Mencari Guru… (Bagian Ke-2)

MENCARI GURU YANG SEJATI

Bagian Ke-2

Surat dari Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, M.Pd

“Saya, seperti biasa, selalu diliputi rasa haru, sedih dan bangga. Mata saya selalu menjadi kabur setiap kali membaca surat-surat dari anak-anak SM-3T. Ketegaran dan kerelaan mereka berjuang, benar-benar meruntuhkan hati saya. Mereka ada di sana, di titik-titik terpencil yang bahkan tak akan mudah dicari dengan google map di mana titik koordinatnya. Bertarung melawan segala macam rintangan dan rasa sakit yang benar-benar sakit. Merelakan diri untuk menjadi pelita-pelita dalam kegelapan yang tak jelas di mana titik terangnya. Dalam kondisi fisiknya yang digerogoti malaria dan berbagai sakit yang lainnya pun, bahkan yang mereka pikirkan adalah, bagaimana sekolah setelah mereka pergi, meninggalkan tempat tugas. Siapa yang akan mengurus murid-murid yang mereka sayangi itu?” Cuplikan isi surat, Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, M.Pd, Direktur SM-3T Universitas Negeri Surabaya (Unesa), tanggal 23 Juli 2014.

 
Pembaca yang budiman, cuplikan isi surat tersebut adalah sebagian dari kisah nyata yang telah dialami oleh para calon guru masa depan. Hampir semua perguruan tinggi yang melaksanakan Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) memiliki kisah yang serupa, termasuk Universitas Negeri Malang (UM).

Ada beberapa kisah nyata yang hendak penulis paparkan berikut ini.

Surat dari Romlah, yang bertugas di SDN Romkisar, Sermata, Maluku Barat Daya, Peserta SM-3T dari Unesa untuk Prof. Luthfiyah: “ Malaria juga menguji kami bertiga. Saya sudah megalami rasanya sembuh-kambuh karena malaria sejak Maret hingga kali ini, bulan Juli 2013….”

Dibalik peristiwa jatuhnya Trigana Air di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua ada kisah yang menarik, saat penjemputan Para Peserta SM-3T UM tanggal 19 Agustus 2015 , ada salah seorang dari mereka yang menceritakan bahwa: “ Janganlah engkau sakit malaria jika tidak ada pesawat terbang yang datang, bila engkau tak ingin pulang nama!”  Sinetron PATRIOT yang ditayangkan di TV Net  mempunyai semboyan/jargon: “Lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan tugas!” Bila kedua semboyan/jargon tersebut diperbandingkan, menurut Anda, jargon  atau peringatan mana yang paling menantang?

Bersambung…

 

Ketika Ajal Telah Menjemput

KETIKA AJAL TELAH MENJEMPUT

Oleh: Djoko Rahardjo

Malam itu, tanggal 10 Agustus 2015 suasana di dalam Gelora Samudra Pangkalan TNI Angkatan Laut Malang (Lanal) terasa hangat meskipun udara di Kota Malang saat itu begitu dingin. Para Calon Guru yang tergabung di dalam Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T), Universitas Negeri Malang Angkatan Ke-5 sedang mengikuti prakondisi.

Sesuai dengan jadwal kegiatan bahwa Para Peserta Program SM-3T UM akan menerima Informasi tentang Kondisi Sosial, Budaya, Infrastruktur, dan Pendidikan di Daerah 3T. Ada dua orang Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) yang hadir untuk memberikan informasi, yaitu Kadisdikpora Kabupaten Aceh Selatan dan Kadisdikpora Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua.

Pemberian informasi dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama disampaikan oleh Kadisdikpora Kabupaten Aceh Selatan, dan sesi kedua oleh Kadisdikpora Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Saat sesi kedua berlangsung, semua peserta dibuat tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak akan tertawa? Kadisdikpora Kabupaten Pegungan Bintang orangnya cukup jenaka. Gerak tubuh dan kata-kata yang disampaikan memancing gelak tawa.

HOSEA

Keterangan foto dari kiri ke kanan: Drs. Suharmanto, M.Pd (Dosen FT UM), Pak Hosea (berbaju putih), Dr. Eddy Sutadji, M.Pd (Sekretaris LP3 UM), Kadisdikpora Kab. Aceh Selatan dan Drs. Hadi Sukamto, M.Pd, M.Si (Dosen FIS UM).

Informasi yang disampaikan oleh Kadisdikpora Kabupaten Pegungan Bintang meliputi antara lain seperti berikut.

  1. Ada beberapa pertanyaan yang muncul dari Peserta SM-3T, antara lain: Bagaimana dengan tempat tinggal mereka?   Bagaimana dengan pembayaran tunjungan mereka? Bagaimana dengan layanan kesihatan mereka? Jawabnya adalah jarak tempat tinggal mereka dengan sekolah antara 30—300 m. Sebelum menerima biaya hidup dari Dikti, Pemkab Pegunungan Bintang akan membantunya. Layanan kesihatan disediakan di puskesmas. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya bahwa Peserta SM-3T dari UM, rata-rata sudah siap fisik dan mentalnya.
  2. Nomor HP Kadisdikpora Kab. Pegunungan Bintang hanya satu sehingga mudah dihubungi. Oleh sebab itu, setiap ada persoalan di lapangan maka Para Guru SM-3T dapat segera menghubungi Kadispora Kab. Pegunungan Bintang.
  3. Letak geografis Kab. Pegunungan Bintang memiliki ketinggian 1500—1800 m di atas permukaan air laut. Suhu udara 0,8—150 C. Batas wilayah: sebelah timur berbatasan dengan Negara Papua Nigini. Sebelah selatan berbatasan dengan Kab. Boven Digul. Sebelah barat berbatasan dengan Kab. Bahukimo. Sebelah Utara berbatasan dengan Kab. Kerom dan Jayapura.
  4. Penduduknya berjumlah ± 105.000 orang. Jumlah distrik/kecamatan = 34 (Peserta SM-3T UM ditempatkan di 11 distrik). Jumlah kampung/desa = 277. Penduduk asli berjumlah 96% dan warga pendatang berjumlah 4%. Agama yang dianut oleh penduduk asli adalah Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Sudah ada tempat ibadah bagi Umat Islam.
  5. Budaya: ada tari-tarian , upacara adat bakar batu, dan lain-lain. Peserta tarian-tarian pria tidak boleh menyentuh peserta wanita, sebelum mendapat izin dari yang bersangkutan.
  6. Sekolah taman kanak-kanak (TK) berjumlah ada 6. Jumlah siswanya = 287 orang. Jumlah gurunya 12 orang. Sekolah dasar (SD) berjumlah 83. Jumlah siswanya = 13.488 orang. Jumlah gurunya = 316 orang. Sekolah menengah pertama (SMP) berjumlah 14. Jumlah siswanya = 1.237 orang. Jumlah gurunya = 114 orang. Sekolah menengah atas (SMA) berjumlah 4. Jumlah siswanya = 513 orang. Jumlah gurunya = 44 orang. Sekolah menengah kejuruan (SMK) berjumlah 1. Jumlah siswanya = 207 orang. Jumlah gurunya = 14 orang.

Informasi tersebut disampaikan dengan serius tetapi santai (sersan) dengan diselingi cerita yang lucu-lucu. Malam semakin larut mata penulis sudah mengantuk, tugas untuk mendampingi beliau diambil alih oleh Pak Poo (PNS LP3 UM). Kebetulan saat itu kegiatan sudah berakhir. Menjelang makan pagi, penulis bermaksud mewancarai beliau tetapi kamarnya sudah kosong. Menurut keterangan Pak Poo, beliau sekitar pukul 24.00 wib. berpamitan untuk pulang. Entah beliau pulang kemana.

Betapa terkejutnya hati ini ketika melihat tayangan di televisi bahwa nama beliau tercantum dalam daftar nama penumpang yang mengalami kecelakaan jatuhnya pesawat terbang Trigana. Nama beliau tercantum pada urutan ke-22, atas nama Hosea Uropdana, S.Sos, M.Si. Selamat jalan Pak Hosea! Semoga Tuhan mengampuni segala dosa-dosa Anda. Terima kasih atas apresiasi Anda terhadap keberhasilan Universitas Negeri Malang dalam mendidik dan melatih Para Peserta SM-3T.

Indonesia adalah Surga Sekaligus Neraka bagi…

INDONESIA ADALAH SURGA SEKALIGUS NERAKA BAGI INVESTOR ASING

Oleh: Djoko Rahardjo

Penulis yakin bahwa pembaca akan bertanya: “Lelucon macam apa ini?” Mungkin sebagian pembaca juga akan mempertanyakan kompetensi penulis. Biasanya pembaca lebih yakin bila penulisnya adalah seorang profesor ekonomi, seorang ekonom, seorang praktisi, seorang doktor ekonomi lulusan Berkeley University of California USA, seorang doktor ekonomi lulusan perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun di luar negeri, dan seterusnya. Penulis sadar akan semua itu. Memang penulis adalah seorang PNS papan bawah. Seorang yang sehari-harinya bekerja di kantor dan juga di kandang domba.

Baiklah kita awali rerasan (pergunjingan) ini dari penyebab terbunuhnya beberapa pemimpin dunia. Lho? Apa korelasi antara keadaan ekonomi suatu negara dengan terbunuhnya pemimpin suatu negara? Tidak apa-apa bila sebagian orang menertawakan tulisan ini. Pembaca yang budiman, tentu masih ingat dengan peristiwa terbunuhnya Jhon F. Kennedy, Mantan Presiden Amerika Serikat dan Muammar Gaddhafi, Perdana Menteri Libya. Apa motif dibalik peristiwa pembunuhan tersebut? Masalah politik? Salah besar! Lho? Lalu apa penyebabnya? Penyebabnya adalah masalah ekonomi. Tidak percaya! Mari kita lanjutkan rerasan ini.

Jhon F. Kennedy merasa kesal dengan otoritas Bank Sentral USA atau dikenal sebagai The Fed. Penyebab kekesalan beliau adalah semua gerak dan kiprahnya dalam bidang ekonomi selalu dibayangi oleh pengaturan moneter yang memusingkan kepala. Sebagai seorang presiden merasa terganggu kredibilitasnya dalam mengatur perekomian USA. Oleb sebab itu, beliau berpendapat bahwa akan lebih baik jika yang mencetak mata uang dolar USA adalah negara. Bukan Bank Sentral USA. Apa yang terjadi kemudian? Beliau ditembak saat menumpangi mobil terbuka. Ada konspirasi di balik terbunuhnya Jhon F. Kennedy. Siapa yang mendalanginya?

Muammar Gaddhafi juga merasakan apa yang dirasakan oleh Jhon. F Kennedy. Apa itu? Kekecewaan Muammar Gaddhafi terhadap nilai tukar mata uang yang begitu mengenaskan. Muammar Ghaddafi mempunyai gagasan mempersatukan ekonomi Benua Afrika untuk mencetak mata uang emas (dinar) sebagai alat pembayaran. Alasannya adalah logam emas memiliki nilai yang relatif stabil, dari zaman ke zaman. Sebagai contoh harga seekor kambing yang disembelih untuk hewan kurban di zaman Rusullah Muhammad saw. adalah satu dinar, dan sekarang pun harga seekor kambing untuk kurban masih sama, yaitu satu dinar.

Berat satu keping mata uang dinar adalah 4,25 gram logam emas dengan kadar 22 karat. Harga emas dengan kadar 22 karat, update 14 Agustus 2015, Buy Back Antam adalah Rp 435. 417.00 (empat ratus tiga puluh lima ribu empat ratus tujuh belas rupiah). Sehingga nilai mata uang satu dinar adalah 4,25 gram x Rp 435. 417.00 = Rp 1.850,525,00 (satu juta delapan ratus lima puluh ribu lima ratus dua puluh lima rupiah). Jika kita berkunjung ke sauatu kota kecil di luar negeri, yang tidak ada jasa penukaran mata uang maka uang emas tersebut dapat dijual dengan harga emas yang berlaku di negara yang bersangkutan.

Seandainya gagasan Muammar Gaddhafi itu terlaksana, siapa yang akan rugi? Jawabnya adalah otoritas Bank Sentral. Mengapa? Pembaca akan bisa menjawabnya sendiri. Lalu…, bagaimana dengan gejolak perekonomian di Indonesia, saat ini? Apa yang menyebabkan nilai tukar rupiah terpuruk terhadap nilai tukar mata uang asing, khisusnya dolar USA? Benarkah inflasi itu selalu identik dengan kerugian? Bagaimana dengan investasi di Indonesia? Mohon maaf, sekali lagi tulisan ini hanyalah rerasan dari seorang rakyat jelata, dan bukan suatu analisis dari pakar ekonomi.

Bersambung…

Mencari Guru yang Sejati

MENCARI GURU YANG SEJATI

Ketika bom atom dijatuhkan di Kota Nagasaki dan Kota Hiroshima: “Blaaar…!” Begitu dahsyat suara dan ledakannya. Ada asap hitam pekat, menyerupai jamur raksasa, berbuntal-buntal, bergulung-gulung menelan dan melumatkan segala apa yang ada di permukaan bumi Kota Nagasaki-Hiroshima. Beberapa hari kemudian…, Kaisar Jepang, Hirohito, bertanya kepada abdinya: “Berapa jumlah guru yang masih hidup?”

Kisah tersebut disarikan dari rekaman audio sambutan Prof. Dr. Haryono, M.Pd, Wakil Rektor I Universitas Negeri Malang (UM)—pada saat Pembekalan Program Kajian Praktik Lapangan (KPL) Mahasiswa UM Semester Genap Tahun 2015/2016—bertempat di Graha Cakrawala UM—hari Senin, 22 Juni 2015—lebih kurang pukul 09.00 wib.

Dalam hati penulis, muncul suatu pertanyaan: “Mengapa yang ditanyakan jumlah guru yang masih hidup?” Lazimnya dalam peperangan terbuka, sorang panglima perang, seorang perdana menteri, seorang presiden atau seorang kaisar, yang ditanyakan: “Berapa jumlah tentara yang terluka? Berapa jumlah tentara yang gugur? Berapa jumlah tentara yang masih hidup?”

Tidak hanya berapa sisa prajurit yang masih setia kepada kaisar tetapi pertanyaan itu dapat dikembangkan menjadi: “Berapa sisa kapal induk dan kapal perang yang lain? Berapa sisa pesawat tempur dan pesawat yang lain? Berapa sisa tank dan kendaraan tempur yang lain?” Bahkan semua aset negara yang masih bisa diselamatkan akan dihitung secara cermat. Memang terasa aneh pertanyaan Kaisar Hirohito ini. Dalam ingatan beliau yang muncul pertama kali adalah sosok seorang g-u-r-u.

Sejenak…, marilah kita renungkan bersama, kira-kira sosok guru yang ada di Indonesia, seperti apa? Guru yang mengajar. Guru yang mendidik. Guru yang mengajar sekaligus mendidik. Guru yang akan menjadi profesional (belum memiliki sertifikat). Guru yang profesional (sudah memiliki sertifikat) dengan gelar S.Pd Gr. Tidak menutup kemungkinan masih ada sebutan-sebutan yang lainnya.

Di era tahun 50-an, seperti yang pernah dialami oleh ayah mertua penulis, bahwa untuk menjadi guru sekolah dasar (SD) cukup bermodalkan ijazah sekolah menengah pertama (SMP), ditambah dengan kursus guru selama kurang lebih enam bulan. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu maka berubalah persyaratan untuk menjadi guru SD. Seorang calon guru SD harus berijazah sekolah pendidikan guru (SPG)—diploma dua pendidikan guru sekolah dasar (D2 PGSD)—sarjana pendidikan guru sekolah dasar (S1 PGSD), dan yang paling akhir, persyaratan untuk menjadi seorang calon guru SD, di samping memiliki ijazah S1 PGSD, yang bersangkutan harus lulus saat mengikuti program pendidikan profesi guru (PPG).

Kira-kira…, setelah para guru berhasil menerima sertifikat pendidik dan mengantongi tunjungan profesi, apakah beliau-beliau sudah merasa nyaman, saat menggunakan sebutan profesi (Gr) dibelakang gelar sarjana pendidikannya?

 

Bersambung…

Mafia Surga (Bagian Ke-2)

MAFIA SURGA
(Bagian Ke-2)

Darah merah Paimo mendidih, ketika mendengar caci-maki bertubi-tubi yang datang dari arah kelompok nasionalis. Entah siapa orangnya. Begitu lantang suaranya. Sampai-sampai semua pemabuk yang tertidur terbangun dari mimpinya.

“Siapa kau?! Apakah tubuhmu sudah kebal dibacok?! Kalau kau jantan…, tunjukkan wajahmu!” Gertak Paimo.
“Apakah kamu sudah lupa dengan suaraku, Mo?”

“Hai orang sinting! Sebelum kau luka berdarah-darah…, sekali lagi tunjukkan mukamu!”

Samar-samar, di antara meja-meja yang penuh dengan botol yang bergelimpangan, muncullah seorang lelaki gemuk pendek. Kira-kira tinggi badannya 150 cm dan diperkirakan berat tubuhnya kurang lebih 90 kg. Kepalanya gundul, berkulit hitam, kumis tebal seperti kumis Raden Gatotkaca.

“Ini wajahku! Ini dadaku!”

“O…, jadi kau, Gendut jelek! Kebetulan sekali! Hari ini…, rahasiamu akan kubongkar di sini!”

“Rahasia apa?” Tanya Gendut.

“Seminggu yang lalu, aku menerima informasi dari temanku di Kota Tua bahwa dirimu adalah salah satu anggota sindikat kejahatan yang berkedok agama!”

“Itu gosip murahan!” Sanggah Gendut.

“Aku punya saksi dan bukti kejahatan yang telah kamu lakukan! Kamu berempat menyewa mobil dan berkeliling ke Kota Tua mencari dana untuk pembangunan masjid. Masjid siapa? Dimana? Kau bohong! Kamu penipu!” Begitu ganas serangan Paimo.

Gendut mulai gusar. Wajah hitam Gendut berubah cokelat tua. Matanya melotot seakan mau meloncat. Udara malam yang semula dingin tiba-tiba berubah menjadi gerah bak bahang api yang membara. Dadanya bergemuruh bagaikan kawah gunung yang akan meletus. Giginya menyeringai seperti srigala lapar yang siap menerkam mangsanya.

“Sabar kawan…, hati boleh panas tetapi masih ada jalan untuk berdamai”, kata Temun.

“Tidak…! Bila kata-kata yang aku lontarkan ini mengandung kebenaran maka bagiku haram untuk mencabutnya!” Begitu sergah Paimo. Sambil menyeka keringatnya yang membasahi tubuhnya, Paimo melanjutkan perkataannya.

“Gendut itu iblis yang berlagak kyai! Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist diselewengkan dan dipakai untuk berbuat maksiat! Beberapa santriwatinya dihamilinya, kemudian dinikahi secara sirri lalu diceraikannya. Tidak hanya itu…, dalam aksinya, dia menggunakan hadist yang menyatakan bahwa barang siapa ikhlas menyumbangkan uangnya untuk pembangunan masjid maka Tuhan akan membangun istana baginya di surga! Kamu sangat pantas dimasukkan ke dalam neraka jahanam!” Begitu sumpah serapah Paimo.

Jiwa Gendut ditelanjangi bagaikan bulu-bulu ayam yang dicabut dari tubuhnya. Kini yang tertinggal hanyalah kemarahan yang memuncak dan akan segera meledak!

Bersambung…

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.