MENANG TETAPI KALAH

Kita semua, khususnya penggemar sepakbola di tanah air, tentunya masih ingat final sepakbola Piala AFF antara Kesebelasan Sepakbola Indonesia melawan Kesebelasan Sepakbola Malaysia di Stadion Senayan Jakarta. Apa hasilnya? Menang tetapi kalah.

Pada tulisan ini, saya melihat dari sisi “budaya berfikir” sebagian masyarakat Indonesia, khususnya para orangtua. Coba tanyakan pada anak-anak usia dini, jika kelak besar nanti dia kepingin jadi apa? Sudah dapat ditebak jawabannya, yang keluar dari bibir mungilnya adalah kepingin jadi dokter, insinyur, pilot, tentara, polisi dan lain-lain. Jarang sekali dari anak-anak tersebut yang menjawab “kepingin menjadi pemain sepakbola”. Anak seusia TK tentu belum dapat memahami cita-citanya. Dari mana asal jawaban itu?

Memang cita-cita mereka “tidak salah” tetapi “tidak selalu benar”. Mengapa demikian? Mana mungkin untuk memperoleh pemain sepakbola yang berkualitas diperoleh hanya secara kebetulan. Tentunya melalui suatu proses. Saya tidak memaparkan proses pembibitan pemain sepakbola tetapi dari sisi ucapan para orangtua ketika “mengudang” (bahasa Jawa mengudang: memberi ucapan yang berisi harapan kepada anak-anaknya ketika masih balita) supaya ditambah “jadilah kamu seperti Pele, Maradona, Lionel Missi dll.”.

Agar kita tidak menggantungkan kepada “pemain naturalisasi”, apa tidak sebaiknya para orangtua penggemar sepakbola di Indonesia berdoa seperti ini misalnya: ”Tuhan jadikanlah anak kami sarjana yang memiliki mindset berkecukupan, sehat jasmani-rohani, yang berakhlak mulia, dan memiliki kemampuan sepakbola seperti Irwan Bacdim”. Nah… doa seperti ini mungkin dapat diwujudkan melalui perkuliahan di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas
Negeri Malang.

Malang, 28 Januari 2011
Djoko Rahardjo, Subbag Sarana Pendidikan BAAKPSI UM.

Post Author: Djoko Rahardjo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *