Peran Orang Tua terhadap Anak

Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat.
Sedangkan pengertian orang tua di atas, tidak terlepas dari pengertian keluarga, karena orang tua merupakan bagian keluarga besar yang sebagian besar telah tergantikan oleh keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
Menurut Arifin (dalam Suhendi, Wahyu, 2000:41) keluarga diartikan sebagai suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang dihubungkan dengan pertalian darah, perkawinan atau adopsi (hukum) yang memiliki tempat tinggal bersama.
Selanjutnya, Abu Ahmadi (dalam Suhendi, Wahyu, 2000: 44 -52), mengenai fungsi keluarga adalah sebagai suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan di dalam atau diluar keluarga. Adapun fungsi keluarga terdiri dari:
a. Fungsi Sosialisasi Anak.
Fungsi sosialisasi menunjuk pada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Melalui fungsi ini, keluarga berusaha mempersiapkan bekal selengkap-lengkapnya kepada anak dengan memperkenalkan pola tingkah laku, sikap keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan yang diharapkan akan dijalankan oleh mereka. Dengan demikian, sosialisasi berarti melakukan proses pembelajaran terhadap seorang anak.
b.Fungsi Afeksi
Salah satu kebutuhan dasar manusia ialah kebutuhan kasih sayang atau rasa cinta. Pandangan psikiatrik mengatakan bahwa penyebab utama gangguan emosional, perilaku dan bahkan kesehatan fisik adalah ketiadaan cinta, yakni tidak adanya kehangatan dan hubungan kasih syang dalam suatu lingkungan yang intim. Banyak fakta menunjukan bahwa kebutuhan persahabatan dan keintiman sangat penting bagi anak. Data-data menunjukan bahwa kenakalan anak serius adalah salah satu ciri khas dari anak yang tidak mendapatkan perhatian atau merasakan kasih sayang.

c. Fungsi Edukatif
Keluarga merupakan guru pertama dalam mendidik anak. Hal itu dapat dilihat dari pertumbuhan sorang anak mulai dari bayi, belajar jalan, hingga mampu berjalan.
d. Fungsi Religius
Dalam masyarakat Indonesia dewasa ini fungsi di keluarga semakin berkembang, diantaranya fungsi keagamaan yang mendorong dikembangkannya keluarga dan seluruh anggotanya menjadi insan-insan agama yang penuh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Model pendidikan agama dalam keluarga dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
1) Cara hidup yang sungguh-sungguh dengan menampilkan penghayatan dan perilaku keagamaan dalam keluarga.
2) Menampilkan aspek fisik berupa sarana ibadah dalam keluarga.
3) Aspek sosial berupa hubungan sosial antara anggota keluarga dan lembaga-lembaga keagamaan. Pendidikan agama dalam keluarga, tidak saja bisa dijalankan dalam keluarga, menawarkan pendidikan agama, seperti pesantren, tempat pengajian, majelis taklim, dan sebagainya.
e. Fungsi Protektif
Keluarga merupakan tempat yang nyaman bagi para anggotanya. Fungsi ini bertujuan agar para anggota keluarga dapat terhindar dari hal-hal yang negatif. Dalam setiap masyarakat, keluarga memberikan perlindungan fisik, ekonomis, dan psikologis bagi seluruh anggotanya.
f. Fungsi Rekreatif
Fungsi ini bertujuan untuk memberikan suasana yang sangat gembira dalam lingkungan. Fungsi rekreatif dijalankan untuk mencari hiburan. Dewasa ini, tempat hiburan banyak berkembang diluar rumah karena berbagai fasilitas dan aktivitas rekreasi berkembang dengan pesatnya. Media TV termasuk dalam keluarga sebagai sarana hiburan bagi anggota keluarga.
g. Fungsi Ekonomis
Pada masa lalu keluarga di Amerika berusaha memproduksi beberapa unit kebutuhan rumah tangga dan menjualnya sendiri. Keperluan rumah tangga itu, seperti seni membuat kursi, makanan, dan pakaian dikerjakan sendiri oleh ayah, ibu, anak dan sanak saudara yang lain untuk menjalankan fungsi ekonominya sehingga mereka mampu mempertahankan hidupnya.
h. Fungsi Penemuan Status
Dalam sebuah keluarga, seseorang menerima serangkaian status berdasarkan umur, urutan kelahiran, dan sebagainya. Status/kedudukan ialah suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok atau posisi kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lainnya. Status tidak bisa dipisahkan dari peran. Peran adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai status.
Pola Bimbingan Orang Tua Pada Anak
Selain bimbingan disekolah, bimbingan dirumah sangat penting, karena anak lebih banyak menghabiskan waktunya dilingkungan keluarga. Untuk itu keluarga dituntut untuk dapat menerapkan pendidikan keimanan guna sebagai pegangan anak di masa depan.
Menurut Shochib (2000 : 25-28), menyebutkan ada delapan yang perlu dilakukan orang tua dalam membimbing anaknya; pertama, perilaku yang patut dicontoh. Artinya, setiap perilakunya tidak sekedar bersifat mekanik, tetapi harus didasarkan pada kesadaran bahwa perilakunya akan dijadikan lahan peniruan dan identifikasi bagi anak-anaknya. Oleh karena itu pengaktualisasiannya harus senantiasa dirujukan pada ketaatan pada nilai-nilai moral.
Kedua, kesadaran diri ini juga harus ditularkan pada anak-anaknya dengan mendorong mereka agar mampu melakukan observasi diri melalui komunikasi dialogis, baik secara verbal maupun nonverbal tentang prilaku yang taat moral. Karena dengan komunikasi yang dialogis akan menjembatani kesenjangan dan tujuan diantara dirinya dan anak-anaknya.
Ketiga, komunikasi dialogis yang terjadi antara orang tua dan anak-anaknya, terutama yang berhubungan dengan upaya membantu mereka untuk memecahkan permasalan, berkenaan dengan nilai-nilai moral. Dengan perkataan lain orang tua telah mampu melakukan kontrol terhadap perilaku-perilaku anak-anaknya agar tetap memiliki dan meningkatkan nilai-nilai moral sebagai dasar berperilaku.
Keempat, upaya selanjutnya untuk menyuburkan ketaatan anak-anak terhadap nilai-nilai moral data diaktualisasikan dalam menata lingkungan fisik yang disebut momen fisik. Hal ini data mendukung terciptanya iklim yang mengundang anak berdialog terhadap nilai-nilai moral yang dikemasnya. Misalnya adanya hiasan dinding, mushola, lemari atau rak-rak buku yang berisi buku agama yang mencerminkan nafas agama; ruangan yang bersih, teratur, dan barang-barang yang tertata rapi mencerminkan nafas keteraturan dan kebersihan; pengaturan tempat belajar dan suasana yang sunyi mencerminkan nafas kenyamanan dan ketenangan anak dalam melakukan belajar, pemilihan tempat tinggal dapat berisonansi untuk mengaktifkan, menggumulkan, dan menggulatkan anak-anak dengan nilai-nilai moral.
Kelima, penataan lingkungan fisik yang melibatkan anak-anak dan berangkat dari dunianya akan menjadikan anak semakin kokoh dalam kepemilikan terhadap nilai-nilai moral dan semakin terundang untuk meningkatkannya. Hal tersebut akan terjadi jika orang tua dapat mengupayakan anak-anak untuk semakin dekat, akrab, dan intim dengan nilai-nilai moral.
Keenam, penataan lingkungan sosial dapat menghadirkan situasi kebersamaan antara anak-anak dengan orang tua. Situasi kebersamaan merupakan sarat utama bagi terciptanya penghayatan dan pertemuan makna antara orang tua dan anak-anak. Pertemuan makna ini merupakan kulminasi dari penataan lingkungan sosial yang berindikasikan penataan lingkungan pendidikan.
Ketujuh, penataan lingkungan pendidikan akan semakin bermakna bagi anak jika mampu menghadirkan iklim yang menggelitik dan mendorong kejiwaannya untuk mempelajari nilai-nilai moral.
Kedelapan, penataan suasana psikologis semakin kokoh jika nilai-nilai moral secara transparan dijabarkan dan diterjemahkan menjadi tatanan sosial dan budaya dalam kehidupan keluarga. Inilah yang dinamakan penataan sosiobudaya dalam keluarga.
Dari kedelapan pola pembinaan terhadap anak di atas sangat diperlukan sebagai panduan dalam membuat perubahan dan pertumbuhan anak, memelihara harga diri anak, dan dalam menjaga hubungan erat antara orang tua dengan anak.
Ditulis Oleh : Arif, disadur oleh SuliADI RS

Tak Ada Nasi Koranpun Jadi

TAK ADA NASI KORAN PUN JADI

Oleh:

Ayyu Subhi; Nuril W; Iin Yuliati; Handi M

Koran adalah sarana pemuas kebutuhan informasi masyarakat yang haus akan berita. Dewasa ini, perkembangan teknologi memberikan pengaruh besar bagi pertumbuhan media cetak di Indonesia. Koran dengan berbagai judul mulai bermunculan bak jamur di musim hujan baik lokal maupun nasional. Pada umumnya begitu isinya telah dilahap habis, koran akan dibiarkan bertumpuk, dimanfaatkan sebagai pembungkus bahkan tak ayal riwayat koran akan berakhir di tempat penimbangan. Namun, kita patut memberi acungan jempol kepada awak redaksi “Metro”, yaitu sebuah koran yang terbit di negara Inggris, dan Heston Blumenthal, sang ilmuwan kuliner yang berhasil menciptakan sebuah terobosan terbaru dan ide unik dari sebuah koran. “Tak Ada Nasi Koran pun Jadi”, pepatah inilah yang kiranya pantas menggambarkan keunikan fungsi koran yang tak lagi sebatas sebagai media massa tetapi juga dapat dimakan. Jadi, setelah dibaca koran tidak perlu dibuang, tetapi dimakan isinya. Soal rasa sudah tidak diragukan lagi. Para relawan sudah mencabik-cabik koran itu dengan gigi mereka dan menelannya. Kemudian, mereka menganggukkan kepala dan menilai koran itu lezat. Selain itu, proyek koran Metro ini akan mendorong kebiasaan daur ulang dalam masyarakat.
Apabila penemuan ini diadopsi di negara Indonesia, maka bisa jadi akan memunculkan sebuah kontroversi baru. Di satu pihak mereka mungkin mengamini karena koran bisa dimakan ini merupakan terobosan inovasi terbaru yang dapat meningkatkan budaya baca di Indonesia. Koran yang bisa dimakan ini adalah suatu penemuan unik yang dapat menarik minat kawula muda maupun orang dewasa untuk membiasakan diri membaca koran. Kehadiran koran yang dapat dimakan merupakan penampilan baru sebuah koran sehingga pasti akan menarik perhatian dan rasa penasaran masyarakat. Dengan adanya penemuan ini, saya berharap dapat menghidupkan kembali fungsi koran sebagai media cetak yang sekarang mulai tergusur oleh adanya internet.
Koran yang dapat dimakan ini juga dapat mengurangi globalwarming, yaitu dengan membiasakan diri mendaur ulang koran. Sebenarnya telah ada segelintir masyarakat yang telah berhasil menyulap koran bekas menjadi pernak-pernik yang benilai jual tinggi. Namun, dengan adanya penemuan baru tentang koran yang dapat dimakan, masyarakat akan lebih praktis dan efisien dalam mendaur ulang koran. Keuntungan yang akan diperoleh setelah membaca koran yang dapat dimakan berlipat ganda. Pertama, kita mendapat pengetahuan karena telah membaca Koran, dan yang kedua perut kita kenyang karena setelah dibaca koran tersebut dapat dimakan. Sebuah angan terbesit dari benak saya, suatu saat apabila koran yang bisa dimakan ini direalisasikan di masyarakat maka tak ayal lagi nasi sebagai makanan pokok lambat laut bisa jadi tergantikan oleh kehadiran koran yang bisa dimakan.
Di sisi lain, yang menjadi kendala apabila kita menerapkan koran yang bisa dimakan ini di Indonesia adalah dana produksi. Koran yang dapat dimakan ini terbuat dari adonan tepung maizena, minyak sayur, permen arab, air dan asam sitrat yang dimasak hingga menjadi pasta liat dan dibentuk menjadi lembaran yang diatur sedemikian rupa menjadi judul, foto, dan artikel. Dengan bahan-bahan seperti yang telah dijelaskan tersebut, pembuatan koran yang dapat dimakan tentunya mengeluarkan dana yang lebih besar dibandingkan pembuatan koran biasa. Hal ini akan berpengaruh pada harga penjualan. Padahal, tidak diragukan lagi masyarakat mempunyai kebudayaan menyukai harga yang lebih murah. Kita sebagai orang timur yang memegang teguh nilai kesopanan, tentu menganggap memakan koran sebagai hal yang kurang wajar dan risih apabila melihatnya. Oleh karena itu, apabila koran yang bisa dimakan ini diterapkan di Indonesia maka tak bisa dipungkiri akan menemukan banyak kendala.
Langkah bijak yang bisa diambil untuk merealisasikan koran yang bisa dimakan adalah dengan mengurangi biaya produksi. Biaya produksi dapat ditekan dengan penggunaan bahan lain yang lebih murah harganya. Misalnya saja, tepung maizena diganti dengan tepung tapioka yang harganya lebih miring. Untuk itu, diperlukan kerja keras dan kreativitas dari masyarakat untuk membuat terobosan baru mengenai penerapan koran yang dapat dimakan di masyarakat. Apabila inovasi-inovasi terbaru dari anak-anak bangsa diadopsi maka tak ayal lagi koran dapat dijadikan sebagai media untuk meningkatkan budaya gemar membaca di Indonesia.

CATATAN REDAKSI: Status Sdri. Siska Indarwati sudah diubah dari KONTRIBUTOR menjadi PENULIS. Artinya, Sdri bisa langsung menerbitkan tulisan. Semoga tetap menjaga kualitas tulisan. Terima kasih.

Bahasa Inggris VS Bahasa Indonesia

BAHASA INGGRIS VS BAHASA INDONESIA

Oleh:

Bayu Gustian; E. Fitria; Orienda W; Fendy Yogha

Bahasa serapan, khususnya yang berasal dari bahasa Inggris pada masyarakat Indonesia sangat berkembang hingga saat ini. Masyarakat yang mengenal bidang teknologi tentu tidak asing lagi dengan kata download atau upload pada situs-situs internet. Terlebih, dengan maraknya situs jejaring sosial saat ini secara tidak langsung berdampak pada penggunaan bahasa serapan yang semakin berkembang. Selain itu, pada teknologi komunikasi juga tidak asing lagi dengan kata SMS (Short Message System), missed call, e-mail dan sim card. Pada kenyataannya, bahasa serapan telah muncul jauh sebelum teknologi berkembang pesat, contohnya penggunaan kata shampo, aktif, sistem dan sukses. Bahasa Inggris diserap sedemikian rupa dengan bentukan yang lebih sederhana hingga sangat mudah diucapkan dan digunakan oleh masyarakat.

Fakta tersebut secara kasat mata memang terlihat memberi kemudahan masyarakat dalam proses komunikasi. Namun, secara tidak langsung penyerapan bahasa Inggris secara utuh dan terus-menerus akan mengikis kosa kata bahasa Indonesia yang sudah jarang digunakan. Bahasa Inggris sebagai bahasa yang digunakan dalam teknologi sangat sering memunculkan istilah-istilah baru. Jika masyarakat menerima begitu saja, maka kosa kata bahasa Indonesia yang sebenarnya mampu  mengungkapkan makna istilah tersebut akan dibuang begitu saja dan akan hilang dengan sendirinya.

Bahasa serapan dari bahasa Inggris seharusnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia asli, bukan bahasa Inggris yang diubah penulisannya. Masyarakat sering menggunakan kosa kata bahasa Inggris ke dalam kata yang sama hanya pengucapannya yang diubah agar lebih mudah diucapkan seperti pada kata sukses. Dalam hal ini, seharusnya masyarakat menerjemahkan kata tersebut ke dalam kosa kata bahasa Indonesia agar bahasa Indonesia benar-benar memiliki karakteristik yang khas, juga sebagai bukti bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa Indonesia asli, bukan bahasa campuran yang asal digunakan. Jika dipikir secara rasional, tentu masyarakat Indonesia akan lebih mudah mengucapkan kata bahasa Indonesia asli, bukan malah bangga menggunakan bahasa Inggris yang sedikit diubah.

Masyarakat Indonesia sebagai pengguna bahasa Indonesia asli sudah selayaknya mengembangkan bahasa Indonesia dalam komunikasi kehidupan sehari-hari maupun dalam perannya sebagai bahasa internasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, bahasa Indonesia sebaiknya digunakan untuk mengungkapkan konsep baru yang dibawa oleh bahasa Inggris, bukan malah menyerap bahasa Inggris secara terus menerus. Bahasa Inggris yang terus tertanam dalam kosa kata bahasa Indonesia akan membuat bahasa Indonesia seperti campuran bahasa yang tidak memiliki karakter.

Dalam mewujudkan bahasa Indonesia yang benar-benar rasa Indonesia, masyarakat telah memiliki pilihan masing-masing, contohnya, saat ini muncul kata mengunduh untuk pengganti kata mendownload atau kata mengunggah untuk pengganti mengupload. Hal ini bisa menjadi salah satu contoh yang patut ditiru dalam penggunaan istilah bahasa Indonesia yang merupakan kata serapan dari bahasa Inggris. Namun, kembali pada masyarakat sendiri sebagai penutur yang bebas menggunakan bahasa, apakah mereka akan bersikap kritis terhadap persolan bahasa serapan atau mengikuti arus penyerapan yang secara utuh dan terus-menerus.

Lahirnya Anak Berkebutuhan Khusus

LAHIRNYA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Oleh;

Eka Dyan; Imro’atus S; Nurul A; Ayudian S

 

Bahasa merupakan alat yang digunakan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Perkembangan bahasa selalu bergerak secara dinamis, selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan manusia dan teknologi. Hal ini akan menyebabkan adanya pergeseran atau perubahan makna pada sebuah bahasa. Munculnya istilah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan salah satu contoh pergeseran makna yang mengakibatkan peninggian makna (ameliorasi). Pergeseran istilah dari anak cacat menjadi anak berkebutuhan khusus sesungguhnya lebih untuk memberikan api semangat bagi para penyandang cacat. Semangat untuk mereka agar terus berkarya dan terus berprestasi sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Karena pada dasarnya para individu berkebutuhan khusus masih memungkinkan untuk dapat dibina dan dikembangkan secara optimal. Sehingga image anak cacat sebagai aib sekarang bisa berubah menjadi anak berkebutuhan khusus yang mendapatkan layanan khusus sesuai kebutuhannya. Dewasa ini hadir pendidikan inklusi di Indonesia. Pendidikan inklusi merupakan pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu pada pendidikan inklusi menekankan kefleksibelan dan keakomodatifan sekolah dan layanan untuk memenuhi keberagaman siswa.

Setiap anak berkebutuhan khusus sesugguhnya masih memiliki kelebihan dibalik kekurangannya. Inilah tugas kita sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan dengan bentuk fisik yang normal, untuk membantu mereka atau minimal memberi semangat kepada mereka agar mereka bisa terus mengasah potensi yang mereka miliki. Dukungan dan perhatian yang kita berikan untuk mereka sedikit banyak akan mampu menguatkan mental mereka untuk tetap percaya diri dalam mengembangkan potesinya.

Sistem pendidikan di Indonesia saat ini sudah terlanjur berdampak segmentasi atau mengkotak-kotakkan antara anak berkebutuhan khusus dan anak normal lainnya. Anak berkebutuhan khusus cenderung dididik di sekolah-sekolah luar biasa, dan untuk anak normal lainnya dididik di sekolah umum seperti biasanya. Sehingga hal ini mengakibatkan anak berkebutuhan khusus semakin terkucilkan.

Hadirnya pendidikan inklusi di Indonesia ini kurang cocok untuk diterapkan di Indonesia. Karena tenaga pendidik di Indonesia belum mampu untuk memenuhi keberagaman siswa jika anak berkebutuhan khusus dididik bersama-sama dengan anak normal lainnya. Selain itu, jika pendidikan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus ini diterapkan di Indonesia, dikhawatirkan akan menjatuhkan mental anak berkebutuhan khusus, sehingga tujuan pendidikan khusus yang ditujukan untuk anak berkebutuhan khusus untuk mengoptimalkan potensi yang mereka miliki tidak akan tercapai.

Sering kita temui, para individu penyandang cacat besar kemungkinannya untuk dicemooh atau bahkan dikucilkan oleh individu lain bila keduanya berinteraksi dalam satu wadah yang sama. Oleh karena itu, pendidikan sekolah luar biasa lebih cocok diterapkan di Indonesia daripada pendidikan inklusi. Karena dengan pendidikan sekolah luar biasa, anak berkebutuhan khusus akan lebih mudah mengembangkan potensinya karena bimbingan yang mereka dapatkan dari guru lebih terfokus kepada mereka, anak berkebutuhan khusus. Lagipula, tidak sedikit anak berkebutuhan khusus yang lebih berpotensi dibandingkan mereka-mereka yang normal. Untuk itu istilah anak cacat perlu direvisi ulang menjadi anak berkebutuhan khusus. Karena dengan bahasa yang santun akan bisa menumbuhkan sikap perhatian, saling menghormati, saling menghargai, dan saling mendukung sesama yang kurang beruntung. Hal ini akan lebih berharga dibandingkan besarnya materi yang akan kita berikan untuk menyantuni mereka.

Orang Tua jadi “Bonyok”

ORANG TUA JADI BONYOK”

Oleh:

Tyieca; Chiezka; Rizca; Ierma

Perkembangan jaman yang berjalan seiring perkembangan teknologi mengharuskan segala sesuatu yang terkini. Baik dari segi pengetahuan, gaya hidup, segala macam fasilitas, pola tingkah laku, bahkan gaya berbahasa juga harus mengikuti tuntutan terkini. Hal yang paling tampak selalu di-up date adalah dari gaya hidup dan gaya bahasa yang digunakan. Gaya hidup anak-anak remaja atau usia muda kebanyakan mengikuti trend atau gaya luar negeri, tapi dalam penggunaan gaya bahasa sangat berbeda, mereka cenderung menciptakan dan menggunakan gaya mereka sendiri, yang biasanya disebut dengan gaya bahasa gaul yang mereka pakai sehari-hari. Salah satu gaya bahasa gaul yang sering kita dengar sehari-hari adalah kata-kata bonyok (bokap-nyokap) yang artinya tak lain adalah orang tua yang biasanya juga disingkat dengan ortu. Kebanyakan yang menggunakan istilah bonyok adalah mereka para remaja usia SMP, SMA dan mahasiswa yang tinggal di lingkungan perkotaan. Bahkan tidak hanya lingkup perkotaan, di beberapa daerah pinggiran pun juga marak penggunaan istilah bonyok.

Bahasa gaul ini boleh saja dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari selama bahasa gaul ini dapat memperlancar komunikasi. Bahasa gaul itu sebenarnya hasil kreatifitas para anak muda itu sendiri, jadi sah-sah saja kalau mereka menggunakannya dalam komunikasi mereka dengan sesama teman sehari-hari agar komunikasi di antara mereka bisa lancar dan sedikit santai karena tidak terikat oleh kondisi formal. Akan tetapi, yang menjadi permasalahan adalah jika penggunaan bahasa gaul ini perlahan mulai menggeser penggunaan bahasa baku yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Karena, bagaimanapun juga bahasa Indonesia yang baku merupakan identitas bangsa yang tidak seharusnya dilupakan sekalipun muncul bahasa-bahasa lain hasil kreatifitas mereka sendiri yang justru intensitas penggunaannya lebih marak di kalangan masyarakat umum.

Istilah bonyok sendiri kebanyakan digunakan dalam percakapan sehari-hari kepada sesama teman, tapi tak jarang juga kita temui banyak anak-anak yang tidak sopan menggunakan kata bonyok saat berbicara dengan orang yang lebih tua, misal saat ada orang bertamu ke rumah mereka mencari orang tua mereka yang saat itu sedang tidak berada di rumah. Mereka biasanya menjawab dengan santai dan sangat tidak sopannya “bonyok lagi kagak ada di rumah, om”. Hal seperti ini sering kita jumpai di kehidupan perkotaan yang hampir menghapus kesetaraan kesopanan antara anak-anak dan orang yang lebih tua. Sekalipun penggunaan bahasa gaul itu sudah melekat dalam diri masyarakat Indonesia, harusnya mereka tetap bisa mengendalikan bahasa gaul itu sendiri dalam penggunaannya, dimana, kapan, dan kepada siapa.

Penggunaan istilah bonyok itu juga kurang baik sekalipun dalam komunikasi dengan sesama teman yang sebaya. Hal ini dikarenakan istilah bonyok ini berarti orang tua kita, yang seharusnya kita hormati. Namun, dengan menggunakan istilah bonyok sebagai panggilan sebutan mereka itu sedikit mengurangi kesopanan seorang anak kepada orang tua. Alangkah lebih baik, lebih sopan, dan lebih terlihat menghargai dengan menyebut mereka orang tua bukan bonyok atau ortu

Masyarakat Indonesia khususnya golongan muda berbondong-bondong mempelajari dan menggunakan bahasa gaul ala mereka sendiri dalam komunikasi sehari-hari, tapi tanpa disadari mereka telah perlahan melupakan bahasa asli, bahasa Indonesia. Sebagai masyarakat yang bijak, masyarakat Indonesia seharusnya mampu mengakulturasikan bahasa gaul dengan bahasa Indonesia asli atau bahasa Indonesia baku dalam percakapan sehari-hari. Paling tidak dengan penggunakan bahasa Indonesia baku berarti kita melestarikan bahasa nasional yang juga merupakan salah satu ciri khas Negara Kesatuan RI.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.