Seandainya Anang Hermansyah dan Ashanti “Bersedia” Bermain Ludruk

Warga Universitas Negeri Malang (UM) patut berbangga dengan “peristiwa” yang terjadi pada 2 minggu terakhir ini, yakni pengukuhan 6 (enam) guru besar pada Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra. Penulis berkeyakinan bahwa suatu ketika nanti , pusat rujukan penelitian dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia akan “bermukim” di Universitas Negeri Malang.  Alasannya adalah secara akademis bahwa di jurusan inilah banyak dilahirkan para pakar di bidangnya.
Secara kebetulan penulis “ kenal dekat”  dengan keenam guru besar tersebut, yakni Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd,  Prof. Dr. Sumadi, M.Pd, Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd, Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd, Prof. Dr. Suyono, M.Pd, dan Prof. Dr. Maryeni, M.Pd. Insyaallah penulis kenal dengan hampir semua  dosen di Jurusan Sastra Indonesia FS UM.
Hari ini, Rabu 26 Oktober 2011 Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd, Prof, Dr. Suyono, M.Pd dan Prof. Dr. Maryeni, M.Pd menyampaikan pidato pengukuhan sebagai guru besar. Akan menjadi ” lengkap dan menarik” bila ide pokok pidato beliau bertiga “digabung” menjadi sajian yang enak untuk dinikmati oleh para peminat bahasa dan sastra Indonesia. Mengapa?   Prof. Anang menyajikan “ wacana “sebagai bidang garapannya atau isinya, Prof. Maryeni mengemas wacana tersebut ke dalam seni pentas “ludruk”, dan pencari dana untuk “pentas” adalah Prof. Suyono. Komplit kan? Ha ha ha…
Lalu pemain ludruknya siapa? Penulis skenarionya siapa? Jawabnya Pak “Anang”. Lho? Begini…, aktornya “Anang” (Hermansyah) dan Ashanti. Penulis skenarionya” Anang” (Santoso). Lalu sutradaranya siapa? Ya Pak Maryeni lah…. Karena Pak Maryeni suka “ndagel”. Ha ha ha…
Komentar penulis: Mengapa Opera Van Java menjadi terkenal? Karena pemainnya adalah para artis yang sering tampil di tayangan televisi. Kalau ludruk ingin terkenal, digemari dan dilestarikan oleh  para kawula muda  maka pemainnya “harus para artis” yang terkenal. Sebab kalau tidak begitu maka ludruk tidak  ada penontonnya alias tidak lucu. Betulkan?

Malang, 26 Oktober 2011
Penulis: Djoko Rahardjo, Staf Subag Sarana Pendidikan BAAKPSI UM

Post Author: Djoko Rahardjo

4 thoughts on “Seandainya Anang Hermansyah dan Ashanti “Bersedia” Bermain Ludruk

    Sepatu Online

    (21 Januari 2012 - 00:13)

    OVJ mania sepertinya. :p

    ROSALIA

    (5 November 2011 - 19:45)

    Sepakat dan sangat mendukung ide ini..semoga UM semakin JAYA!!amiin.. ^^

    djoko rahardjo

    (31 Oktober 2011 - 08:38)

    Trima kasih Pak Noor atas usulnya. Kebetulan 3 tahun lagi saya pensiun. Kalau jadi dalang/sutradara ludruk insyaallah saya bisa. Masalah kwalitasnya? Ya mari sama-sama kita lihat.

    Sebetulnya tulisan ini saya tujukan kepada para pakar/guru besar sastra Indonesia, khususnya sastra Jawa (kesenian ludruk). Sudah banyak yang meneliti kesenian ludruk dan kesenian ketoprak tetapi dampak positif/kemajuan bagi kesenian tersebut “hampir” tidak ada, alias “nol”, hanya sebatas wacana atau retorika. Begitukan Bapak-bapak profesor?

    Noor Farochi

    (28 Oktober 2011 - 14:13)

    Nanti “dalang”nya P.Djoko Rahardjo yg berkacamata mirip dalangnya OVJ …..hahahaha…^_^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *