Negeri Celaka

Negeri Celaka*
Cerpen Karkono Supadi Putra

Aku tidak tahu, mengapa mendadak aku ingin meratapi diriku ini. Aku tiba-tiba merasa seperti seonggok sampah yang tiada berguna. Tubuhku lelah, napasku terengah, aku jengah.

“Dia gila, kasihan dia.”

“Dia tidak gila, dia hanya sakit.”

“Biarkan saja dia terpuruk di situ! Peduli apa kita sama dia, kita tidak mengenalnya. ”

Banyak orang berlalu lalang melintasiku, tapi tak seorang pun yang memperdulikanku, pun sekadar menyapa. Mereka semua seolah membenciku, menghinaku, melecehakanku, jijik melihatku. Bahkan yang lebih kejam lagi, kelewat sering aku dengar mereka mengataiku gila.

Tidak! Aku tidak gila!!

Aku memelas pada semua mereka. Mereka anak-anakku, tapi mengapa mereka tak mau mendengar keluhku? Apakah telinga mereka sudah tuli? Apakah mata mereka sudah buta? Ataukah rasa dalam hati mereka telah membeku?

Mengapa aku harus mengalami nasib seperti ini? Aku kian terpuruk, tersaruk, remuk.

Aku: Pertiwi…

Langit dan bumi adalah kedua orang tuaku. Keadaanku kini sungguh jauh berbeda dengan keadaanku berpuluh tahun lalu. Aku kini hanyalah sesosok renta yang begitu ringkih. Dahulu, aku hijau menyegarkan, menyebarkan pesona yang memikat banyak orang. Tidaklah heran, jika dulu tidak sedikit yang berebut ingin melamarku. Ingin memiliki diriku.

Membayangkan keadaanku dulu, aku hanya bisa menangis. Aku begitu rindu dengan masa-masa itu. Aku dulu hidup dalam kedamaian, dalam buaian kasih dan sayang kedua orang tuaku. Dalam payung kesejukan gemah ripah loh jinawi. Aku masih begitu ingat bagaimana leluhurku mengajariku akan pentingnya sebuah kerukunan, kedamaian. Masa itu terlewat dengan bahagia, meski sesekali ada goncangan, tetapi itu tiada seberapa.

Namun, sungguh tiada terduga.

Ketika sawah ladang leluhurku mulai berbuah, berjuta ikan, rempah-rempah, hamparan nyiur melambai, dan Dewi Sri siap untuk dipanen, tiba-tiba banyak orang serakah datang merampasnya. Kekayaan anugrah Tuhan yang tiada ternilai itu pun mereka renggut dengan paksa, tanpa belas kasih, penuh kekejian, bahkan kami hanya makan sisanya yang tiada seberapa, dan itu senantiasa terjadi selama berabad-abad lamanya.

Lalu keluarga pun menjadi kaum tertindas di negerinya sendiri.

Kejam! Biadab!

“Dia gila, kasihan dia.”

“Dia tidak gila, dia hanya sakit.”

“Biarkan saja dia terpuruk di situ! Peduli apa kita sama dia, kita tidak mengenalnya. ”

Mereka semua anak-anak dan cucu-cucuku. Mengapa mereka tak lagi peduli denganku, bahkan tak lagi mengenalku? Mungkinkah karena jiwa bapak mereka telah pergi dari mereka? Bapak mereka: suamiku, Budaya.

Budaya…

Namanya selalu mengisi ruang-ruang kosong khayalku. Yang kini telah pergi dan selalu kunanti kehadirannya kembali. Aku tidak akan pernah lupa saat-saat itu, saat dia pergi meninggalkanku, dan entah apakah dia akan kembali lagi, suatu saat nanti?

Budaya….

Aku tidak mungkin lupa semua tentangnya.

Aku masih begitu ingat, kala itu, tiap senja, Budaya tidak pernah lupa untuk mengajakku ke sebuah pantai berpasir putih. Ombak kecil menari menjilati kaki-kaki kami. Nyiur melambai dan burung-burung seolah menari mengiringi kebahagiaan kami. Aku begitu hanyut dalam kedamaian bersamanya. Tak cukup banyak kata yang bisa kuurai tuk melukiskan rasa yang saat itu kurasa. Kolaborasi serasi yang mencipta harmoni.

Namun, entah dari mana datangnya, tiba-tiba aku merasa ada banyak tangan kekar yang menarikku kuat, mendorong suamiku hingga tersungkur. Kami terpisah. Terdengar suara-suara tawa menggelegar manusuk-nusuk telingaku, aku linglung.

“Kang Massss…!!!” teriakku sekuat tenaga kala itu.

Orang-orang berjas rapi dan berdasi menghajar suamiku, tanpa ampun. Aku hanya menjerit dalam tangis, tak ada yang lain, karena kedua tanganku terbelenggu tali-tali keserakahan, keangkuhan. Lantang salah satu dari mereka bersuara memekakkan telinga, mengumandangkan kata bahwa mereka adalah penguasa yang lebih berhak atas kami.

Suamiku dihajar, dipukuli, ditendang bertubi-tubi.

“Dinda…. Dindaaa…”

“Diammm……!!!”

“Tidak, lepaskan istriku…lepaskan!” suamiku mencoba berontak, tetapi semua sia-sia. Tangan-tangan kami serasa tak berdaya untuk melawan semua itu. Tenaga seperti terkuras habis. Orang-orang itu kian beringas menyiksa kami. Dan… tanpa aku duga, orang-orang itu menyerat suamiku pergi.

Semakin menjauh……

“Kang Mas…Kang Maass…!!!”

@@@

Kang Mas….Kang Mas….!!

Oh…aku terhanyut dalam lamunan.

Kejadian itu tak pernah hilang dari ingatanku, karena saat itulah kami berdua dipisahkan, hingga kini. Entah, kini dia masih hidup atau sudah tiada? Semenjak kami dipisahkan dulu, aku teramat merindukannya. Sejak saat itu, tak ada lagi yang mengasihiku seperti kasihnya. Pun seandainya kini Ia kembali, mungkin sudah tidak mengenaliku lagi. Kini, aku sudah tidak seperti dulu lagi, aku sudah dijamah ribuan tangan tak berhati.

Kang Mas… dimanakah kini kau berada?

Kemana aku harus mencarimu?

Aku merindukan kehadiranmu, aku membutuhkanmu.

Aku kini kesepian. Terkurung dalam penderitaan. Anak-anakku tak pernah mau menggantikan apa yang telah dilakukan suamiku kepadaku. Sekarang, setelah mereka tumbuh besar dan pandai-pandai, justru mereka hanya bisa menderitakanku. Mereka saling berebut peninggalanku: lautanku, hutanku, gunung-gunungku, kekayaanku, dan semua isi rahimku. Sedangkan mereka yang mengolah sawah ladangku malah memberiku racun. Ada juga yang tanpa malu menggunduli hutan-hutanku demi kepuasan perut mereka sendiri. Sebagian mereka ada juga yang senang berteriak-teriak demi kepentingannya sendiri, meski nyawa saudaranya dipertaruhkan. Mereka tega saling membunuh bila tengah berselisih. Mereka telah kehilangan rasa belas kasih dan rasa syukur pada Yang Menjadikan mereka ada. Mereka tampak seperti bukan manusia lagi.

“Dia gila, kasihan dia.”

“Dia tidak gila, dia hanya sakit.”

“Biarkan saja dia terpuruk di situ! Peduli apa kita sama dia, kita tidak mengenalnya. ”

Aku kini mulai merasakan, betapa cucu-cucu dan buyutku malu mengakuiku dan suamiku sebagai leluhurnya. Mereka lebih senang dan bangga dengan para tetanggaku yang hanya menawarkan kesenangan sesaat. Rasa malu pun seperti telah tercerabut dari diri mereka. Aku hampir tidak percaya kalau mereka adalah anak dan cucuku yang dulu santun.

Diri ini semakin rapuh dibuatnya. Rambut ini pun tidak hanya memutih, tapi mulai rontok satu satu. Luka-luka di tubuhku ini tidak kian mengering, tapi justru kian menganga lebar di sana-sana. Illahi….ampuni anak-anak dan cucu-cucu kami! Ampuni!!

Anak-anakku… jika air mata ini tumpah, bukan sebab aku meratapi diriku yang renta ini. Namun, sebab aku mencintai kalian semua. Aku tidak rela jika harus melihat kalian berkubang dalam celaka. Sadarilah bahwa aku termat mencintai kalian.

Illahi… apakah ini pertanda hidup sudah di ambang batas kematiannya? Apakah Engkau sudah lelah menegur mereka dengan beragam bencana yang sebenarnya berasal dari ulah mereka sendiri?

Kulihat ibu pertiwi…

Sedang bersusah hati…

Air matanya berlinang….

Lamat kudengar syair mengalun lembut.

Itukah suara anak cucuku? Masih adakah di antara mereka yang menyayangiku? Ataukah mereka justru menertawakan penderitaanku?

Dan… air mata ini kian deras…..

 

*Juara II Lomba Menulis Cerpen yang Diselenggarakan oleh LPM Techno Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Gadisku dalam Kelambu

Syok!!

Jantung serasa berhenti berdetak. Mata terpaku menatap foto-foto di layar monitor. Kecewa, sedih, merasa gagal. Foto-foto itu begitu berbicara menyuarakan hubungan asmara. Asmara yang tak selayaknya. Seketika saja sudut mataku mengembun. Tak sampai sedetik telah membanjiri pipiku.

Sembari berusaha tenang, kuraih telepon genggam, mengetik pesan pada dia yang kusayang.

SENT ITEM 1

Gadis, Bunda lihat Gadis dekat dengan Cempaka ya? Sahabat atau bagaimana? Bunda merasa ada yang tidak biasa.

INBOX 1

Bunda, gadis minta maaf! Dulu Gadis pernah pacaran sama Cempaka setelah dia putus dengan Bunga. Tapi jangan bilang-bilang ya, Bunda? Sekarang Gadis sudah tidak ada hubungan sama Cempaka. Sumpah Bunda, Gadis nggak punya hubungan sama Cempaka lagi. Gadis minta maaf Bunda….!!

 

Semakin menjadi kecewa dan sedihku. Gadis mengaku tanpa perlu aku memperjelas pertanyaanku. Kami memang dekat hati ke hati. Tidak kaget sebenarnya jika Gadis mau mengaku. Tapi… hati ini berharap akan mendapatkan sangkalan dari Gadis. Berharap Gadis tidak benar-benar memiliki hubungan tak lazim itu. Huuft.. setidaknya Gadis mau terbuka padaku. Kusyukuri itu. Memudahkan jalanku untuk membimbing dan mengingatkannya. Gadisku yang masih 14 tahun.

 

SENT ITEM 2

Bunda menemukan foto-foto gadis sama Cempaka. Siapapun yang melihat foto itu pasti langsung berprasangka buruk. Bunda kecewa. You have a bright future. Jangan merusaknya…..

INBOX 2

Gadis minta maaf, Bunda. Gadis akan hapus foto-foto itu! Gadis minta maaf! Gadis rela jujur demi kebenaran. Jadi Gadis mohon, Bunda jangan berpikir yang negative. Gadis mohon, Gadis masih Butuh Bunda!

 

Gadisku… Apa yang dia pikirkan hingga menjalani hubungan itu? Semua tahu jika Cempaka memang tomboy. Tapi aku tak sampai berpikir ke sana, kukira mereka hanya berteman, bersahabat. Aku tidak menaruh curiga karena sebelumnya Gadis berpacaran dengan Bayu.

 

SENT ITEM 3

Bunda pengen nangis rasanya… Temui Bunda sekarang. Bunda tunggu.

INBOX 3

Nggak, Bunda. Gadis nggak mau temui Bunda. Gadis malu… Gadis sekarang sama teman-teman. Gadis menumpahkan penyesalan sama teman-teman. Gadis minta maaf, Gadis nggak bias temui Bunda…

SENT ITEM 4

Sampai kapan mau menghindari Bunda? Kalau sudah mengaku nggak perelu malu. Bunda harap Gadis benar-benar menyesal dan menyadari bahwa itu keliru, bukan jalan yang harus kamu tempuh. Hanya Bunda yang tahu ini. Bunda menjaga rahasia demi Gadis, asal Gadis janji hal ini nggak akan terulang lagi seumur hidup Gadis.

INBOX 4

Ya, Bunda. Gadis bakal janji!! Gadis mohon jangan disebarkan ya. Gadis sudag nggak ada hubungan lagi sama Cempaka, Bunda! Gadis malu sama Bunda…

 

Tuhan… Kaulah pemilik segala kehendak…

Lindungi Gadisku, jagakan Gadisku…

Hanya padaMu semua bermuara…

 

Aku segera beranjak dari kantor, jika Gadisku tak ingin menemuiku, maka aku yang akan mencarinya, menyelamatkannya, memeluknya dan mengajaknya beranjak dari persimpangan.

Menanti Bunda Kembali

Menanti Bunda Kembali

Cerpen Karkono Supadi Putra

Kulihat ada mendung di mata istriku. Aku tahu apa yang kini ada di benaknya. Pasti sedang memikirkan putra semata wayang kami: Ryan. Kudekati dia yang tengah mengepak pakaian ke dalam koper.

“Sudah, Bunda tidak perlu sedih! Ryan akan baik-baik saja,” kataku seraya membantu melipat-lipat pakaian yang tergeletak di ranjang.

“Bunda merasa tidak tega saja, Yah. Ryan masih terlalu kecil untuk memahami apa yang akan dia alami ini.”

Aku bisa memahami apa yang dipikirkan istriku. Ryan masih berusia delapan tahun, pasti akan merasa sedih ditinggal bundanya pergi berhaji. Pada awalnya istriku ragu untuk pergi ke tanah suci tahun ini seorang diri, tetapi aku yang meyakinkannya. Ini panggilan Illahi, tak ada alasan untuk menunda lagi.

“Ayah akan selalu menjaganya dengan baik, Bunda,” jawabku mencoba meredam kekhawatiran istriku.

“Iya, Bunda yakin ayah akan menjaga Ryan dengan baik. Namun, kadang perasaan ragu itu selalu membayangi hati Bunda. Ayah kan tidak bisa setiap saat menjaganya. Itu saja yang ada di pikiran Bunda.”

Kali ini mendung di matanya berubah menjadi gerimis. Melihat ini, hatiku pun terusik. Apakah keputusan istriku untuk berhaji tahun ini salah? Yang dikatakan istriku barusan benar, pekerjaanku sebagai dokter memang begitu menyita waktu. Selesai dari rumah sakit, aku juga harus praktik di klinik, kadang sampai malam jika pasien sedang ramai. Ryan biasanya selalu bersama istriku yang memang bekerja di rumah, sebagai ibu rumah tangga. Jika istriku nanti pergi dalam waktu yang cukup lama, Ryan paling hanya bersama pembantu. Aku tidak bisa menemaninya setiap saat.

“Kita pasrahkan saja sama Allah, Bunda. Niat bunda pergi berhaji adalah sebuah niat yang mulia, memenuhi panggilan-Nya. Lagi pula, kan Ada Mbak Nur yang akan menjaga Ryan jika Ayah sedang pergi.”

Kurengkuh tubuh istriku. Dia menumpahkan tangisnya yang sedari tadi coba dia tahan. Aku pun menjadi terharu.

***

“Mas Ryan baik-baik di rumah, ya! Tidak boleh nakal, harus nurut kata Ayah dan Mbak Nur. Oh iya, nanti kalau Bunda pulang, Bunda akan belikan Mas Ryan kopiah dari Mekkah.”

Aku tak bisa menyaksikan peristiwa ini. Air mata istriku selalu meleleh, membelah kedua pipinya. Sementara bening mata Ryan hanya terlihat berkaca. Aku sungguh kagum dengan buah hatiku ini. Aku tahu, betapa sedih hatinya hendak ditinggal pergi bundanya. Tapi, rupanya nasihatku selama ini cukup meresap dalam ingatannya. Tidak perlu bersedih, Bunda pasti akan kembali pada kita. Begitu kataku selalu pada Ryan.

Ryan mengangguk-anggukan kepalanya. Istriku seketika mendekapnya erat. Tangisnya kian keras.

“Bunda jangan nangis! Kata Ayah, Bunda pergi ke rumah Allah. Ryan belum boleh ikut karena Ryan masih kecil,” ucap Ryan polos. Ada yang bergemuruh dalam hatiku. Anakku yang masih kecil itu seolah begitu cerdas dan paham akan hal-hal yang aku ajarkan padanya selama ini. Istriku melepas pelukannya, kini Ia mencoba tersenyum sambil tetap memandang wajah teduh Ryan.

“Mas Ryan memang pintar, Bunda sayang sama Mas Ryan.”

Tangis istriku kian menjadi, dia erat memeluk Ryan. Aku tak mau melihat adegan ini lebih lama lagi. Bisa-bisa aku ikut menangis. Dalam hati, aku tenang saja melepas istriku seorang diri. Namun, jika mau jujur aku juga tidak tega memisahkan Ryan dan Bundanya, meski hanya untuk sementara waktu.

Lima tahun lalu aku sudah berhaji seorang diri, saat Ryan masih berusia tiga tahun. Saat itu istriku belum bisa ikut karena Ryan masih terlalu kecil. Dan keberangkatan istriku tahun ini pergi haji bukan tiba-tiba. Sudah kami rencanakan sejak lama. Bahkan sebenarnya tahun kemarin hendak berangkat, tapi istriku selalu merasa tidak tega dengan Ryan. Kali ini dia merasa mantap, meski lagi-lagi perasaan tidak tega meninggalkan Ryan selalu membayangi. Di samping itu, banyak teman-temannya yang lain yang sudah jauh-jauh hari mendaftarkan diri tetapi belum dapat berangkat karena kuota penuh. Ini kesempatan emas.

***

Suasana rumah kurasakan memang menjadi sepi. Ryan kulihat seperti kehilangan keceriaannya. Namun, aku selalu bisa menangkap ketakutannya untuk mengeskpersikan kesedihannya di depanku. Seolah dia begitu paham bahwa aku tidak mau melihat dia bersedih.

Ryan anakku, engkau begitu dewasa dari usiamu kini.

Malam ini, sudah sepuluh malam istriku meninggalkan rumah ini. Selama ini Ryan jarang menanyakan kapan Bunda pulang, karena sudah aku beri tahu bahwa Bunda pergi berpuluh-puluh hari. Namun malam ini, sedari tadi kulihat dia sulit sekali tidur.

“Mas Ryan susah tidur ya? Kenapa? Kangen dengan Bunda?” tanyaku seraya memandanginya yang tergolek di atas ranjang. Dia menatapku lekat.

“Kenapa? Mas Ryan takut jika Ayah marah?”

Kubelai dahinya lembut. Kubenahi selimut tebalnya yang melorot. Dia seperti tak mau lepas memandangku. Anakku, tanpa kamu katakan pun, aku bisa tahu apa yang ada dalam benakmu, kamu tentu sangat rindu dengan Bunda. Tiba-tiba Ryan terisak. Jemari kecilnya Ia katupkan ke muka. Aku tahu ia berusaha menahan tangis, tapi rupanya perkataanku tadi menyentuh hatinya. Perasaan lembut istriku memang diwarisinya. Aku bangunkan Ia, aku dekap erat.

“Sabar ya Mas! Ayah juga rindu sama Bunda. Kita doakan saja Bunda selamat dan bisa kembali ke rumah kita.”

Ryan merangkul leherku dengan erat. Lantas aku kepikiran untuk menghubungi istriku. Buru-buru aku mengambil HP yang ada di atas meja sisi ranjang.

Untuk beberapa jeda berikutnya, kutemukan sinar kegembiraan saat Ryan berbicara dengan Bundanya, meski hanya lewat HP. Aku merasa lega.

***

Buru-buru aku berkemas. Aku harus segera pulang ke rumah. Barusan Mbak Nur menelpon, mengabarkan bahwa Ryan muntah-muntah, badannya panas.

Tidak sampai setengah jam aku tiba di rumah.

Aku langsung menuju ke kamar. Perasaanku tidak karuan. Kutemukan Ryan terbaring di atas ranjang. Kusentuh dahinya: sangat panas. Buru-buru kubuka peralatan medis yang ada di dalam tas yang aku bawa dari rumah sakit. Aku memeriksanya. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri, tapi kondisi anakku sudah sedemikian parah.

“Mas Ryan, ini Ayah.”

Mata Ryan terpejam, tetapi mulutnya seperti komat-kamit menyebut sesuatu.

“Sepulang sekolah tadi Mas Ryan bilang kalau kepalanya pusing Pak. Lalu saya suruh tidur, saya suruh makan tidak mau. Tiba-tiba dia muntah-muntah Pak,” suara Mbak Nur terdengar gemetar.

“Ryan harus segera diinfus Mbak. Dia kekurangan cairan.”

“Lalu?”

“Kita bawa ke rumah sakit saja, biar ada perawat yang membantu. Tolong siapkan baju-baju Ryan, Mbak!”

“Baik, Pak.”

Perasaanku semakin tak menentu. Aku menjadi ingat istriku. Ryan pasti terlalu memikirkan bundanya. Aku tidak bisa tenang untuk menangani Ryan sendirian, makanya aku putuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

Saat kubopong tubuhnya ke dalam mobil. Lirih kudengar dia menyebut Bunda berulang kali.

Illahi…selamatkan anakku. Hanya Engkaulah penolong kami.

Aku, Mbak Nur, dan Ryan seketika meluncur meninggalkan rumah, menuju rumah sakit tempat aku biasa kerja. Jarak antara rumah sakit dengan rumahku memang tidak begitu jauh, tapi entah mengapa saat ini aku merasa begitu lama, tidak sampai-sampai.

“Pak…badan Mas Ryan panas sekali, cepat Pak!” suara Mbak Nur yang duduk di kursi belakang sambil menjaga Ryan yang terbaring justru semakin membuatku gundah. Aku menyetir di depan. Tenang, berhadapan dengan kondisi seperti ini aku tidak boleh panik.

“Iya Mbak, tenang aja, sebentar lagi sampai.”

Pas di lampu merah, kulihat Ryan kembali muntah-muntah. Ya Allah, selamatkan Ryan. Aku bingung, apakah aku harus menghubungi istriku? Mungkin kondisi Ryan akan sedikit tertolong saat dia bisa mendengar suara bundanya. Tapi, apakah ini tidak akan menggelisahkan istriku di sana jika tahu kalau Ryan sakit? Lampu merah perlahan berubah menjadi kuning, lalu hijau. Gegas aku kembali memacu laju mobil. Namun, dalam hitungan jeda tak begitu lama, sebuah mobil dari arah berlawanan aku lihat sedang mendahului kendaraan lain dengan kecepatan tinggi. Aku terperanjat. Dalam pandangan mataku, mobil itu seperti hendak menabrak mobilku yang melaju dengan kencang, dan…aku tak bisa lagi menghindar.

…Cieeeet..Braakkk…..

Semua mendadak menjadi gelap.

***

“Ayah..lihat… kopiah ini bagus sekali! Bunda belikan dua untuk kita, ayah yang hitam, Mas Ryan yang warna putih.”

Ryan berlari kecil ke arahku yang terbaring di atas ranjang putih. Sejak kecelakaan tiga minggu yang lalu, kondisiku belum sepenuhnya pulih, masih ada sedikit luka di kaki yang terasa sakit jika dipakai berjalan.

“Mas Ryan, jika kaki ayah sudah sembuh, nanti kopiahnya dipakai pergi ke masjid sama ayah ya..” suara renyah istriku yang duduk di dekatku. Meski kakiku masih sakit, tetapi semua tidak pernah aku rasa karena semua terkalahkan dengan rasa behagia saat melihat keceriaan Ryan bisa bercengkerama kembali dengan bundanya. Dalam kecelakaan itu, Ryan dan Mbak Nur hanya luka ringan, semua bisa segera tertangani karena lokasi kecelakaan tidak begitu jauh dengan rumah sakit yang saat itu aku tuju.

“Iya Bunda…nanti, kalau Mas Ryan sudah besar, Mas Ryan yang gantikan beli oleh-oleh dari Mekkah, buat Ayah dan Bunda…”

Subhanallah… Ryan, semoga cita-cita muliamu itu kelak dapat terlaksana, Nak.

***

Karkono Supadi Putra, Dosen di Jurusan Sastra Indonesia

Universitas Negeri Malang.

Cerpen ini pernah dimuat di Malang Post.

Surat Cinta untuk Istriku

Suara Hati Laki-laki

Cerpen Karkono Supadi Putra*

 

 

Istriku, aku datang dengan kembang setaman,

ke atas altar pemujaan khusuk munajatmu.

 

Aku terpana! Sepasang mata berbingkai bulu lentik hitam berkilau di depanku. Aku tatapi sekilas lalu. Serasa kutemukan telaga yang begitu bening, ingin rasanya aku berenang di dalamnya, merasai sejuk kecipak airnya. Begitulah, apa yang selalu aku rasa kala menatap matamu, istriku. Aku selalu kalah jika ingin berlama menahan tatapan, bak api menyerah pasrah pada hujan. Aku seperti tak layak menjadi insan yang begitu leluasa menikmati telaga bening itu. Lalu, aku seperti terjebak pada pusaran yang begitu deras dan siap menenggelamkanku. Sepasang mata itu menyimpan keindahan keteduhan hati sang empunya.

Istriku, betapa aku harus selalu bersyukur bisa memilikimu, merengkuh bahtera hidup bersamamu. Engkau ibarat oase di sahara kegersangan jiwaku. Bak bunga-bunga yang indah mekar di sunyi sabana hidupku. Kau laksana sang rembulan yang merekah jumawa dalam malam gelapku.

Dan aku? Akulah anak kecil yang tiba-tiba menyungging senyum ketika dibelikan mainan oleh bundanya. Akulah petani yang memahat tawa kala melihat penennya berlimpah. Akulah nelayan yang riang ketika menjelang senja pulang membawa banyak ikan. Akulah insan yang beruntung bisa menjadi suamimu, istriku.

 

Istriku, aku datang bersama kuas lengkap dengan tinta aneka rupa,

ke atas kanvas keluasan jiwamu.

 

Kata-kata pun serasa tak pernah usai untuk melukiskan rasa bahgia ini. Tarian pena tak akan pernah kasip untuk mendendangkan tembang-tembang cinta penuh pendar aneka warna. Lalu, serasa ada bayu yang melambung-buaikan anganku, mengembarakanku pada sebuah taman penuh bunga aneka rupa yang hanya ada bahgia bertahta di sana. Akulah insan yang begitu berbahagia bisa menjadi belahan jiwamu.

Selama ini, dalam pusaran waktu menjalani hari bersamamu, semakin aku merasa bahwa engkaulah anugerah terindah dalam hidupku. Engkau yang dengan sabar membimbing langkahku, tanpa jemu mengingatkanku, menyalakan api semangatku, memahami dan meredam gejolak emosi yang seringkali luput dari kendaliku. Ah, sungguh tak tahu dirinya aku jika rasa syukur tak selalu singgah di sanubariku.

 

Istriku, aku datang membawa kendi penuh isi,

menuju jamban beraroma bunga tujuh rupa.

 

Istriku, jika malam ini air mataku tumpah, bukan sebab semata aku begitu merindukanmu yang saat ini jauh dari rengkuhku. Tapi lebih pada betapa beruntungnya nasibku bisa merasai meniti hari bersamamu, merengkuh bahtera pernikahan denganmu. Istriku, sungguh saat jauh dari sisimu seperti malam ini, hatiku serasa teriris sembilu. Rasa tak tega meninggalkanmu di pondok kecil kita di kota bunga Malang, hanya bersama buah hati kita. Sementara aku di sini, meniti hari di rantau demi ilmu, berjibaku dengan buku, demi masa depan kita bersama: aku, kau, dan buah hati kita.

Ah, istriku. Jika ada di antara kita yang sering berlinang air mata meratapi keadaan ini, pastilah itu aku. Aku ibarat kupu-kupu kertas, yang sepintas lalu terlihat kukuh dan berseri, akan tetapi begitu ringkih dan rapuh bila tersentuh, apalagi diterjang deras air hujan. Tidak seperti kau, yang begitu tegar dan sabar. Aku banyak belajar darimu, istriku. Belajar tentang keikhlasan, kesabaran, keyakinan penuh pada kuasa-Nya. Seringkali aku yang selalu mengkhawatirkanmu bila jauh dariku, atau buah hati kita yang badannya sesaat panas karena peralihan cuaca, namun engkau dengan tenang meyakinkanku bahwa Allah-lah yang menjagamu dan buah hati kita. Bagaimana aku tak bahagia mendengarnya.

 

Istriku, aku datang dengan serinai seruling,

ke atas pentas cakrawala penuh legenda.

 

Ah, istriku. Mengenangmu di sunyi malam seperti ini, ternyata membuatku menyungging senyum. Aku masih begitu ingat istriku, kala aku hendak meminangmu, belum genap tiga tahun ini. Sungguh, skenario Allah itu begitu indah, tanpa pernah dapat kureka sebelumnya. Tak pernah aku membayangkan dalam hari-hariku sebelumnya, bahwa pada akhirnya aku harus meniti hidup di kota bunga nan indah, Malang. Dan di kota itu pulalah kita dipertemukan. Sebuah pertemuan yang teramat istimewa untuk kulukiskan, yang sering jika aku megingatnya, aku serasa tak sanggup mempercayainya, bahwa itu terjadi padaku, insan yang begitu banyak noda ini.

Istriku, pernah memang aku berangan sebelumnya, aku ingin menikah dengan wanita yang sebelumnya aku belum pernah melihat wajahnya, belum pernah mendengar suaranya, belum pernah bertutur sapa apalagi bercengkerama mesra dengannya. Namun, sanggupkah aku mewujudkan anganku itu? Rasanya aku terlalu tinggi memiliki angan-angan itu. Entahlah, kala itu aku hanya merasa terlalu berlumur dosa di masa silam, hingga seperti ada sebongkah keinginan untuk menebusnya. Entah dengan jalan apa. Lantas, berbelesatan dalam jiwaku beragam angan. Menikah. Ya, menikah adalah salah satu fase penting dan sakral dalam hidup manusia. Satu keputusan besar yang tidak bisa dijadikan permainan. Lalu, aku ingin menjadikan momen pernikahan dalam episode hidupku adalah bagian dari anganku itu. Untuk menunjukkan kepatuhanku pada-Nya, yang pada akhirnya, bisa mengikis lumpur yang melumuriku.

Dan, sekadar engkau tahu istriku, aku melihat sosokmu, sebelum engkau resmi menjadi istriku, cukup sekali sekilas dalam desiran hati yang beradu rasa gugup di sebuah senja di bulan ramadhan. Saat kita dipertemukan dalam mimbar ta’aruf yang mendebarkan. Cukup sekali bersua, mengurai sedikit tanya, lalu mendamba kemantapan jiwa, bermuara pada keyakinan, bahwa Dia-lah yang mempertemukan kita. Kita pun saling sepakat meretas jalan pernikahan yang sakral nan indah.

Sungguh, tak tahukah engkau istriku, serangkum bahgia tak sanggup lagi kuucap dalam kata, kala itu. Entahlah, aku serasa menemukan menara. Ibarat pendaki yang mencapai puncak. Laksana narapidana yang baru saja mendapat putusan bebas. Aku telah menggenapkan separuh dien, dalam naungan indah di jalan-Nya. Itulah, satu fase dalam episode kehidupanku ketika aku bisa merasa menjadi pemenang. Aku serasa tak percaya bisa mendapat kesempatan mewujudkan angan itu.

 

Istriku, aku datang dengan serumpun bunga,

masuk di taman yang hanya ada bahgia bertahta di sana.

 

Seiring berjalannya waktu, aku merasa cinta di antara kita perlahan tapi pasti kian bersemi. Belum terlupa wanginya kembang pernikahan, masih terlukis beragam keceriaan saat pesta dilangsungkan, dan ketika dua hati saling menyelam dan rentang masa satu bulan, berita bahgia serasa kian memenuhi ruang hati kita: engkau telat mendapat tamu bulanan. Dan aku begitu girang karenanya. Saat belum usai hatiku mengenyam bahgia bisa menikah denganmu di jalan yang indah, Dia semakin menambah nikmatnya dengan kehamilanmu.

Sepuluh bulan setelahnya, hadir di tengah mahligai pernikahan kita, seorang buah hati yang semakin melengkapi kebahagiaan kita. Bayi mungil laki-laki yang lahir dari pernikahan kita yang indah, yang dinaungi doa-doa dari jiwa suci para undangan yang datang di pernikahan kita.

 

Istriku, aku datang dengan kembang setaman,

ke atas altar pemujaan khusuk munajatmu.

 

Malam ini aku ingin datang dalam indah peraduanmu. Hadir dalam mimpi tidurmu, lalu berbagi cerita bersamamu. Mengurai beragam rasa, menyemai sejuta asa. Ahh, ternyata banyak sudah peristiwa terlewati, kenangan indah terukir rapi yang tak cukup berhenti sebagai memori, tetapi akan selalu menjadi inspirasi di kemudian hari.

Istriku, jika penaku menari, bukan sebab aku tak sanggup mengungkapkan semua secara langsung kepadamu. Tapi sebab, seperti kita tahu bahwa rasa bahasa antara tulis dan lisan tentulah berbeda. Sebab, pada kenyataannya banyak hal yang terlewat dari ingat yang tak dapat aku ungkap sebelumnya. Ternyata banyak hal istimewa yang tak aku sadari sebelumnya. Istriku, beribu maaf dariku tulus aku haturkan jika dalam rentang waktu kebersamaan kita aku masih banyak diliputi khilaf. Istriku, aku datang dengan kembang setaman, ke atas altar pemujaan khusuk semedimu. Kembang setaman penuh sesak rangkain kata-kata yang kesemuanya bermuara pada sebuah kalimat indah yang ingin kuhadiahkan padamu sebagai satu lagi tanda cintaku padamu. Aku teramat mencintaimu karena dengan mencintaimu aku semakin menjadi lebih mencintai-Nya.

“Mas, tanpa kamu tulis atau kamu ucapkan, aku sudah tahu kalau kamu teramat mencintaiku…” suara istriku mengagetkanku yang terpekur di depan layar komputer. Aku palingkan wajahku, lalu menatap utuh keberadaannya. Aku hanya tersenyum menanggapi kata-katanya. Berkali-kali aku meyakinkan diriku: wanita yang berdiri di depanku ini adalah istriku.

 

Bayangan Hitam

Bayangan Hitam

Cerpen Karkono Supadi Putra

Aku pandangi buku pemberian Haris.
Setiap kali melihat buku ini, hatiku selalu bergetar, teringat kejadian dua tahun silam yang tidak pernah aku lupakan dalam hidupku. Entah, sampai kapan aku sanggup untuk memendam semua rahasia itu. Rahasia yang hanya aku dan Allah saja yang tahu.

Malam itu Haris membangunkanku.
Namun, seperti malam-malam yang telah berlalu, aku selalu mengabaikan ajakannya untuk sholat malam. Entah, bukan aku malas, tetapi setiap kali Haris yang membangunkan, justru selalu kebencian yang menggelegak di hatiku. Tiba-tiba aku merasa Haris adalah sosok angkuh yang ingin menunjukkan kepadaku bahwa dia adalah sosok yang tekun, sholih, dan rajin beribadah.
Dan, kejadian itu selalu saja berulang.
Setiap kali aku melihat dia menangis tersedu di atas sajadah, aku selalu menganggapnya tak lebih dari kesombongan belaka. Badannya yang selalu berguncang karena tangis pada waktu itu aku anggap sebagai akting yang memuakkanku. Hal itu pada akhirnya membuatku tidak simpati kepadanya. Segala tindakannya, meskipun sebenarnya baik di mata orang lain, selalu saja membuatku muak.
Aku masih begitu ingat saat suatu siang dia menasihatiku. Waktu itu aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku. Kalau tidak ada Mas Burhan, mungkin sudah aku pukul kepalanya. Saat itu dia begitu sibuk dengan persiapan aksi peduli Palestina di Bundaran Tugu.
“Lukman, apa kamu tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu itu untuk ikut aksi ini? Apakah penderitaan saudara-saudara kita itu tidak sedikit pun menyentuh hatimu?”
Mendengar penuturan Haris itu mendadak darahku berdesir. Bagiku, apa yang dikatakan Haris itu bukan sebuah ajakan yang bisa aku terima baik-baik, tapi sebuah penghakiman yang begitu melecehkanku.
“O, jadi kamu pikir hanya kamu saja yang punya kepedulian dengan Palestina? Iya?” jawabku dengan suara lantang. Seisi kos mungkin terkejut dengan nada suaraku.
“Maaf, jika kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu! Aku bermaksud baik. Aku…”
“Sudah, kalau kamu mau ikut aksi, segera ikut sana, jangan banyak omong!”
“Lukman, apakah kamu tidak bisa bicara dengan nada yang lirih?” suara Mas Burhan sedikit mengagetkanku. Aku diam, lalu kembali menekuri layar monitor, tidak merespon apa yang disampaikan Mas Burhan. Dalam hati kecil, aku tidak mau dalam posisi itu sebenarnya. Aku merasa, aku adalah orang yang angkuh. Namun, apa yang aku lakukan itu seperti aku sengaja, karena hatiku selalu meradang manakala Haris ada di dekatku.

Begitulah, meskipun aku dan Haris teman satu jurusan, satu organisasi, bahkan satu kamar, tetapi aku merasa ada dinding kokoh yang membentengi kami. Seolah Haris adalah rivalku dalam segala hal. Terlebih, salah satu hal yang paling membuatku semakin tidak menyukainya adalah saat dia dekat dengan Zahra, sosok mahasiswi anggun yang sangat aku idamkan. Entah, meskipun aku sadar bahwa antara Haris dan Zahra tidak mungkin ada hubungan apa-apa, tetapi setiap kali Haris berkomunikasi dengan Zahra, hatiku senantiasa membara.
Aku tahu, orang seperti Haris dan Zahra tidak mengenal kata pacaran. Akulah yang sebenarnya berpenyakit. Aku yang sudah menahbiskan diri sebagai seorang aktivis Rohis, tetapi belum bisa membersihkan hati untuk tidak memikirkan sosok perempuan. Namun, sepertinya Zahra dan Haris selalu saja mempunyai kesempatan untuk sering berkomunikasi. Misalnya dalam sebuah kegiatan, keduanya sering berada dalam satu bidang. Meskipun aku tahu, itu bukan sesuatu yang mereka sengaja. Hal itu sunggu membuatku cemburu.

Saat pencalonan ketua BEM di kampus, aku dan Haris adalah dua orang yang berpotensi besar untuk menjadi kandidat mewakili organisasi kami.
“Salah satu di antara kalian harus bersedia mencalonkan diri untuk menjadi ketua BEM…” suara lembut Mas Burhan. Dalam hati kecil, akulah yang pantas menjadi kandidat ketua BEM, bukan Haris.
“Untuk memenangkan pemilihan ini nanti dan mngalahkan kandidat lain, suara kita harus satu. Jangan sampai ada perpecahan dalam peolehan suara. Kalian dengan kelebihan masing-masing memang sangat bepotensi untuk menjadi ketua BEM. Andai kalian adalah satu, maka itu luar biasa. Namun, karena kalian adalah dua potensi yang tidak bisa disatukan, saya berharap salah satu dari kalian harus mengikhlaskan untuk tidak menjadi kandidat…”
“Sebaiknya Lukman saja yang maju Mas, saya merasa tidak layak…” kata Haris pelan. Dalam hati aku tertawa. Ini hal yang bagus. Keikutsertaanku menjadi pengurus Rohis tentu akan membantuku untuk memperoleh suara terbanyak. Haris memang pendiam dan rendah hati. Sebenarnya, jika mau jujur, dia lebih mempunyai khans dibanding aku.
“Baik, nanti kita bahas lebih lanjut. Lukman, kamu bersiap-siap untuk maju dalam pemilihan ketua BEM tahun ini. Jika memang nanti seluruh pengurus sepakat menjagokanmu, berarti ya kamu yang maju.”
Dan, sesuatu yang kurang mengenakkanku pun terjadi. Sebagian pengurus Rohis banyak yang kurang sepakat jika aku yang maju. Entah apa alasannya. Banyak yang tetap menginginkan Haris untuk maju menjadi kandidat. Akhirnya, aku dan Haris maju sebagai kandidat ketua BEM. Dan yang lebih mengenaskan lagi, dukungan pengurus Rohis lebih cenderung ke Haris. Hingga, saat itu aku pun berulah. Aku merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Hais. Saat itu, logikaku seperti macet untuk berpikir. Aku memfitnah Zahra dan Haris. Akulah aktor antagonis yang sudah sempat mencemarkan nama baik keduanya. Aku mencuri foto Haris dari lemari di kamar kos, lalu foto itu aku selipkan di buku Zahra yang kebetulan aku pinjam. Aku pura-pura menitipkan buku itu pada Haris untuk dikembalikan ke Zahra. Dan, saat buku itu sampai ke tangan Zahra, dia sangat terkejut karena ada foto Haris di dalam buku itu. Semua sesuai dengan rencanaku. Aku ingin membuat Zahra berpikiran negatif pada Haris, bahwa ternyata Haris mempunyai niat yang tidak baik pada Zahra, sehingga Zahra menjadi tidak simpati lagi kepada Haris.
Perihal keberadaan foto Haris yang tersimpan di buku Zahra pun tercium ke seluruh aktivis Rohis. Keduanya sempat disidang. Aku memang benar-benar berotak kriminal. Aku berharap, teman-teman Rohis menjadi tidak simpati pada Haris dan berbondong-bondong mengalihkan dukungan padaku. Reaksi pun beragam, ada yang tetap tidak percaya bahwa itu tindakan Haris, tidak sedikit pula yang lantas bepikian negatif terhadap Haris.

Suatu malam, aku mendengar alunan merdu suara Haris mengaji. Mataku tertegun menatap Haris yang tak juga beranjak dari tempatnya. Sesekali ia tidak bisa menahan air matanya yang membasahi pipi, membuat suaranya parau dan justru menciptakan gundah di hatiku. Sebersit rasa bersalah muncul. Aku menepuk pundaknya lembut dan menasihatinya agar bersabar. Tidak aku sangka, tangis Haris tumpah. Dengan erat dia memelukku.
“Lukman, kamu adalah sahabat terbaik yang aku miliki. Di saat banyak orang yang tidak mempercayaiku lagi, kamu justru tetap menemaniku dan memberiku dorongan,” kata Haris di sela isak tangisnya.
“Haris, aku sangat percaya padamu, kamu tidak mungkin melakukan hal itu. Pasti ada orang yang buruk hatinya dan menaruh foto Zahra itu,” kataku sedikit canggung. Aku sungguh tidak nyaman mengatakan hal itu. JIka mengingat hal itu, sampai sekarang aku serasa tidak percaya kalau aku waktu itu bisa malakukannya.

Semenjak peristiwa menggemparkan itu. Aku melihat Haris lebih banyak menyendiri. Seusai kuliah, ia lebih memilih kembali ke kos dan bergulat dengan buku-buku tebal. Ia memang sangat suka membaca. Suatu siang, saat hanya aku dan dia saja yang ada di kos, terdengar suaa telepon di kos bordering. Aku serta merta mengangkat telepon itu. Mendadak hatiku berdesir; ternyata Zahra. Dia bemaksud menanyakan kondisi Haris. Lalu, aku pura-pura mengatakan kalau Haris sedang di belakang.
“Baiklah kalau begitu, sampaikan pada Haris agar bersabar. Saya yakin, itu hanya ulah orang yang tidak suka padanya, karena saya yakin, Haris tidak mungkin melakukannya.”
Mendengar perkataan Zahra lewat telepon, hatiku justru kian meletup. Sepertinya usahaku untuk menjatuhkan Haris tidak mampu mengubah pandangan Zahra terhadap Haris. Setiap kali Zahra menyebut nama Haris, seolah seluruh isi hatiku mendidih.

Hari pemilihan tiba.
Meskipun usahaku untuk memengaruhi Zahra dapat dikatakan tidak berhasil, tetapi paling tidak sudah dapat mengecoh dukungan terhadap Haris. Banyak yang akhirnya lebih memilih aku. Dan, setelah penghitungan suara dilakukan, ternyata akulah yang tepilih menjadi ketua BEM. Saat di kos, aku melihat muka Haris justru berbinar, sama sekali tidak mengekspresikan kekalahan.
“Barakallah ya, Lukman. Semoga kamu amanah. Sebagai rasa senangku, ini aku hadiahkan sebuah buku. Semoga bermanfaat,” kata Haris dengan wajah sumringah seraya memberikan buku cukup tebal kepadaku. Sungguh, dalam hati kacil aku teramat kagum dengan pribadinya.
“Kata Mas Burhan, besok kita diminta datang ke kampus pagi-pagi untuk membahas pembentukan pengurus BEM. Menurut beliau, dari Rohis yang akan diplot di BEM adalah aku dan Zahra.”
Lagi-lagi nama Zahra dan Haris terdengar. Emosiku kembali meluap. Jika Haris dan Zahra masuk dalam jajaran pengurus BEM, berarti mereka tetap akan memiliki peluang untuk terus bersama, dan itu berarti ancaman buruk bagiku. Sepertinya, petualanganku untuk menjatuhkan Haris belum benar-benar berakhir.

Kesesokan harinya, dengan sepeda motor mewah kebanggaanku, aku berangkat ke kampus dengan menyandang gelar baru: Ketua BEM. Haris sudah berangkat lebih dulu. Di sepanjang jalan aku tak lepas bersenandung, merayakan kemenanganku.
Mendadak, tepat di depan gerbang kampus, aku melihat kerumunan orang dengan wajah panik. Beberapa polisi terlihat sibuk mengatur lalu lintas. Segera kuhentikan motor dan menyeruak di balik kerumunan itu. Betapa kagetnya aku ketika aku melihat sepeda angin sudah ringsek di bawah sebuah truk. Sepeda Haris?? Entah mengapa tiba-tiba tubuhku bergetar hebat, apalagi saat kulihat tubuh Haris terkapa bersimbah darah.

Aku dan beberapa teman kos yang rata-rata juga anggota Rohis menunggu dengan cemas di luar ruang IRD. Cemas, gelisah, dan perasaan bersalah menghantuiku. Seandainya aku tidak emosi dan membutakan nurani, tentu aku tidak melakukan tindakan nekad itu: mencabut sekrup sepeda Haris.
Saat kami semua diam dalam ketengangan, seorang dokter memberitahukan bahwa kami bisa masuk untuk melihat Haris. Dengan langkah yang terasa berat, aku masuk. Dan, kembali aku melihat tubuh kurus Haris terkulai di atas ranjang, penuh dengan perban dan selang infus. Aku pandangi tubuh Haris. Ingin rasanya aku memeluknya erat dan meminta maaf atas segala salah.
Tiba-tiba, aku melihat nafas Haris tersengal. Dan aku tak bisa menahan tangis ketika kulihat tubuh itu mengembuskan nafas pelan. Tubuh kurus yang sering terguncang saat usai sholat malam dan sering menasihatiku agar bangun tengah malam itu menegang. Ada kesedihan menjalar dengan cepat di benakku. Aku tidak mau kehilangan sahabat terbaikku itu. Aku belum sempat meminta maaf atas semua salah kepadanya.
Nafas Haris kian pelan berhembus… dan akhirnya lenyap bersamaan dengan lafal ‘Allah’ dari bibirnya.
Tubuh itu pun tak bernyawa…
Dan, beragam bayangan hitam kesalahan yang telah aku perbuat kepadanya pun menari, beradu dengan segala kebaikannya yang tiada pernah lelah dia berikan untukku.

Dimuat di Malang Post, tetapi lupa edisi kapan… (hehe)

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.