REMBULAN TERSENYUM DI LANGIT MELONGOANE
(Bagian Ke-13)
Oleh: Djoko Rahardjo*
| Tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan. Kadang sesuatu yang tidak kita inginkan malahan datang berulang-ulang. Itulah hidup! Itulah kenyataan! Akankah kita lari dari kenyataan? |
| “Bapak sajalah yang harus meninggalkan speed boat ini!” Begitulah perintah pemilik speed boat kepada Sersan Djoko. |
| Langit yang semula terang benderang seketika itu mendadak menjadi gelap. Begitu dahsyat pengaruh perintah itu. Seakan-akan hendak menelanjangi dan menelan bulat-bulat nyali Sersan Djoko. Apa boleh buat! Sudah tidak ada pilihan lagi! |
| “Pak! Di sebelah sini! Hati-hati licin!” Pemilik speed boat itu menunjuk ke arah sebelah kiri. |
| “Saat inilah…, saya harus berjuang untuk hidup!” Begitu bisikan hati Sersan Djoko. |
| Sersan Djoko berdiri terhuyung-huyung. Langkahnya gontai…. Tanpa terasa keringat dingin telah membasahi tubuhnya. Pandangan matanya lurus ke depan. Raut mukanya sangat tegang! Gigi-giginya gemeretak! Tubuhnya terguncang! Nafasnya terengah-engah! Jantungnya berdegup kencang! Jari-jemari tangannya mencengkeram erat-erat kain terpal, atap speed boat. Dari dalam celana—di antara perut dengan pangkal paha—mengalirlah “air hangat”—yang tumpah ruah bagaikan semburan lumpur Lapindo—yang menggenangi kawasan sekitarnya. |
| “Cepat Pak!” Teriak Pemilik Speed boat. |
BERSAMBUNG …
Melongoane –Talaud – Sulut, 3 Oktober 2012
*) Djoko Rahardjo, Staf Subbag Sarana Akademik BAKPIK UM

Comments are closed.