Tindak Lanjut Keharusan Publikasi Karya Ilmiah Mulai Lulusan Agustus 2012

.

Pada tanggal 27 Januari 2012, Dirjen Dikti menulis Surat Edaran tentang keharusan publikasi karya ilmiah bagi kelulusan program Sarjana, Magister, dan Doktor mulai Agustus 2012. Surat edarannya sebagai berikut.


Apa yang perlu dilakukan UM untuk mewujudkan hal tersebut?

  • UM perlu menunjuk satuan tugas untuk memikirkan hal ini.
  • Mengingat banyaknya tulisan yang akan dipublikasikan maka UM perlu segera menyiapkan JURNAL ILMIAH ONLINE
  • Mengusahakan agar terakreditasi oleh Dikti.

 

Malang, 15 Februari 2012

Johanis Rampisela (Dosen UM)

.

.

Post Author: Johanis Rampisela

7 thoughts on “Tindak Lanjut Keharusan Publikasi Karya Ilmiah Mulai Lulusan Agustus 2012

    mybahri

    (16 Februari 2012 - 07:29)

    Inisiatif yang sangat bagus.

    Johanis Rampisela

    (15 Februari 2012 - 11:12)

    @ Bu Yuni,
    Salut untuk TPBJ yang sudah mulai melakukan persiapan menghadapi hal ini. Saya sudah membaca Panduan Pengelolaan Jurnal Terbitan Berkala Ilmiah Elektronik dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Isinya adalah petunjuk teknis tentang pemakaian Open Journal Systems (OJS). OJS sudah dipakai di UM untuk jurnal.um.ac.id dan karya-ilmiah.um.ac.id.
    Saya menyarankan, kalau memungkinkan menggunakan aplikasi lain (bukan OJS) yang akan lebih memperkaya rich files UM untuk mengelola jurnal online ini atau melakukan transfer data dari sistem lama ke baru.

    Dewi Shinta

    (15 Februari 2012 - 10:08)

    Terbitnya kebijakan tersebut setidaknya dapat memperluas bisnis karya ilmiah plus penerbitannya…. juga menambah daftar jurnal yang tidak bermutu yang terbit sesuai pesanan… Minimal mengairahkan jurnal-jurnal di UM yang “mati suri” agar bangkit kembali…

    Moch Syahri

    (15 Februari 2012 - 08:22)

    saya termasuk yang berencana studi S3. jika mengacu kepada surat di atas, terutama point 3, saya pesimis bisa menyelesaikan studi. alasannya sederhana saja, dikti beberapa waktu yang memberikan insentif bagi penulis yang naskahnya di muat di jurnal internasioanal. setahu saya, beberapa teman yang mendapatkan dana itu, sampai sekarang jurnalnya belum terbit. Kalau syarat tersebut di perlunak, hanya di muat di jurnal online, saya pikir tidak masalah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan jika aturan point ke 3 dilaksanakan. saya pikir, para pejabat sudah harus merumuskan kebijakan yang pas dan menguntungkan semua, termasuk dikti yang akan mencetak 5000 doktor sertiap tahunnya.

    djoko rahardjo

    (15 Februari 2012 - 08:13)

    Jumlah penduduk Malaysia kira-kira 25 juta jiwa sedangkan jumlah penduduk Indonesia 250 juta jiwa (1:10). Jadi jumlah perbandingan penulisan karya ilmiah “Penduduk Indonesia” dengan “Penduduk Malaysia” = 1 : 70 (satu dibanding tujuh puluh). Kok rendah ya kreatifivitas sarjana kita? Ayo, bangun-bangun, tambah vitamin dan semangatlah!

    aminarti siti wahyuni

    (15 Februari 2012 - 08:01)

    Tim Pengembang Jurnal Berkala (TPJB) yang diketuai oleh Prof. Ali Saukah dan sekretariatnya ada di subag Sistem Informasi, kemarin tanggal 14 Februari 2012 sudah melaksanakan rapat koordinasi dengan para ketua penyunting jurnal yang terbit di UM, anggota TPJB, dan dihadiri oelh para dekan, Ketua Lembaga, PR I dan Rektor.
    Di UM saat ini telah terbit sebanyak 39 jurnal, 5 diantaranya terakreditasi secara nasional. Tetapi diakui bahwa tidak semuanya terbit secara tepat waktu, ada yang tidak teratur, dan bahkan ada yang “mati suri”. Pertemuan kemarin diadakan dengan tujuan untuk sosialisasi surat dirjen dikti tentang publikasi karya ilmiah, dan mendengar pengarahan Rektor serta solusi menerbitkan jurnal ilmiah versi lain dan sosialisasi Panduan Pengelolaan Jurnal Terbitan Berkala Ilmiah Elektronik dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang dapat dijadikan acuan bagi pengelola dalam pengembangan jurnal ilmia elektronik sebagai salah satu media alternatif bagi publikasi artikel ilmiah oleh Ketua TPJB UM.
    Semoga dalam waktu dekat di UM jurnal dalam bentuk cetak semakin berkembang demikian juga jurnal elektroniknya.

    ekowahyu

    (15 Februari 2012 - 07:56)

    Kebijakan di ini menurut saya sangat premature.

    Kenapa demikian? Kondisi yang terjadi saat ini adalah banyak sekali dosen yang mengajukan artikel ilmiahnya untuk diterbitkan dalam jurnal imliah baik yang terakreditasi ataupun tidak terakreditasi nasional namun pada kenyataannya daya tampung jurnal yang ada masih belum memadai sehingga pada dosen harus “antri” agar tulisannya bisa dimuat. Bahkan dosen di lingkungan Fakultas Sastra sendiri terpaksa harus “keluar kota” untuk mendaftarkan tulisannya agar bisa dimuat di dalam jurnal.

    Padahal tulisan yang diterbitkan di dalam jurnal imliah wajib hukumnya dalam hal pengurusan kenaikan jabatan/pangkat masing-masing dosen.

    Nah, logika paling sederhana saja, untuk mewadahi kepentingan dosen yang notabene sangat krusial tersebut saja saat ini masih kewalahan, lha koq sekarang pemerintah mewajibkan mahasiswa untuk mempublikasikan skripsi/tesis/disertasinya ke dalam jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan. Trus siapa yang akan menampung artikel tersebut? Rata-rata jurnal imliah terbit 2 x dalam satu tahun yang masing-masing terbitan berisi antara 11-16 artikel. Butuh berapa ratus tahun supaya semua tulisan calon Sarjana/Magister/Doktor agar bisa lulus setelah berhasil mempublikasikan karya imliahnya? Berapa jumlah imliah di UM sendiri? Seingat saya tidak semua jurusan mempunyai jurnal ilmiah, dan ada beberapa jurnal ilmiah jurusan yang mati suri dan enggan untuk hidup lagi. Berapa total jurnal ilmiah yang beredar di Indonesia? Rasionya dengan calon lulusan Sarjana/Magister/Doktor bagaimana? Lha bikin skripsi/tesis/disertasi aja mereka sudah mumet masih dihadapkan dengan urusan mempublikasikan skripsi/tesis/disertasi tersebut.

    Kalo menurut saya, sih kebijakan seperti ini sangat bagus, tapi mbok ya sadar dan mikir dulu lah. Sama saja mo menembak badak tapi pake senapan angin wkwkwkwkwkwkwkw

    ekowahyus-fs um

Komentar ditutup.