Website UM Berisi Kritik dan Otokritik

Rektor UM Prof. Suparno, dalam sambutannya pada tanggal 30 November 2009, menyampaikan:

Pada era reformasi ini, kita juga harus siap dengan pemberdayaan arus komunikasi yang sehat dan terbuka dalam pola komunikasi birokrasi berpola instruksi, koordinasi, konsultasi, dan konsolidasi dengan cara dan bahasa yang lugas dan beradab. Demi efisiensi, website UM sudah terbukti menjadi media komunikasi, termasuk yang berisi kritik dan otokritik.

Sehubungan dengan pernyataan di atas maka website UM perlu dikembangkan sebagai berikut:

  1. Bahasa yang lugas dan beradab hendaknya digunakan dalam membuat tulisan dan memberi komentar.
  2. Kritik dan otokritik yang disalurkan melalui website UM hendaknya ditanggapi secara profesional oleh unit yang terkait.
  3. Perlu dibentuk Tim Redaksi untuk blog “Berkarya” dan “Suara Kita”.

Semoga website UM semakin bermanfaat bagi UM.

Malang, 3 Desember 2009

Johanis Rampisela (Ketua Divisi Perangkat Lunak Pusat TIK UM)

Post Author: Johanis Rampisela

2 thoughts on “Website UM Berisi Kritik dan Otokritik

    Johanis Rampisela

    (5 Desember 2009 - 10:27)

    Pada kolom komentar di “Suara Kita” dan “Berkarya” telah diberi himbauan sebagai berikut:

    Mohon menuliskan NAMA jelas, STATUS jelas (mahasiswa, dosen, karyawan, alumni, atau status lain), dan UNIT KERJA atau ALAMAT

    dawud

    (4 Desember 2009 - 22:51)

    Setuju Pak Jo. Di samping itu, saya usulkan: perlu dipersyaratkan dicantumkan identitas pemberi komentar dengan lengkap & jelas: nama, pengawai/dosen/mahasiswa, unit kerja/fakultas/jurusan, misalnya. Ini penting agar kritik dapat dipertanggungjawabkan akuntabilitasnya.
    Kalau hanya menyebutkan nama samaran tanpa identitas di akhir tulisan, bisa disalahgunakan untuk mencela orang lain. Itu termasuk pembunuhan karakter, baik karakter pribadi maupun karakter lembaga. Sementara yang dibunuh karakternya tidak bisa memperoleh konfirmasi dan tidak punya hak jawab, terutama apabila yang bersangkutan (pribadi atau lembaga) akan menjawab, komentar sudah ditutup! Kalau ditutup, ya komentar yang membunuh karakter oleh komentatornya yang tidak (mau) menyebutkan identitasnya secara jelas, ya seharusnya juga dihapus saja. Ini baru adil.
    Pencantuman identitas dengan jelas dan lengkap ini sudah lama diterapkan pada media massa yang beradab, baik cetak maupun elektronik, contoh Tempo, Jawa Pos. Karena, hari gini (baca: zaman sedemokratis ini) masih ada komentar dan komentator yang tidak bertanggungjawab. Kalau itu yang terjadi, melontar kritik bagai melempar orang sembunyi tangan; atau nabok nyilih tangan.
    Mari kita bertanggungjawab dalam penggunaan media di dunia maya. Tulisan Eko Wahyu Setiawan, pegawai Fakultas Sastra UM, tentang hal ini patut dijadikan acuan. Terima kasih.

    Malang, 4 Desember 2009

    Dawud (Dekan Fakultas Sastra UM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *