SELAMAT JALAN IBU YUNITA

Siang itu surya berapi sinarnya
Tiba-tiba redup langit kelam
Hati yang bahagia terhentak seketika
Malapetaka seakan menyelinap


Berita menggelegar aku terima
Kekasih berpulang tuk selamanya
Hancur luluh rasa jiwa dan raga
Tak percaya tapi nyata…

Penggalan lirik lagu: BING

Pencipta lagu: Titiek Puspa

Tulisan yang berjudul MELAMPAUI PANGGILAN TUGAS mendapat tanggapan beragam. Melalui Black Barry Massenger , Whatsapp dan lain-lain. Ada beberapa komentar tentang tulisan tersebut, salah satunya seperti berikut.

Download Game Android HD Offline (2)
bubuhansamarinda.comx
reviewsmartphone@gmail.com
192.168.1.101
Dikirim pada 2016/02/15 pukul 20:16KOk bersambung? Yang penting jgn kayak tersanjung.hehehe

Penulis tidak melebih-lebihkan pengabdian para guru yang tergabung dalam Program SM-3T. Apalagi menyanjungnya. Sekali lagi tidak. Fakta yang ada di lapangan bahwa mereka harus siap menanggung segala resiko. Memang resiko yang dihadapi oleh mereka tidak sama dengan tentara maupun polisi. Dalam dunia kemiliteran kita kenal dengan suatu ungkapan:”kill or to be killed”. Meskipun demikian mereka harus siap menghadapi medan yang sangat berat. Ganasnya ombak di lautan—seramnya hutan belantara—kejangkitan penyakit endemik: malaria dan lain-lain, yang bisa mengancam jiwa mereka setiap saat.

Hari Kamis tanggal 25 Februari 2016, pukul 09.25 wib., Alfian, S.Pd, koordinator lapangan SM-3T UM Angkatan Ke-5 yang ditugaskan di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, memberikan informasi melalui SMS seperti berikut.

Yunita Mandhayanti, S.Pd yang ditugaskan di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang mengalami sakit keras berupa peradangan pada lambungnya. Diperkirakan sebelum berangkat ke tempat tugas, yang bersangkutan mengalami gejala penyakit tersebut. Di tempat tugasnya—dia dan kawan-kawanya—setiap hari hanya makan singkong dan ubi. Suhu udara di distrik tersebut sangat dingin. Oleh karena asupan gizi makanan yang buruk dan suhu udara yang sangat ekstrem maka sakitnya semakin menjadi-jadi.

Distrik Kiwirok tempat tugas yang bersangkutan sangat terpencil dan tidak ada fasilitas kesihatan yang memadai. Deby Rahmawati, teman mengajar di distrik tersebut mengevakuasi yang bersangkutan ke Rumah Sakit Sentani dengan menggunakan pesawat terbang. Meski yang bersangkutan sudah mendapat pertolongan medis tetapi hasil belumlah optimal.

Atas permintaan keluarganya, yang bersangkutan dipindahkan ke Rumah Sakit di Jember, Jawa Timur. Menurut informasi dari keluarganya bahwa yang bersangkutan sempat dioperasi dua kali. Operasi tahap pertama berjalan lancar tetapi operasi tahap kedua mengalami kegagalan. Setelah dirawat ± tiga bulan, yang bersangkutan wafat pada hari Kamis Pon, tanggal 18 Februari 2016. Selamat jalan Ibu Guru Yunita semoga pengabdianmu dan amalmu diterima oleh Allah swt dan segala dosa-dosamu diampuni olehNya. Amin!

IN MEMORIAM YUNITA MANDHAYANTI, S.Pd

 

T_YUNITA

 

Nama Peserta : YUNITA MANDHAYANTI, S.Pd
Nama Perguruan Tinggi Asal : Universitas Jember
Nama Prodi : PENDIDIKAN MATEMATIKA
IPK : 3.26
Tempat Lahir : Kabupaten Jember
Tanggal Lahir : 06 Juni 1992
Lokasi Tes dan Prakondisi : Universitas Negeri Malang dan Lanal Malang
Agama : Islam
Alamat : DUSUN TAMBAKREJO RT/RW: 001/005, SUMBER AGUNG, SUMBER BARU, Kab. Jember

 

BAGAIKAN REMBULAN DAN MENTARI

BAGAIKAN REMBULAN DAN MENTARI

 

 

Bagaikan melangkah di awan

Semua hanya angan-angan

Tak mudah meraih bahagia

Bila arah saling berbeda

 

Bagaikan rembulan dan mentari

Tak mungkin seiring sejalan

Simfoni ini sebuah elegi

Dua irama di satu jalanan…

 

Penggalan lirik lagu: Melangkah Di Atas Awan

Penyanyi: Ronnie Siantury

Pencipta Lagu: Dwiki Dharmawan

Penulis Lirik Lagu: Taufiq Ismail

 

Nampaknya…, bait-bait lagu tersebut mirip dengan keadaan Para Peserta Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), Alumni Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T), Universitas Negeri Malang (UM), yang telah mengikuti Yudisium PPG Angkatan Ke-3; Hari Kamis, 18 Februari 2016, waktu: pukul 13.00—16.00 wib., tempat: Aula Utama UM, Gedung A3, Lantai II.

 

Sambutan Rektor UM

Prof. Dr. H. Ach. Rofi’uddin, M.Pd dalam sambutannya mengatakan bahwa Peserta Program PPG, Pasca SM-3T UM Angkatan Ke-3 Tahun 2016 lulus 100%. Rektor merasa bahagia karena kelulusan 100% ini adalah murni dari perjuangan para mahasiswa.

 

Lebih lanjut beliau mengungkapkan latar belakang Program SM-3T yang dilanjukan dengan Peogram PPG ini adalah bentuk koreksi dari keyakinan bahwa misi pendidikan di Indonesia—yang tidak kunjung baik dari waktu ke waktu—berbagai macam upaya regulasi dan aturan—peraturan menteri dan seterusnya sudah banyak diluncurkan—tetapi belum juga menggerakkan mutu pendidikan di Indonesia.

Program ini adalah sebagai pilot project tentu sangat diharapkan untuk betul-betul dimanfaatkan dan terserap di lapangan. Setiap tahun, Peserta Program SM-3T dan Program PPG berjumlah rata-rata 3.000 (tiga ribu) orang. Sampai saat ini sudah ada angkatan ke-3 maka jumlah Alumni PPG Pasca SM-3T adalah ± 9.000 (Sembilan ribu) orang.

 

Data statistik kebutuhan guru di seluruh wilayah Indonesia adalah cukup tinggi. Sementara para guru yang pensiun, mulai dari guru PAUD sampai dengan guru SLTA, setiap tahunnya, kurang lebih 50.000 (lima puluh ribu) orang. Terobosan yang dilakukan oleh Program SM-3T, desain awalnya sudah baik. Program ini berbeda dengan profesi dokter. Kalau dokter mengikuti pendidikan profesi dahulu kemudian mengabdi, bertugas ke lapangan. Sedangkan Program SM-3T mengajar, mengabdi dahulu kemudian mengikuti pendidikan profesi.

 

Desain awal dari kementerian (Kemendikbud/Kemenristekdikti) saat Peserta PPG Pasca SM-3T lulus dan menerima sertifikat sebagai pendidik (guru profesional) maka sekaligus mendapat Surat Keputusan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS Guru) tetapi di tengah perjalanan skenario itu berubah. Kewenangan untuk mengangkat guru berada pada pemerintah daerah, yakni pemerintah kota atau pemerintah kabupaten. Antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dalam menentukan arah kebijakan kadang terasa tak sejalan, bagaikan mentari dan rembulan.

Foto Dokumentasi Peserta Yudisium & Pejabat UM

1. Pendidikan Guru Sekolah Dasar

 

PGSD

 

2. Pendidikan Bahasa Indonesia

 

BHS-IND

3. Pendidikan Bahasa Inggris

IMG_2790

4. Pendidikan Matematika

MATEMATIKA

5. Pendidikan Fisika

FISIKA

6. Pendidikan Biologi

BIOLOGI

7. Pendidikan Ekonomi

EKONOMI

 

8. Pendidikan  Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi

OLAHRAGA

 

9. Pendidikan Geografi

GEOGRAFI

ISLAM NUSANTARA

Seminar Nasional Islam Nusantara: “Meneguhkan Moderatisme dan Mengikis Ekstremisme dalam Kehidupan Bergama” diselenggrakan oleh Pusat Pengembangan Kehidupan Beragama (P2KB), Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3), Universitas Negeri Malang (UM) pada hari Sabtu, 13 Februari 2016; Waktu: pukul 07.30—17.00 wib; Tempat: Aula Utama Gedung A3 UM, lantai II; Narasumber I: Prof. Dr. Haryono, M.Pd, Wakil Rektor I Universitas Negeri Malang (UM); Narasumber II, K.H. Miftahul Achyar ; Narasumber III, K.H. Muhammad Najih Maimoen.

Opening Ceremony
1. Pembukaan
2. Tilawatil Qur’an
3. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
4. Laporan dan Sambutan
5. Penutup.

Laporan Ketua LP3 UM
Dr. H. Sulton, M.Pd dalam laporannya menyampaikan bahwa tema seminar nasional: “Meneguhkan Moderatisme dan Mengikis Ekstremisme dalam Kehidupan Beragama” adalah menarik. Mengapa menarik? Karena popularitas dan nuansa dari tema tersebut telah digulirkan sebagai tema kunci dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-33 di Jombang Jawa Timur pada awal Agustus 2015. Meskipun lahir dari NU, namun telah menjelma menjadi isue nasional yang diperbincangkan secara luas. Istilah Islam Nusantara menjadi polemik, terjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaan seminar nasional dan bathsul masail ini diharapkan ada titik temu dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan beragama di negara kita.

Dalam kesempatan itu beliau melaporkan bahwa kegiatan seminar nasional dan bathsul masail diikituti oleh peserta 333 orang dengan rincian: 1) pendaftar online dan offline = 195 orang, 2) Pengurus NU Wilayah Jawa Timur = 28 orang, 3) Pengurus NU Cabang se-Jatim = 90 orang, dan 4) sepuluh pondok pesantren di Jatim yang terpilih = 20 orang. Adapun jumlah makalah seminar nasional yang disajikan adalah 34 judul.

Sambutan Rektor UM
Prof. Dr. Ach. Rofi’uddin, M.Pd dalam sambutannya mengatakan: Apa yang membentuk radikalisme ini? Terkait dengan pertanyaan tersebut, beberapa saat yang lalu beliau menghadiri pertemuan para rektor dan ketua Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dengan Menteri Bappenas, Sofyan Djalil. Inti paparan dari Menteri Bappenas , ternyata terorisme dan radikalisme adalah produk dari keluarga , dari sekolah dan dari masyarakat.

Mengapa bisa begitu? Bukankah keluarga dan sekolah menginginkan agar anak-anak menjadi orang yang baik? Dalam keluarga anak dibuly, anak selalu ditakut-takuti dan seterusnya, yang ujungnya menumpuk menjadi sebuah masalah bagi anak. Ditambah sekolah juga memberi kontribusi. Di sekolah anak tidak dihargai dan seterusnya. Anak menjadi stres, dan akhirnya melahirkan berbagai bentuk tindak kekerasan.

ISLAM_NUSANTARA

 

Pemaparan Materi oleh Narasumber I

Prof. Dr. Haryono, M.Pd dalam makalahnya yang berjudul “Memahami Islam Nusantara dalam Konteks Keindonesiaan (Sosial-Historis)” mengulas beberapa hal seperti berikut.

Realitas Nusantara
• Realitas geografis yang ada di Nusantara cukup beragam
• Kondisi Flora dan Satwa di Indonesia sangat beragam
• Manusia yang tumbuh dan berkembang di Indonesia cukup beragam
• Agama dan kebudayaan yang berkembang di Indonesia tidak tunggal

Masuknya Islam ke Nusantara
• Waktu: masuk, abad ke 7 atau 13? Sebagai suatu rentang waktu, cukup kompleks.
• Aktor: Orang dari Timur Tengah, Gujarat atau orang Indonesia sendiri?
• Geografis: Wilayah mana yang pertama kali mengenal dan wilayah mana yang lebih intensif?
• Masuknya Islam di Nusantara tidak merata dan terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Cara Pandang
• Islam menyatu dengan kebudayaan Arab —-> Centrum -Peri-peri
• Islam berbeda dengan kebudayaan Arab —-> Subyek -Subyek
• Islam berinteraksi dengan pelbagai budaya lokal?
• Islam terkait dengan kekuasaan politik?
• Islam lebih terkait dengan kebudayaan?
• Terjadi perebutan hegemoni tentang masa lalu yang potensial terjadinya penggunaan dan penyalahgunaan sejarah.
• Sejarah Islam sebagai aktualisasi “historical resentment” dan “historical revenge” atau “integrating factor” dan “common destiny”.

Dampak
• Islam sebagai perusak tatanan yang sudah ada,
• Islam memusuhi kebudayaan yang sudah ada.
• Islam merawat dan merevitalisasi kehidupan di Nusantara.
• Islam sebagai faktor integrasi masyarakat Nusantara.
• Islam sebagai sarana liberasi dan humanisasi.
• Islam menjadi energi rejuvinasi peradaban Nusantara.

Tiga Pandangan Sejarah
• Rentang sejarah Islam menjadi suatu “keterputusan” dengan masa lalu Nusantara (C. Snouck Hurgronje)
• Islam mampu menjaga “kelangsungan dan keberlangsungan” kebudayaan yang beragam di Nusantara (Schrieke)
• Realitas historis dan sosiologis Islam sarat dengan “perubahan” dan “keberlangsungan (Harry J. Benda).

Islam Tumbuh Bersama Budaya
• Islam masuk bersama aktivitas budaya, terutama perdagangan.
• Terjadi interaksi dengan masyarakat dan kebudayaan setempat.
• Islam lebih dipahami sebagai suatu nilai, ajaran yang subtantif.
• Merajut keragaman budaya yang sudah ada dalam bingkai keislaman yang melenturkan aspek etnisitas.
• Lebih menonjolkan aspek kebersamaan dan toleransi.

Merajut Keberagaman
• Pandangan radikal yang memposisikan satu dimensi kehidupan gagal melihat, memahami dan mengatasi keberagaman —> “dendam dan kemarahan”
• Dalam keberagaman muncul kekuatan dan pandangan yang menekankan pada dimensi “substansial” dibanding “formalitas yang bersifat lateral”
• Menonjolnya pemikiran dan komunitas pendukung yang menekankan pada “keseimbangan” (al-tawazun), keadilan (al-ta’adul) dan toleransi (al-tasamuh) —> “ramah dan mendamaikan”
• “Islam Wasathiyyah” kongruen dengan Pancasila dan Keindonesiaan.

Pemaparan Materi oleh Narasumber III
K.H. Muhammad Najih Maimoen dalam makalahnya yang berjudul “Masukan untuk Gagasan Islam Nusantara”, pada bagian penutup makalah, beliau memberikan masukan seperti berikut.

 
Penggunaan istilah Islam Nusantara sebenarnya telah mengurangi bahkan merusak universalitas Islam. Pada dasarnya jika Islam dimaknai dengan hal partikular, maka justru akan mereduksi makna Islam itu sendiri, sehingga istilah dan konsep Islam Nusantara menjadi sangat problematis. Problem akidah misalnya. Jika Islam Nusantara itu berkompromi dengan budaya lokal yang terindikasi syirik maka Islam Nusantara telah melanggar akidah. Karena dalam masalah akidah tidak ada ijtihad. Konsep Islam Nusantara ini merupakan salah satu agenda penyebaran paham Pluralisme.

 
Islam Nusantara sebenarnya gambaran Islam yang tidak perlu dipermasalahkan. Islam tahlilan, yasinan, ziarah kubur, tawassul, muludan dan lain sebagainya, inilah Islam Nusantara. Sebuah tatanan yang sudah baku dan mengakar di tengah-tengah umat. Sebuah syari’at dan ajaran Islam yang dibawa oleh
para Walisongo untuk meng-Islamkan Nusantara. Masalahnya, kalau tiba-tiba istilah tersebut sekarang dimunculkan lagi, diobok-diobok dan digembar-gemborkan oleh beberapa tokoh dan orang-orang yang mempunyai rekam sepak terjang yang menyimpang dari syari’at dan mempunyai raport merah dalam berakidah, ini perlu dicurigai dan diwaspadai. Kalau mereka mengatakan bahwa Islam Nusantara hadir untuk melestarikan dan menjaga budaya dan tradisi nahdliyin, sebagaimana yang dipahami dan dipublikasikan kepada para kiai dan tokoh masyarakat, itu merupakan pengelabuhan dan sebuah kebohongan besar. Namun bukan hanya itu, Islam Nusantara sebenarnya “wajah baru” dari proyek Liberalisasi Islam di Indonesia.

 
Jika yang mengawal Islam Nusantara adalah para ulama pesantren yang istiqamah mengajar kitab salaf, membela, memperjuangkan ajaran dan membentengi akidahnya, maka kita dapat husnudhan. Konsep Islam Nusantara ala ulama salaf dapat mempertahankan estafet ajaran Islam yang benar dan lurus serta dakwah Islam yang tegas namun tetap santun dan merakyat sesuai warisan ulama-ulama Nusantara pendahulu. Namun untuk konteks zaman sekarang, pejuang-pejuang syari’at seperti di atas sudah jarang alias langka, karena para kiai sudah banyak yang sepuh sementara generasi mudanya semakin luntur ghirah islamiyahnya. Akan tetapi, jika Islam Nusantara ini diusung dan didakwahkan oleh tokoh-tokoh nyleneh yang sering menggembar-gemborkan ide Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme seperti yang terjadi sekarang ini, maka hal ini akan menjadi pintu gerbang potensial untuk merusak tatanan aqidah dan syari’at Islam di negara Indonesia tercinta ini. Wallahu A’lam.

Melampaui Panggilan Tugas (Bagian Ke-2)

MELAMPAUI PANGGILAN TUGAS

(Bagian Ke-2)

Pembaca yang budiman sebelum kisah dua ibu guru yang mendadak menjadi bidan kita lanjutkan, ada baiknya kita mengingat kembali kisah nyata yang terjadi di Desa Kisaran, Asahan, Medan, Minggu dini hari, 10 Januari 2016 yang menimpa Ibu Farida Hanum (ditayangkan Metro TV tanggal 11 Januari 2016). Sunguh tragis nasib bayi Ibu Farida Hanum yang proses persalinannya dibantu oleh Bidan DS. Apa yang terjadi? Sungguh memilukan! Ibu Hanum melahirkan kepala bayi tanpa badan. Tubuh dan anggota badan bayi tertinggal di dalam rahim ibundanya.

Metro TV memberitakan bahwa terjadi malpraktik yang dilakukan oleh Bidan DS. Entah mengapa malpraktik itu bisa terjadi. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa kemungkinan bayi sudah meninggal saat di dalam perut ibundanya. Juga ada yang berpendapat bahwa sang bidan bukan lulusan diploma kebidanan. Bermacam-macam dugaan dari masyarakat, antara lain bahhwa sang bidan adalah perawat kesihatan bukan bidan, bahwa yang bersangkutan tidak memiliki izin praktik sebagai bidan, dan lain-lain. Terlepas dari semua itu, yang jelas sudah ada korban bayi yang meninggal dunia.

Kembali pada kisah dua ibu guru SM3T, yang sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pasien. Kira-kira apa yang ada di benak mereka? Ada pertarungan sengit antara batasan tugas sebagai guru dengan tugas kemanusiaan. Keduanya berbekal suatu keyakinan bahwa Tuhan akan membimbingnya dan setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Berbekal ilmu yang tak begitu mendalam tentang fisiologi reproduksi wanita dan endokrinologi maka keduanya berusaha keras untuk menyelamatkan ibu dan anak.

Entah secara kebetulan, ibu guru olahraga mengambil posisi di samping dada pasien, sedangkan ibu guru biologi mengambil posisi di bawah telapak kaki pasien. Tidak lama kumudian ibu guru olahraga memberi aba-aba kepada pasien seperti berikut.

“Ibu…, nafasnya diatur mengikuti aba-aba saya…, nafas ditarik…, nafas dilepas, tarik…, lepas…, tarik…, lepas…, tarik…, lepas.

“Oek! Oek! Oek…!” Suara tangis bayi memecahkan keheningan belantara kehidupan. Telah lahir anak manusia dengan selamat. Ibu dan anak mendapat kurunia keselamatan dari Tuhan, Sang Pencipta alam semesta (ilustrasi penulis).

Kisah nyata tentang bidan-guru yang bertugas di Daerah 3T disampaikan oleh Dr. Totok Bintoro, M.Pd, Tim Pengembang Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, yang bertindak sebagai narasumber ke-2 pada acara “Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Tahun 2015”  yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Pendidikan Profesi Guru (P4G), Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang (UM) pada hari Rabu, 25 November 2015, tempat Graha Cakrawala UM, waktu pukul 09.00—13.00 wib.

Informasi yang disampaikan oleh Dr. Totok Bintoro, M.Pd tentang bidan-guru sangat menarik perhatian Peserta Semnas PPG 2015. Khususnya bagi Dra. Hj. Latifah Shohib, Anggota DPR RI Komisi X, FPKB Tahun 2014-2019, yang membidangi pendidikan. Sebagai narasumber ke-3 berkesempatan mengusulkan kepada Dr. Totok Bintoro, M.Pd, selaku  anggota tim pengembang, agar Guru Program SM-3T, sebelum ditugaskan di daerah 3T, terlebih dahulu dibekali pengetahuan praktis/singkat tentang pertolongan pertama pada proses persalinan.

Pembaca yang budiman, secara umum setiap orang yang mengenyam pendidikan minimal tamat SD bisa membelajarkan siswa SD tentang perkalian bahwa 2 x 3 = 6, lebih-lebih perwira TNI atau dokter yang bertugas di daerah perbatasan, pasti bisa. Meskipun mereka belum tentu tahu (secara teoritis), apa yang dimaksud  dengan pembelajaran bermakna seperti ilmu yang telah dimiliki oleh sarjana pendidikan matematika bahwa perkalian itu adalah penjumlahan yang berulang, contoh 2 x 3 = 6 berasal dari penjumlahan yang berulang: 2 + 2 +2 = 6.

Di daerah terpencil—dokter atau TNI yang merangkap tugas sebagai guru SD—mungkin  suatu ketika tanpa disengaja–dalam menyampaikan materi pembelajaran terdapat kekeliruan maka di kemudian hari dapat dibetulkan. Tetapi bagaimana dengan guru SM3T yang merangkap tugas sebagai bidan, bila keliru dalam menangani proses persalinan, apa yang akan terjadi? Sungguh mulia para guru SM3T yang dengan hati-hati dan ikhlas membantu persalinan. Semoga mereka kelak setelah selesai bertugas dan lulus mengikuti pendidikan profesi guru (PPG) segera diangkat menjadi CPNS.

 Selesai

Melampaui Panggilan Tugas

 

MELAMPAUI PANGGILAN TUGAS

(Bagian Ke-1)

Banyak nasihat yang kita dengar bahwa sesuatu yang melampaui batas itu tidaklah baik. Menurut pendapat penulis, tidak semua yang melampaui batas itu bernilai negatif, ternyata ada yang bernilai positif. Beberapa hari ini, masyarakat kita telah dikejutkan oleh ulah seorang anggota DPR RI (oknum yang terkait dengan isue tambang emas Freeport), yang dianggap melakukan sesuatu di luar kewenangan atau melampaui panggilan tugas.

Kali ini penulis tidak akan membicarakan sesuatu yang telah terjadi di Gedung DPR RI tetapi mencoba mengapresiasi informasi yang berhubungan dengan para guru yang telah melampaui panggilan tugasnya sebagai seorang guru.

Sebelum membicarakan para guru yang bertugas di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Sejenak kita mencari tahu tugas dan kegiatan para tentara kita dan beberapa tenaga kesihatan di daerah perbatasan Negara Republik Indonesia dengan negara tetangga.

Sebagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), telah melaksanakan tugas di daerah perbatasan selama beberapa bulan. Sebagai prajurit yang profesional tentu sudah dibekali dengan segala sesuatu yang terkait dengan pengamanan teritorial. Secara rutin atau berkala, mereka melaksanakan patroli di sepanjang garis perbatasan dengan wilayah negara tetangga. Ternyata anggota TNI tidak hanya melaksanakan patroli keamanan saja tetapi juga menggantikan tugas guru dalam proses pembelajaran bagi para siswa, khususnya siswa sekolah dasar.

Begitu juga dengan hal yang dialami oleh sebagian dokter muda—yang mendapat tugas di daerah terpencil—juga merasakan hal yang sama, seperti yang dialami oleh sebagian prajurit TNI, yakni merangkap tugas menjadi seorang guru. Namun bagi mereka, merangkap tugas menjadi seorang guru adalah hal yang wajar. Mengingat mereka pernah menjadi siswa atau mahasiswa tetapi bagaimana dengan dua orang guru yang tergabung dalam Program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T), yaitu guru bidang studi pendidikan olahraga dan guru bidang studi pendidikan biologi—secara tiba-tiba mereka berdua mendapat tugas membantu persalinan seorang wanita warga desa.

Betapa kagetnya mereka berdua. Betapa tidak! Mereka berdua masih gadis. Tentu mereka berdua belum pernah hamil. Apalagi mereka belum pernah melihat proses persalinan. Tugas membantu proses persalinan bagi mereka bukanlah hal yang mudah. Terdorong oleh rasa tanggungjawab yang telah dipercayakan kepada mereka maka berangkatlah ke rumah pasien yang hendak melahirkan. Apa yang terjadi kemudian?

Bersambung…

porno porno izle rokettube mature sex izle