(Lanjutan Rahasia Hidup Bambang Sumantri)
Ringkasan cerita yang lalu (Bambang Sumantri Terprovokasi), bahwa Dewi Citrowati memberi dukungan pada Bambang Sumantri untuk menyoba kesaktian Maharaja Arjuna Sasrabahu.Memang selamana ini, setiap kali Citrowati menceritakan perihal calon suaminya, Sumantri selalu merasa dirinya direndahkan. Kali ini kesempatan bagi dirinya untuk unjuk gigi. Makhluk seperti apakah Sasrabahu itu?
Gambar Maharaja Arjuna Sasrabahu
Sepulangnya dari pertemuan di tenda biru itu, Sumantri mulai memikirkan bagaimana caranya untuk menantang “perang tanding” melawan Rajanya. Setelah lama berfikir…, cara yang elegant adalah mengirim “surat tantangan” kepada rajanya. Di sinilah letak sikap “ugal-ugalan” dari Bambang Sumantri. Rajanya kok dilawan! Mungkin bila hal ini dilakukan di masa sekarang maka dianggap sebagai tindakan subversif atau kudeta.
Gambar Maharaja Arjuna Sasrabahu “Mirip” Bintang Film Hollywood Brad Pitt
Meskipun Sumantri memiliki watak yang sombong tetapi terhadap rajanya masih menggunakan tepo sliro. Tepo sliro berasal dari bahasa Jawa, tepo = tepak = tepat, sliro = sariro = diri pribadi. Artinya, ketepatan dalam menempatkan diri pribadi. Bahasa Jawa adalah bahasa yang memiliki unggah-ungguh. Tidak mungkin seorang abdi kepada rajanya menggunakan bahasa Jawa ngoko. Maaf tidak seperti bahasa Inggris, kepada orang tuanya atau orang lain menggunakan kata “you” .
Surat tantangan tersebut ditulis secara berhati-hati. Berulang kali Sumantri merevisi kata maupun kalimat. Memilih dan memilah kata yang dianggap paling tepat tidaklah mudah. Di sini penulis berusaha menggunakan bahasa Jawa pinathok meskipun bahasa Jawa yang dipakai sehari-hari adalah bahasa Jawa dialog Malangan. Kira-kira begini isi surat tantangannya.
Dhumateng ingkang Sinuwun Maha Prabu Arjuna Sasrabahu
Keparenga abdi dalem Sumantri ngaturaken sembah pangabekti munggi konjuk ing sahandaping pepada.
Ing ri kalenggahan punika kulo soho Gusti Ayu Dewi Citrowati sakbrayat saweg tetirah wonten ing tapel wates Negari Mahespati.
Waleh-waleh menopo anggen kulo ngabekti dhumateng Panjenengan Dalem Sinuwun Maha Prabu Arjuna Sasrabahu, kirang langkung sampun ndungkap kalih warsa/tahun.
Sakderengipun kaperanga kulo nyuwun agunging pangaksami. Nalika samanten, kulo nate matur dhumateng Romo Begawan Suwandagni bilih kawulo badhe suwito dhumateng nalendro ingkang saged “ngawonaken” kasekten kulo.
Awit saking meniko, kasuwun Gusti Prabu Arjuno Sosrobahu kepareng nampi serat meniko kanhti bingahing penggalih.
Sembah pangabekti, saking abdi dalem Bambang Sumantri
TERJEMAHAN
Kepada Yang Mulia Maharaja Arjuna Sasrabahu
Izinkanlah abdi Sumantri menyampaikan hormat, semoga penghormatan ini sampai di hadapan/semoga berkenan di hati paduka yang mulia.
Pada kesempatan hari ini, saya beserta Dewi Citrowati beserta rombongan sedang beristirahat di perbatasan wilayah Negara Mahespati.
Perkenankanlah berbicara apa adanya bahwa saya sudah mengabdi kepada Yang Mulia Maharaja Arjuna Sasrabahu sudah berlangsung selama dua tahun.
Sebelumnya, perkenankanlah saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bahwa beberapa saat yang lalu–pernah berbicara kepada Ayah hamba bahwa saya “hanya” mengabdi kepada seorang raja yang dapat mengalahkan kesaktian hamba.
Oleh karena itu, saya mohon dengan hormat agar Gusti Maharaja Arjuna Sasrabahu menerima (surat tantangan ini) dengan senang hati.
Salam hormat, dari abdi Anda, Bambang Sumantri
BERSAMBUNG…
Malang, 8 Mei 2012
Ki Dhalang Djoko Rahardjo
dari Padepokan Subag Sarana Pendidikan BAAKPSI UM



Comments are closed.