GALERI FOTO KITA

TAK KENAL MAKA KETERLALUANLAH KITA

(Bagian 1)

Oleh: Djoko Rahardjo*

Siapakah orang (Juara Nomor 2) yang ada di dalam foto di bawah ini? Beliau berjasa sekali pada UM!

Keterangan: Beliau adalah Pensiunan PNS UM yang telah menjuarai lari 100 meter.

TIGA JIWA DALAM “SEPARUH AKU” NOAH BAND

FERRIL IRHAM MUZAKI

Ada yang berbeda dari video klip Noah Band “Separuh Aku”. Merujuk pada video klip band Peterpan, cikal bakal Noah, seolah tidak ada perbedaan berarti. Dengan penelaahan lebih jauh, video klip “Separuh Aku” menampilkan kejeniusan tim kreatifnya. Untuk pertama kalinya, sepanjang pengetahuan penulis, ada video klip band Indonesia menggunakan sudut pandang psikoanalisa karya agung Sigmund Freud yang menggunakan tiga unsur jiwa Id, Ego dan Superego.

Id merupakan representasi dari hawa nafsu yang berusaha mencari-cari kesenangan.  Ego merupakan jiwa malaikat yang dimiliki setiap manusia yang selalu bersifat realistis. Super-ego adalah kepribadian ideal yang merupakan cerminan dari harapan orang tua, guru di sekolah dan lingkungan. Ketiganya berinteraksi layaknya diagram. Masalah mulai muncul ketika ketiganya saling bertabrakan. Hasilnya terjadilah gangguan psikotik atau tekanan mental. Di sinilah letak kejeniusan tim kreatif video klip tersebut.

Kasus dimulai dengan nyanyian seorang laki-laki yang diperankan Nazril “Ariel” Irham. Lirik lagu “Separuh Aku” dibuat menjadi Super Ego atau harapan ideal tentang cinta sejati. Kemudian lagu itu dinyanyikan ketika si Ariel mengalami konflik antara id dan ego.

Ego dicitrakan sebagai keinginan Ariel tidak memukul dengan kursi pasangan perempuanya yang lemah. Id yang dimiliki oleh Ariel ada di cermin. Dia ingin menghabisi nyawa perempuan itu dengan memukulkan kursi kayu.

Benar-benar sebuah strategi pembuatan video klip yang cerdas. Terlepas dari kontroversi tentang psikoanalisa freud dan penggunaannya dalam penciptaan dan apresiasi sastra, tim kreatif Noah Band benar-benar berusaha menampilkan sesuatu yang baru dalam dunia musik Indonesia. Tidak heran jika Peterpan hingga Noah Band menjadi panutan band-band lainnya termasuk para boyband dan girlband. Karena penulis menduga sebentar lagi akan bermunculan video klip yang mirip. Namun meniru tidak akan sesukses aslinya karena masyarakat sudah tahu jalan kisahnya.

Benar-benar fantastis. Diakhiri dengan kemenangan Ego yang ternyata mendengarkan suara Super-ego yang diterjemahkan menjadi “suara hati ini yang memanggil namamu”. Ego yang merupakan perlambang hati nurani dengan bantuan super-ego memecahkan kaca yang menjadi perlambang Id dan segala ketamakannya. Benar-benar luar biasa.

Saya salut pada kreatifitas Noah Band. Mereka benar-benar memuaskan para penggemar Peterpan. Video klip dipadu dengan lirik benar-benar memancarkan aura elegan. Sebabnya jelas, ada sains psikologi yang bekerja dan bermain dalam proses kreatif. Salut dan keren, hanya itu yang bisa saya ucapkan.

 

Pascasarjana Universitas Negeri Malang

Alumnus Fakultas Sastra UM

PARADOKS KEHIDUPAN

PARADOKS KEHIDUPAN

Oleh:  Djoko Rahardjo*

 

Semakin banyak minum hauslah kita

Semakin banyak makan laparlah kita

Semakin banyak ilmu bodolah kita

Semakin banyak kekayaan miskinlah kita

Semakin banyak kesempatan sempitlah kita

Semakin banyak kekuasaan lemalah kita

Dan…

Semakin…

 

Mengapa?

Memang…

tidak semua

dari kita…

yang  menyadari

Untuk apa kita hadir disini?

Di planet bumi ini!

 

Sahabat…

Aku bukanlah seorang guru

tidak juga ilmuwan

Aku bukanlah sorang santri

apalagi kiyai

 

Aku hanyalah seorang murid

yang tak pandai berhitung

tetapi mencoba menghitung

Aku adalah seorang pemimpi

yang tak pandai mengaji

tetapi mencoba meng-kaji

 

Meng-kaji rahasia semesta

Itulah mimpiku

Itulah cita-citaku

walau kadang

membuat…

diriku

merasa geli

bila ada seseorang

berkata…

kamu…

sudah…

G-I-L-A

 

Malang, 11 Agustus 2012

*) Staf Subbag Sarana Pendidikan BAAKPSI UM

 

SOLDIER OF FORTUNE

SOLDIER OF FORTUNE

Oleh: Djoko Rahardjo*

Ketika seorang prajurit berangkat ke medan perang, di dalam pikirannya hanya ada satu pilihan, yakni menang atau kalah, hidup atau mati. Dalam perang merebut kemerdekaan RI, cita-cita itulah yang tertanam kuat di dalam lubuk hati para pejuang kita. Mereka tidak pernah takut menghadapi musuh walaupun hanya memiliki senjata yang sederhana. Mereka memiliki semboyan: “Merdeka atau mati!” Enampuluh tujuh tahun yang lalu, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Di dalam kesempatan ini, perkenankanlah penulis mengucapkan: “DIRGAHAYU RI YANG KE-67, semoga tetap jaya untuk selama-lamanya!”

Di dalam bulan Ramadhan yang pernuh berkah ini, marilah kita mencoba memahami arti kemerdekaan bagi kita semua, yang memiliki profesi beragam. Oleh sebab itu, setiap orang mungkin berbeda dalam mema’nai kemerdekaan ini. Di dalam kesempatan ini perkenankanlah pula penulis menceritakan perjalanan prajurit yang telah dilukiskan oleh Group Rock Band, Deep Purple dari Amerika yang terkenal di era tahun 70-an, pada  “bait terakhir”  lagu SOLDIER  OF FORTUNE seperti berikut.

Now I feel I’m growing older
And the songs that I have sung
Echo in the distance
Like the sound
Of a windmill goin’ ’round
I guess I’ll always be
A soldier of fortune
I can hear the sound
Of a windmill goin’ ’round
I guess I’ll always be
A soldier of fortune
Tak terasa kini usiaku semakin renta 

Dan lagu yang kunyanyikan

Bergaung sampai di kejahuan

Seperti kincir angin yang berputar

Yang selalu kurasakan

Akulah tentara yang beruntung

Catatan: Mohon maaf, kemampuan bahasa Inggris Penulis tidak sebaik Anda semua, para pembaca.

Dalam peperangan—ketika sudah berhadap-hadapan dengan musuh—maka pilihan bagi seorang prajurit hanyalah: “Kill or to be kills!” Sungguh berbahagia bagi seorang prajurit yang telah memenangkan suatu pertempuran dengan selamat. Itulah kebanggaan bagi setiap prajurit yang berjuang pada masa merebut kemerdekaan RI di zaman yang telah berlalu. Zaman telah berubah! Seiring dengan perjalanan waktu maka kita semua telah memahami “bentuk perjuangan” di era reformasi sekarang ini. Apa yang telah dan yang akan kita perjuangkan? Kembali kepada cita-cita kita masing-masing.

Memang dalam perjalanan nasib manusia, kadang kita jumpai hal-hal yang diluar jangkauan nalar tetapi hanya dapat difahami oleh hati yang bening. Misalnya, seorang prajurit menerima kenaikkan pangkat dua kali dalam satu tahun bahkan ada yang hanya dalam hitungan bulan. Kita tentu masih ingat ketika Inspektur Jenderal (bintang dua) Timur Pradopo, Mantan Kapolda Jawa Barat dinaikkan pangkatnya menjadi Komisaris Jenderal (bintang tiga) tetapi beberapa bulan kemudian dinaikkan lagi menjadi Jenderal (bintang empat). Sekarang ini beliau menjabat sebagai Kapolri. Sungguh ini adalah suatu anugerah dari Allah swt. Manusia tidak mampu  menjangkaunya. Meskipun  ada argumentasi yang rasional tetapi hal itu tak dapat membatalkan takdir Tuhan yang Maha Kuasa.

Secara sadar—kita manusia—yang selalu menghadapi persoalan hidup—ada suka, dan ada duka, ada untung ada rugi dan lain sebagainya—selalu ada unsur positif dan negatif. Tetapi kita akan dikatakan orang yang beruntung bila kita memahami penjelasan di bawah ini.

Truly he succeeds that purifies it,

And he fails that corrupts it!

Artinya kurang lebih:

Sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa itu)

Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya !

(Al Qur’an Surah ke-91, Asy-Syam: ayat 9—10).

Bila hati kita belumlah bersih atau suci! Masih ada waktu buat kita untuk membersihkannya. Pada kesempatan bulan ramadhan ini…, kita masih diberi waktu oleh Sang  Maha Pencipta, Allah swt. Tuhan yang telah menciptakan manusia dan seluruh alam semesta, untuk membakar dosa-dosa kita. Sepuluh hari lagi…, kita akan menjumpai hari kemenangan bagi umat yang melaksanakan ibadah  Ramadhan dengan sungguh-sungguh. Seperti sorang prajurit yang telah memenangkan peperangan dan pulang dengan selamat!  Di hari yang fitri atau suci nanti, izinkalah penulis mengucapkan kepada para pembaca: “Minal aidzin wal fa’idzin, mohon maaf lahir dan bathin”.

Malang,  10 Agustus 2012

*) Djoko Rahardjo, Staf Subbag Sarana Pendidikan/Subbag Akademik BAKPIK UM

SENANDUNG RINDU

SENANDUNG RINDU


Oleh: Djoko Rahardjo*)

 

Ketika senja tlah menjelang

padang ilalang terasa semakin gersang

pulanglah sekumpulan burung renta

bersama sejuta kenangan

yang tlah dipeluknya

dengan suka dan duka

 

Di sana…

di padang  rumput yang subur

hiduplah anak-anak burung

yang pernah makan…

minum…

dan tidur…

di ketiak burung renta

yang kini tlah mulai pikun

 

Ada senandung  rindu

dari Si Renta…

yang berhembus…

lirih…

bersama embun senja

yang mulai naik ke peraduan

 

Entah bagaimana…

suara selembut itu…

dapat menembus pendengaran…

telinga

dan matabatin…

burung-burung yang  sedang tidur lelap

di sarang madu

di atas rumput yang subur

penuh kenikmatan

 

Tetapi sayang…

senandung rindu itu…

dianggapnya…

sebagai mimpi

yang tak bermakna

dan terlanjur ditelan masa

 

Malang, 8-8-2012

 

*Staf Subag Sarana Pendidikan BAAKPSI

Catatan Penulis: Tulisan ini (Apakah ini puisi?) saya persembahkan untuk Prof. M.A. Icksan, Bapak Asma’un, S.Pd dan Bapak Wahyudi Sudibyo, B.A.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.