    Noor Farochi

    (23 Maret 2010 - 07:07)

    Menurut Halaman: Apa itu Berkarya, http://berkarya.um.ac.id/redaksi/ tulisan ini sepertinya kok nggak pas di “Berkarya dan terus berkarya”, demikian juga dua yang lain, atau mungkin saya uang keliru? maaf.

    Bang Iwan

    (22 Maret 2010 - 18:46)

    Sebuah sentilan yang mantap….
    Moga aja tidak menjadi Ring Tinju beneran seperti parlemen di luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *