MALAM TERAKHIR

Malam ini …

Malam teraakhir bagi kita …

Untuk mencurahkan … rasa rindu di dada ….

Syair dan lagu Malam Terakhir karya Rhoma Irama merupakan salah satu syair dan lagu favorit saya. Saat ulang tahun Fakultas Teknik (FT) yang lalu, saya nyanyikan lagu itu di hadapan sivitas akademika FT—dan Dekan FT, Pak Waras, ikut berjoget. Saat yudisium semester pendek yang lalu, saya dendangkan lagu itu di hadapan peserta yudisium FS UM. Saat acara bazar dan jalan sehat dalam rangka Lustrum XII UM di lapangan Jln. Surabaya, saya sumbangkan lagu itu untuk sivitas akademika UM. Saat perpisahan dengan teman-teman tenaga kependidikan FS UM dengan Dekan dan Wakil Dekan FS UM malam Sabtu pekan lalu, saya persembahkan lagu itu untuk mereka.

Dalam semua peristiwa itu, saya sampaikan bahwa panggung ini adalah panggung terakhir saya sebagai Dekan. Di hadapan teman-teman sivitas akademika FS UM, saya sampaikan kebahagiaan saya mengakhiri jabatan Dekan dengan meletakkan sistem yang sudah bisa berjalan sendiri. Bahkan, sudah 2 tahun ini, saya relatif sudah “diberhentikan” oleh teman-teman sebagai Dekan FS. Saya hanya menyampaikan kebijakan di awal tahun, di tengah tahun saya memonitornya, dan di akhir tahun, saya menyampaikan laporan. Semuanya sudah berjalan sendiri (maaf, bukan berjalan sendiri-sendiri). Bagi saya, tiga orang wakil dekan saya adalah orang-orang luar biasa. Kajur, sekjur, dan kaprodi FS adalah orang-orang hebat. Kabag dan Kasubbag yang membantu saya adalah orang-orang brilian. Dosen dan tenaga kependidikan FS UM adalah insan-insan yang mulia.

Hari minggu yang lalu saya masuk kantor ditemani Pak Dirman. Saya minta dia bantu saya mengemasi barang-barang pribadi saya di kantor dekan. Alhamdulillah, bisa selesai dan sudah saya angkut ke rumah. Senin pagi, saya minta Mas Faul untuk mengerahkan anak buahnya membersihkan kantor dekan dari “sawang” dan debu. Alhamdulillah, bersih dan bau wangi. Siap ditempati dekan baru natinya. Kamis, 13 November 2014 sudah saya pasangi tulisan di pintu rang dekan: LAYANAN ADMINISTRASI DILAKSANAKAN DI RUANG TATAUSAHA. Itu hanya penegasan karena sejak bulan puasa yang lalu saya (dan para wakil dekan) lebih sering ngantor di ruang Tatausaha bersama Kabag dan Kasubbag dan seluruh tenaga kependidikan FS UM. Saya kerja di tengah-tengah mereka. Saya makan siang bersama mereka. Makan siang ini adalah iuran bagi yang mau—sekali makan 5 ribu rupiah, jadi sebulan saya bayar 100 ribu rupiah.

Saya sebut bahwa 2 tahun terakhir ini saya sudah “diberhentikan” sebagai Dekan FS oleh teman-teman karena saya diberi “kesempatan penuh” untuk menjadi “dekan” baru di Pusat TIK sejak 15 April 2012 lalu. Saya bersyukur, di Pusat TIK, saya bertemu dengan anak-anak muda dari tenaga kependidikan yang luar biasa: Mas Rijal, Mas Pur, Mas Denky, Mas Umar, Mas Fahmi, Mas Iwan, Mas Rizky, Pak Tris, Mbak Rini, Mbak Fitri, Mbak Ifa, Mbak Fatikha dan dosen muda brilian: Mas JF (Jauharul Fuady). Di tangan merekalah TIK UM yang semula “zero”  menjadi “hero”. Sistem informasi terpadu UM saat ini memudahkan kerja dan meningkatkan kinerja UM. Sistem informasi terpadu UM saat ini menjadi rujukan banyak perguruan tinggi di seantero Indonesia. Selamat dan sukses anak-anakku. Terima kasih anak-anakku.

Saya pikir dan saya berharap sejak kemarin, Kamis 13 November 2014 saya sudah bisa tidur siang di kasur di rumah karena selama 14 tahun ini (selama 6 tahun sebagai wakil dekan II dan 8 tahun sebagai dekan) saya tidur siang saat jam istirahat sekitar 20 menit di kursi di ruang sidang, di kantor kabag TU, di depan kasubbag mawa, atau di kursi mana saja di kantor. Saya sudah merancang kembali ke kegiatan dan hobi saya menulis buku, khususnya menulis buku pelajaran sekolah. Sudah ditagih terus-menerus oleh penerbit besar di Jakarta dan Bandung. Selama ini, saya jawab menunggu kepastian kurikulum yang digunakan. Ternyata benar juga, kurikulum 2013 akan ditinjau kembali. Untung saya belum menulis buku pelajaran berdasarkan kurikulum itu. Sekalipun terma pejabat adalah DITINJAU kembali, biasanya dan keanyataannya diubah atau diganti. Dari sisi pribadi saya, entahlah, instuisi menulis saya apakah masih seperti dulu ketika menulis buku yang telah diterbitkan oleh Penerbit Erlangga Jakarta.

Sampai dengan hari ini, harapan saya untuk bisa tidur siang di rumah belum terwujud. Walau SK saya sebagai Dekan berakhir 12 November 2014, saya belum dapat kepastian pemberhentiannya. Meski begitu, saat ini, saya dan  seluruh pejabat di FS UM saya minta tetap melayani pemangku kepentingan seperti biasa dan sepenuh hati. Juga, pagi ini, pukul 10.00 saya dapat undangan dari Dekan FMIPA untuk menghadiri Peresmian Pusat Kewirausahaan FMIPA UM. Kemarin dulu saya bertanya via telepon ke Pak Kusmain, Kabag TU FMIPA, “Apakah saya diundang sebagai mantan dekan?” Beliau tertawa saja. Saya pun ikut tertawa. Nggak tahulah, status saya hari ini, sebagai dekan atau mantan dekan (?)

Penggalan larik syair dan lagu Malam Terakhir berikut, mungkin tepat untuk menjawab pertanyaan itu ….

Esok aku …

Akan pergi lama kembali …

Kuharapkan … agar engkau sabar menanti ….

 

Malang, 14 November 2014

Dawud

FS UM

JADWAL KRS ONLINE MAHASISWA SEMESTER GENAP 2013/2014

JADWAL KRS ONLINE MAHASISWA SEMESTER GENAP 2013/2014

Berikut jadwal KRS online sebagai tindak lanjut Pengumuman Karo AKPIK UM, Nomor: 3961/UN32.16/DT/2013, tanggal 18 September 2013.

HARI, TANGGAL

TAHAP

KEGIATAN

Senin, 16 Desember s.d. Selasa, 24 Desember 2013

PEMBAYARAN    BIAYA PENDIDIKAN/SPP/UKT

1

Mahasiswa membayar Biaya Pendidikan/SPP/UKT di BNI, BRI, BTN, Bank Mandiri secara online.

2

Jika tidak bisa login, hubungi aplikasi.helpdesk.um.ac.id

3

Cek status bayar dan registrasi Anda di siakad.um.ac.id

4

Khusus mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi, Beasiswa  PPGT dan KKT langsung cek status registrasi di siakad.um.ac.id dan jika status belum registrasi, hubungi aplikasi.helpdesk.um.ac.id

Jumat, 3 Januari 2014 (18.00 WIB) s.d. Senin, 6 Januari 2014 (13.00 WIB)

ANTREAN PENDAFTARAN MATAKULIAH DENGAN MENGISI KARTU RENCANA STUDI (KRS)  ONLINE

1

Mahasiswa melakukan pendaftaran matakuliah (KRS) secara online.

2

Pada tahap ini, semua mahasiswa dalam tahap antre. Pada tahap ini, ada kemungkinan matakuliah yang diantrekan belum tentu berhasil diperoleh.

3

KRS yang dicetak sebelum Senin, 6 Januari 2014 pukul 17.00 WIB  bersifat sementara, bukan KRS Jadi.

Senin, 6 Januari 2014  (13.00 s.d. 17.00 WIB)

PEMROSESAN ANTREAN PENDAFTARAN MATAKULIAH (KRS)

Tim IT UM memproses antrean pendaftaran matakuliah

Senin, 6 Januari 2014  (19.00 WIB) s.d. Kamis, 9 Januari 2014 (15.00 WIB)

PENCETAKAN KRS & MODIFIKASI KRS

1

Mahasiswa mencetak KRS hasil antrean.

2

Jika matakuliah yang diantrekan pada tahap antrean TIDAK MUNCUL, mahasiswa WAJIB MEMODIFIKASI KRS.

3

Mahasiswa melakukan modifikasi secara kompetitif (sesuai dengan jatah sks dan ketersediaan offering matakuliah).

4

Mahasiswa tidak bermasalah menandatangankan KRS ke dosen Penasihat Akademik (PA) pada minggu pertama atau kedua perkuliahan.

5

KRS yang ditandatangani dosen PA diarsipkan oleh mahasiswa.

6

Mahasiswa bermasalah (IP < 2,00 atau semester sebelumnya tidak aktif) harus menemui dosen PA untuk mengaktifkan cetak KRS secara online.

Jumat, 10 Januari s.d. Minggu 12 Januari 2014

CETAK DAFTAR HADIR KULIAH (DHK)

Subbagian Akademik Fakultas mencetak DHK

Senin, 13 Januari 2013 (07.00 WIB)

AWAL PERKULIAHAN

1

Subbagian Akademik Fakultas mendistribusikan DHK di Gedung Perkuliahan.

2

Mahasiswa memulai kuliah.

 

KHUTBAH JUMAH: LUPA DIRI

LUPA DIRI

Oleh Dawud

Kaum muslimin dikasihi Allah,
Dalam pendahuluan khutbah tadi, khatib menyitir ayat ke-19 Surat Al-Hasyr

وَلاَتَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ {19}

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik (Al-Hasyr: 19)
Secara harfiah, lupa bermakna lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran atau tidak dalam ingatan lagi. Adapun lupa diri sepadan dengan makna ‘tidak sadar akan keadaan dirinya; lupa kacang akan kulitnya, lupa akan asalnya; atau lupa daratan, yakni bertindak (bersikap) tanpa menghiraukan harga diri sehingga melampaui batas’.
Dalam khutbah kali ini, khatib menguaraikan 3 jenis lupa diri yang sering melanda manusia.
JENIS  LUPA DIRI YANG PERTAMA ADALAH LUPA ASAL KEJADIANNYA
Secara sederhana, kejiadian manusia dimulai saat bertemunya spermatozoa dengan ovum dalam kandungan. Dari proses itulah terbentuk janin selama 9 bulan 10 hari dalam rahim ibu. Sejak kelahiran sampai dengan usia sekitar 1 tahun, bayi belajar berjalan dan berbicara. Pada usia sekitar 2—4 tahun, anak belajar pada hal-hal yang bersifat motorik. Pada usia sekitar 5—10 tahun, anak belajar pada hal-hal yang bersifat konkret. Pada usia sekitar 12 tahun, anak mulai belajar hal-hal bersifat sistem, kaidah, atau operasi formal. Demikian seterusnya, sampai dia dewasa dan mandiri.
Dibandingkan dengan makhluk lain, ayam atau kucing, misalnya, secara fisik asal kejadian manusia termasuk paling lemah. Ayam yang baru menetas dari telor sudah bisa langsung berjalan. Kucing yang baru dilahirkan oleh induknya, hanya memerlukan waktu beberapa jam untuk bisa berjalan.
Akan tetapi, saat sudah memiliki fisik yang kuat dan mampu berpikir logis yang diperoleh melalui proses yang begitu panjang 20 tahunan atau lebih, sebagian manusia justru mulai melupakan asal kejadiannya. Lupa bahwa dia dulu adalah lemah, lupa dia dulu tidak berdaya, lupa dulu dia perlu bantuan pihak lain sekedar untuk makan, minum, dan buang kotoran.
Dua kisah Al-Quran yang terkenal orang yang lupa atau melupakan asal kejadiannya adalah Fir’aun dan Qarun. Fir’aun manasbihkan dirinya sebagai Tuhan. Qarun menasbihkan dirinya sebagai hartawan karena usahanya, karena ilmunya.

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرَ جَمْعًا وَلاَيُسْئَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ {78}

  Karun berkata:”Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”.Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka. (QS. 28 Al-Qashash:78)
Sejarah abad ke-20 mencatat lima selebritas berikut merupakan manusia yang lupa atau melupakan asal kejadiannya dan meremehkan Tuhannya.
(1)     Pada tahun 1966, saat wawancara dengan American Magazine, John Lennon (penyanyi) berkata, ”Agama akan berakhir dan hilang. Saya tidak perlu menjelaskannya. Tuhan, sih, oke, namun pengajaran-Nya terlalu sederhana. Hari ini kami jauh lebih tenar dari-Nya.” Setelah mengatakan itu, John tewas ditembak penggemarnya.
(2)     Selagi kampanye, Tancredo Neves (Presiden Brasil) berkata, bila mendapatkan 500 ribu suara dari anggota partainya, tidak ada yang dapat mendepaknya dari posisi presiden, BAHKAN TUHAN SENDIRI. Akhirnya, ia mendapatkan lebih dari 500 ribu suara. Tapi, sehari sebelum peresmian jabatannya, ia sakit dan mati.
(3)     Dalam penampilannya di Rio de Janeiro, sambil mengisap cerutu, Cazuza (artis Brasil) mengebulkan asapnya ke udara sambil berkata, ”Tuhan, ini untuk-Mu.” Pada umur 32, ia meninggal karena kanker paru-paru dalam kondisi yang mengerikan.
(4)     Setelah memimpin sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani, Billy Graham mengatakan bahwa Roh Allah mengirimnya untuk menyampaikan sesuatu. Setelah mendengarkan apa yang disampaikan Billy Graham, Marilyn Monroe (artis Amerika Serikat) berkata, ”Maaf, aku tidak memerlukan Tuhan.” Seminggu kemudian, Marilyn ditemukan tewas di apartemennya.
(5)     Pada tahun 1979, dalam salah satu lagu di albumnya, Bon Scott (mantan vokalis AC/DC) mengatakan, “Jangan hentikan aku. Aku sedang asyik berjalan ke neraka.” Setahun kemudian, pada 19 Februari 1980, Bon ditemukan tewas karena tersedak oleh muntahnya sendiri.
(sumber, http://www.tempo.co/read/news/2013/08/19/205505464/Ini-Nasib-5-Tokoh-yang-Pernah-Meremehkan-Tuhan, SENIN, 19 AGUSTUS 2013 | 14:52 WIB)
Itulah fenomena alam, itulah ayat kauniah, itulah i’tibar yang harus kita baca. Lupa asal kejadian kita dapat mengakibatkan kesombongan. Kesombongan dapat dan berarti meremehkan siapa saja, bahkan meremehkan Tuhan.
Kita bisa memperluas makna lupa akan asal kejadian itu, antara lain sebagai berikut.
(1)          Saat ini kita hidup di kota yang serba ada, kita lupa kalau dulu sebagian dari kita berdomisili dan berasal dari daerah yang tandus, kering, dan kekurangan.
(2)          Saat sekarang kita punya kendaraan bermotor, kita lupa dulu berjalan kaki atau naik sepeda angin.
(3)          Saat ini kita sebagai sudah memiliki pekerjaan, kita lupa susahnya masa menganggur dulu.
(4)          Saat ini kita menjadi PNS, kita lupa sebagian dari kita dulu adalah kuli bangungan, tukang becak, dan pekerja kasar yang lainnya.
Demikian seterusnya, kita lupa asal kejadian kita. Kita harus merenungkan, kita harus menghitung: betapa luar biasa kasih Allah kepada hamba-Nya, kita saat ini.
  Jamaah Jumah sekalian, semoga Allah melipatkan karunia-Nya kepada kita,
JENIS LUPA DIRI YANG KEDUA ADALAH LUPA AKAN JASA PIHAK LAIN
Kebesaran, kedewasaan, keberhasilan, kemuliaan, kepandaian, kesarjanaan, kekuasaan yang diperoleh manusia pasti berasal dari kasih Allah, usaha diri sendiri, dan jasa orang di sekeliling kita yang menghasihi kita, yakni ayah-bunda, anggota keluarga, guru, dan sahabat-sahabat kita, serta komunitas tetangga, lembaga, atau paguyuban tempat kita berada. Sebagian di antara kita kadang lupa atau melupakan jasa mereka atau sebagian dari mereka yang luar biasa itu.
Kita ambil contoh dua kelompok yang berjasa luar biasa kepada kita, yakni ayah-bunda dan guru-guru kita. Darah daging kita dari air susu ibu kita dan/atau asupan gizi yang diberikannya. Perkembangkan jiwa raga kita disiriami oleh kasih sayangnya. Keberuntungan yang kita nikmati adalah karena kemuliaan doa ibu-bapak kita. Keahlian, kompetensi, dan kepakaran kita saat ini adalah buah dari ketelatenan, kesabaran, ketekunan guru kita mengajari baca-tulis-hitung guru-guru kita: SD, SMP, SMA,dan PT.
Kadang kita lupa atau melupakan jasa besar tersebut. Kadang kita anggap itu adalah tugas mereka. Kadang kita menganggap sebagai hubungan transasksional belaka: memberi-menerima, menjual-membeli, kewajiban-hak.
Sudah kita hitungkah: seberapa balasan yang kita berikan kepada mereka? Terpeliharakah silaturrahim kita dengan mereka yang masih hidup? Sudah istiqamahkah kita mendo’akan mereka yang sudah wafat dengan doa: Ya, Allah, ampunilah ibu-bapakku, ampunilah guru-guruku? Kadang-kadang kita lupa atau melupakan jasa mereka, walaupun mengingat dan membalas jasa mereka bisa dilakukan tanpa modal dan tenaga ekstra, yakni DOA.
  Kaum mukminin, semoga Allah selalu memantapkan keimanan kita,
JENIS LUPA DIRI YANG KETIGA ADALAH LUPA AKAN HAK ORANG LAIN
Dalam kehidupan sehari hari, peran sesama kita adalah berpasangan: orang tua-anak; suami-isteri; guru-murid; dosen-mahasiswa; atasan-bawahan, raja-rakyat; pemimpin-anak buah, majikan-buruh; imam-makmum; khatib-jamaah; dan pasangan peran yang lainnya. Hakikatnya, masing-masing pihak memilki haknya sendiri-sendiri. Akan tetapi, di antara kita secara sadar atau tidak sadar lebih menuntut dan mementingkan hak atas peran diri sendiri dan kurang atau bahkan mengabaikan hak pihak lainnya.
Dalam konteks khutbah kali ini, misalnya, khatib memiliki hak menggunakan waktu untuk menyampaikan pemahaman kebenaran tentang ayat-ayat Allah. Para jamaah juga memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang benar, ringkas, padat, dan dalam waktu yang singkat dari khatibnya.
Dalam suatu organisasi, pemimpin memiliki hak untuk mendesain, mengelola, mengatur, dan mengarahkan aktivitas layanan untuk anak buahnya sesuai peraturan. Anak buah memiliki hak untuk memperoleh pelayanan, pembimbingan, pengarahan, dan pengaturan dalam pelaksanaan tugasnya.
Pengabaian atas hak pihak lain bisa mengakibatkan tak tertunaikan amanah yang diberikan bahkan bisa mengarah pada aniaya pada pihak lainnya. Selama ini ada anggapan bahwa aniaya itu hanya terjadi dari yang kuat ke yang lemah, dari atasan ke bawahan, dari pemimpin ke anak buah. Anggapan itu tidak selamanya benar, walaupun diakui ada kecenderungan seperti itu.
(1) Ayah-bunda yang kurang memperhatikan pendidikan Al-Quran anaknya adalah termasuk abai atas hak anaknya. Sebaliknya, ayah-bunda yang telah berusaha agar anaknya mendapatkan pendidikan yang layak sampai ke pendidikan tinggi, tetapi anaknya tidak belajar dengan baik, itu termasuk dari bagian aniaya anak kepada Ayah-Ibunya.
(2) Seorang pemimpin yang abai atas pemberian layanan kenaikan pangkat/jabatan, penambahan kompetensi, dan kesejahteraan anak buahnya  termasuk kategori melupakan hak sekaligus aniaya terhadap anak buahnya. Sebaliknya, seorang pemimpin yang sudah berusaha keras memberikan layanan sesuai dengan koridor peraturan perundangan, tetapi anak buah masih mencaci dan menggunjing ke sana kemari karena kebetulan dia tidak lolos seleksi, tentu saja termasuk bagian anak buah yang aniaya kepada pemimpinnya.
Masjid Al Hikmah Universitas Negeri Malang, 25 Oktober 2013

UMPAMA KELEDAI YANG MEMIKUL BUKU

Firman Allah dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 5

 

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِئَايَاتِ اللهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

 

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (Surat Al-Jumu’ah ayat 5).

Ayat ke-5 Surat Al-Jumu’ah tersebut berisi perumpamaan atas perilaku kaum Yahudi. Kepada kaum Yahudi tersebut Allah mengutus seorang Rasul dari Bani Israil, yaitu Nabi Musa a.s. dengan membawa petunjuk Allah berupa Kitab Taurat. Akan tetapi, petunjuk dalam Taurat tersebut tidak dipikulnya, tidak dilaksanakannya. Mereka mendustakannya dan hanya membangga-banggakannya. Orang seperti ini, oleh Allah dilabeli dengan UMPAMA KELEDAI—si hewan dungu—YANG MEMIKUL BUKU.

Secara tekstual, ayat tersebut ditujukan kepada kaum Yahudi. Mereka mendustakan kebenaran ajaran Taurat, antara lain, kewajiban mempercayai Nabi Muhammad. Demikian juga, ketika Nabi Muhammad berdakwah, kaum Yahudi menyatakan ummat Islam tidak memiliki kitab, umat Islam bukan kekasih Allah, dan ummat Islam tidak memiliki hari suci.

Walaupun perumpamaan dalam ayat tersebut ditujukan kepada kaum Yahudi, tetapi perumpaan tersebut memiliki nilai yang berlaku secara universal: bisa untuk kaum apa saja, suku dan bangsa mana saja, agama dan keyakinan apa saja, individu siapa saja; bahkan kapan pun dan di mana pun.

Dengan pemahaman demikian, kita pun dapat mengambil hikmah dari perumpamaan tersebut:

 

·          

sebagai muslim, kita sudah diamanati Al-Quran dan Al-Hadits, seberapa konsisten kita memikulnya;

 

·          

sebagai bangsa, kita sudah memiliki undang-udang, sudahkah kita memikulnya;

 

·          

sebagai kaum intelektual, kita memili norma dan etika, sudahkah kita memikulnya.

 

 

Mari kita introspeksi diri atas contoh-contoh berikut ini.

(1)    

 Sebagai intelektual muslim, kita memiliki acuan ayat pertama yang diturunkan Allah, yakni perintah IQRA ‘membaca’. Dalam pemahaman kontrasnya, perintah membaca juga perintah menulis. Fakta menunjukkan budaya baca kita termasuk rendah. Budaya tulis kita pun malah lebih rendah: buku masterpiece masih sedikit yang kita hasilkan, informasi elektronik di internet masih didominasi tulisan-tulisan non-Islami; sebagian dari mahasiswa kita masih berkarya dengan copy dan tempel hasil karya orang lain.

 

PERILAKU TESEBUT BISA MASUK DALAM KATEGORI UMPAMA KELEDAI—si hewan dungu—YANG MEMIKUL BUKU.

(2)    

Sebagai individu muslim kita telah dibekali hadits la’natullah ‘ala raasyi wal murtasyidilaknat oleh Allah penyuap dan penerima suap’ dan sebagai anak bangsa kita sudah mendapat acuan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

 

Dalam konteks ini, fakta-fakta berikut perlu menjadi renungan.

 

·          

Fenomena menyedihkan dan menggelikan terjadi dalam pekan ini, yakni unggahan video You Tube tentang seorang polisi di memeras turis karena tidak berhelm dan diikuti dengan ajakan pesta minuman keras di pos polisi. Diikuti pula pengakuan pada hari itu telah berhasil memeras 3 turis sebagaimana yang dilakukan pada jam itu.

 

·          

Fenoma penerimaan PNS di sejumlah instansi didasarkan pada besaran jumlah upeti yang diberikan merupakan pengetahuan umum bagai khalayak.

 

·          

Ulah sebagian wakil rakyat di DPR RI yang konon terhormat dengan mengatur anggaran pengadaan barang dengan permainan suap diberitakan secara berulang di media massa cetak dan elektronik.

 

 

PERILAKU TESEBUT JUGA MASUK DALAM KATEGORI UMPAMA KELEDAI—si hewan dungu—YANG MEMIKUL BUKU

(3)    

Dalam konteks usaha dan jasa, kegiatan transaksi riil, nyata, dan terikat waktu kini merupakan ajaran Rasul kita. Bunga berbunga dalam simpan pinjam merupakan larangan Allah.

 

·          

Perdagangan super derivatif dan/atau investasi bodong yang menjual hitungan-hitungan pengandaian keuntungan masa datang (ijon) dengan hitungan satuan tahun bahkan  puluhan tahun dengan bungkus analisis statistik dan computerized: investasi emas Raihan Jewellery; Golden Traders Indonesia Syariah; Virgin Gold Mining Corporation; dan investasi uang di Koperasi Langit Biru yang menjanjnjikan keuntungan berlipat dan flat yang luar biasa tinggi dan tidak masuk akal sehat.

 

·          

Transaksi model Ponzi, yakni seseorang berinvestasi dengan membawa nasabah di bawahnya (downline) dengan mengikuti deret hitung dengan janji mendapatkan keuntungan luar biasa. Padahal, keuntungan yang diberikan itu adalah modal sendiri dan modal nasabah di bawahnya. Anehnya, model investasi ini sudah ada sejak lama (sekitar tahun 1938), berulang-ulang terjadi, dan bahkan lebih aneh lagi untuk keperluan ibadah haji dan umroh pun ada, tetapi masih saja ada yang terpersok di dalamnya.

 

PERILAKU TESEBUT JUGA MASUK DALAM KATEGORI UMPAMA KELEDAI—si hewan dungu—YANG MEMIKUL BUKU

 

 

قُلْ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِن زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَآءُ لِلَّهِ مِن دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

 

Katakanlah:”Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar (Surat Al-Jumu’ah ayat 6)

 

 

 وَلاَيَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

 

Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahi akan orang-orang yang zalim.

Kaum Yahudi berkeyakinan bahwa mereka adalah kekasih-kekasih Allah, manusia pilihan Allah, tidak ada yang masuk surga kecuali orang Yahudi. Mereka sangat membanggakan diri dan melabeli diri sebagai manusia unggul di sisi Allah. Akan tetapi, ketika diinfokan tantangan jika mereka kekasih Allah, idamkanlah kematian agar segera berjumpa dengan Dzat yang mengasisi, mereka tidak mau.

 Ayat ini juga perlu kita introspeksi.

(1)    

Dalam bidang organisasi, sebagian kita sering membanggakan diri sebagai individu, sebagai kelompok, sebagai komunitas terbaik, terpintar, tersalih; bahkan ada adagium: sebaik-baik orang dari kelompok Anda termasuk terjelek dari kelompok kami; seburuk-buruk kelompok kami termasuk terbaik dari kelompok Anda.

(2)    

Dalam komunitas ritual, sebagian kita sering mengelompok dan melabeli diri dengan sebutan yang setara dengan kekasih Allah, waliyullah, habibullah.

 

Allah memberi indikator yang sangat jelas: idamkanlah kematian, agar yang mengasihi dan yang dikasih segera berjumpa. Indikatornya bukan jubahnya, bukan surbannya, bukan keturunannya, bukan pula nama jamaahnya yang berbau bahasa Arab dan atau terminologi yang biasa dipakai oleh ajaran Islam.

 

Jika indikator itu belum terpenuhi, kita pun masuk dalam kategori pendusta, orang yang tidak jujur, orang yang tidak benar, sebagaimana sifat Yahudi. Na’udzubillah min dzalik.

 

Disampaikan dalam khutbah Jumat 5 April 2013 di Masjid Al-Hikmah Universitas Negeri Malang

 

Dawud

APRIL ISTIMEWA

20 APRIL: HARI KONSUMEN

Tanggal 20 April merupakan Hari Konsumen internasional. Peringatan hari konsumen berujutan mendukung atas hak-hak konsumen.

Di Indonesia, hak-hak konsume dilindungan dalam Undang-Undang Republik Indonesia  Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.

Hak konsumen adalah:

a.     

hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

b.     

hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

c.     

hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai konsidi dan jaminan barang dan/atau jasa;

d.    

hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

e.     

hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;

f.      

hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

g.     

hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

h.     

hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

i.       

hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

 

21 APRIL: HARI KARTINI

Setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati hari kelahiran Raden Adjeng Kartini sebagai Hari Kartini. Hari Kartini merupakan hari kebangkitan wanita Indonesia dalam berpartisipasi dalam membangun bangsa. Wanita berkedudukan setara dengan pria dalam mengisi pembangnan bangsa: level keluarga, masyarakat, dan bangsa.

 

22 APRIL: HARI BUMI

Tanggal 22 April merupakan Hari Bumi. Hari Bumi diperingati sebagai dukungan atas pentingnya perlindungan lingkungan hidup. Hari bumi pertama kali dirayakan pada 22 April 1970. Saat ini, perigatan hari bumi dikoordinasikan oleh Erth Day Network dan diperingati lebih dari 192 negara tiap tahun.

Hari ini, UM menyelenggarakan peringatan Hari Bumi dengan menerapan sehari saja tanpa kendarangan bermotor yang dimotori oleh Ormawa UM. Tujuannya agar udara UM bersih dari polusi CO2 hasil pembakaran kendaraan bermotor. Tentu saja, terbebas dari polusi suara hasil raungan knalpot kendaraan bermotor.

Rasanya nikmat sekali tanpa asap dan tanpa raungan sura knalpot kendaraan bermotor. Saya pun dapat menikmati masuk ke kampus menggunakan sepeda listrik yang tanpa polusi. Juga ketika berjalan ke kantor Pusat TIK terasa udara segar, terdengar suara burung berkicau merdu, terdengar suara “gareng pung” pertanda musim akan berubah kemarau, terdengar suara anak-anak SMA yang sedang menyanyikan lagu saat ikut lomba yang diselenggarakan oleh Ormawa Fakultas Sastra.

Andai suasana seperti ini dipertahankan, setidaknya, bukan hanya sekali dalam setahun–munkin dua hari sekali, mungkin seminggu sekali, atau sebulan sekali: BETAPA SEHATNYA UDARA DI UM TERCINTA INI.

Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.