Pengurangan Emisi Karbon dengan Gerakan Penghijauan Terpadu dan Terintegerasi

Andik Wijayanto, M.Si dosen FMIPA Universitas Negeri Malang

Malang. Saat ini isu emisi karbon sudah menjadi perbincangan utama dikalangan para petinggi dunia G20. Ini merupakan isu yang erat kaitannya dengan lingkungan hidup. Permasalahan emisi karbon menimbulkan hujan asam yang menyebabkan rusaknya ekosistem lingkungan berikut dampak-dampak penyerta bagi manusia.

Tim humas melakukan wawancara melalui WA (Whatsapp) dengan Andik Wijayanto, M.Si yang merupakan dosen FMIPA Universitas Negeri Malang (UM). Pada tanggal 2 November 2020, tim humas melakukan wawancara disela kesibukan Bapak Andik Wijayanto, M.Si dalam mengajar.

Tim Humas                : Selamat siang Pak Andik, kami dari tim humas berniat untuk melakukan wawancara berkaitan dengan emisi karbon yang saat ini menjadi isu utama para pemimpin G20, yang implikasi langsungnya adalah pemanasan global. Pak Andik memiliki waktu?

Andik Wijayanto       : Silahkan Mas, saya sedang istirahat siang ini. Silahkan kalau mau wawancara. Mengalir sajalah pertanyaannya.

Tim Humas                : Pak Andik, sekarang sedang diperbincangkan emisi karbon dan penyerapannya, yang ujung-ujungnya adalah pemanasan global. Apakah pemanasan global yang disebabkan oleh emisi karbon itu bisa ditanggulangi dengan memperbanyak jumlah tanaman atau bagaimana?

Andik Wijayanto       : Bisa Mas, terutama tumbuhan yang mempunyai daun dan stomata yang banyak

Tim Humas                : Tanaman seperti apa mudah dibudidayakan dan maksimal dalam menyerap emisi karbon secara maksimal?

Andik Wijayanto        : Sudah ada penelitian sebelumnya Mas. seingat saya era 2004-sekarang sudah ada kebijakan untuk memperbanyak tumbuhan Trembesi (kalau tidak keliru) karena penyerapan karbonnya cukup besar dibandingkan yang lain. tapi pada prinsipnya, semua tumbuhan dapat menyerab karbon, karena dibutuhkan dalam metabolismenya, sehingga tumbuhan membantu kehidupan manusia dan makhluk lainnya.

Tim Humas                : Apa bisa diartikan bahwa penyerapan emisi karbon itu juga bagian dari proses fotosintesis?

Andik Wijayanto       : Ya tentu, khususnya CO2

Tim Humas                : Metabolisme tumbuhan pada tanaman trembesi itu seperti apa Pak? Apakah sekadar fotosintesis, atau ada juga pemrosesan unsur hara dan air yang diserap dari dalam tanah?

Andik Wijayanto       : Semua itu ada dalam tumbuhan Mas. Untuk berfotosintesis, minimum tumbuhan membutuhkan cahaya, air, dan CO2. Jadi tidak hanya pada tumbuhan trembesi. Hanya saja karena jumlah daun dan stomatanya cukup banyak, meningkatkan peluang CO2 yg diserap dan O2 yg dihasilkan juga lebih banyak

Tim Humas                : Adakah peranan teknologi informasi yang terintegerasi untuk mengurangi emisi karbon?

Andik Wijayanto       : Kalau yang dimaksud informasi yang diterima di masyarakat, tentu. dengan kemudahan akses internet, masyarakat dapat mengakses (mendapatkan informasi) terkait pemanasan global, emisi karbon, tumbuhan yang potensial mengurangi emisi karbon, dll

Tim Humas                : Sebenarnya, apa hubungan antara emisi karbon dengan hujan asam yang saat ini sedang ramai dibicarakan?

Andik Wijayanto       : Hujan asam umumnya dalam bentuk SO2 dan atau NOx. Tetapi CO2 juga dapat membentuk asam karbonat lemah yang berperan dalam hujan asam. Namun peran CO2 terhadap hujan asam sangat kecil bahkan beberapa ilmuwan mengenyampingkan CO2 dalam proses hujan asam.

Tim Humas                : Saat ini kita dihadapkan pada dilema, jika kita ingin menumbuhkan pohon di perkotaan dengan tinggi dan lebat tentu akan bergesekan dengan kabel internet (fiber optik) dan kabel listrik. Kalau kabel internet dan kabel listrik dipindah ke bawah tanah, potensi terkena akar tumbuhan penyerap emisi karbon juga lumayan. Ini solusinya bagaimana Pak?

Andik Wijayanto       : Ada beberapa macam tipe arsitektur pohon Mas. Misal untuk lahan yang sempit perkotaan atau di pinggir jalan, dapat ditanam pohon dengan ciri pertumbuhannya tinggi menjulang seperti Polyalthia_longifolia (Sonn.) Thwaitesatau kita biasa menyebut tumbuhan glodokan tiang. di pinggir jalan perkotaan maupun kampus kita, banyak ditanam tumbuhan model ini.

Tim Humas                : Adakah saran dari Pak Andik untuk materi penghijauan dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK dalam rangka edukasi mengurangi emisi karbon?

Andik Wijayanto       : Menggencarkan gerakan menanam pohon Mas. Gerakan semacam ini sudah banyak dilakukan oleh para mahasiswa kita terutama bidang biologi, kehutanan, maupun konservasi. Selain itu pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pemerhati lingkungan dan komunitas lain juga sudah melakukannya. Yang dapat dilakukan oleh adik-adik PAUD dan Sekolah Dasar adalah pendidikan dini pentingnya pohon. Ikut menanam lebih bagus. Untuk anak-anak SMP, SMA/SMK bisa membaca lebih banyak terkait isu-isu lingkungan hidup. Harapannya tumbuh kesadaran betapa pentingnya lingkungan bagi kehidupan kita (manusia), maupun makhluk hidup yg lain. Misalnya menanamkan mindset “semakin banyak kertas digunakan, semakin banyak pohon di hutan yang ditebang”.

Tim Humas                : Terimakasih Pak Andik atas waktunya. Maaf kalau kami kapan-kapan wawancara lagi.

Andik Wijayanto       : Sama-sama mas. Silahkan, kalau kapan-kapan kita diskusi dengan lebih dalam lagi berkaitan penanganan emisi karbon.

Penulis: Ferril Irham Muzaki

Post Author: Admin Berkarya