Rubrics – form untuk penilaian karya fotografi

Berikut adalah rubrics – form untuk penilaian karya fotografi. Silahkan dipergunakan untuk melakukan penilaian lomba foto, tapi pastikan lembar ini diberikan pada peserta lomba. Supaya peserta mengetahui poin-poin yang dianggap sebagai kekurangan atau kelebihan dari karyanya, dan melakukan perbaikkan kemampuan di masa yang akan datang.

Bertujuan agar pendidikan visual di Indonesia (khususnya fotografi) bisa bergerak ke arah yang lebih baik, sepadan dengan capaian kemajuan teknologi yang dimilikinya.

Untuk mengunduh form kosong, silahkan berkunjung ke blog saya, dan klik link yang berwarna oranye.  download page

Semoga bermanfaat.

SEMINAR FASILITASI PEMASYARAKATAN PANCASILA DI LINGKUNGAN PERGURUAN TINGGI

BERTAMU DI ALAM GAIB

BERTAMU DI ALAM GAIB

(Bagian Ke-1)

Oleh: Djoko Rahardjo*

Siang itu, Sabtu tanggal 10 November 2012, pukul 14.00 wib. air hujan yang tumpah ruah di Kota Malang bagaikan gelombang lautan yang naik ke daratan. Hujan yang lebat membasahi Kota Malang selama lebih kurang hampir satu jam. Air lumpur beserta material yang lain menggenangi jalan di depan rumahku. Suasana di sekitar rumahku terasa sepi. Seperti di tengah-tengah kuburan desa yang dipenuhi oleh pepohonan.
Menjelang petang hari,  sayup-sayup kudengar adzan Maghrib dari mushola yang agak jauh di selatan rumahku. Siapa yang adzan ini? Biasanya yang adzan bukan orang ini. Seperti ada suasana yang lain, yang menyelinap di dalam hatiku. Tidak biasanya bulu kudukku berdiri. Bau wangi bunga pohon kopi menyergap hidungku. Seakan-akan mengarahkanku  untuk datang ke tanah kosong,  yang ditumbuhi rumput ilalang dan pohon singkong, yang berada di selatan rumahku.
Memang…, semenjak aku pindah rumah empat tahun yang lalu, belum pernah bertemu lagi dengan pemilik tanah itu. Kulangkahkan kakiku ke arah tanah kosong itu, sambil melirik ke rumah di depannya. Siapakah mereka itu? Di dalam kegelapan malam…,  kulihat dua bayangan manusia yang sedang duduk di teras rumah.
“Pak Djoko mencari siapa?” Salah satu dari dua orang itu bertanya kepadaku.
“Saya tidak mencari siapa-siapa!” Begitu jawabku.
Hatiku terasa berdebar-debar ketika menjawab pertanyaan itu. Kulihat pohon singkong di depanku, daunnya berubah seperti jari-jari tangan manusia, yang hendak mencabik-cabik tubuhku. Dengan gerak refleks, kubalikkan badanku, dan berjalan cepat menuju ke arah rumahku. Sesampainya di rumah:
“Ibu sudah Sholat Maghrib?”
“Sudah Pak!” Jawaban singkat dari Istriku.
Sambil menatap isteriku yang sedang melepas mukena, kulangkahkan kakiku ke kamar mandi untuk berwudhu . Detak jantungku masih terasa  berdegup kencang. Seperti suara bedug yang ditabuh bertalu-talu.
Setelah Sholat Maghrib kutunaikan, dalam keheningan…, kubaca ta’awudz:
Audzubillahi minas syaiton nir rojim!” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan dan jin yang terkutuk).
Sejenak kutenangkan batinku. Kupasrahkan  hidup dan matiku hanya kepada Allah Robbul Izati. Tuhan pencipta alam semesta.
“Pak…! Kita jadi berangkat jam berapa?” Tanya Isteriku.
“Jam tujuh! Setelah kita melaksanakan Sholat Isya!” Jawabku.
Empat puluh lima menit kemudian, berkumandanglah adzan Isya. Setelah Sholat Isya kami tunaikan maka berangkatlah kami ke Kota Malang.
Tidak biasanya perasaanku diteror oleh kebimbangan yang berkepanjangan. Ada rasa takut jatuh dari sepeda motor. Malam semakin gelap. Jalan semakin senyap. Kulalui sederatan rumah yang tak perpenghuni. Berada dimanakah kami ini?
“Bu…, sekarang jam berapa?”
“Jam setengah  delapan!” Jawab Isteriku.
Dari kejauhan…, terlihat sekelompok orang memakai baju hitam yang menembus kegelapan malam. Laju sepeda motorku tiba-tiba bergerak lamban. Seolah-olah dipandu untuk mengiktuti gerak dan langkah mereka.
Dengan kekuatan batinku, kujalankan sepeda motorku untuk mendahului barisan mereka. Pedal gas sepeda motorku seakan-akan tak mampu bergerak sehingga selalu sejajar dengan barisan itu.
“Haaah…! Di tepi kuburan? Siapakah mereka?” Begitu  suara batinku.
Kuberanikan diriku untuk melirik mereka:
“Tidak mungkin…! Ini jelas tidak mungkin…!” Batinku berontak.
Setahu saya mahasiswa yang tergabung dalam organisasi HMI tidak mungkin mengadakan ritual Agama Islam di tepi kuburan. Apalagi sambil mengadakan tahlil, istighosah, yasinan dan ritual lainnya yang sangat bertentangan dengan keyakinan mereka. Tetapi kali ini…, sepertinya mereka berjalan sambil berorasi:
“Saudara-saudara…! Di sini telah berbaring jasad para pahlawan kemerdekaan…! Mereka rela gugur demi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Malam hari ini…, kita semua memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 November 2012!”
Kupaksakan sepeda motorku untuk menyalip mereka menuju kearah timur:
“Haaah…! Apa ini? Batu-batu nisan berserakan! Mengapa di sini banyak lubang galian?”
Tekadku sudah bulat. Kupacu sepeda motorku! Tepat di depan persimpangan, kubelokkan kendaraanku kearah kanan.  Tidak lama kemudian, sampailah di tempat yang kutuju.
Di sana…, di suatu tempat…, entah di mana…? Berdirilah gapura yang besar nan indah. Di mulut gerbang tertata rapi jalan kembar, yang dipisahkan oleh taman yang indah bagaikan di taman surga. Beraneka pohon hias dan bunga warna-warni yang menghiasi taman. Amboi…, sungguh indah taman ini…. Pantulan cahaya lampu hias yang menimpa dekorasi taman menambah syahdunya  suasana malam itu.
Kuparkir sepeda motorku di tempat yang telah disediakan. Kunaiki tangga yang berjenjang sambil menggandeng tangan Isteriku. Tibalah kami berdua di  gedung yang besar dan indah. Di depan pintu gerbang sisi kanan…, bertenggerlah kereta Jerman dari jenis mobil Jeep dengan merk Marcedes. Mobil Jeep Mercedes berwarna silver itu ditempeli bunga melati sebagai tanda bahwa kereta itu diperuntukkan bagi sang pengantin.
Sesampainya di meja  tempat mengisi buku tamu…, hatiku berdesir! Kutatap wajah-wajah ayu, yang memakai kebaya gemerlapan. Siapakah mereka ini…? Manusiakah…? Jangan-jangan mereka ini…? Ah…!

Kutuliskan namaku di dalam buku tamu itu: Djoko Rahardjo, Subbag Sardik UM. Sesaat kemudian…, kuambil amplop berisi uang Rp 100.000,00 dari saku bajuku, lalu kumasukkan ke dalam kotak yang telah disediakan. Wajah-wajah penerima tamu itu…, baik laki-laki maupun perempuan, tak satu pun yang kukenal. Mereka memandangiku dengan pandangan penuh curiga. Mata mereka melotot seakan-akan hendak meloncat keluar. Hiiiii……

BERSAMBUNG…

Malang, 10 November 2012

*) Djoko Rahardjo, Staf Subbag Sarana Akademik  BAKPIK  UM

 

Pidato Kemenangan Barrack Obama 2012

Terimakasih semua. Terimakasih semua. Terimakasih Semua.

Malam ini, setelah 200 tahun koloni-koloni Amerika membentuk sebuah persatuan, kemudian memiliki hak untuk mengatur takdir Amerika Serikat, tugas kita sebagai generasi penerus untuk melanjutkan semangat mereka.

Semua kemajuan bangsa Amerika Serikat yang dirasakan sekarang ini karena warga Amerika Serikat sendiri. Kemajuan kita selama ini karena setiap orang mau berjuang bersama melewati krisis ekonomi dan perang yang tidak tahu kapan berakhir. Setiap warga Amerika Serikat tentu memiliki semangat untuk terus melangkah. Tentu saja semangat warga negara Amerika Serikat tersebut telah menyatukan Amerika Serikat sebagai sebuah negara kesatuan.

Malam ini, dalam pemilu kali ini, kita telah berjuang bersama. Kemenangan ini adalah kemenangan bersama. Perjalanan kita masih panjang, kita akan menghadapi jalan yang terjal dan sulit. Saat ini setiap warga Amerika Serikat berjuang untuk meraih mimpi-mimpi Amerika. Perjuangan yang gigih itulah yang telah tertanam di lubuk hati kita. Saya, Presiden Amerika Serikat percaya bahwa Amerika Serikat memiliki jiwa pejuang. Hari yang cerah segera tiba, hari kejayaan kita bersama.

Saya mengucapkan apresiasi positif pada setiap warga Amerika Serikat yang telah memilih. Meskipun anda adalah pemilih pertama, atau yang antri di bilik pemungutan suara. Ataupun yang memilih melalui cara-cara yang lain. Setiap orang mempunyai pilihan berbeda. Entah itu yang memilih Romney atau Obama, semua orang telah membuat perbedaan yang cukup berarti.

Saya mengucapkan hormat saya setinggi-tingginya pada keluarga Gubernur Romney, mulai dari istri anak-anaknya. Kalian adalah pejuang, yang berusaha melakukan perubahan. Saya percaya kalian adalah orang-orang yang mencintai sama cintanya dengan saya. Saya akan mengajak Gubernur Romney untuk merumuskan kebijakan untuk kemajuan negara ini.

Saya bangga dengan para sukarelawan dan tim hebat yang telah berjuang bersama. Kalian memang luar biasa. Saya bangga dengan kalian.

Saya mengucapkan terima kasih pada perempuan yang menerima saya untuk menjadi suaminya. Saya mengucapkan terima kasih pada istri, dua orang anak-anak saya yang telah menemani saya selama berdekade-dekade. Saya yakin tanpa kalian saya tidak akan menjadi Pemimpin.

Untuk semua saya ucapkan kebanggaan saya. Tidak peduli asal warna kalian, saya percaya kalian adalah orang-orang yang ingin maju. Saya ingin kalian membangun bersama saya. Tantangan untuk bekerja keras membela yang benar sudah didepan mata. Percayalah kemenangan akan segera tiba.

Saya tahu kampanye politik memang terkesan tidak berguna. Namun kami sadar bahwa inilah kesempatan kami untuk mengungkapkan isi hati kami yang mencintai kalian dengan tulus. Saya percaya jika anda percaya bahwa anda adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk berjuang dan terus berjuang bersama, kita akan menjadi manusia yang luar biasa.

Catatan Penerjemah: Ada beberapa redaksi yang dirubah tanpa mengurangi maksud dan tujuan.

Sumber terjemahan ini ada pada:

http://www.nytimes.com/2012/11/07/us/politics/transcript-of-president-obamas-election-night-speech.html?smid=fb-share

ORANG FASIK PEMBAWA BERITA

Dalam keseharian kadangkala kita mendengar berita yang tidak jelas asal-usulnya, atau isu yang diperbesarkan dalam lembar provokasi, diedarkan atau ditempel-tempel sekenanya. Berita itu kadang terkait dengan kehormatan seseorang muslim, atau dengan jabatan. Bagaimanakah sikap kita seharusnya terhadap berita-berita yang belum jelas kebenarannya itu.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [QS. Al Hujurat(49) : 6]

Al alaamah Asy Syaikh “Abdur Rahman bin Nasir As Sa’dy rohimahullohu Ta’ala berkata dalam tafsirnya : “Ini termasuk adab bagi orang-orang yang memiliki akal yang mendidik dengan adab tersebut dan mengamalkan adab tersebut, bahwa apabila ada seorang yang fasik membawa suatu berita hendaknya mereka mencari kebenaran dalam berita tersebut, jangan diambil begitu saja.” (tasiirul kariimir rohmaani fii tafsiiri kalaamil mannan 765)

Dalam ayat tersebut di atas, dengan jelas kita dilarang percaya kepada berita angin, sebelum memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Orang-orang fasik itu pada dasarnya (jika berbicara) dia dusta, akan tetapi kadang kala ia juga benar. Karenanya berita yang disampaikan tidak boleh diterima dan juga tidak ditolak begitu saja, kecuali setelah diteliti. Jika pembawa berita itu memiliki buktinya, maka bisalah diterima. Jika tidak bisa membuktikan, maka tolaklah berita itu. Karena tidak semua berita itu benar, dan juga tidak semua berita yang disampaikan ada faktanya. Maka “…periksalah dengan teliti…” sehingga tidak menjatuhkan seseorang tanpa dasar.

Sebaiknya kita ikut mencegah masyarakat agar tidak menyampaikan berita bohong yang tidak ada dasarnya sama sekali dengan cara menghilangkan tulisan-tulisan yang mungkin diedarkan atau ditempel dan tidak membicarakan ulang. Hal ini tidak lain “…agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Maka wajiblah kita untuk senantiasa waspada, sehingga bisa mengetahui sumber kebencian, dan bagaimana rasa saling permusuhan dikobarkan oleh orang fasik dan atau orang munafik.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” [QS. An Nuur (24):11]

Terkadang kebaikan atau nikmat itu datang dalam satu bentuk yang kelihatannya menyusahkan, tapi yang jelas yang menyiarkan berita bohong itu baginya akan memperoleh azab yang besar.

Langkah pertama yang harus dilakukan, jika ada berita buruk tentang saudaramu, yaitu berhusnudhon (berperasangka baik) kepada dirimu. Jika engkau sudah husnuzdhon kepada dirimu, maka selanjutnya kamu wajib husnuzdhon kepada saudaramu dan (menyakini) kebersihannya dari cela yang disampaikan.

“(ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar. [QS. An Nuur (24):15]

Diawalnya ucapan itu diterima dengan telinga, bukan dengan lisan. Kalau tidak hati-hati menjaga lisan, maka cepat berita itu tersebar di tengah masyarakat. Seakan-akan kata-kata itu keluar dari mulut ke mulut tanpa melalui telinga, dilanjutkan ke hati yang memikirkan apa yang didengar. Sepertinya ini adalah sesuatu yang ringan padahal di sisi Allah adalah besar atau akan memperoleh azab yang besar.

“Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar.” [QS. An Nuur (24):16]

Disinilah pentingnya kita untuk berbaik sangka dulu pada saat menerima berita kemudian memeriksa dengan teliti, bukan menyebarluaskannya.

Menyebarluaskan berita bohong sama dengan membantu para pendusta berarti mengikuti langkah-langkah syaitan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” [QS. An Nuur (24):16]

Para penyebar berita palsu (fitnah), para pendusta, para pencari aib orang yang baik, tahanlah dirimu dari lisan atau tulisanmu, karena sesungguhnya kamu akan diminta pertanggungjawaban apa yang engkau ucapkan atau sebarkan.

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” [QS.Qaaf(50): 18]

“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi Balasan dengan apa yang diusahakannya. tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah Amat cepat hisabnya.” [QS.Al Mukmin(40) : 17]

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak,” [QS.Ibrahim(14): 42]

Maka berhati-hatilah para pembuat dan pembawa berita.

 Dari beberapa sumber, Noor Farochi —- staf BAKPIK

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.