BAHASA AREMA BAGIAN V (Kata yang Dapat Dibalik…

BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH

BAGIAN V

(Kata yang Dapat Dibalik dan yang Tidak dalam Kalimat Bahasa Arema)

 

Oleh: Djoko Rahardjo*)

 

Pembahasan kata yang dibalik (walikan) pada kalimat bahasa Arema sangatlah penting dikarenakan kata yang dibalik merupakan ciri utama bahasa Arema. Di dalam kalimat bahasa Arema “sering ditemukan variasi kata yang dibalik”,  yang berasal dari (1) bahasa Indonesia, (2) bahasa Jawa, (3) bahasa Arema, dan (4) gabungan kata (1), (2) dan (3). Variasi ini bertujuan untuk (1) memudahkan pengucapan kata yang dibalik,  (2) menggantikan kata yang berkonotasi negatif, dan (3) menggantikan kata yang memiliki makna ganda (ambigu).

Sejauh ini, penulis belum menemukan buku maupun laporan hasil penelitian yang membahas keberadaan kata yang dibalik dalam kalimat bahasa Arema. Oleh sebab  itu, penulis “bereksperimen” dengan mengumpulkan beberapa kata yang dipaparkan dalam bentuk tabulasi  seperti berikut.

DAFTAR SINGKATAN

Bahasa Indonesia: BI Kategori Sintaksis: KS
Bahasa Jawa: BJ Verba/kata kerja: V
Bahasa Asli Arema: BAA Adjektiva/kata keadaan: Adj
Kata yang Dibalik: KyD Nomina/kata benda: N
Dapat Dibalik: DD Adverbia/kata keterangan: Adv
Tidak Dapat Dibalik: TDD Pronomina/kata ganti: Pron
Dibalik dengan Pertimbangan: DdP Numeralia/kata bilangan: Num
Uraian: Urai Preposisi/kata depan: Prep
Hasil: Hsl Konjungsi/kata penghubung: Konj
Ejaan Lama: EL Interjeksi/kata seru: Inj
Dan Lain-lain: dll. Partikel: Ptk

 

Kalimat 1:

Urai

a

b

c

d

BI

Anaknya

sedang

membaca

buku.

KS

N

Adv

V

N

KyD

Kana’e

jik

maca

ukub.

Hsl

DD

DD

DdP

TDD

Keterangan:  kata “sedang”  tidak lazim dibalik menjadi “ngades” oleh sebab itu , diganti  dengan kata “jik” (BAA),

kata “membaca/baca”  tidak lazim dibalik menjadi “acab” atau “acam”  oleh sebab itu, perlu dipertimbangkan (DdP).

 

Kalimat 2:

Urai

a

b

c

d

BI

Bapak

pergi

ke

Surabaya.

KS

N

V

Prep

N

KyD

Sebe Nganal

ongul

nang

Ayabarus.

Hsl

DD

DD

TDD

DD

Keterangan:  kata “pergi” tidak lazim dibalik menjadi “igrep” oleh sebab itu, diganti dengan kata ” lungo” (BJ) = ‘pergi’     dibalik menjadi  “ongul”, 

kata “ke” diganti  dengan kata “nang” (BJ),

kata “nang” (BJ) tidak dapat dibalik menjadi “ngan”.

 

Kalimat 3:

Urai

a

b

c

d

e

BI

Adiknya

makan

bakso

di

rumahnya.

KS

N

V

N

Prep

Adv

KyD

Kida’e

nakam

oskab

nok

hamure.

Hsl

DD

DD

DD

TDD

DD

Keterangan:  kata “di” diganti dengan kata “nok”  (BJ), 

kata “nok” tidak dapat dibalik menjadi “kon” karena akan merubah arti kata menjadi “koen” (‘kamu’).

 

Kalimat 4:

Urai

a

b

c

d

BI

Agus

pergi

ke

Batu.

KS

N

V

Prep

N

KyD

Suga

ongul

nang

Utab.

Hsl

DD

DD

TDD

DD

Keterangan:  kata “Agus” dibalik menjadi  “Suga” , 

kata “pergi” tidak lazim dibalik menjadi “igrep” oleh sebab itu, diganti dengan kata ” lungo” (BJ) = ‘pergi’     dibalik menjadi  “ongul”,

kata “ke” diganti  dengan kata “nang” (BJ),

kata “nang” tidak dapat dibalik menjadi “ngan”.

 

Kalimat 5:

Urai

a

b

c

d

BI

Nijar

bekerja

dengan

rajin.

KS

N

V

Prep

Adv

KyD

Rajin

idrek

karo

Nijar.

Hsl

TDD

DD

TDD

TDD

Keterangan:  kata “Nijar” jika dibalik menjadi  “Rajin” , kata yang dibalik (kata turunan) ini  akan membingungkan, dan  kata “rajin” jika dibalik menjadi “nijar”. Jadi kedua kata itu harus dihindari keberadaannya pada satu kalimat, 

kata “be-kerja” dari ejaan lama “be-kerdja” dibalik => be-adjrek=>a/d/j/rek=> a/d/rek=>”idrek”.

kata “dengan” tidak lazim dibalik menjadi “nanged” oleh sebab itu, diganti dengan kata ” karo” (BJ) dan tidak  lazim dibalik menjadi  “orak”.

 

Kalimat 6:

Urai

a

b

c

d

e

f

BI

Maya

mem-beli

soto

ayam

di

Mergosono.

KS

N

V

N

Adv

Prep

N

KyD

Ayam

ileb

otos

maya

nok

Onosogrem.

Hsl

TDD

TDD

DD

TDD

TDD

DD

Keterangan:  kata “Maya” jika dibalik menjadi  “Ayam” , kata yang dibalik (kata turunan) ini  akan membingungkan, 

kata “ayam” jika dibalik menjadi “maya”. Jadi kedua kata itu harus dihindari keberadaannya pada satu kalimat,

kata “mem-beli” dibalik => mem-ileb=>”ileb” memiliki kesamaan bunyi dengan “ilep” jika dibalik menjadi “peli” (bahasa Jawa artinya alat kelamin pria),

kata “di” diganti dengan kata “nok”  (BJ), kata “nok” tidak dapat dibalik menjadi “kon” karena akan merubah arti kata menjadi “koen” (‘kamu’).

 

Kalimat 7:

Urai

a

b

c

d

e

BI

Bambang

beli

weci

di

warung.

KS

N

V

N

Pep

N

KyD

Ngambab

ileb

ciwe

nok

efak.

Hsl

DD

TDD

TDD

TDD

DdP

Keterangan:  kata “Bambang” jika dibalik menjadi  “Ngambab” , kata yang dibalik (kata turunan) ini  tidak akan membingungkan, 

kata “beli” jika dibalik menjadi “ileb/ilep” (alat kelamin pria),

kata “weci” dibalik menjadi “ciwe” (bahasa Arema Pecinan = ‘alat kelamin wanita’), kedua  kata itu harus dihindari keberadaannya,

kata “di” diganti dengan kata “nok”  (BJ), kata “nok” tidak dapat dibalik menjadi “kon” karena akan merubah arti kata menjadi “koen” (‘kamu’),

kata “warung” diganti “kafe” dibalik menjadi “efak”.

 

Kalimat 8:

Urai

a

b

c

d

e

BI

Djoko

sarapan

tiga

telur

Ayam.

KS

N

V

Num

N

Adv

KyD

Okodj

narapas

agit

rulet

maya.

Hsl

DdP

DD

DD

DdP

TDD

Keterangan:  kata “Djoko”  (EL) jika dibalik menjadi  “Okodj” , kata yang dibalik (kata turunan) ini  perlu dipertimbangkan dengan memperhatikan kelaziman penggunaan kata  dari ejaan lama maka hasil akhir kata turunan  tersebut adalah “okod” , sementara kata Handoko (nama orang) dipendekkan menjadi Han-“Doko” jika dibalik menjadi “Okod”, 

kata “telur” tidak lazim dibalik menjadi “rulet” sebab makna lain “rulet” itu sendiri dapat berarti nama salah satu jenis judi, kata “rulet” ini dapat dibalik dengan pertimbangan.

 

 

Simpulan

Dari paparan delapan kalimat di atas dapat disimpulkan bahwa ketegori kata (kelas kata/jenis kata) yang dapat dibalik (DD), tidak dapat dibalik (TDD), dan dibalik dengan pertimbangan (DdP) seperti pada tabel berikut.

No.

Hasil Identifikasi Kategori Sintaksis dan Peran Semantis

Hasil Inventarisasi Jenis Kata yang

DD

TDD

DdP

1.

V, Adj, N, Adv

1a, 1b, 1d, 2a, 2b, 2d, 3a, 3b, 3c, 3e, 4a, 4b, 4d, 5b, 5d, 6c, 6f, 7a, 8b

1c, 7e, 8a, 8d

2.

Pron, Prep, Konj, Inj, Ptk

2c, 3d, 4c, 5c,6e, 7d

3.

Num

8e

4.

Kata yang bermakna ganda

5a, 5d, 6a, 6d, 8e

5.

Kata yang berkonotasi negatif

6b, 7b, 7c

 

Catatan:  Simpulan ini masih bersifat sementara dan akan dikembangkan pada pembahasan selanjutnya. Koreksi dari semua fihak yang peduli terhadap “pelestarian bahasa Arema” merupakan dambaan dari penulis.

BAHASA AREMA BAGIAN IV (Kategori Sintaksis…)

BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH

BAGIAN IV

(Kategori Sintaksis dan Fungsi Sintaksis pada Kalimat Bahasa Arema)

 

Oleh: Djoko Rahardjo*)

 

Kalimat secara gramatikal dapat dipaparkan berdasarkan kategori sintaksis, fungsi sintaksis, dan peran sintaksis atau peran semantis. Kategori sintaksis atau kelas kata di dalam tata bahasa tradisional lazim disebut jenis kata dan di dalam tata bahasa Jawa disebut jinising tembung.

 

Kategori Sintaksis

Berdasarkan keanggotaannya, kategori sintaksis dibedakan menjadi dua. Pertama, kategori sintaksis terbuka, dalam arti jumlah katanya berkembang. Yang tergolong kategori itu ada empat, yaitu (1) verba (V) atau kata kerja atau tembung karya, (2) adjektiva (Adj) atau kata keadaan atau tembung kriya, (3) nomina (N) atau kata benda atau tembung aran, dan (4) adverbia (Adv) atau kata keterangan atau tembung katrangan. Kedua, kategori sintaksis tertutup, dalam arti jumlah keanggotaannya relatif terbatas dan sulit untuk berkembang. Kategori itu ada enam, yaitu (1) pronominal (Pron) atau kata ganti atau tembung sesulih, (2) numeralia (Num) atau kata bilangan atau tembung wilangan, (3) preposisi (Prep) atau kata depan atau tembung ancer-ancer, (4) konjungsi (Konj) atau kata penghubung atau tembung penggandeng, (5) interjeksi (Itj) atau kata seru atau tembung penguwuh, dan (6) partikel (Ptk). Preposisi, konjungsi, dan partikel disebut kata tugas…. (Wedhawati, 2001: 16).

Berikut ini contoh pemaparan kalimat bahasa Arema menurut kategori sintaksis:

(1)

Kana’e

jik

maca

ukub.

N

Adv

V

N

Anaknya

sedang

membaca

buku.

 

(2)

Ebes Nganal

ongul

nang

Ayabarus.

N

V

Prep

N

Bapak

pergi

ke

Surabaya.

 

(3)

Kida’e

nakam

oskab

nok

hamur e.

N

V

N

Prep

Adv

Adiknya

makan

bakso

di

rumahnya

 

 

Fungsi Sintaksis

Konsep fungsi sintaksis mencakupi subjek (S). predikat (P), objek (O), pelengkap (Pl), dan keterangan (K). Di dalam tata bahasa Jawa subjek disebut jejer, predikat disebut wasesa, objek disebut lesan, pelengkap disebut  geganep, dan keterangan disebut katrangan…. (Wedhawati, 2001: 16).

 

Berikut ini contoh pemaparan kalimat bahasa Arema menurut fungsi sintaksi:

 

(4)

Kera’e

etak rudit

nok ramak

S

P

K

Anaknya

akan tidur

di kamar.

 

(5)

Ebes kodew

ngisaki

ayas

ojir.

S

P

O

K

Ibu

memberi

saya

uang.

 

(6)

Umak gocik

karo tenyom licek’ae

kadit inareb,

lukup’en!

S

O

K

P

Kamu penakut

dengan monyet kecil saja

tidak berani

pukul saja!.

 

(7) Asaip umel sing nok Seplinthung dikawab nang rontak isilup.

S

P

K
Wanita tuna susila yang  gemuk di Seplindid dibawa ke kantor polisi.

 

SIMPULAN

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan:

  1. Kategori  sintaksis atau kelas kata dalam kalimat bahasa Arema mengikuti kategori sintaksis pada bahasa Indonesia atau Jawa;
  2. Fungsi sintaksis dalam kalimat bahasa Arema mengikuti fungsi sintaksis pada bahasa Indonesia atau Jawa; dan
  3. Tidak semua kata di dalam kalimat bahasa Arema dapat dibalik (akan dipaparkan pada tulisan berikutnya).

 

Daftar Kata Bahasa Asli Arema (BAA):

Jik/ijik = ‘masih’, ebes = ‘orangtua’, ngisaki= ‘memberi’ (kata dasarnya isak=  ‘beri’, diisaki = ‘diberi’), ojir = ‘uang’,  gocik = ‘penakut’, asaip =  ‘wts’, Seplinthung = ‘tempat mangkal wts di tepi sungai berantas Jl. Tumapel Malang’).

 

Rujukan

Wedhawati. 2001. Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

 

BAHASA AREMA BAGIAN III (Cara Membalik Kata…)

BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH

BAGIAN III

(Cara Membalik Kata dan Variasi Pola Kata)

 

Oleh: Djoko Rahardjo*)

 

Bahasa Arema/walikan “tidak terikat sepenuhnya” oleh Tata Bahasa Indonesia maupun Tata Bahasa Jawa sehingga pola pembentukan kata bahasa Arema bersifat luwes/longgar. Meskipun demikian, pola pembentukan kata/kata turunan bahasa walikan berasal dari kosa kata: bahasa Indonesia (BI), bahasa Jawa (BJ), dan bahasa asli Arema (BAA).

Wedhawati (2001:32) menyatakan sebagai berikut:

Di dalam kebanyakan bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan Nusantara, suku kata selalu memiliki vokal sebagai inti dan puncak kenyaringan. Inti atau vokal yang menjadi puncak kenyaringan itu dapat didahului atau diikuti oleh konsonan atau tanpa diikuti apa pun sehingga secara mandiri menjadi suku kata. Suku kata yang berakhir dengan vokal disebut suku kata terbuka, sedangkan yang diakhiri dengan konsonan disebut suku kata tertutup. Berikut ialah suku kata baik dalam bahasa Indonesia atau Jawa yang bersifat terbuka (lajur kiri) atau tertutup (lajur kanan)

meja => me—ja                                                              pangkat => pang—kat

negara => ne—ga—ra                                                bengkel => beng—kel.

Suku kata tersebut memiliki pola

me—ja: kv—kv                                            pang—kat: kvkk—kvk

ne—ga—ra: kv—kv—kv                          beng—kel: kvkk—kvk.

Pendapat penulis pada contoh pola suku kata melaku (‘jalan’) =>mlaku=> uklam=> u-klam=> k—kkvk, kata “mla-ku” tidak mungkin/tidak lazim dibalik menjandi “u-kalm” => v—kvkk karena suku kata kedua (akhir) yang ada dalam Tata Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Jawa adalah berupa “suku kata yang bersifat tertutup” dengan pola kvk atau kkvk. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut oleh pakar bahasa Arema.

 

Cara Membalik Kata

Sebelum membalik kata untuk dijadikan kata turunan, terlebih dahulu harus mengetahui asal-usul kata yang akan dibalik kemudian mengetahui ejaan yang digunakan. Sebab kata dasar yang ditulis, dapat berupa ejaan lama (EL) maupun ejaan yang disempurkan (EYD).

Contoh:

djoragan (BJDJT-EL)=> nagaro/j/d/ huruf (grafim) / j/ nazal (luluh/hilang)=> nagarod =>huruf /g/ bertukar tempat dengan huruf /r/=>naragod (“naragot”)

djuwal (BJDJT-EL) >lawujd =>lawu/j/d/ => huruf (grafim) / j/=> naza l(luluh/hilang) =>lawud=>huruf /u/ diganti dengan huruf /e/ =>lawed (lawet)

dibalikan (BI-EYD) =>di-balik-an (prefik di- dihilangkan)=>balik-an=>kilab-an=>kilaban (“kelaban”)

melaku (BJ-EYD) =>mlaku =>ukalm=>huruf /a/ bertukar tempat dengan huruf /l/=>uklam

perawan (BI-EYD) => nawarep=> huruf /w/ bertukar tempat dengan huruf /r/=>narawep

raijo (BAA-EYD) => ojiar => huruf /a/ dihilangkan =>ojir

tjelana (BI-EL) =>analejt =>anale/j/t/ =>huruf (grafim) / j/=>naza l(luluh/hilang) =>analet.

 

Variasi Pola Kata

Beberapa kata turunan tersebut di atas memiliki variasi pola suku kata seperti berikut

naragod : na-ra-god (vk-vk-kvk)

lawet : la-wet (kv-kvk)

kelaban : ke-lab-an (kv-kvk-vk)

uklam : u-klam (v-kkvk)

narawep : na-ra-wep (kv-kv-kvk)

ojir : o-jir (v-kvk)

analet : a-na-let (v-kv-kvk)

 

Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kata turunan “walikan” bahasa Arema memiliki ciri berikut:

(1) ada kata yang ditulis dengan ejaan lama,

(2) ada penazalan/penghilangan huruf (grafim),

(3) ada pertukaran tempat pada susunan huruf (grafim), dan

(4) ada penggantian salah satu huruf (grafim).

     

    RUJUKAN

    Wedhawati. 2001. Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

     

    BAHASA AREMA… BAGIAN II

     

    BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH

    BAGIAN II

    Oleh Djoko Rahardjo*)

     

    UKLAM-UKLAM NANG SOTAM

    I. TEKS DIALOG

    Malem Minggu tanggale kewut, kepingin uklam-uklam nang Sotam kadit  ojir. Ayas ngatu ojir nang naragod kadit diisaki, genaro’ne tidem. Ngatu ojir nang nawak ewed nakus. Akhire ngatu nang kida ayas ewed, amil saleb ubir.

    Ipes…, racapku ngalup nang hamure Kediri, tapi ayas ngenes kanyab kodew sinam sing uklam-uklam nang Sotam. Ayas ketemu nawakku halokesan biyen, jenenge Icus, kera’e sinam semlohe.

    Continue reading “BAHASA AREMA… BAGIAN II” »

    BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH

    BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH

    BAGIAN I

    (Masa Keemasan, Komunitas, Performa dll.)

     

    Oleh: Djoko Rahardjo*)

     

    Bahasa Arema atau lebih dikenal dengan bahasa Walikan adalah bahasa gaul yang memiliki keunikan tersendiri. Bahasa Gaul Arema ini lebih tua usianya jika dibandingkan dengan  Bahasa Gaul Artis Indonesia yang diperkenalkan oleh Deby Sahertian dkk. Saat ini, pengguna bahasa Arema  jumlahnya semakin berkurang atau hampir punah.

    Imam Agus Basuki menyatakan (2010), Bahasa Jawa dialek Malang sama sekali tidak terstruktur dan jauh dari kaidah Bahasa Jawa yang standar sehingga menjadi unik dan kadang tidak dimengerti oleh lawan bicaranya…. Ia mengakui, bahasa walikan Malangan itu tidak mudah dimengerti oleh orang dari luar Malang, bahkan orang asli Malang sendiri juga banyak yang tidak memahami bahasa “walikan” itu, sebab selain tidak jelas strukturnya juga jauh menyimpang dari kaidah Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia pada umumnya.

    Contoh kalimat:

    Sam, ayas kadit raijo (ojir), kapnim oker’e utas.

    ‘Mas, saya tidak uang, minta rokoknya satu (satu batang)’.

    Sebelum memasuki pembahasan pola pembentukan kata bahasa Arema, perlu diketahui lebih dahulu: 1) masa keemasan pengguna, 2) komunitas pengguna, 3) performa pengguna, 4) Arema yang sukses, dll.

    Continue reading “BAHASA AREMA YANG HAMPIR PUNAH” »

    Categories

    A sample text widget

    Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

    Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.