Menakar Habitat Pemukiman Rusun

Djajusman Hadi Sub Koordinator Registrasi dan Statistik Universitas Negeri Malang (UM)

NewMalangPos – Banyak orang yang melecehkan kampung karena penampilan visualnya yang kumuh dan tata lingkungannya simpang siur tidak teratur. Namun untunglah masih lebih banyak lagi yang meneropong kehidupan di dalam kampung dengan mata berbinar, berpegang pada pemeo it’s beautiful because it’s ugly.

Memang bila ditilik dengan seksama tanpa bermaksud meremehkan, bahwa lingkungan pemukiman kampung sekarang ini mampu menyuguhkan pesona tersendiri, yang tidak bisa diperoleh pada lingkungan pemukiman mewah yang serba gegap gempita.

Berkaitan dengan diksi tersebut, kini ramai diperbincangkan masalah pemukiman di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Surabaya dan Malang. Dengan argumentasi menakar kelayakan pembangunan perumahan susun atau identik dengan sebutan khas “Rusun.”

Pemerintah sendiri cukup peka dan tanggap, dengan menyiasati peningkatan kuaitas lingkungan kampung melalui program yang dikenal dengan KIP (Kampung Improvement Programme). Bahkan pada era orde baru lalu, sudah digariskan bahwa KIP akan diteruskan hingga menjangkau 500 kota, meliputi area 30.000 hektar yang dihuni oleh 7,5 juta penduduk kampung.    Selain itu, studi-studi kelayakan untuk perencanaan kota Satelit Cibinong di Jakarta dan Driyorejo di Surabaya sudah dilangsungkan bekerjasama dengan konsultan dari negeri Belanda. Semua ini dilakukan untuk merumuskan dan mempertajam perencanaan kota kita di masa mendatang, khususnya habitat pemukiman.

Bertumpu pada asas keterjangkauan relevansi komunitas dan pertautan dengan lokasi kerja, perumahan kampung memang merupakan pilihan alternatif yang menawan khususnya bagi golongan masyarakat kota berpenghasilan rendah. Kendati begitu, bukan lantas berarti bahwa pemukiman jenis kampunglah yang harus dianjurkan dalam tata ruang perkotaan. Sebab bila demikian, tak ayal lagi dalam tempo yang singkat lahan perkotaan akan habis diserbu perkampungan.

          Perbincangan perkara rumah susun juga memancing tanggapan pro dan kontra yang hangat. Sebagaimana halnya dengan masalah kampung, sikap kita terhadap jenis habitat manusia yang disusun bertumpuk ke atas ini juga masih menjadi dikotomi publik.

          Di satu sisi terbersit pikiran untuk mempromosikan pembangunan rumah susun, mengingat lahan pemukiman perkotaan yang semakin langka dan mahal, sedangkan penduduk kota membengkak terus. Di sisi lain, pikiran kita masih juga terbelenggu oleh trauma rumah susun manca negara yang berkonotasi negatif sebagai “kandang manusia” yang tidak manusiawi.

          Rekaman kisah rumah susun negara-negara Barat memang mengungkapkan sejumlah petaka vandalisme (tindak kekerasan atau perusakan milik umum), pedophilia (perkosaan anak kecil), aliensi (keterasingan) dan segudang kelainan kejiwaan. Sebaliknya, negara tetangga dekat kita yaitu Singapura justru mempunyai ilustrasi positif yang berbeda.

          Bahkan dengan kedigdayaan mencanangkan bahwa rumah susun merupakan panggung yang paling tepat untuk mementaskan drama kehidupan penduduknya. Hal ini dipandang bahwa rumah susun telah berhasil mengubah gaya hidup, bahkan seolah menyiratkan cap dan jati diri penduduk Singapura. 

          Belajar dari keberhasilan Singapura, paling tidak pemerintah Indonesia juga mulai membumikan sembari memasyarakatkan pembangunan rumah susun.

Memasyarakatkan Rumah Susun

          Ledakan arif bahwa kota-kota besar kita tidak hanya terlanda kelatahan fast food, melainkan juga fast flood yakni hujan beberapa menit saja sudah mengakibatkan banjir, mesti diterima dengan dada lapang untuk diupayakan penangkalannya.         Salah satu caranya adalah dengan pembangunan perumahan susun di daerah perkotaan. Perkembangan kota secara horisontal yang rakus melahap lahan, pada masyarakat yang sedang lapar rumah, jelas tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi.

          Biang keladi kegagalan dari rumah susun di mancanegara (khususnya negara Barat) antara lain pendekatan simplistis perancangannya yang serba deterministik, melihat rumah susun sebagai artefak fisik yang anggun untuk pemenuhan fungsi yang utilitarion.

          Sedangkan keberhasilan rumah susun di negara-negara Timur seperti Singapura, Hongkong dan Jepang, selain disebabkan karena terbatasnya pilihan yang tersedia, juga karena selalu dilakukannya penelitian secara terus menerus. Evaluasi pasca huni merupakan kegiatan yang melekat dalam setiap proses pembangunan perumahan masal.

          Hal semacam ini yang masih belum membudaya di tanah air kita, sehingga selalu saja kita mengulang-ulang kesalahan yang sama dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu direnungkan secara mendalam bertautan dengan upaya memasyarakatkan rumah susun di Indonesia.

Pertama, pentingnya penciptaan citra rumah susun sebagai rumah idaman di masa depan. Mengingat bahwa masyarakat kita berpola paternalistik, seyogyanya kelompok sasaran yang pertama-tama dibantu adalah kalangan menengah ke atas, yang pola hidupnya juga sudah cukup berdisiplin.

Kedua, agar terbuka peluang untuk subsidi silang dan mewadahi mobilitas internal serta mencegah kesan eksklusif, perlu dirancang perumahan susun yang mampu menampung berbagai tingkat sosial-ekonomi calon penghuni dengan penataan yang serasi.

Ketiga, mengingat masih kuatnya rasa kekerabatan budaya Jawa dengan pepatah “mangan ora mangan asal kumpul”, bila perlu diberikan prioritas bagi sekelompok keluarga yang memiliki hubungan erat untuk menempati unit-unit yang berdekatan. Hubungan erat di sini tidak harus berarti hubungan darah (keluarga, etnis, dan golongan), tetapi bisa juga dalam bentuk hubungan sekerja.

Keempat, kebanyakan dalam pengaturan ruang dari setiap unit rumah akan memberikan daya tarik tersendiri, karena setiap penghuni memperoleh kebebasan untuk menunjukkan jati dirinya lewat penampilan dan tata ruang rumahnya. Kelima, yang justru tidak kalah pentingnya, adalah pemilihan lokasi yang strategis dikaitkan dengan sarana transportasi dan lapangan kerja, dengan memperhitungkan pula luas rumah yang pas serta harganya yang terjangkau oleh kelompok sasaran yang dituju. Aspek-aspek tersebut menempati peringkat teratas ditilik dari kaca mata para responden.

Wawasan perumahan yang terlalu tertuju pada kota besar, sudah saatnya diperkaya dengan falsafah dan konsep yang digali dari kasus-kasus perumahan kota kecil dan pedesaan, khususnya yang menyangkut kaitan antara lingkungan fisik dengan perilaku manusia.

Walhasil, biarpun sudah banyak yang dilakukan oleh pemerintah dalam pembangunan perumahan perkotaan, mulai dari kampung sampai rumah susun, tetapi masih lebih banyak lagi terobosan baru yang harus digarap di masa-masa mendatang.(*)

Artikel ini telah dipublikasi pada https://newmalangpos.id/menakar-habitat-pemukiman-rusun

Post Author: Admin Berkarya