MENCARI GURU YANG SEJATI

MENCARI GURU YANG SEJATI

Ketika bom atom dijatuhkan di Kota Nagasaki dan Kota Hiroshima: “Blaaar…!” Begitu dahsyat suara dan ledakannya. Ada asap hitam pekat, menyerupai jamur raksasa, berbuntal-buntal, bergulung-gulung menelan dan melumatkan segala apa yang ada di permukaan bumi Kota Nagasaki-Hiroshima. Beberapa hari kemudian…, Kaisar Jepang, Hirohito, bertanya kepada abdinya: “Berapa jumlah guru yang masih hidup?”

Kisah tersebut disarikan dari rekaman audio sambutan Prof. Dr. Haryono, M.Pd, Wakil Rektor I Universitas Negeri Malang (UM)—pada saat Pembekalan Program Kajian Praktik Lapangan (KPL) Mahasiswa UM Semester Genap Tahun 2015/2016—bertempat di Graha Cakrawala UM—hari Senin, 22 Juni 2015—lebih kurang pukul 09.00 wib.

Dalam hati penulis, muncul suatu pertanyaan: “Mengapa yang ditanyakan jumlah guru yang masih hidup?” Lazimnya dalam peperangan terbuka, sorang panglima perang, seorang perdana menteri, seorang presiden atau seorang kaisar, yang ditanyakan: “Berapa jumlah tentara yang terluka? Berapa jumlah tentara yang gugur? Berapa jumlah tentara yang masih hidup?”

Tidak hanya berapa sisa prajurit yang masih setia kepada kaisar tetapi pertanyaan itu dapat dikembangkan menjadi: “Berapa sisa kapal induk dan kapal perang yang lain? Berapa sisa pesawat tempur dan pesawat yang lain? Berapa sisa tank dan kendaraan tempur yang lain?” Bahkan semua aset negara yang masih bisa diselamatkan akan dihitung secara cermat. Memang terasa aneh pertanyaan Kaisar Hirohito ini. Dalam ingatan beliau yang muncul pertama kali adalah sosok seorang g-u-r-u.

Sejenak…, marilah kita renungkan bersama, kira-kira sosok guru yang ada di Indonesia, seperti apa? Guru yang mengajar. Guru yang mendidik. Guru yang mengajar sekaligus mendidik. Guru yang akan menjadi profesional (belum memiliki sertifikat). Guru yang profesional (sudah memiliki sertifikat) dengan gelar S.Pd Gr. Tidak menutup kemungkinan masih ada sebutan-sebutan yang lainnya.

Di era tahun 50-an, seperti yang pernah dialami oleh ayah mertua penulis, bahwa untuk menjadi guru sekolah dasar (SD) cukup bermodalkan ijazah sekolah menengah pertama (SMP), ditambah dengan kursus guru selama kurang lebih enam bulan. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu maka berubalah persyaratan untuk menjadi guru SD. Seorang calon guru SD harus berijazah sekolah pendidikan guru (SPG)—diploma dua pendidikan guru sekolah dasar (D2 PGSD)—sarjana pendidikan guru sekolah dasar (S1 PGSD), dan yang paling akhir, persyaratan untuk menjadi seorang calon guru SD, di samping memiliki ijazah S1 PGSD, yang bersangkutan harus lulus saat mengikuti program pendidikan profesi guru (PPG).

Kira-kira…, setelah para guru berhasil menerima sertifikat pendidik dan mengantongi tunjungan profesi, apakah beliau-beliau sudah merasa nyaman, saat menggunakan sebutan profesi (Gr) dibelakang gelar sarjana pendidikannya?

 

Bersambung…

Mafia Surga (Bagian Ke-2)

MAFIA SURGA
(Bagian Ke-2)

Darah merah Paimo mendidih, ketika mendengar caci-maki bertubi-tubi yang datang dari arah kelompok nasionalis. Entah siapa orangnya. Begitu lantang suaranya. Sampai-sampai semua pemabuk yang tertidur terbangun dari mimpinya.

“Siapa kau?! Apakah tubuhmu sudah kebal dibacok?! Kalau kau jantan…, tunjukkan wajahmu!” Gertak Paimo.
“Apakah kamu sudah lupa dengan suaraku, Mo?”

“Hai orang sinting! Sebelum kau luka berdarah-darah…, sekali lagi tunjukkan mukamu!”

Samar-samar, di antara meja-meja yang penuh dengan botol yang bergelimpangan, muncullah seorang lelaki gemuk pendek. Kira-kira tinggi badannya 150 cm dan diperkirakan berat tubuhnya kurang lebih 90 kg. Kepalanya gundul, berkulit hitam, kumis tebal seperti kumis Raden Gatotkaca.

“Ini wajahku! Ini dadaku!”

“O…, jadi kau, Gendut jelek! Kebetulan sekali! Hari ini…, rahasiamu akan kubongkar di sini!”

“Rahasia apa?” Tanya Gendut.

“Seminggu yang lalu, aku menerima informasi dari temanku di Kota Tua bahwa dirimu adalah salah satu anggota sindikat kejahatan yang berkedok agama!”

“Itu gosip murahan!” Sanggah Gendut.

“Aku punya saksi dan bukti kejahatan yang telah kamu lakukan! Kamu berempat menyewa mobil dan berkeliling ke Kota Tua mencari dana untuk pembangunan masjid. Masjid siapa? Dimana? Kau bohong! Kamu penipu!” Begitu ganas serangan Paimo.

Gendut mulai gusar. Wajah hitam Gendut berubah cokelat tua. Matanya melotot seakan mau meloncat. Udara malam yang semula dingin tiba-tiba berubah menjadi gerah bak bahang api yang membara. Dadanya bergemuruh bagaikan kawah gunung yang akan meletus. Giginya menyeringai seperti srigala lapar yang siap menerkam mangsanya.

“Sabar kawan…, hati boleh panas tetapi masih ada jalan untuk berdamai”, kata Temun.

“Tidak…! Bila kata-kata yang aku lontarkan ini mengandung kebenaran maka bagiku haram untuk mencabutnya!” Begitu sergah Paimo. Sambil menyeka keringatnya yang membasahi tubuhnya, Paimo melanjutkan perkataannya.

“Gendut itu iblis yang berlagak kyai! Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist diselewengkan dan dipakai untuk berbuat maksiat! Beberapa santriwatinya dihamilinya, kemudian dinikahi secara sirri lalu diceraikannya. Tidak hanya itu…, dalam aksinya, dia menggunakan hadist yang menyatakan bahwa barang siapa ikhlas menyumbangkan uangnya untuk pembangunan masjid maka Tuhan akan membangun istana baginya di surga! Kamu sangat pantas dimasukkan ke dalam neraka jahanam!” Begitu sumpah serapah Paimo.

Jiwa Gendut ditelanjangi bagaikan bulu-bulu ayam yang dicabut dari tubuhnya. Kini yang tertinggal hanyalah kemarahan yang memuncak dan akan segera meledak!

Bersambung…

Mafia Surga

MAFIA SURGA

Jamane jaman edan, yen ora melu edan ora keduman (jamannya jaman gila, kalau tidak ikut-ikutan gila tidak akan kebagian) , begitu ungkapan bahasa Jawa tempo doloe. Masak sih? Emangnya udah separah itukah republik kita? Tetapi yang lebih aneh lagi adalah judul tulisan ini. Hem…, ada-ada saja judul tulisan ini, surga kok ada mafianya. Biasanya telinga kita itu lebih akrab dengan mafia peradilan, mafia perdagangan, mafia perijinan, mafia tanah dan sebagainya. Ini kok aneh sekali. Mungkin para pembaca mengira penulis sudah kehabisan ide. Enggak la yauw…, ikuti saja jalan ceritanya.

Bulan Besar pada penanggalan Orang Jawa biasanya lebih dikenal dengan bulan berkat. Eiiit…, pelan-pelan kalau membaca. Kalau terlalu cepat membacanya…, bisa keliru dengan berkah. Bisa jadi…, asal kata berkat itu dari kata berkah tetapi yang dimaksud di sini adalah makanan yang dibawa pulang oleh orang yang telah selesai berkenduri/selamatan. Apalagi kalau bukan dari acara selamatan akad nikah. Biasanya setelah kegiatan itu dilanjutkan dengan resepsi pernikahan.

Di suatu tempat pada suatu masa. Ada beberapa kelompok jama’ah yang sedang menghadiri resepsi pernikahan seorang warga desa. Ada kelompok jama’ah Yasinan dan Tahlilan. Ada jama’ah asrop—jama’ah drink—jama’ah kubam (mabuk). Ada jama’ah pejudo tetapi yang dibanting bukan orang melainkan kartu remi/kartu lintrik alias tukang judi. Ada jama’ah Sawunggaling alias tukang adu ayam. Wah… yang paling seru adalah jama’ah nasional! Mungkin para pembaca ada yang angkat topi pertanda menghormat. Nasionalisme? Hehehe…, keliru. Nasional adalah istilah yang diberikan oleh para pemabuk dan para penjudi bagi seseorang yang sealiran dengan mereka tetapi masih mempunyai nilai plusnya. Emangnya pemabuk dan penjudi masih mempunyai nilai plus? Nah…, istilah nasional ini oleh mereka diperuntukkan bagi seseorang yang rajin melaksanakan Tahlilan dan Yasinan tetapi masih rajin juga mabuk dan bermain judi.

Pesta pernikahan kali ini, tuan rumah menyiapkan beberapa meja dan kursi yang diatur sedemikian rupa. Deretan pertama, paling depan untuk warga/kelompok tamu biasa. Deretan kedua, sebelah tengah agak ke belakang untuk jama’ah drink. Deretan ketiga, paling belakang untuk jamaah Sawunggaling dan pejudo kartu. Lho? Masih ada yang belum mempunyai tempat! Siapa? Kaum nasionalis! Di mana tempatnya? O…, yang itu? Hehehe…, kira-kira dimana, ya? Ingin tahu? Para Nasionalis ditempatkan di pojok paling belakang di sudut kanan-kiri, duduknya membelakangi para undangan.

“Mo…, ini satu sloki untukmu! Biasa untuk pemanasan dulu”, begitu ujar Gareng.

“Oke Bro”, jawab Paimo.

Malam semakin larut…, sausana pesta semakin gaduh. Kata-kata yang keluar dari mulut para pemabuk semakin tak terkendali. Vulgar! Jorok! Provokatif!

“Mo…, kamu kemarin apa sudah menyerahkan uang titipan kakakmu Bilung kepada Pak Gasing?” Tanya Temun.

“Sudah!”

“Saat ini Bilung berdinas dimana?” Tanya Temun.

Sambil mengusap air liur yang mulai membanjiri bibirnya yang motasek (monyong tapi seksi), Paimo menjawab: “Jines nok Sumantra!” Maklumlah bila dia mulai mabuk maka warna vokalnya berubah menjadi tidak jelas. Mestinya dinas menjadi jines. Sumatra menjadi Sumantra.

“Saya tahu, kemarin Paimo menyerahkan uang ke Pak Gasing sejumlah Rp 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah). Katanya sumbangan untuk kenduri malam Jum’at Legi dalam rangka kirim do’a bagi al marhum Pak Togog, Bapaknya!” Begitu celoteh Gareng.

“Paimo kurupsiii…!” Teriak Temun.

Seketika itu…, perhatian para jama’ah judo—jama’ah Sawunggaling dan kaum Nasionalis tertuju kepada Paimo.

“Saya tahu…, Bilung menyerahkan uang kepada Paimo untuk keperluan kirim do’a bagi arwah ayah mereka sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah)”, kata Paimun.

Salah satu dari kaum nasionalis berkata: “Aku heran…., kok ada panitia do’a bersama. Murah lagi iurannya. Besar iurannya antara seribu sampai sepuluh ribu rupiah. Jika dibandingkan dengan tiket pertandingan sepakbola Arema—kelas VVP untuk big match—harganya Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). Bagaimana mungkin tiket masuk surga hanya seratus ribu rupiah. Itu saja masih dikorupsi sembilan puluh ribu rupiah sehingga menjadi sepuluh ribu rupiah!”

Masih dari tempat duduk kaum nasionalis ada yang berkata: “Seingat saya—setiap ada warga Muslim yang meninggal dunia—Pak Modin selalu memberikan pesan dan nasihat bagi umat. Bahwa semua orang yang sudah meninggal dunia maka semua amalannya akan terputus. Kecuali ada tiga perkara yang menyertai jenazah di dalam kuburnya: Pertama, putra-putri yang sholeh/solihah dan berdoa untuk jenazah orangtuanya. Kedua, amal jariyah yang telah diberikan pada semasa hidup oleh yang bersangkutan (jenazah). Ketiga, mengamalkan ilmu yang baik dan bermanfaat bagi umat—yang telah dilakukan oleh yang bersangkutan pada semasa hidupnya”.

“Mana mungkin Paimo bisa dimasukkan ke dalam kategori anak yang sholeh! Tidak pernah melaksanakan perintah agama. Semua larangan agama dilanggarnya. Tidak mau bekerja. Pekerjaannya hanya berjudi, mabuk, menipu, mencuri dan berzina!” Kata Cakil.

Telinga Paimo berubah memerah! Matanya nanar! Mulutnya menganga! Giginya gemertak! Badannya gemetar!

Bersambung…

Webomatrics Universitas Negeri Malang April 2015

Universitas Negeri Malang dalam kancah Webomatrics berada di peringkat 15 untuk wilayah Indonesia, setelah sebelumnya di peringkat 28 yang terlihat dari openess rank. Data ini diambil tanggal 16-04-2015 pukul 02.45 Waktu Server Universitas Negeri Malang.

Apa manfaat dari Webomatrics? Webomatrics adalah cermin untuk refleksi sejauh mana pencapaian Universitas Negeri Malang dalam penyediaan sumber terbuka dari sisi konten akademik dan pendidikan di dunia siber, rujukan tentang hal ini ada di http://www.webometrics.info/en/Methodology.

Untuk melihat peringkat Webomatrics Universitas Negeri Malang berserta 15 Universitas lainnya, silahkan klik link http://www.webometrics.info/en/Asia/Indonesia. Sebagai bahan awal berikut ini ditampilkan sorotan ranking di situs Webomatrics sie Wilayah Indonesia.

 

 

Webomatrics Universitas Negeri Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ferril Irham Muzaki

Content Writer berkarya.um.ac.id

Universitas Negeri Malang

Belladonna (Bagian Ke-2)

BELLADONNA

(Bagian Ke-2)

Masa yang paling indah di dalam hidupku adalah saat di SMA. Mungkin tidak hanya diriku saja yang merasakannya. Bisa jadi hampir semua orang juga pernah merasakannya, termasuk yang sekarang sudah menjadi bapak/ibu/kakek/nenek. O ya…, kira-kira adik-adik mahasiswa apa juga merasakan hal seperti itu? Bagaimana? Tidak! Jangan bohong…, nanti kualat.

Masa-masa di SMA adalah masa dimana seseorang mulai membangun mimpi-mimpinya, tentang pendidikannya…, tentang karirnya dan…tentang cita rasa. Maaf keliru…bukan cita rasa tetapi tentang c-i-n-t-a. Bila hari ini…, adik-adik mahasiswa belum menemukan tambatan hati maka bersabarlah. Sesungguhnya cinta itu bukanlah ciptaan manusia tetapi cinta itu adalah anugerah Tuhan kepada umatNya.

Kembali ke laptop! Waduh… keliru lagi. Maklum sudah mulai pikun. Kembali pada kisah seorang teman. Temanku ini nyaris sempurna. Ganteng. Cerdas. Sabar. Taat ibadahnya. Baik akhlaknya. Santun dalam berbicara. Menghormati semua orang, lebih-lebih kepada kaum wanita. Bila berbicara dengan teman wanita di kelasku, dia hanya menatap wajahnya sebentar, lalu menunduk.

Biasanya seorang siswa yang menguasai satu bidang tertentu belum tentu mengusai bidang yang lain. Hal itu tidak berlaku bagi temanku ini. Di bidang olahraga dia adalah seorang atlit yang serba bisa dan memiliki prestasi terbaik di sekolahku. Dia adalah siswa yang terpilih menjadi pemain Persema Yunior. Jago main bolla voli dan main catur. Dia adalah pecatur yang tak pernah terkalahkan di sekolahku. Apa dia bisa memasak dan menjahit? Kira-kira menurut Anda bagaimana? Tidak bisa? Hem…, ternyata Anda keliru.

Seperti pada umumnya, setiap anak SMA ketika berangkat dan pulang sekolah membawa kendaraan sepeda motor. Kebetulan dua orang adik kelasku ada yang membawa mobil ke sekolah. Maklum mereka anak orang kaya. Bagaimana dengan temanku yang satu ini?

Sabar…, cerita ini saya sudahi sampai di sini dulu. Maklum…, besok hari Jumat, Sabtu dan Minggu adalah hari libur. Sisa pekerjaan di kantor akan saya selesaikan dulu. Hari Senin tanggal 6 April 2015, insyaallah cerita ini akan saya sambung lagi. O ya…, ngomong-ngomong adik-adik mahasiswa apa ada acara? Kalau tidak acara bisa ikut kami. Mau tahu kemana? Berkemah? Berkemah ke gunung atau ke pantai? Tidak! Lho? Lalu kemana? Ke kandang domba milikku, hehehe….

Bersambung…

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.