Selamat Datang Rombongan Jamaah Haji UM

Gembira, dan bahagia bercampur haru saat berjumpa kembali dengan sanak-saudara, handai-taulan di tanah air setelah menempuh perjalanan panjang berpayah-payah melaksanakan ibadah haji.  Semoga keikhlasan dalam melaksanakan ibadah haji ini mendapat imbalan surga sebagai haji yang mabrur.  amien.

Ikhlas melaksanakan ibadah haji

Syarat untuk diterimanya suatu ibadah, ada dua. Pertama, dilaksanakan dengan tulus ikhlas, dan kedua, dilaksanakan dengan benar.  Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Amal ibadah itu jika dikerjakan dengan ikhlas, namun tidak benar, tidak akan diterima. Dan apabila dikerjakan dengan benar, namun tidak ikhlas, tidak diterima pula, sehingga ibadah itu harus dikerjakan dengan ikhlas dan benar.”

Benar yang dimaksudkan adalah sesuai dengan ajaran Nabi saw., sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. atau dikenal dengan istilah mutaba’atur rasul.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Allah tidak melihat (kualitas iman) kamu sekalian dari pakaian dan atribut yang dipakai, tetapi dari (keimanan) yang ada dalam hati-hati kamu sekalian”.  Artinya jika diletakkan dalam suasana melaksanakan ibadah haji, sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kwalitas iman seseorang, maka ukurannya jelas sekali, tidak dilihat dari pencantuman gelar haji yang disandangnya di depan nama. Akan tetapi, sampai sejauh mana nilai-nilai ibadah yang dengan susah payah dilaksanakan itu bisa membekas dalam hati, yang kemudian nampak dalam kehidupan sehari-hari seseorang.

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau tidak. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal perbuatan baik dan buruk walaupun sebiji sawi.

Rasulullah mengatakan, “tidak ada haji yang balasannya surga selain haji yang mabrur” (HR Bukhari-Muslim). Pada hadis lain Rasulullah mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak diiringi dengan perilaku negatif dan pasif dalam kehidupan sosial, “Siapa yang berhaji dengan niat semata-mata karena Allah, tidak berkata kotor dan berbuat fasik, maka ia akan menjadi sosok suci seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya.” (HR Bukhari).

Ibadah haji merupakan wahana latihan untuk meningkatkan kualitas kesalehan sosial, seperti meredam keangkuhan, keserakahan, dan keinginan menindas terhadap sesama. Hal ini antara lain disimbolkan melalui pakaian yang dikenakan. Ketika melaksanakan ibadah haji seseorang diharuskan melepaskan ‘pakaian kebesarannya’ dengan mengenakan pakaian ihram yang sederhana sehingga tidak mencerminkan status sosial diri masing-masing. Melepaskan “ego” karena eselon jabatan, kepangkatan, ras, warna kulit, dan sebagainya, harus ditinggalkan. Yang ada tinggallah persamaan sebagai manusia yang lemah dihadapan Allah, rasa persaudaraan, rasa solidaritas, dan kepekaan yang tinggi terhadap sesamanya, tidak membedakan kaya-miskin, penguasa-rakyat, dan status sosial lainnya, bersama-sama dalam rangkaian perjalanan menuju Allah SWT yang Mahasuci. Manusia yang berniat menghadap-Nya diharuskan dalam keadaan suci lahir batin, artinya diperlukan kesiapan, bukan hanya dibutuhkan kesiapan kesehatan fisik dan kesiapan kecukupan materi, tetapi yang terpenting adalah kesiapan kesehatan mental dan kesiapan spiritual dalam menjalankan ibadah rukun Islam yang kelima tersebut.

Ibadah haji dilarang mengenakan perhiasan dan wangi-wangian (misal sabun wangi, parfum dst), juga merupakan latihan untuk melepaskan diri dari selera konsumtif, cinta harta, latihan mengendalikan hawa nafsu, termasuk nafsu birahi, nafsu amarah, dan perkataan keji.

Di dalam surat Al-Baqarah: 197, Allah berfirman, “Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Maka, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk menunaikan haji, maka tidak boleh baginya berhubungan suami istri, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji ….”

Wajar bila haji mabrur menjadi dambaan dan cita-cita setiap kaum muslim yang pergi ke tanah suci Mekkah. Dari hal itu diperlukan kesiapan diri dalam melaksanakan setiap ketentuan dan larangan pelaksanaan ibadah haji dengan penuh keikhlasan .

Ditegaskan dalam Alquran: “Tunaikan ibadah haji dan umrah (hanya) karena Allah….” (QS. 2:196). “Dan Allah adalah tujuan perjalanan….” (QS. 24:42).

Ibadah haji, hanya karena Allah atau mencari gelar haji ?

Penggunaan gelar haji atau penambahan huruf H atau Hj di depan nama tidak pernah dikenal saat zaman Rasulullah, sahabat, dan tabi’in.  Guru besar Al-Azhar Kairo, Dr Sayyid Razak Thawil (1997), menolak pemakaian gelar “haji” bagi yang telah melaksanakan ibadah haji itu.  Alasannya, karena pada zaman Rasulullah SAW, sahabat, bahkan tabi’in gelar haji itu tidak pernah ditemukan.  Ia menjelaskan, nilai ibadah seseorang tergantung keikhlasan hamba menghadap Allah dan apabila (riya), bisa merusak ibadah, bahkan mengurangi pahala dan tidak mendapat nilai di sisi Allah.

Syekh Abdul Badi Ghazi, direktur Ma’had Duat secara lebih tajam menambahkan alasan bahwa penggunaan gelar haji sering merusak kesucian ibadah, akibatnya ibadah haji ibarat kulit saja.

Bukankah ketinggian nilai ibadah di sisi Allah ada pada keikhlasan dan ketulusan hati seseorang dalam menunaikan ibadah itu.  Yang paling penting menurut saya adalah bisa tetap istiqomah melaksanakan amal ibadah yang telah dikerjakan, misal selalu mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, selalu memenuhi panggilan sholat 5 waktu di masjid, dst.

Di Indonesia dan Malaysia, setelah menunaikan ibadah haji selalu saja ada penambahan titel alias gelar Haji (disingkat “H”) atau gelar Hajjah (disingkat “Hj”) sebelum penulisan namanya.  Mereka menambahkan sendiri gelar “H/Hj” atau mendapatkannya dari pihak lain yang menganggap ibadah haji juga untuk mencari sebuah gelar yang umum disandang.  Mungkin saja ini semacam penghargaan(?) oleh mereka yang mungkin kurang paham dengan makna haji yang sesungguhnya. Namun ada juga yang karena sudah berhaji jika nggak disebut atau ditulis gelar-nya meminta untuk ditambahkan “gelar” tersebut.  Adakalanya kita jumpai, pada seseorang yang sudah melaksanakan ibadah haji, bila tidak dipanggil “pak haji” atau “bu haji”, maka dia tidak menyahut atau menoleh, atau tersinggung bila pada penulisan di depan namanya tidak ditambah dengan “H” atau Hj”.

Pernahkah Rasulullah Muhammad SAW mencontohkan hal yang seperti ini? haruskah ibadah haji yang dilaksanakan dengan susah payah, dengan biaya yang mahal, dan bahkan nyawa taruhannya, harus digadaikan dengan satu hal yang akan merusak ibadah haji itu sendiri.  Bagi seorang yang melaksanakan haji, jika tidak berhati-hati dengan niatnya, ia bisa terjerumus ke dalam riya’ (pamer) dan ujub (berbangga diri) sehingga bisa kehilangan semua pahala hajinya.

Seharusnya, selain gelar bapak haji atau ibu hajjah, biar adil, ada juga gelar bapak/ibu “Sy” sesudah syahadat, gelar “S” setelah sholat, gelar “Z” setelah membayar zakat, atau gelar “P” setelah selesai puasa. Jadi, jika seseorang telah melaksanakan kelima rukun Islam, di depan namanya akan tertera lima gelar itu, Sy., S., Z., P., H/Hj.

Lebih jauh lagi, di Indonesia ada lembaga yang mewadahi orang-orang yang bergelar haji, yaitu Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), mau dikemanakankah saudara-saudara kita yang belum melaksanakan ibadah haji ?, dibiarkan bercerai-berai tanpa ikatan ?, bukankah setiap muslim itu bersaudara ? Wallahu a’lam.

Post Author: Noor Farochi

4 thoughts on “Selamat Datang Rombongan Jamaah Haji UM

    djoko rahardjo

    (20 Desember 2010 - 14:24)

    Tulisan Cak Noor Farochi yang telah dikomentari oleh Pak Dawud dan Pak M. Guntur Waseso tentang pencantuman huruf “H” atau “Hj” di depan nama seseorang yang pulang dari menuaikan ibadah haji. Memang… setiap orang dapat berbeda pendapat. Saya sendiri tidak menyantumkan huruf “H” di depan nama saya karena saya belum menunaikan ibadah haji. Kami mohon doa bapak-bapak semoga saya dapat menunaikannya. Tahun 1983 saya punya pengalaman menarik. Ketika itu, saya jadi Ketua RT 03, RW 02, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Begini… Ketua RW saya dengan bangga memperkenalkan dirinya kepada peserta rapat: “Nama saya H. Supardi… Haji Supardi”. Saya percaya tetapi teman saya memberitahu bahwa “H” di depan nama beliau adalah singkatan dari Heribertus (nama baptis). Saya sebagai orang Islam sangat tersinggung tetapi dalam pencatuman “H” di depan namanya pada surat-surat beliau tidak ada peraturan yang melarangya.

    djoko

    (20 Desember 2010 - 13:28)

    Saya senang dengan tulisan Cak Noor Farochi yang telah ditanggapi oleh Pak Dawud dan Pak M.Guntur Waseso. Memang saya tidak pernah menyantumkan huruf “H” di depan nama saya karena saya belum menunaikan ibadah haji. Mohon doa dari bapak-bapak semoga saya diberi rezeki oleh Allah saw. sehingga dapat melaksanakan rukun Islam yang lima. Memang… setiap orang belum tentu sama dalam menanggapi hal ini. Saya cenderung tidak memakainya. Sebab saya punya pengalaman lain, sekitar tahun 1986, ketika itu Ketua RW saya di RW 02, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang dengan bangga memperkenalkan namanya H. Supardi (beliau mengejanya: “Haji Supardi”). Saat itu saya mempercainya tetapi teman saya memberitahu bahwa “H” di depan namanya adalah nama baptis Heribertus. Saya sebagai orang Islam “tersinggung” tetapi hak beliau menyantumkan huruf “H” di depan namanya. Tidak ada peraturan yang melarangya.

    M. Guntur Waseso

    (19 Desember 2010 - 10:03)

    Sepakat dengan komentar ustadz Dawud, saya berpendapat, gelar apapun yang melekat (atau dilekatkan) pada pribadi seseorang tentu ada nilai “pengingat” bahwa dia kini sudah haji, sudah doktor, atau sudah profesor. Saya juga husnudzdzon saja bahwa hal itu sekaligus juga menjadi harapan orang atau pihak yang memberi gelar itu, meskipun saya lebih suka (sekali lagi LEBIH SUKA) predikat kehajian saya TIDAK dicantumkan di depan nama saya (anehnya, kok selalu saja ada yang mencantumkan gelar haji itu di depan nama saya, ya, padahal saya sendiri tidak pernah mencantumkannya atau menyuruh mencantumkannya).
    Bahwa ada (sedikit) orang yang tidak rela gelar kehajiannya tidak dicantumkan menyertai namanya, memang iya. Akan tetapi, itu juga terjadi dalam soal pencantuman atau penyebutan gelar-gelar yang lain, bukan?
    Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI)? Saya tidak menjadi anggotanya, tetapi saya pernah menghadiri acara pengajiannya. Saya lebih memandang IPHI itu sebagai salah satu wadah silaturrahim, dan silaturrahim sangat dianjurkan dalam Islam. “Tidak masuk surga orang yang memutus tali silaturrahmi,” begitu saya dengar dari pak ustadz. IPHI menjadi kelompok eksklusif? Saya kira itu hanya ekses, bukan efek.
    Akhirulkalam, saya berdo’a agar saudara-saudara saya yang baru pulang dari berhaji, dan juga yang sudah lama berhaji, terus berusaha menjadi haji mabrur dengan selalu beramal sholih. Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

    dawud

    (17 Desember 2010 - 19:12)

    Secara substantif, tulisan ustadz Noor Farochi bagus sekali. Sekedar urun rembug sisi lain tentang penggunaan gelar haji dan pekumpulan persaudaran haji. Pencantuman gelar dan pelaksanaan perkumpulan tersebut dalam konteks budaya, bukan bagian dari amalan ibadah khas atau ibadah mahdhah. Tujuan pencantuman gelar tersebut adalah untuk koreksi & monitor diri bahwa yang bersangkutan harus tetap “berhaji” sepanjang waktu sisa usia hidupnya. Artinya, Anda sudah haji lhoo … jaga diri … agar tetap hajjan mabrura, wa sya’yan masykura, wa dzanban maghfura … Saya husnudzan saja, semoga itulah niat dan realisasi pencantuman “gelar” haji dan “perkumpulan” persaudaraan haji Saudara-Saudara kita tersebut.
    Malang, 17 Desember 2010
    Dawud
    Fakultas Sastra UM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *