Istana Wakil Rakyat

Ferril Irham M

Universitas Negeri Malang

Alkisah seorang bijak mengingatkan seorang raja yang sedang membangun istana barunya untuk lebih mengutamakan rakyatnya yang kelaparan. Karena merasa tersinggung, raja itu menggantungnya. Menjelang dieksekusi, orang bijak itu berteriak, “Hai Raja, ketahuilah bahwa istana barumu tidak kaubawa ke liang lahat. Yang kaubawa adalah amal kebaikanmu. Ingatlah, masih banyak rakyatmu yang beratap langit beralas bumi.”

Masyarakat disibukkan oleh berita hangat rencana pembangunan istana DPR yang baru. Suara warga di warung-warung kecil kebanyakan tidak setuju. Masih banyak rakyat kecil yang tidak punya rumah dan kebutuhan mendesak akan jalan yang nyaman.

Adalah suatu hal yang kontraproduktif, ketika wakil rakyat membangun istana megah sementara rakyat masih kesulitan membeli rumah. Harga rumah di Kota Malang dan sekitarnya sudah tidak terjangkau oleh warga kebanyakan.

Kebutuhan akan transportasi seperti jalan yang nyaman merupakan kebutuhan yang mendesak. Seperti yang diketahui oleh umum, pertambahan laju kendaraan begitu pesat. Contoh sederhananya, tiap hari jalan di Kota Malang semakin padat. Bukti kedua, sepeda motor model baru berseliweran di mana-mana hanya seminggu setelah diiklankan. Padahal, jalan di Kota Malang ukurannya tetap. Amat jarang diadakan perluasan jalan. Yang ada hanyalah perbaikan dan perluasan jalan beberapa meter.

Merupakan sebuah keniscayaan, para wakil rakyat yang berhati nurani, untuk lebih mengutamakan membangun jalan daripada membangun istana baru. Sudah saatnya wakil rakyat betul-betul mewakili rakyat. Para wakil rakyat haruslah ingat, jabatan di dunia ini amanah, akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Sang Pencipta. Di liang lahat nanti, yang menjadi pembela adalah amal kebaikan, membangun jalan dan perumahan rakyat, bukan istana baru.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/09/06/istana-wakil-rakyat.html

Post Author: ferril

5 thoughts on “Istana Wakil Rakyat

    Noor Farochi

    (22 Oktober 2010 - 09:21)

    @suroyo

    @Lutfahakim

    Pemilu doeloe, milih yang mana?

    suroyo

    (20 Oktober 2010 - 20:20)

    Aku merasa ngak punya wakil di gedung DPR, hidup rakyat seperti di alam liar, semua serba tak pasti. Apa yang dibicarakan di gedung DPR, hanya sebatas retorika belaka. Yang tak dapat bagian bersuara kencang, yang dah dapat diam…….!

    Lutfahakim

    (14 Oktober 2010 - 22:34)

    wkil rakyat sekarang bukanlah wakil rakyat, mereka adalah wakil perut mereka sendiri-sendiri. . .!

    umar faisol

    (22 September 2010 - 15:38)

    Cak Noors :
    bisa jadi baik buruknya kinerja wakil rakyat itu karena ulah pemilih juga (?)

    Saya setuju pak Noor. Jadi ingat ayat ini:
    وَ مَا أَصبكُمْ مِنْ مصيبة فَبِمَا كسبت أيْدِيْكُمْ و يَعْفُوْا عن كَثِيْر
    “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syuuraa: 30)

    Noor Farochi

    (22 September 2010 - 07:01)

    Gara-gara wakil rakyat yang seperti itulah membuat sebagian warga negara Indonesia tercinta ini lebih memilih Golput. Para wakil rakyat bisa duduk menempati istana itu kan juga karena hasil pilihan rakyat, bisa jadi baik buruknya kinerja wakil rakyat itu karena ulah pemilih juga (?) kenapa memilih mereka. Kita lihat saja, mana yang setuju dan mana yang tidak setuju dengan rencana tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *