JADWAL KRS ONLINE MAHASISWA UM SEMESTER GENAP 2014/2015

Berikut jadwal KRS online sebagai tindak lanjut Pengumuman Karo AKPIK UM, Nomor: 5136/UN32.16/KM/2014, tanggal 12 November 2014.
HARI, TANGGAL TAHAP KEGIATAN
Senin, 1 Desember s.d. Jumat, 19 Desember 2014 PEMBAYARAN BIAYA PENDIDIKAN/SPP/UKT 1 Mahasiswa membayar Biaya Pendidikan/SPP/UKT di BNI, BRI, BTN, Bank Mandiri secara online.
2 Jika tidak bisa login, gunakan fasilitas lupa kata sandi di laman https://akun.um.ac.id/email/ atau hubungi pusat bantuan melalui

e-mail: aplikasi.helpdesk@um.ac.id

laman: https://support.um.ac.id/eticket/

3 Cek status bayar dan registrasi Anda di siakad.um.ac.id
4 Khusus mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi, Beasiswa PPGT dan KKT langsung cek status registrasi di siakad.um.ac.id dan jika status belum registrasi, hubungi Sub Bagian PNBP UM di Ged A2 Lt. 1 No Telp 0341-551312 pswt 119
Rabu, 24 Desember 2014 (18.00 WIB) s.d. Senin, 29 Desember 2014 (13.00 WIB) ANTREAN PENDAFTARAN MATAKULIAH DENGAN MENGISI KARTU RENCANA STUDI (KRS) ONLINE 1 Mahasiswa melakukan pendaftaran matakuliah (KRS) secara online.
2 Pada tahap ini, semua mahasiswa dalam tahap antre. Pada tahap ini, ada kemungkinan matakuliah yang diantrekan belum tentu berhasil diperoleh.
3 KRS yang dicetak sebelum Senin, 29 Desember 2014 pukul 17.00 WIB bersifat sementarabukan KRS definitif.
Senin, 29 Desember 2014 (13.00 s.d. 17.00 WIB) PEMROSESAN ANTREAN PENDAFTARAN MATAKULIAH (KRS) Tim IT UM memproses antrean pendaftaran matakuliah
Senin, 29 Desember 2014 (18.00 WIB) s.d. Kamis, 1 Januari 2015 (15.00 WIB) PENCETAKAN KRS & MODIFIKASI KRS 1 Mahasiswa mencetak KRS hasil antrean.
2 Jika matakuliah yang diantrekan pada tahap antrean TIDAK MUNCUL, mahasiswa WAJIB MEMODIFIKASI KRS.
3 Mahasiswa melakukan modifikasi secara kompetitif (sesuai dengan jatah sks dan ketersediaan offering matakuliah).
4 Mahasiswa tidak bermasalah menandatangankan KRS ke dosen Penasihat Akademik (PA) pada minggu pertama atau minggu kedua perkuliahan.
5 KRS yang ditandatangani dosen PA diarsipkan oleh mahasiswa.
6 Mahasiswa bermasalah (IP < 2,00 atau semester sebelumnya tidak aktif) harus menemui dosen PA untuk mengaktifkan cetak KRS secara online.
Jumat, 2 Januari s.d. Minggu, 4 Januari 2015 CETAK DAFTAR HADIR KULIAH (DHK) Subbagian Akademik Fakultas mencetak DHK
Senin, 5 Januari 2015 (07.00 WIB) AWAL PERKULIAHAN 1 Subbagian Akademik Fakultas mendistribusikan DHK di Gedung Perkuliahan.
2 Mahasiswa memulai kuliah.

TINDAK BAHASA

Dalam komunikasi, penggunaan bahasa sangat ditentukan oleh faktor-faktor penentu komunikasi (antara lain: latar tutur, partisipan tutur, tujuan tutur, media tutur). Perhatikan dua contoh berikut ini.
(1)   “Kelas ini bersih sekali” sebagai kalimat berita yang dituturkan oleh wali kelas kepada piket kelas dan kondisi kelas memang bersih dari kotoran, maka (a) makna proposisi tuturan itu adalah ‘kelas yang bebas dari kotoran’, (b) fungsi tuturan adalah memuji kerja anggota piket, dan (c) tujuan tuturan adalah agar anggota kelas mempetahankan kebersihan itu.
(2)   “Kelas ini bersih sekali” sama-sama sebagai kalimat berita yang dituturkan oleh wali kelas kepada piket kelas, padahal kondisi kelas kotor, maka (a) makna proposisi tuturan adalah ‘kelas ini kotor sekali’ (kebalikan dari makna harfiahnya), (b) fungsi tuturan itu menyindir karena tuturan dan kondisi riilnya berkebalikan, dan (c) tujuan tuturan agar piket segera membersihkan kelas itu.
Pada contoh tersebut, bentuk/modus tuturan sama, tetapi makna proposisi, fungsi komunikasi, dan tujuan tuturan adalah berbeda.
Sebaliknya, bentuk dan makna proposisi tuturan berbeda bisa memiliki fungsi dan tujuan yang sama. Berikut dua dialog lisan via telepon yang dilakukan oleh SUP dengan DW (Dialog I) dan ROF dengan DW (Dialog II).
Dialog I
SUP: “Dik, saya kirim draf  Peraturan Rektor. Kalau ada waktu, dibantu mencermati.
DW : “Iya, Pak, saya kerjakan”.
 
Dialog II
ROF: “Mas, proposal kita akan dibahas dengan tim hukum Jumat ini. Proposal kita belum belum tuntas. Mendesak begini, piye Mas?
DW : “Ok. Saya kerjakan”.
Pada Dialog I, tuturan “Kalau ada waktu, dibantu mencermati.” merupakan bentuk/modus tuturan berita dengan kalimat pilihan terbuka (kondisional); dan pada Dialog II, tuturan Mendesak begini, piye Mas? merupakan bentuk/modus tuturan pertanyaan. Walaupun bentuk dan makna proposisi tuturan itu berbeda, tetapi fungsi dan tujuannya adalah sama, yakni fungsi instruktif (perintah) dan mitra tutur harus melaksanakan perintah itu. Oleh karena itu, jawaban mitra tutur sama: Iya/Ok, saya kerjakan. Sangat tidak layak, misalnya, DW menjawab “Tidak ada waktu Pak”; dan “Ya nggak tahu, terserah Bapak saja” pada kedua dialog tersebut. Pemahaman makna proposisi, fungsi komunikasi, dan tujuan tuturan seperti itu didasarkan pada pemahaman faktor penentu komunikasi yang menyertai tuturan, yakni faktor kedudukan penutur, yakni atasan (Rektor (SUP), Wakil Rektor (ROF), bawahan (Dekan(DW), teman;  topik tutur, yakni tugas kedinasan; dan situasi tutur, yakni situasi informal.
Pada dasarnya, bertutur berarti melakukan tindakan. Dalam performansi tuturan, terdapat tiga tindak tutur: (1) tindak lokusi, yakni bertutur itu berarti menyampaikan makna proposisi tuturan; (2) tindak ilokusi, yakni bertutur itu memperformansikan fungsi bahasa tertentu; dan (3) tindak perlokusi, yakni bertutur itu mempengaruhi penanggap tutur untuk melakukan sesuatu.
Saya bersyukur memiliki bawahan yang memahami betul tindak bahasa tersebut. Berikut beberapa dialog riil sebagai contoh.
(1)   Ketika saya mengatakan “Mas Faul, di ruang sidang AC-nya nyala, tapi udara terasa agak panas,” dengan cepat Mas Faul menjawab “Baik Pak, saya ceknya”.
(2)   Ketika saya bertanya “Bu Lely, apakah data IP mahasiswa di bawa 2 sudah ada?”, dengan tangkas Bu Lely menjawab “Segera saya siapkan/kirimkan ke Bapak.”
(3)   Ketika saya berkata ke Mas Doni, “Mas Doni, saya akan ke Balaikota. Kunci sedan Altis ada di Mas Doni atau Mas Faul?” Mas Doni menjawab, “Ya, Pak. Saya minta Mas Agung ambil Altis dari garasi.”
(4)   Ketika malam hari saya SMS Mas Akidah , “Mas Akidah, Selasa depan saya dapat tugas dinas ke Jakarta,” Mas Akidah menjawab, “Tiket segera saya pesankan Pak. Senin, inysa-Allah saya serahkan ke Bapak.”
Bentuk tuturan apa pun dari saya sebagai dekan tentang urusan kedinasan, mereka menjawab dua kemungkinan saja, yakni (a) “iya, siap, baik, saya kerjakan,” yang bermakna bisa dilaksanakan; (b) “saya coba dulu”, “saya usahakan dulu” yang bermakna masih ragu-ragu, tidak ada, atau sulit dilaksanakan. Tidak ada dalam kamus mereka “tidak siap, tidak tahu, tidak bisa, tidak mau”. Mereka pasti berusaha dulu. Kalau sudah berusaha ternyata tidak bisa atau tidak ada, barulah mereka melaporkan kepada saya, dan biasanya dengan berbagai alternatif solusinya.
Teman-teman saya di Pusat TIK memiliki karakteristik yang relatif sama. Akan tetapi, dengan gradasi jawaban yang lebih banyak.
(1)   Kalau Mas JF menjawab, “Ya, Pak. Siap. Bisa”, maknanya adalah bisa dan cepat.
(2)   Kalau Mas Rijal menjawab, “Ya, Pak. Saya cobanya”, maknanya adalah bisa, tetapi perlu waktu lebih lama.
(3)   Kalau Mas Iwan menjawab, “Ya, Pak. Logikanya bisa,” maknanya adalah bisa, perlu waktu yang lebih lama lagi.
(4)   Kalau Mas Fahmi menjawab, “Ya, Pak. Saya kerjakan dulu Pak. Saya belum pernah mengalami ini Pak. Teorinya pun belum pernah saya baca,” maknanya adalah kemungkinan berhasil dan kemungkinan tidak berhasil.
Teman-teman di Pusat di TIK tidak pernah menjawab di awal dengan ungkapan “tidak siap, tidak tahu, tidak bisa, tidak mau”.
Ada tiga jenis komunikasi kedinasan dalam urusan dinas dan kelembagaan, yakni konsultatif (bawahan ke atasan), koordinatif (sesama pejabat atau staf), dan instruktif (atasan-bawahan). Draf Peraturan Rektor yang saya buat atas permintaan lisan atau SMS Pak Suparno adalah usulan (misalnya, draf itu dibahas, dipakai, diperhatikan, diabaikan atau dibuang oleh Rektor, saya tidak boleh protes). Sesama kasubbag saling koordinasi dalam mengerjakan tugas-tugas yang diamanahkan oleh Kabagnya. Dekan mengajukan pertanyaan kepada staf di mana kunci ruang sidang, pertanyaan itu berarti perintah mengambil kunci ruang sidang, membukanya, membersihkannya, dan menyiapkan alat-alatnya. Sangat naif kalau dijawab dengan kalimat “Tidak tahu Pak” apalagi ditambah dengan kalimat “Kunci bukan urusan saya”.
 
Malang, 18 November 2014
Dawud
Fakultas Sastra UM

LANGKAH KECIL

That’s one small step for a man, one giant leap for mankind (‘Langkah kecil bagi seorang manusia, lompatan besar bagi umat manusia.’) Itulah ucapan Neil Amstrong, 21 Juli 1969 saat menginjakkan kakinya di bulan. (Ungkapan itu saya kutip terlepas dari kontroversi benar-tidaknya peristiwa pendaratan di bulan).
Sebagai seorang yang dilepas dalam acara perpisahan secara rileks dan mengalir, saya ikuti saja apa mau pengatur acara. Sambil makan malam dan melihat kerlap-kerlip lampu kota Batu dari ketinggian bukit, Jumat malam, 7 November 2014 lalu, Bu Lely—Kasubbag Akademik FS—memandu acara. Giliran pertama Kabag TU FS—Pak Parman—memulai dengan ungkapan dan wacana khasnya. Tentu diawali dengan alunan lagu wajib kebangsaannya Caping Gunung. Ya, beliau memang anak nggunung, rumahnya di puncak Gunung Lawu, petilasan Mantili dalam cerita Brama Kumbara. Acara terus mengalir: Pak Yazid dengan Widuri-nya, Pak Harmanto dengan konsisten tidak pernah mau menyanyi, siapa pun yang meminta atau memaksa; Pak Ainin dengan lagu Jatuh Bangun—yang tentu saja jadi sasaran empuk gojlogan semua teman atas pilihan lagu itu: cocok dengan suasana hatinya. Perwakilan dari teman-teman tenaga kependidikan mengalir bercerita. Inilah sebagian dari cerita mereka.
Saat akan dimutasi ke FS dari SMP Lab UM, Bu Luk Luk sangat takut karena dapat cerita bahwa dia akan menghadapi Pak Dawud yang kêrêng. FS adalah unit kerja kering penghasilannya. “Kenyataannya? Cerita itu jauh panggang dari api. Saya happy. Saya selalu keep smile. Setelah perpisahan ini, saya berharap semua pimpinan juga tetap keep smile,” ungkapnya.  Saat mengomentari ungkapan Bu Luk Luk, pengatur acara, Bu Lely menyitir sebuah ayat Quran, menerjemahkannya dengan terbata-bata, dan air matanya mengalir membasahi pipinya … (Saya hanya bisa menduga, Bu Lely mengalami cerita dan hal yang sama ….)
Mbak Nia—Karniati nama lengkapnya, pindahan dari tenaga harian KPRI UM yang diangkat sebagai PNS di FS UM—bercerita bahwa saat awal menghadap Pak Dawud, dia ditanya, “Tempat tinggal di mana, Mbak?” “Kontrak Pak,” jawabnya. Pak Dawud mengatakan, “Upayakan punya rumah sendiri, sekecil apa pun, sejelek apa pun.” Dia mengakhiri cerita dengan ungkapan syukur, “Alhamdulillah, saat ini saya sudah punya rumah. Peran Pak Parman dan KPRI sangat besar. Dorongan Pak Dawud memberi semangat dan kekuatan besar untuk (berani) melangkah. Lebih-lebih, sebulan yang lalu, Pak Dawud dan Ibu sambang ke rumah saya.”
Bu Hesti bercerita bahwa saat menikah di awal jadi PNS FS dapat kado istimewa dari Pak Imam Suyitno, Pak Dawud, Pak Rofik, dan Pak Syahri, yakni UANG LENGKAP: 100-ribuan, 50-ribuan, 20-ribuan, 10-ribuan, 5-ribuan, 1-ribuan, 100-rupiahan, 50-rupiahan, 10-rupiahan, 5-rupiahan, dan 1-rupiahan. Ketika Pak Dawud jadi Dekan, katanya, dia dinasihati untuk mandiri, lepas dari perumahan mertua indah. Banyak pertimbangan yang diberikan, di antaranya, “Mandirilah dalam berumah tangga. Hati-hati terhadap pihak ketiga dalam satu rumah. Pihak ketiga itu bisa orang tua, mertua, saudara kandung, atau saudara ipar. Ingat, saudara berjauhan-tempat berbau bunga, saudara berdekatan-tempat kebanyakan berbau bangkai.” Sambil berlinang air mata, Bu Hesti mengatakan untunglah dia ikuti nasihat itu, sehingga dia terhindar dari substansi sebuah lagu “sakitnya aku di sini, di hati ini” sambil mengepalkan tangan kanan dan ditempelkan di dada kiri menirukan gaya para biduan (Padahal, setiap ada acara santai, dia saya olok-olok, masa penyanyi Gereja tidak berani tampil menyanyi di hadapan teman-teman sendiri … ha ha ha).
Mas Doni menceritakan empat kenangan pokok dengan Pak Dawud. Pertama, awal kerja dengan Pak Dawud diminta membenahi jaringan listrik di E6. Tersebar cerita bahwa di E6 dihuni oleh hantu karena lampunya bisa nyala sendiri dan atau mati sendiri. Pak Dawud mengarahkan agar semua kabel listrik diurai. Tentu sulit karena kabel listrik di E6 saat itu berwarna sama: MERAH. Jadi, tidak bisa dibedakan kabel mana yang R, S, T, nol, dan ground. Dia heran, Pak Dawud yang bukan dari orang listrik tahu perlistrikan. Atas arahan Pak Dawud, dari semula tegangan 220 V “bendengan” diubah menjadi 200 V murni. Alhamdulillah, lampu normal. Pasokan listrik ke semua alat lab bahasa normal. Ternyata, lampu nyala dan mati sendiri bukan karena hantu, tapi karena 220 V bendengan (dua kabel masing-masing beraliran 110 V masuk ke lampu atau alat listrik berbeban 220 V). Kedua, dia  mendapatkan kepercayaan penuh untuk mengelola, memperbaiki, dan memelihara BMN di FS. Pak Dawud selalu menekankan, lakukan sebisanya, kalau tidak bisa dan menghadapi kesulitan lapor. Kalau tidak ada laporan tentang kesulitan, Pak Dawud anggap beres, running well. Bagian Pak Dekan adalah mengatasi kesulitan dan menyelesaikan masalah. Ketiga, tentang harus memiliki rumah sendiri, sama dengan cerita Mbak Nia dan Bu Hesti. Keempat, tidak terbayang sama sekali Doni jadi PNS dan tidak bayar serupiah pun. Lebih tidak terbayang lagi, Doni bisa sarjana dan sudah penyesuaian kepangkatan dengan ijazah. Pak Dawud mendorong dan memfasilitasi saya kuliah: senyampang masih muda, senyampang anaknya masih kecil, kata Beliau. Doni yakin semua teman yang didorong dan difasilitasi untuk kuliah oleh Pak Dawud merasakan hal yang sama dengan yang Doni rasakan, pungkas Mas Doni.
Mas Faul juga banyak mengungkapkan kenangannya secara runtut dan sistematis. Pertama, kalau ada kerusakan alat elektronik, perbaiki saja. Kalau bisa, untung, bisa dipakai lagi. Kalau tidak bisa diperbaiki sendiri, ya tetap untung, yakni untung pengalaman. Setelah itu, coba dibawa ke tukang. Kalau tidak bisa, ya sudah dihapusbukukan. Toh, memang sudah rusak. Kedua, semua alat FS adalah milik negara. Pakailah untuk kepentingan negara semaksimal mungkin, kalau perlu 24 jam per hari, 7 hari per minggu. Bisa digunakan untuk kedinasan UM, unit mana saja, fasilitasi. Lebih baik alat rusak karena dipakai secara wajar, daripada alat rusak tidak pernah dipakai sama sekali. Ketiga, tentang harus memiliki rumah sendiri, sama dengan pengalaman teman lainnya. Keempat, saat saya—Faul—kena musibah tertipu orang, Beliau menasihati dengan tegas untuk memilih: Anda larut pada masa lalu dan kesedihannya atau Anda berdiri tegak hari ini sebagai pijakan untuk menatap dan melangkah ke depan. Masa lalu tak akan pernah kembali walau kau sesali dan kau tangisi seperti apa pun. Tidak ada mesin lorong waktu. Masa depan akan Anda lalui dan hasilnya masih bisa Anda raih! Masa depan masih dapat Anda isi. Itulah pilihan hidup yang harus Anda pilih. Kelima, ketepatan waktu dalam rapat dan janjian. Kelima, keteladanan dalam datang ke kampus dan pulang kampus: Pak Dawud  paling awal datang dan pulang setelah jam berakhir. Keenam, kejelasan dalam memberi tugas: jelas tugasnya, jelas prosedurnya.

(Usai menceritakan itu, Mas Faul saya tantang untuk menyanyi, ternyata maju dan menyanyi dengan merdu. Saya kecele. Mas Doni malah berkomentar, seumur-umur baru dengar Mas Faul menyanyi, ya, sekarang ini. Belum pernah terdengar Mas Faul menyanyi, sekalipun hanya dengan rengeng-rengeng …)

Kamis pekan lalu, pada saat jam dinas, Mbak Rini datang, duduk di kursi di samping saya di ruang Tatausaha. Dia memang tidak sempat mendapat giliran bicara saat perpisahan. Sambil terharu menyampaikan terima kasih atas dorongan dan fasilitas kuliah yang saya berikan. “Salam dari suami,” katanya. Meski ijazah belum jadi, dia melapor bahwa kuliahnya sudah selesai. Saya jawab dengan gurauan, laporan formalnya disertai ijazah berikan ke dekan baru nanti saja. Dia menjawab dengan logika sahabat saya dari Madura: dekan baru nanti kan dekan pengganti Bapak …. (Ha ha ha …) “Salam kembali untuk suami dan anak-anak,” jawab saya.
Mendengar cerita mereka, saya terpana dan terperangah. Saya tidak menduga begitu besar artinya ucapan sederhana saya tentang perlunya rumah tangga mandiri. Saya hanya meneruskan nasihat Ibu saya (allahummaghfirlaha). “Nak, kalau kontrak rumah, cari yang biasa saja, kalau perlu cukup kontrak kamar. Kalau kepingin besar dan bagus, punya sendiri. Beli saja rumah apa adanya semampunya, asal bisa untuk berteduh. Uang untuk kontrak bisa digunakan untuk memperbaiki secara bertahap.” Itulah nasihat Ibu saya dari desa. Itulah yang saya tularkan kepada mereka. Saya berempati kepada mereka atas pengalaman saya: tahun 1985 saya kontrak 1 kamar di dekat masjid Sumbersari gang V dengan isteri saya (allahummaghfirlaha). Tahun 2007 saya sekolahkan ijazah saya ke Bank Niaga. Saya sekolahkan bersama ijazah Pak Rofi’uddin. Malah, sebelum ijazahnya disekolahkan, Pak Rofi’uddin harus mengambilnya dulu di BNI karena beliau ambil Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI) saat kuliah, baru dilunasi setelah bekerja, dan akan disekolahkan (lagi). Uangnya saya gunakan untuk uang muka beli rumah (demikian juga Pak Rofi’uddin).
Bapak saya menasihati, “Nak, saya hanya bisa membekali kamu ilmu dengan menyekolahkan semampu ayah-ibumu. Jangan berharap warisan harta dari orang tuamu. Mandirilah dengan ilmumu. Jangan andalkan orang lain, termasuk tentang nenek moyangmu. Sekalipun kau keturunan trah Paku Alam Ngayogyakarta, trah Raden Adipati Jayaningrat, jangan kau pakai gelar kebangsawanan itu. Cukup sampai saya saja. Abot sanggane (‘berat bebannya’).
Bu Khoiriyah (saat ini Kabag Kepegawaian UM), pada tahun 2001, saat roda kehidupannya di bawah dan sangat sulit, saya nasihati untuk segera menempati rumahnya di Tegalgondo sekalipun temboknya dari batako belum dipelur/dikuliti. Mas Akidah, saat akan beli mobil, padahal belum punya rumah, saya sarankan untuk membeli rumah dulu daripada beli mobil. Mas Wawan (Eko Wahyu Setiawan—saat ini Kasubbag Akademik dan Mawa FIS) saya sarankan jual mobil Xenianya untuk membeli rumah dari pada ikut numpang di rumah mertua. Syukurlah, mereka ikuti saran saya. Syukurlah, saat ini, di samping punya rumah, Mas Akidah dan Mas Wawan sudah punya mobil (lagi).

Sahabat-sahabat saya (di antaranya Mas Sugianto, Mas Doni, Mbak Rini, Mas Nanang, Bu Hesti, Gus Dirman, Mbak Ajeng, Mbak Nia, Mas Faul, Mas Tatok, Mas Tomy) ada yang saya nasihati untuk segera “mandiri” dalam berumah tangga; ada yang saya dorong untuk kuliah (bagi yang mau, mampu, dan belum sarjana); dan ada yang saya nasihati keduanya. Nasihat itu saya sampaikan saat acara rileks: di warung kopi, saat bercengkerama di kantor, di mobil saat pulang acara takziyah atau hadiri mantenan keluarga teman. Saya senang sudah mengunjungi sebagian besar dari rumah mereka. Syukurlah, mereka berhasil dengan usaha keras mereka. Nasihat saya hanyalah variabel kecil saja. Saya berterima kasih kepada mereka karena mereka telah mengajari saya: dorongan kecil dari seorang sahabat, daya besar untuk berikhtiar menuju takdir Allah yang lebih baik bagi banyak sahabat.

 
Malang, 17 November 2014
Dawud
FS UM

MALAM TERAKHIR

Malam ini …

Malam teraakhir bagi kita …

Untuk mencurahkan … rasa rindu di dada ….

Syair dan lagu Malam Terakhir karya Rhoma Irama merupakan salah satu syair dan lagu favorit saya. Saat ulang tahun Fakultas Teknik (FT) yang lalu, saya nyanyikan lagu itu di hadapan sivitas akademika FT—dan Dekan FT, Pak Waras, ikut berjoget. Saat yudisium semester pendek yang lalu, saya dendangkan lagu itu di hadapan peserta yudisium FS UM. Saat acara bazar dan jalan sehat dalam rangka Lustrum XII UM di lapangan Jln. Surabaya, saya sumbangkan lagu itu untuk sivitas akademika UM. Saat perpisahan dengan teman-teman tenaga kependidikan FS UM dengan Dekan dan Wakil Dekan FS UM malam Sabtu pekan lalu, saya persembahkan lagu itu untuk mereka.

Dalam semua peristiwa itu, saya sampaikan bahwa panggung ini adalah panggung terakhir saya sebagai Dekan. Di hadapan teman-teman sivitas akademika FS UM, saya sampaikan kebahagiaan saya mengakhiri jabatan Dekan dengan meletakkan sistem yang sudah bisa berjalan sendiri. Bahkan, sudah 2 tahun ini, saya relatif sudah “diberhentikan” oleh teman-teman sebagai Dekan FS. Saya hanya menyampaikan kebijakan di awal tahun, di tengah tahun saya memonitornya, dan di akhir tahun, saya menyampaikan laporan. Semuanya sudah berjalan sendiri (maaf, bukan berjalan sendiri-sendiri). Bagi saya, tiga orang wakil dekan saya adalah orang-orang luar biasa. Kajur, sekjur, dan kaprodi FS adalah orang-orang hebat. Kabag dan Kasubbag yang membantu saya adalah orang-orang brilian. Dosen dan tenaga kependidikan FS UM adalah insan-insan yang mulia.

Hari minggu yang lalu saya masuk kantor ditemani Pak Dirman. Saya minta dia bantu saya mengemasi barang-barang pribadi saya di kantor dekan. Alhamdulillah, bisa selesai dan sudah saya angkut ke rumah. Senin pagi, saya minta Mas Faul untuk mengerahkan anak buahnya membersihkan kantor dekan dari “sawang” dan debu. Alhamdulillah, bersih dan bau wangi. Siap ditempati dekan baru natinya. Kamis, 13 November 2014 sudah saya pasangi tulisan di pintu rang dekan: LAYANAN ADMINISTRASI DILAKSANAKAN DI RUANG TATAUSAHA. Itu hanya penegasan karena sejak bulan puasa yang lalu saya (dan para wakil dekan) lebih sering ngantor di ruang Tatausaha bersama Kabag dan Kasubbag dan seluruh tenaga kependidikan FS UM. Saya kerja di tengah-tengah mereka. Saya makan siang bersama mereka. Makan siang ini adalah iuran bagi yang mau—sekali makan 5 ribu rupiah, jadi sebulan saya bayar 100 ribu rupiah.

Saya sebut bahwa 2 tahun terakhir ini saya sudah “diberhentikan” sebagai Dekan FS oleh teman-teman karena saya diberi “kesempatan penuh” untuk menjadi “dekan” baru di Pusat TIK sejak 15 April 2012 lalu. Saya bersyukur, di Pusat TIK, saya bertemu dengan anak-anak muda dari tenaga kependidikan yang luar biasa: Mas Rijal, Mas Pur, Mas Denky, Mas Umar, Mas Fahmi, Mas Iwan, Mas Rizky, Pak Tris, Mbak Rini, Mbak Fitri, Mbak Ifa, Mbak Fatikha dan dosen muda brilian: Mas JF (Jauharul Fuady). Di tangan merekalah TIK UM yang semula “zero”  menjadi “hero”. Sistem informasi terpadu UM saat ini memudahkan kerja dan meningkatkan kinerja UM. Sistem informasi terpadu UM saat ini menjadi rujukan banyak perguruan tinggi di seantero Indonesia. Selamat dan sukses anak-anakku. Terima kasih anak-anakku.

Saya pikir dan saya berharap sejak kemarin, Kamis 13 November 2014 saya sudah bisa tidur siang di kasur di rumah karena selama 14 tahun ini (selama 6 tahun sebagai wakil dekan II dan 8 tahun sebagai dekan) saya tidur siang saat jam istirahat sekitar 20 menit di kursi di ruang sidang, di kantor kabag TU, di depan kasubbag mawa, atau di kursi mana saja di kantor. Saya sudah merancang kembali ke kegiatan dan hobi saya menulis buku, khususnya menulis buku pelajaran sekolah. Sudah ditagih terus-menerus oleh penerbit besar di Jakarta dan Bandung. Selama ini, saya jawab menunggu kepastian kurikulum yang digunakan. Ternyata benar juga, kurikulum 2013 akan ditinjau kembali. Untung saya belum menulis buku pelajaran berdasarkan kurikulum itu. Sekalipun terma pejabat adalah DITINJAU kembali, biasanya dan keanyataannya diubah atau diganti. Dari sisi pribadi saya, entahlah, instuisi menulis saya apakah masih seperti dulu ketika menulis buku yang telah diterbitkan oleh Penerbit Erlangga Jakarta.

Sampai dengan hari ini, harapan saya untuk bisa tidur siang di rumah belum terwujud. Walau SK saya sebagai Dekan berakhir 12 November 2014, saya belum dapat kepastian pemberhentiannya. Meski begitu, saat ini, saya dan  seluruh pejabat di FS UM saya minta tetap melayani pemangku kepentingan seperti biasa dan sepenuh hati. Juga, pagi ini, pukul 10.00 saya dapat undangan dari Dekan FMIPA untuk menghadiri Peresmian Pusat Kewirausahaan FMIPA UM. Kemarin dulu saya bertanya via telepon ke Pak Kusmain, Kabag TU FMIPA, “Apakah saya diundang sebagai mantan dekan?” Beliau tertawa saja. Saya pun ikut tertawa. Nggak tahulah, status saya hari ini, sebagai dekan atau mantan dekan (?)

Penggalan larik syair dan lagu Malam Terakhir berikut, mungkin tepat untuk menjawab pertanyaan itu ….

Esok aku …

Akan pergi lama kembali …

Kuharapkan … agar engkau sabar menanti ….

 

Malang, 14 November 2014

Dawud

FS UM

KETIKA ANAK MENJADI MUSUH BAGI ORANGTUANYA

KETIKA ANAK MENJADI MUSUH BAGI ORANG TUANYA

Oleh Djoko Rahardjo*)

Pernakah Anda membayangkan ketika dua kereta api dengan kecepatan tinggi, penuh dengan muatan bertabrakan. Bila kecepatan dari kedua kereta api adalah 200 km/jam, dan bila kedua kereta api itu sama-sama bermuatan 500 ton maka apa yang akan terjadi? Bagi seorang fisikawan tentulah dapat menghitung berapa besar energi yang dihasilkan oleh keduanya. Bagi orang awam hanya bisa melihat dan mendengar suara tabrakan. Sungguh dahsyat!

Dalam menapaki hidup ini terkadang antara seorang ayah dan seorang anak mengalami perbedaan pendapat yang sangat besar bagaikan tabrakan dari kedua kereta api tersebut. Lalu apa yang akan dilakukan oleh seorang ayah terhadap anak kandungnya? Memarahinya? Membencinya? Melaknatnya? Mengusirnya? Jawabannya mungkin “ya”. Mungkin “tidak”.

Marilah kita merenung sejenak, dan menerawang jauh ke belakang. Adakah sesuatu yang keliru dalam mendidik anak kita? Bila kita menanam benih padi akan tumbuh padi. Tidak mungkin menanam benih padi akan tumbuh jagung. Kalau hal itu sampai terjadi maka adakah kesalahan pada habitatnya? Semua itu mungkin saja terjadi. Tergantung dari faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Namun yang memberikan kontribusi yang terbesar bagi tumbuhkembangya suatu generasi adalah gen-gen yang membentuknya, yaitu orang tuanya.

Terhadap kasus yang serupa dengan kejadian di atas, apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah? Bila kita beragama Islam maka solusinya adalah dengan membaca, memahami, melaksanakan perintah Allah swt. seperti yang terkandung dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surah ke-64, Attaqobun ayat 14—15 seperti berikut:

AYAT BERWARNA

14. Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu [1479] maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

[1479] Maksudnya: kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau Ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.

*) Staf Subbag Umum LP3 UM

 

 

 

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.