Meraih Perguruan Tinggi Ideal

Djajusman Hadi Sub Koordinator Registrasi dan Statistik Universitas Negeri Malang (UM)

Tulis Berbasis Komputer (UTBK) – Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang akan digelar gelombang I pada 12 – 18 April 2021 dan gelombang II pada 26 April – 2 Mei 2021 sebagai ajang kompetisi memperebutkan tiket bergengsi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) secara bersih dan obyektif.

          Ketika kita tengok historis dari nama seleksi masuk perguruan tinggi negeri dari tahun 1976 sampai dengan sekarang mengalami beberapa perubahan nama, yaitu: 1) SKALU (1976-1979), 2) SKASU (1979-1983), 3) SIPENMARU (1983-1989), 4) UMPTN (1989-2001), 5) SPMB (2001-2008), 6) SNMPTN (2008-2013), 7) SBMPTN (2013-sekarang).

          Sebagaimana kita ketahui untuk bisa diterima di PTN saat ini sudah tidak seperti zamannya Skalu, Skasu, Sipenmaru, atau UMPTN dengan minimnya batasan kuota masuk dan  penyaringannya sangat selektif sehingga mahasiswa yang diterima terkesan cerdas atau pandai.

          Lantas, bagaimana dengan era milineal yang merujuk pada pendekatan “selera pasar”, artinya mahasiswa dengan sesuka hatinya memilih perguruan tinggi yang diidolakan?

Calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi terlebih dahulu akan melirik PTN yang diminatinya meski harus menempuh jalur Mandiri. Karena memilih program studi ke PTN merupakan hal krusial sekalipun pada akhirnya harus mendaftar ke Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Dalam pandangan lain mengenai bidikan memilih Perguruan Tinggi (PT) berkualitas, kuliah di luar negeri ternyata juga bisa menjadi alternatif bagi mereka yang lulus bangku SLTA. Secara idealis bahwa PTN di Indonesia bukan satu-satunya jalan untuk bisa menikmati pendidikan perguruan tinggi berkualitas.  Tapi ini sepertinya hanya bisa berlaku bagi mereka yang mampu secara finansial. Biaya hidup dan pendidikan yang sangat tinggi membuat calon mahasiswa berpikir dua kali untuk memilih kampus elit yang diidamkan.

Menurut jenisnya per­guruan tinggi dibagi menjadi dua: pertama, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebagai perguruan tinggi yang didirikan dan/atau diselenggarakan oleh Pemerintah dan kedua, Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang didirikan dan/atau diselenggarakan oleh masyarakat.

Tingginya animo persaingan dalam memperebutkan kursi di PTN cenderung menjadi motivasi sendiri bagi lulusan SLTA atau yang se­derajat untuk mengasah ke­mam­puannya dalam menaklukkan soal-soal ujian masuk PTN. Berbagai usaha pun dilakukan demi mencapai tujuan bisa diterima pada jalur SBMPTN. Salah satunya adalah dengan menggenjot bimbingan belajar (bimbel).

          Secara obyektif, memang dunia pendidikan tinggi telah mengalami pergeseran dari paradigma lama menuju transformasi baru, tentunya dapat memenuhi kemauan konsumen atau selera pasar yang sarat dengan tuntutan kualitas SDM dan dunia kerja. Wajar saja, dalam memilih perguruan tinggi calon mahasiswa masih memandang nama besar PTN favorit di pulau Jawa seperti UI, ITB, IPB, UGM, Unair, ITS, UB, dan UM yang sudah diakui produk alumninya.           Tapi sebenarnya di Indonesia selain nama besar PTN tersebut,  tidak sedikit PTN hingga PTS lain yang tidak kalah profesional dan kualitasnya. Jika dikaji secara obyektif, ada baiknya strategi slogan “memilih kucing dalam karung”, dalam artian dalam memilih perguruan tinggi yang ideal dapat diperhitungkan secara akurat.

Pertimbangan Selektif

Dalam rangka memilih perguruan tinggi ideal, baik PTN maupun PTS dan program studi favorit, para siswa dan orang tua perlu mempertimbangkan secara selektif beberapa hal agar tidak salah memilih sehingga dapat merugikan masa depan.       Sebelum memutuskan pilihan terhadap kampus dan program studi yang akan dituju, ada baiknya calon mahasiswa perlu mengenali dirinya. Artinya, mengenali diri di sini adalah keberadaan PTN atau PTS yang dituju sesuai dengan keinginan. Seharusnya dalam memilih program studi, calon mahasiswa disarankan untuk tidak terburu-buru, apalagi ikutan teman-teman yang kelak justru macet di tengah jalan. Ada juga yang secara pribadi mereka tidak ingin kuliah di program studi tersebut, namun orang tua memaksakan yang hasilnya justru tidak aktif mengikuti kuliah.

Pertimbangan lainnya bahwa untuk memilih program studi dengan menyesuaikan dengan bakat, minat, dan kemampuan yang dimiliki. Kapasitas dan potensi diri meliputi kemampuan akademik atau intelegensi dan maupun kemampuan ekonomi orang tua.

Selanjutnya status perguruan tinggi yang dituju sangat penting untuk diperhatikan oleh calon mahasiswa dan orang tua calon mahasiswa. Meskipun tujuan akhir pendidikan adalah untuk memperoleh ilmu dan keterampilan dengan menyandang gelar akademiknya, namun demikian persoalan akreditasi juga tidak boleh diabaikan.

Status akreditasi sangat diperlukan untuk standar ukuran tentang mutu pendidikan pada suatu lembaga pendidikan perguruan tinggi, dimana setiap perguruan tinggi harus bisa meningkatkan mutu dan daya saing terhadap lulusannya dan dapat menjamin tentang proses belajar mengajar pada perguruan tinggi tersebut.

Bahkan sekarang ini akreditasi telah berubah menjadi satu indikator legalitas sebuah perguruan tinggi. Dalam artian kampus yang tidak terakreditasi digolongkan sebagai kampus ilegal atau kampus bodong yang berakibat ijazah dan lulusan dari perguruan tinggi tersebut tidak diakui oleh negara.

Lebih dari itu pastikan pada kampus tersebut juga dilengkapi dengan prasarana penunjang utama, misalnya laboratorium, pustaka, aula, ruang kantor, multimedia, yang pengoperasiannya dengan sistem pelayanan yang baik.

Oleh karena itu, dalam memilih perguruan tinggi dan jurusan yang sesuai dengan harapan dan cita-cita, sebaiknya dikomunikasikan dengan orang tua. Persoalan ini sangat penting agar orang tua memberikan arahan dan support penuh.

Untuk memperoleh legalitas data yang komprehensif, calon mahasiswa kiranya dapat mengecek data perguruan tinggi melalui forlap.dikti.go.id dengan asumsi akan menambah referensi dan menjadi preferensi untuk membuat keputusan yang meyakinkan.

Dari situ calon mahasiswa dapat melihat informasi tentang profil program studi, dosen, mahasiswa, dan riwayat tentang perguruan tinggi dan program studi tersebut. Dengan pertimbangan selektif konstruktif dalam memilih perguruan tinggi ideal yang menjadi kepercayaan calon mahasiswa, maka akan membawa keberhasilan tujuan pendidikan yang diimpikan.(*)

Artikel ini telah dimuat pada laman https://newmalangpos.id/meraih-perguruan-tinggi-ideal

Post Author: Admin Berkarya