Cara Aman Pendaftaran SBMPTN 2013

Tips dan Trik Aman Pendaftaran SBMPTN 2013 – Halooo, semua calon mahasiswa Perguruan Tinggi Indonesia. Wa tidak terasa ini sudah bulan ke-5 2013, he..he… baru sadar kalau sudah semester 8 juga saya. Ups… maaf mau kasih Tips dan Trik Aman Pendaftaran SBMPTN 2013 kok malah curhat. He…he.. Oke, jadi pada treat ini saya akan berbagi riset mengenai Cara Aman Pendaftaran SBMPTN 2013 yang marak dengan aksi nipu.

WASPADA!! WEBSITE PALSU SBMPTN 2013!!

Cara Aman Pendaftaran SBMPTN 2013 sebenarnya sudah di jelaskan pada website resmi: http://www.sbmptn.or.id/ namun mungkin beberapa orang yang sulit dalam memahaminya akan saya jelaskan sebagai berikut, menggenai Cara Aman Pendaftaran SBMPTN 2013 agar Anda terhindar dari aksi nipu-nipu dan bisa menjalankan tugas masuk PT dengan aman. Oke, ini Cara Aman Pendaftaran SBMPTN 2013:

  • Cara pertama Anda harus bisa mengoperasikan komputer dan mengenal lumayan banyak menggenai dunia internet seperti, 1) Email, 2) Cetak Dokumen, 3) Isi Form, 4) Upload Dokumen*, 5) Transfer Rekening, 6) Facebook*, dan 7) No. HP
  • Wow banyak banget syaratnya?? Tenang itu untuk kelengkapan saja, he..he..
  • Secara jelas di atas bahwa WEBSITE RESMI hanya di: http://www.sbmptn.or.id/ BUKAN YANG LAINNYA !!!
  • Kemudian pada halaman website resmi memiliki tampilan
    http://berkarya.um.ac.id/2013/05/14/cara-aman-pendaftaran-sbmptn-2013/
  • Website RESMI TIDAK AKAN MENCANTUMKAN NOMOR REKENING. Ini pernyataan resminya
    http://berkarya.um.ac.id/2013/05/14/cara-aman-pendaftaran-sbmptn-2013/
  • Soal syarat dan ketentuannya, sebagai berikut
    http://berkarya.um.ac.id/2013/05/14/cara-aman-pendaftaran-sbmptn-2013/
  • Download Manual Ebook Transfernya Internet, SMS, Mandiri, dll: VIA FACEBOOK | DROPBOX
  • Ini Media Sosial RESMInya PANITIA SNMPTN 2013
    http://berkarya.um.ac.id/2013/05/14/cara-aman-pendaftaran-sbmptn-2013/

Na uda ngak binggung kan?? Oke, semoga bermanfaat dan sukses dengan aman dan lancar ya ^_^ kalau ada yang kurang jelas dan ingin tanya atau nambah teman silahkan

Catatan:
Maaf link download saya matikan karena di larang oleh admin dalam memberikan link 🙂

Kontak Penulis:
Dedi Mukhlas | 209121419493 | dedimukhlas@gmail.com

Mahasiswa dan Media Massa

Mahasiswa dan Media Massa
Karkono Supadi Putra
Dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang
(Pernah dimuat di kolom Opini koran Surya)

 

Menulis itu mencerdaskan. Seseorang yang menulis, apa pun jenis tulisan itu, berarti dia sudah melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran. Melakukan proses pembacaan untuk mendapat materi tulisan yang akan ditulis. Proses pembacaan itu bisa berarti membaca dalam arti sebenarnya, yaitu membaca buku-buku referensi, koran, majalah, atau data-data dari sumber lain. Bisa juga membaca fenomena di masayarakat. Realita di sekitar dapat menjadi inspirasi tulisan. Menulis adalah mengasah kecerdasan intelegensia sekaligus kepekaan.

Selain memberi efek mencerdaskan, menulis jadi sarana pelepasan emosi. Apa yang ada di benak, jika tidak dikeluarkan akan membuat penat. Mekanisme pengeluaran itu bisa dengan lisan atau tulisan. Rasanya sayang, kalau ide yang bertebaran di pikiran hanya dipendam, padahal jika ditulis dan dipublikasikan kepada khalayak akan memberi informasi dan inspirasi positif.

Pelepasan emosi dengan menulis tentu memberi manfaat ganda : kepada penulis sendiri dan pembaca. Agar ide-ide cemerlang seorang penulis bisa dinikmati kalangan luas, membutuhkan sarana memublikasikan tulisan itu. Salah satu yang efektif adalah media massa. Media massa, apapun jenisnya, senantiasa berinteraksi langsung dengan masyarakat. Beragam informasi dari masyarakat akan diinformasikan kembali kepada masyarakat yang lebih luas.

Sudah selayaknya keberadaan media massa tidak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat di era global sekarang ini. Informasi menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat di zaman penuh kompetisi dan sangat dinamis. Tidak saja berupa rekaman peristiwa yang hangat terjadi, media massa berisikan pengayaan pemikiran, sumbang pendapat, ajang mempromosikan usaha, dan tidak lupa juga berisi anekahiburan. Tulisan di media massa tidak hanya berasal dari redaksi pengasuh media, tapi bisa berasal dari kiriman pembacanya.

Salah satu bagian masyarakat yang potensial untuk produktif menghasilkan tulisan adalah pemuda, khususnya mahasiswa. Mahasiswa setiap harinya akrab dengan dunia ilmu pengetahuan. Mahasiswa senantiasa berkutat dengan proses pembelajaran : membaca dan menulis. Cukup beralasan, tingkat kecerdasan intelegensia dan kepekaan terhadap fenomena sosial budaya di sekeliling mahasiwa lebih tinggi jika dibandingkan masyarakat awam.

Gagasan hasil dari interaksi dengan dunia akademik yang intens sangat sayang bila tidak dibagi untuk kalangan luas. Sebagai bagian dari masyarakat, mahasiswa punya tingkat kepekaan lebih karena bekal ilmu yang didapat dari kampus sudah seharusnya diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Ilmu bukan lagi eklusivitas dalam kehidupan kampus. Sangat logis jika kecerdasan suatu bangsa tergantung dengan tingkat kecerdasan (baca pendidikan) dari warga negaranya.

Mahasiswa dan media massa adalah dua bagian yang saling membutuhkan. Mahasiswa perlu beragam informasi yang tersaji di media massa, butuh ruang bagi publikasi ide-ide yang dimilikinya, atau ruang untuk mengungkapkan reaksi terhadap informasi yang ada di media massa.

Sebaliknya, informasi yang disajikan media massa akan lebih kaya jika diramaikan oleh pemikiran-pemikian kaum intelektual calon pemimpin bangsa ini. Fakta sejarah menunjukkan, mahasiswa selalu tidak bisa dipisahkan terhadap setiap perubahan di dalam suatu bangsa, termasuk Indonesia. Dengan kekritisannya, mahasiswa siap bergerak jika melihat penindasan dan ketidakadilan. Mahasiswa termasuk agent of change. Kekritisan mahasiswa itu, salah satunya tertuang lewat tulisan di media massa.

Masalahnya, sekarang ini bisa dikatakan tidak cukup berimbang ruang yang diberikan media massa, khususnya media cetak, dengan kebutuhan para mahasiswa untuk mengekspresikan ide-idenya lewat tulisan. Bisa kita lihat, berapa banyak media massa yang lebih menitikberatkan pada faktor hiburan yang lebih banyak berisi berita para selebriti jika dibandingkan dengan jumlah media massa yang berisi informasi yang bersifat akademis.

Memang, tetap ada media massa yang cukup berimbang dalam menyuguhkan sajian informasi : tetap memberi ruang hiburan, tapi tetap memberi porsi sumbang pendapat dari pembacanya. Namun, sekali lagi dalam jumlah kuantitas bisa dikatakan masih kurang. Salah satu media massa yang memberi ruang bagi aspirasi para mahasiswa adalah Harian Surya dengan rubrik Warteg. Meski tidak mengkhususkan bagi mahasiswa tetapi  yang berpartisipasi aktif dalam rubrik ini didominasi para mahasiswa.

Banyak mahasiswa yang merasa kesulitan untuk menembus media massa. Wajar, media massa menyeleksi setiap naskah yang masuk, tidak asal memuat. Selalu gagal mengirim tulisan ke media, tidak sedikit para mahasiswa yang akhirnya putus asa dan mengikuti arus lain : menjauhkan diri dari aktivitas menulis. Mahasiswa memilih budaya lihat dan dengar daripada budaya baca tulis.

Ada dua hal yang menjadi perhatian. Pertama, sudahkah media massa memberi ruang bagi para mahasiswa untuk berinteraksi timbal balik. Cukup beralasan jika mahasiswa mendapat tempat di media massa. Kedua, bagi mahasiswa, agar lebih menyadari kedudukan sebagai kaum pemikir Jangan sampai gelar mahasiswa berhenti pada status. Mahasiswa dituntut proaktif dengan fenomena yang banyak terekam di media massa.

Tulisan mahasiswa yang berisi ide cemerlang sudah selayaknya menghiasi media massa. Jangan sampai, media massa banyak memberitakan tentang mahasiswa tetapi dalam wajah lain : mahasiswa pesta narkoba, mahasiswa tawuran, dan hal-hal negatif lain yang kontradiktif dengan predikat yang melekat pada diri mahasiswa.

Mahasiswa PPL yang Tidak Patut Ditiru

Jujur saja, saat menulis ini saya dalam keadaan emosi dan kecewa. Betapa tidak, karena seorang adik mahasiswa dari sebuah universitas swasta di Banyuwangi yang tengah PPL (Praktek Pengalaman Lapangan/praktek mengajar) di tempat kerja saya melakukan tindakan di luar etika yang sungguh tidak pantas dilakukan oleh seorang calon guru!

Di sekolah (SMP) tempat saya mengajar tengah diadakan lomba Mading. Seluruh Kelas pun sibuk mempersiapkan Mading untuk lomba tersebut. Sepulang sekolah, bahkan sampai sore mereka bertahan di sekolah untuk mengerjakan Mading.

Kemarin pun begitu, pukul 3 sore sekolah masih ramai. Tampak seorang mahasiswa PPL (kebetulan dia Ketua tim PPL) datang ke sekolah. Saya pikir akan membantu anak-anak. Eh, ternyata adik mahasiswa tersebut malah mojok dengan seorang siswi di dalam masjid sekolah, di samping mimbar khotbah.

Ya, saya tahulah, saya pun pernah menjadi mahasiswa. Saya dulu PPL di sebuah SMA yang usia murid-muridnya hanya terpaut 4 tahun di bawah saya. Pastilah ada kemungkinan ketertarikan, dari siswa ke guru PPL atau sebaliknya. Tetapi setidaknya pikiran jernih dan etika tetap dikedepankan, mengingat mahasiswa tersebut membutuhkan kerjasama dan bantuan dari pihak sekolah. tidak hanya itu, PPL adalah ajang berlatih, baik berlatih dalam kegiatan mengajar maupun berlatih pengendalian emosi berinteraksi dengan murid.

Kembali ke kejadian di sekolah. Yang dilakukan oleh adik mahasiswa tersebut dengan siswi saya adalah berpelukan dan berciuman. DI DALAM MASJID SEKOLAH.

Kontan saja teman-teman guru yang memergoki adegan tersebut marah dan menegur mereka berdua. Sungguh kami kecewa terhadap adik mahasiswa tersebut. Padahal saat itu di sekolah sedang ramai, banyak murid. Kalau memang tidak bisa membendung gairah, apakah tidak ada tempat lain selain di sekolah? Di dalam Masjid pula!! Duh, geleng-geleng kepala saya atas kejadian ini.

Kalau (calon) guru saja seperti itu, mau diarahkan ke mana murid-muridnya?

Tolong jangan ditiru!
Salam Hangat…
Hidup Dunia Pendidikan!

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.