Lembur Terakhir

Malam ini, Senin, 29 Desember 2014, saya dan teman-teman Pusat TIK melakukan lembur. Lembur ini merupakan lembur lanjutan dari lembur Rabu, 24 Desember 2014, malam liburan Natal pekan lalu. Setiap lembur, biasanya Mas Umar menyetel lagu Sayonara yang dilantunkan oleh Grace Simon. Lagu itu adalah lagu kenangan saat kami mulai kerja dengan anak-anak Pusat TIK, saat panik luar biasa, saya setelkan lagu Sayonara. Rupanya, Mas Umar terkenang masa sulit pertengahan & akhir tahun 2012 lalu. Saya tidak tahu, dua kali lemburan ini, Mas Umar tidak menyetel lagu itu.
Mungkin Mas Umar sungkan dengan saya. Karena, bagi saya, malam ini adalah LEMBUR TERAKHIR. Tentu, bagi teman-teman Pusat TIK, ini bukan lembur terakhir. Masih ada lembur terus di masa mendatang, tentu tanpa saya di samping mereka.
Dalam LEMBUR TERAKHIR ini, rasa puas, plong, dan puji syukur Alhamdulillah selalu saya panjatkan.
Alhamdulillah, UM tidak jadi mengeluarkan uang Rp 8.500.000.000,00 (delapan koma lima milyar rupiah) untuk pengembangan IT UM tahun 2012 lalu atas usulan pihak tertentu.
Alhamdulillah, UM tidak perlu mengeluarkan lagi uang 400 juta s.d. 600 juta per tahun untuk membayar FiNet karena UM dan Bank Mitra telah menggunakan aplikasi host to host yang dikembangkan oleh anak-anak Pusat TIK.
Alhamdulillah, data based UM telah terstandarisasi
Alhamdulillah, sistem informasi IT UM telah terintegrasi
Alhamdulillah, UM bisa melihat keuangan real time secara akurat
Alhamdulillah, registrasi mahasiswa baru UM dapat dilaksanakan one stop service di Graha Cakarawala UM dari validasi pembayaran sampai dengan menerima Kartu Mahasiswa bahkan jas almamater (kalau pengadaan tepat waktu) yang dalam sehari dapat melayani 2.500 mahasiswa baru
Alhamdulillah, para mahasiswa tidak perlu datang lagi ke UM saat dan usai membayar SPP/UKT untuk setempel validasi bukti pembayaran dan KTR
Alhamdulillah,  mahasiswa tidak perlu lagi datang ke kampus dan antri berjubel untuk KRS-an dan modifikasinya
Alhamdulillah, tenaga kependidikan fakultas tidak perlu lagi mencetak manual KRS, membaginya, dan menempel-nempel di pengumuman
Alhamdulillah, dosen tidak perlu mengisi DNA dengan pensil 2 B di kertas scan, memfoto copy, dan menyipannya dalam map
Alhamdulillah, lihat dan pesan untuk pinjam buku di Perpus Pusat, Perpus FS, Perpus FE, dan Perpus Pascasarjana cukup dari warnet, dari smartphone, dari tablet, dari rumah yang terkoneksi dengan internet
Alhamdulillah, pendaftaran, pembagian, dan penilaian PPL sudah online baik mahasiswa, dosen, maupun guru pamong
Alhamdulillah, aplikasi-aplikasi lain yang sudah siap dan sudah termanfaatkan.
Alhamdulillah, mulai bulan Januari 2015 ini, bandwidth UM mencapai 700 Mbps (bandingkan 2012 hanya 110 Mbps, 2013 ada 200 Mbps, dan 2014 ada 310 Mbps) dengan harga yang relatif tetap.
Alhamdulillah …. untuk semuanya, yang tidak perlu saya sebutkan lagi.
Malam ini, LEMBER TERAKHIR saya. Rabu, 7 Januari 2015 saya mengakhiri tugas saya sebagai anggota Rapim UM sekaligus sebagai Ketua Pelaksana Revitalisasi TIK UM / Supervisor TIK UM.
Terima kasih atas bantuan semua pihak. Secara khusus, terima kasih kepada teman-teman saya di Pusat TIK. Mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan saya selama menjalankan tugas tersebut.
****
Terngiang di telinga saya, lagu merdu Grace Simon
SAYONARA, SAYONARA, SELAMAT TINGGAL KAWANKU SEMUA.
Pusat TIK UM, 29 Desember 2014
Dawud

AMANAT MENTERI UNTUK REKTOR BARU UM

Hari ini, Jumat, 28 November 2014, pukul 10.30 WIB, di Gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang, dilangsungkan pelantikan Prof. Dr. Ah. Rofi’uddin, M.Pd sebagai Rektor UM 2014—2018 dan sertah terima jabatan dari Prof. Dr. Suparno—Rektor UM periode 2006—2014—kepada Prof. Dr. Ah. Rofi’uddin.

Pelantikan dilakukan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. M. Nasir, Ph.D. Dalam amanatnya, Menristek dan Dikti memberi target kinerja dan capaian yang jelas dan terukur kepada Rektor baru UM, Prof. Dr. Ah. Rofi’uddin. Target tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, UM harus masuk ke dalam peringkat 500 perguruan tinggi dunia sebagai realisasi dari internasionalisasi UM dan menyambut Masyarakat Ekonomi Asia 2015.

Kedua, UM segera berubah dari perguruan tinggi Badan Layanan Umum menjadi perguruan tinggi Badan Hukum. Saat ini, Peraturan Pemerintah tentang perguruan tinggi Badan Hukum dalam proses sinkronisasi antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dengan Kementerian Keuangan.

Ketiga, Rektor dan seluruh pimpinan harus memberikan layanan prima agar pelanggan dan pemangku kepentingan merasa aman, nyaman, dan senang (make customer satisfy). Untuk itu, Rektor UM dan seluruh pimpinan harus melayani, bukan minta dilayani.

Keempat, Rektor dan pimpinan UM harus menerapkan pengelolaan universitas yang bersih, transparan, dan akuntabel (good university governance).

©©©©©©©©©

Kami, warga Fakultas Sastra UM menyampaikan ….

Prof. Dr. Suparno, terima kasih telah menjadikan UM hebat. Selamat berbakti kembali sepenuhnya untuk mencerdaskan anak negeri.

Prof. Dr. Ah. Rofi’uddin, selamat menunaikan amanah ….

Malang, 28 November 2014

Dawud

Fakultas Sastra UM

Jadwal KRS Online Mahasiswa UM Semester Genap 2014/2015

Berikut jadwal KRS online sebagai tindak lanjut Pengumuman Karo AKPIK UM, Nomor: 5136/UN32.16/KM/2014, tanggal 12 November 2014.
HARI, TANGGAL TAHAP KEGIATAN
Senin, 1 Desember s.d. Jumat, 19 Desember 2014 PEMBAYARAN BIAYA PENDIDIKAN/SPP/UKT 1 Mahasiswa membayar Biaya Pendidikan/SPP/UKT di BNI, BRI, BTN, Bank Mandiri secara online.
2 Jika tidak bisa login, gunakan fasilitas lupa kata sandi di laman https://akun.um.ac.id/email/ atau hubungi pusat bantuan melalui

e-mail: aplikasi.helpdesk@um.ac.id

laman: https://support.um.ac.id/eticket/

3 Cek status bayar dan registrasi Anda di siakad.um.ac.id
4 Khusus mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi, Beasiswa PPGT dan KKT langsung cek status registrasi di siakad.um.ac.id dan jika status belum registrasi, hubungi Sub Bagian PNBP UM di Ged A2 Lt. 1 No Telp 0341-551312 pswt 119
Rabu, 24 Desember 2014 (18.00 WIB) s.d. Senin, 29 Desember 2014 (13.00 WIB) ANTREAN PENDAFTARAN MATAKULIAH DENGAN MENGISI KARTU RENCANA STUDI (KRS) ONLINE 1 Mahasiswa melakukan pendaftaran matakuliah (KRS) secara online.
2 Pada tahap ini, semua mahasiswa dalam tahap antre. Pada tahap ini, ada kemungkinan matakuliah yang diantrekan belum tentu berhasil diperoleh.
3 KRS yang dicetak sebelum Senin, 29 Desember 2014 pukul 17.00 WIB bersifat sementarabukan KRS definitif.
Senin, 29 Desember 2014 (13.00 s.d. 17.00 WIB) PEMROSESAN ANTREAN PENDAFTARAN MATAKULIAH (KRS) Tim IT UM memproses antrean pendaftaran matakuliah
Senin, 29 Desember 2014 (18.00 WIB) s.d. Kamis, 1 Januari 2015 (15.00 WIB) PENCETAKAN KRS & MODIFIKASI KRS 1 Mahasiswa mencetak KRS hasil antrean.
2 Jika matakuliah yang diantrekan pada tahap antrean TIDAK MUNCUL, mahasiswa WAJIB MEMODIFIKASI KRS.
3 Mahasiswa melakukan modifikasi secara kompetitif (sesuai dengan jatah sks dan ketersediaan offering matakuliah).
4 Mahasiswa tidak bermasalah menandatangankan KRS ke dosen Penasihat Akademik (PA) pada minggu pertama atau minggu kedua perkuliahan.
5 KRS yang ditandatangani dosen PA diarsipkan oleh mahasiswa.
6 Mahasiswa bermasalah (IP < 2,00 atau semester sebelumnya tidak aktif) harus menemui dosen PA untuk mengaktifkan cetak KRS secara online.
Jumat, 2 Januari s.d. Minggu, 4 Januari 2015 CETAK DAFTAR HADIR KULIAH (DHK) Subbagian Akademik Fakultas mencetak DHK
Senin, 5 Januari 2015 (07.00 WIB) AWAL PERKULIAHAN 1 Subbagian Akademik Fakultas mendistribusikan DHK di Gedung Perkuliahan.
2 Mahasiswa memulai kuliah.

TINDAK BAHASA

Dalam komunikasi, penggunaan bahasa sangat ditentukan oleh faktor-faktor penentu komunikasi (antara lain: latar tutur, partisipan tutur, tujuan tutur, media tutur). Perhatikan dua contoh berikut ini.
(1)   “Kelas ini bersih sekali” sebagai kalimat berita yang dituturkan oleh wali kelas kepada piket kelas dan kondisi kelas memang bersih dari kotoran, maka (a) makna proposisi tuturan itu adalah ‘kelas yang bebas dari kotoran’, (b) fungsi tuturan adalah memuji kerja anggota piket, dan (c) tujuan tuturan adalah agar anggota kelas mempetahankan kebersihan itu.
(2)   “Kelas ini bersih sekali” sama-sama sebagai kalimat berita yang dituturkan oleh wali kelas kepada piket kelas, padahal kondisi kelas kotor, maka (a) makna proposisi tuturan adalah ‘kelas ini kotor sekali’ (kebalikan dari makna harfiahnya), (b) fungsi tuturan itu menyindir karena tuturan dan kondisi riilnya berkebalikan, dan (c) tujuan tuturan agar piket segera membersihkan kelas itu.
Pada contoh tersebut, bentuk/modus tuturan sama, tetapi makna proposisi, fungsi komunikasi, dan tujuan tuturan adalah berbeda.
Sebaliknya, bentuk dan makna proposisi tuturan berbeda bisa memiliki fungsi dan tujuan yang sama. Berikut dua dialog lisan via telepon yang dilakukan oleh SUP dengan DW (Dialog I) dan ROF dengan DW (Dialog II).
Dialog I
SUP: “Dik, saya kirim draf  Peraturan Rektor. Kalau ada waktu, dibantu mencermati.
DW : “Iya, Pak, saya kerjakan”.
 
Dialog II
ROF: “Mas, proposal kita akan dibahas dengan tim hukum Jumat ini. Proposal kita belum belum tuntas. Mendesak begini, piye Mas?
DW : “Ok. Saya kerjakan”.
Pada Dialog I, tuturan “Kalau ada waktu, dibantu mencermati.” merupakan bentuk/modus tuturan berita dengan kalimat pilihan terbuka (kondisional); dan pada Dialog II, tuturan Mendesak begini, piye Mas? merupakan bentuk/modus tuturan pertanyaan. Walaupun bentuk dan makna proposisi tuturan itu berbeda, tetapi fungsi dan tujuannya adalah sama, yakni fungsi instruktif (perintah) dan mitra tutur harus melaksanakan perintah itu. Oleh karena itu, jawaban mitra tutur sama: Iya/Ok, saya kerjakan. Sangat tidak layak, misalnya, DW menjawab “Tidak ada waktu Pak”; dan “Ya nggak tahu, terserah Bapak saja” pada kedua dialog tersebut. Pemahaman makna proposisi, fungsi komunikasi, dan tujuan tuturan seperti itu didasarkan pada pemahaman faktor penentu komunikasi yang menyertai tuturan, yakni faktor kedudukan penutur, yakni atasan (Rektor (SUP), Wakil Rektor (ROF), bawahan (Dekan(DW), teman;  topik tutur, yakni tugas kedinasan; dan situasi tutur, yakni situasi informal.
Pada dasarnya, bertutur berarti melakukan tindakan. Dalam performansi tuturan, terdapat tiga tindak tutur: (1) tindak lokusi, yakni bertutur itu berarti menyampaikan makna proposisi tuturan; (2) tindak ilokusi, yakni bertutur itu memperformansikan fungsi bahasa tertentu; dan (3) tindak perlokusi, yakni bertutur itu mempengaruhi penanggap tutur untuk melakukan sesuatu.
Saya bersyukur memiliki bawahan yang memahami betul tindak bahasa tersebut. Berikut beberapa dialog riil sebagai contoh.
(1)   Ketika saya mengatakan “Mas Faul, di ruang sidang AC-nya nyala, tapi udara terasa agak panas,” dengan cepat Mas Faul menjawab “Baik Pak, saya ceknya”.
(2)   Ketika saya bertanya “Bu Lely, apakah data IP mahasiswa di bawa 2 sudah ada?”, dengan tangkas Bu Lely menjawab “Segera saya siapkan/kirimkan ke Bapak.”
(3)   Ketika saya berkata ke Mas Doni, “Mas Doni, saya akan ke Balaikota. Kunci sedan Altis ada di Mas Doni atau Mas Faul?” Mas Doni menjawab, “Ya, Pak. Saya minta Mas Agung ambil Altis dari garasi.”
(4)   Ketika malam hari saya SMS Mas Akidah , “Mas Akidah, Selasa depan saya dapat tugas dinas ke Jakarta,” Mas Akidah menjawab, “Tiket segera saya pesankan Pak. Senin, inysa-Allah saya serahkan ke Bapak.”
Bentuk tuturan apa pun dari saya sebagai dekan tentang urusan kedinasan, mereka menjawab dua kemungkinan saja, yakni (a) “iya, siap, baik, saya kerjakan,” yang bermakna bisa dilaksanakan; (b) “saya coba dulu”, “saya usahakan dulu” yang bermakna masih ragu-ragu, tidak ada, atau sulit dilaksanakan. Tidak ada dalam kamus mereka “tidak siap, tidak tahu, tidak bisa, tidak mau”. Mereka pasti berusaha dulu. Kalau sudah berusaha ternyata tidak bisa atau tidak ada, barulah mereka melaporkan kepada saya, dan biasanya dengan berbagai alternatif solusinya.
Teman-teman saya di Pusat TIK memiliki karakteristik yang relatif sama. Akan tetapi, dengan gradasi jawaban yang lebih banyak.
(1)   Kalau Mas JF menjawab, “Ya, Pak. Siap. Bisa”, maknanya adalah bisa dan cepat.
(2)   Kalau Mas Rijal menjawab, “Ya, Pak. Saya cobanya”, maknanya adalah bisa, tetapi perlu waktu lebih lama.
(3)   Kalau Mas Iwan menjawab, “Ya, Pak. Logikanya bisa,” maknanya adalah bisa, perlu waktu yang lebih lama lagi.
(4)   Kalau Mas Fahmi menjawab, “Ya, Pak. Saya kerjakan dulu Pak. Saya belum pernah mengalami ini Pak. Teorinya pun belum pernah saya baca,” maknanya adalah kemungkinan berhasil dan kemungkinan tidak berhasil.
Teman-teman di Pusat di TIK tidak pernah menjawab di awal dengan ungkapan “tidak siap, tidak tahu, tidak bisa, tidak mau”.
Ada tiga jenis komunikasi kedinasan dalam urusan dinas dan kelembagaan, yakni konsultatif (bawahan ke atasan), koordinatif (sesama pejabat atau staf), dan instruktif (atasan-bawahan). Draf Peraturan Rektor yang saya buat atas permintaan lisan atau SMS Pak Suparno adalah usulan (misalnya, draf itu dibahas, dipakai, diperhatikan, diabaikan atau dibuang oleh Rektor, saya tidak boleh protes). Sesama kasubbag saling koordinasi dalam mengerjakan tugas-tugas yang diamanahkan oleh Kabagnya. Dekan mengajukan pertanyaan kepada staf di mana kunci ruang sidang, pertanyaan itu berarti perintah mengambil kunci ruang sidang, membukanya, membersihkannya, dan menyiapkan alat-alatnya. Sangat naif kalau dijawab dengan kalimat “Tidak tahu Pak” apalagi ditambah dengan kalimat “Kunci bukan urusan saya”.
 
Malang, 18 November 2014
Dawud
Fakultas Sastra UM

LANGKAH KECIL

That’s one small step for a man, one giant leap for mankind (‘Langkah kecil bagi seorang manusia, lompatan besar bagi umat manusia.’) Itulah ucapan Neil Amstrong, 21 Juli 1969 saat menginjakkan kakinya di bulan. (Ungkapan itu saya kutip terlepas dari kontroversi benar-tidaknya peristiwa pendaratan di bulan).
Sebagai seorang yang dilepas dalam acara perpisahan secara rileks dan mengalir, saya ikuti saja apa mau pengatur acara. Sambil makan malam dan melihat kerlap-kerlip lampu kota Batu dari ketinggian bukit, Jumat malam, 7 November 2014 lalu, Bu Lely—Kasubbag Akademik FS—memandu acara. Giliran pertama Kabag TU FS—Pak Parman—memulai dengan ungkapan dan wacana khasnya. Tentu diawali dengan alunan lagu wajib kebangsaannya Caping Gunung. Ya, beliau memang anak nggunung, rumahnya di puncak Gunung Lawu, petilasan Mantili dalam cerita Brama Kumbara. Acara terus mengalir: Pak Yazid dengan Widuri-nya, Pak Harmanto dengan konsisten tidak pernah mau menyanyi, siapa pun yang meminta atau memaksa; Pak Ainin dengan lagu Jatuh Bangun—yang tentu saja jadi sasaran empuk gojlogan semua teman atas pilihan lagu itu: cocok dengan suasana hatinya. Perwakilan dari teman-teman tenaga kependidikan mengalir bercerita. Inilah sebagian dari cerita mereka.
Saat akan dimutasi ke FS dari SMP Lab UM, Bu Luk Luk sangat takut karena dapat cerita bahwa dia akan menghadapi Pak Dawud yang kêrêng. FS adalah unit kerja kering penghasilannya. “Kenyataannya? Cerita itu jauh panggang dari api. Saya happy. Saya selalu keep smile. Setelah perpisahan ini, saya berharap semua pimpinan juga tetap keep smile,” ungkapnya.  Saat mengomentari ungkapan Bu Luk Luk, pengatur acara, Bu Lely menyitir sebuah ayat Quran, menerjemahkannya dengan terbata-bata, dan air matanya mengalir membasahi pipinya … (Saya hanya bisa menduga, Bu Lely mengalami cerita dan hal yang sama ….)
Mbak Nia—Karniati nama lengkapnya, pindahan dari tenaga harian KPRI UM yang diangkat sebagai PNS di FS UM—bercerita bahwa saat awal menghadap Pak Dawud, dia ditanya, “Tempat tinggal di mana, Mbak?” “Kontrak Pak,” jawabnya. Pak Dawud mengatakan, “Upayakan punya rumah sendiri, sekecil apa pun, sejelek apa pun.” Dia mengakhiri cerita dengan ungkapan syukur, “Alhamdulillah, saat ini saya sudah punya rumah. Peran Pak Parman dan KPRI sangat besar. Dorongan Pak Dawud memberi semangat dan kekuatan besar untuk (berani) melangkah. Lebih-lebih, sebulan yang lalu, Pak Dawud dan Ibu sambang ke rumah saya.”
Bu Hesti bercerita bahwa saat menikah di awal jadi PNS FS dapat kado istimewa dari Pak Imam Suyitno, Pak Dawud, Pak Rofik, dan Pak Syahri, yakni UANG LENGKAP: 100-ribuan, 50-ribuan, 20-ribuan, 10-ribuan, 5-ribuan, 1-ribuan, 100-rupiahan, 50-rupiahan, 10-rupiahan, 5-rupiahan, dan 1-rupiahan. Ketika Pak Dawud jadi Dekan, katanya, dia dinasihati untuk mandiri, lepas dari perumahan mertua indah. Banyak pertimbangan yang diberikan, di antaranya, “Mandirilah dalam berumah tangga. Hati-hati terhadap pihak ketiga dalam satu rumah. Pihak ketiga itu bisa orang tua, mertua, saudara kandung, atau saudara ipar. Ingat, saudara berjauhan-tempat berbau bunga, saudara berdekatan-tempat kebanyakan berbau bangkai.” Sambil berlinang air mata, Bu Hesti mengatakan untunglah dia ikuti nasihat itu, sehingga dia terhindar dari substansi sebuah lagu “sakitnya aku di sini, di hati ini” sambil mengepalkan tangan kanan dan ditempelkan di dada kiri menirukan gaya para biduan (Padahal, setiap ada acara santai, dia saya olok-olok, masa penyanyi Gereja tidak berani tampil menyanyi di hadapan teman-teman sendiri … ha ha ha).
Mas Doni menceritakan empat kenangan pokok dengan Pak Dawud. Pertama, awal kerja dengan Pak Dawud diminta membenahi jaringan listrik di E6. Tersebar cerita bahwa di E6 dihuni oleh hantu karena lampunya bisa nyala sendiri dan atau mati sendiri. Pak Dawud mengarahkan agar semua kabel listrik diurai. Tentu sulit karena kabel listrik di E6 saat itu berwarna sama: MERAH. Jadi, tidak bisa dibedakan kabel mana yang R, S, T, nol, dan ground. Dia heran, Pak Dawud yang bukan dari orang listrik tahu perlistrikan. Atas arahan Pak Dawud, dari semula tegangan 220 V “bendengan” diubah menjadi 200 V murni. Alhamdulillah, lampu normal. Pasokan listrik ke semua alat lab bahasa normal. Ternyata, lampu nyala dan mati sendiri bukan karena hantu, tapi karena 220 V bendengan (dua kabel masing-masing beraliran 110 V masuk ke lampu atau alat listrik berbeban 220 V). Kedua, dia  mendapatkan kepercayaan penuh untuk mengelola, memperbaiki, dan memelihara BMN di FS. Pak Dawud selalu menekankan, lakukan sebisanya, kalau tidak bisa dan menghadapi kesulitan lapor. Kalau tidak ada laporan tentang kesulitan, Pak Dawud anggap beres, running well. Bagian Pak Dekan adalah mengatasi kesulitan dan menyelesaikan masalah. Ketiga, tentang harus memiliki rumah sendiri, sama dengan cerita Mbak Nia dan Bu Hesti. Keempat, tidak terbayang sama sekali Doni jadi PNS dan tidak bayar serupiah pun. Lebih tidak terbayang lagi, Doni bisa sarjana dan sudah penyesuaian kepangkatan dengan ijazah. Pak Dawud mendorong dan memfasilitasi saya kuliah: senyampang masih muda, senyampang anaknya masih kecil, kata Beliau. Doni yakin semua teman yang didorong dan difasilitasi untuk kuliah oleh Pak Dawud merasakan hal yang sama dengan yang Doni rasakan, pungkas Mas Doni.
Mas Faul juga banyak mengungkapkan kenangannya secara runtut dan sistematis. Pertama, kalau ada kerusakan alat elektronik, perbaiki saja. Kalau bisa, untung, bisa dipakai lagi. Kalau tidak bisa diperbaiki sendiri, ya tetap untung, yakni untung pengalaman. Setelah itu, coba dibawa ke tukang. Kalau tidak bisa, ya sudah dihapusbukukan. Toh, memang sudah rusak. Kedua, semua alat FS adalah milik negara. Pakailah untuk kepentingan negara semaksimal mungkin, kalau perlu 24 jam per hari, 7 hari per minggu. Bisa digunakan untuk kedinasan UM, unit mana saja, fasilitasi. Lebih baik alat rusak karena dipakai secara wajar, daripada alat rusak tidak pernah dipakai sama sekali. Ketiga, tentang harus memiliki rumah sendiri, sama dengan pengalaman teman lainnya. Keempat, saat saya—Faul—kena musibah tertipu orang, Beliau menasihati dengan tegas untuk memilih: Anda larut pada masa lalu dan kesedihannya atau Anda berdiri tegak hari ini sebagai pijakan untuk menatap dan melangkah ke depan. Masa lalu tak akan pernah kembali walau kau sesali dan kau tangisi seperti apa pun. Tidak ada mesin lorong waktu. Masa depan akan Anda lalui dan hasilnya masih bisa Anda raih! Masa depan masih dapat Anda isi. Itulah pilihan hidup yang harus Anda pilih. Kelima, ketepatan waktu dalam rapat dan janjian. Kelima, keteladanan dalam datang ke kampus dan pulang kampus: Pak Dawud  paling awal datang dan pulang setelah jam berakhir. Keenam, kejelasan dalam memberi tugas: jelas tugasnya, jelas prosedurnya.

(Usai menceritakan itu, Mas Faul saya tantang untuk menyanyi, ternyata maju dan menyanyi dengan merdu. Saya kecele. Mas Doni malah berkomentar, seumur-umur baru dengar Mas Faul menyanyi, ya, sekarang ini. Belum pernah terdengar Mas Faul menyanyi, sekalipun hanya dengan rengeng-rengeng …)

Kamis pekan lalu, pada saat jam dinas, Mbak Rini datang, duduk di kursi di samping saya di ruang Tatausaha. Dia memang tidak sempat mendapat giliran bicara saat perpisahan. Sambil terharu menyampaikan terima kasih atas dorongan dan fasilitas kuliah yang saya berikan. “Salam dari suami,” katanya. Meski ijazah belum jadi, dia melapor bahwa kuliahnya sudah selesai. Saya jawab dengan gurauan, laporan formalnya disertai ijazah berikan ke dekan baru nanti saja. Dia menjawab dengan logika sahabat saya dari Madura: dekan baru nanti kan dekan pengganti Bapak …. (Ha ha ha …) “Salam kembali untuk suami dan anak-anak,” jawab saya.
Mendengar cerita mereka, saya terpana dan terperangah. Saya tidak menduga begitu besar artinya ucapan sederhana saya tentang perlunya rumah tangga mandiri. Saya hanya meneruskan nasihat Ibu saya (allahummaghfirlaha). “Nak, kalau kontrak rumah, cari yang biasa saja, kalau perlu cukup kontrak kamar. Kalau kepingin besar dan bagus, punya sendiri. Beli saja rumah apa adanya semampunya, asal bisa untuk berteduh. Uang untuk kontrak bisa digunakan untuk memperbaiki secara bertahap.” Itulah nasihat Ibu saya dari desa. Itulah yang saya tularkan kepada mereka. Saya berempati kepada mereka atas pengalaman saya: tahun 1985 saya kontrak 1 kamar di dekat masjid Sumbersari gang V dengan isteri saya (allahummaghfirlaha). Tahun 2007 saya sekolahkan ijazah saya ke Bank Niaga. Saya sekolahkan bersama ijazah Pak Rofi’uddin. Malah, sebelum ijazahnya disekolahkan, Pak Rofi’uddin harus mengambilnya dulu di BNI karena beliau ambil Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI) saat kuliah, baru dilunasi setelah bekerja, dan akan disekolahkan (lagi). Uangnya saya gunakan untuk uang muka beli rumah (demikian juga Pak Rofi’uddin).
Bapak saya menasihati, “Nak, saya hanya bisa membekali kamu ilmu dengan menyekolahkan semampu ayah-ibumu. Jangan berharap warisan harta dari orang tuamu. Mandirilah dengan ilmumu. Jangan andalkan orang lain, termasuk tentang nenek moyangmu. Sekalipun kau keturunan trah Paku Alam Ngayogyakarta, trah Raden Adipati Jayaningrat, jangan kau pakai gelar kebangsawanan itu. Cukup sampai saya saja. Abot sanggane (‘berat bebannya’).
Bu Khoiriyah (saat ini Kabag Kepegawaian UM), pada tahun 2001, saat roda kehidupannya di bawah dan sangat sulit, saya nasihati untuk segera menempati rumahnya di Tegalgondo sekalipun temboknya dari batako belum dipelur/dikuliti. Mas Akidah, saat akan beli mobil, padahal belum punya rumah, saya sarankan untuk membeli rumah dulu daripada beli mobil. Mas Wawan (Eko Wahyu Setiawan—saat ini Kasubbag Akademik dan Mawa FIS) saya sarankan jual mobil Xenianya untuk membeli rumah dari pada ikut numpang di rumah mertua. Syukurlah, mereka ikuti saran saya. Syukurlah, saat ini, di samping punya rumah, Mas Akidah dan Mas Wawan sudah punya mobil (lagi).

Sahabat-sahabat saya (di antaranya Mas Sugianto, Mas Doni, Mbak Rini, Mas Nanang, Bu Hesti, Gus Dirman, Mbak Ajeng, Mbak Nia, Mas Faul, Mas Tatok, Mas Tomy) ada yang saya nasihati untuk segera “mandiri” dalam berumah tangga; ada yang saya dorong untuk kuliah (bagi yang mau, mampu, dan belum sarjana); dan ada yang saya nasihati keduanya. Nasihat itu saya sampaikan saat acara rileks: di warung kopi, saat bercengkerama di kantor, di mobil saat pulang acara takziyah atau hadiri mantenan keluarga teman. Saya senang sudah mengunjungi sebagian besar dari rumah mereka. Syukurlah, mereka berhasil dengan usaha keras mereka. Nasihat saya hanyalah variabel kecil saja. Saya berterima kasih kepada mereka karena mereka telah mengajari saya: dorongan kecil dari seorang sahabat, daya besar untuk berikhtiar menuju takdir Allah yang lebih baik bagi banyak sahabat.

 
Malang, 17 November 2014
Dawud
FS UM

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.