Ajak Anak-Anak Berliterasi, Bangun TBM Jemari Riang

Malang. Bulan puasa memang bulan penuh keberkahan. Segala amal perbuatan akan ditingkatkan pahalanya. Walaupun semalas-malasnya orang berpuasa, tidurnya mereka pun berpahala. Namun masuk puasa ramadan hanya diisi dengan tidur terus sembari menunggu azan magrib? Hal ini rasa-rasanya tidak berlaku di Taman Baca Masyarakat (TBM) Jemari Riang di Kota Batu yang giat berkegiatan. TBM ini adalah hasil pengembangan Septian Adi Kurniawan mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) jurusan Bahasa Indonesia.

Mahasiswa semester dua ini merubah rumah orang tuanya yang berada di lembah Gunung Panderman Dusun Kapru, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu TBM. Sehingga selain kini menjadi perpustakaan masyarakat juga setiap hari Minggu selalu digelar kegiatan-kegiatan seru yang terkait dengan literasi. “Memang setiap hari Minggu kami rutin menggelar kegiatan literasi, namun  khusus untuk anak-anak,” ujar mahasiswa yang S1-nya dulu juga di Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah UM ini.

Tidak hanya kegiatan membaca buku saja, di TBM yang berdiri tahun 2018 ini juga setiap minggu digelar kegiatan seperti menonton film bareng, olahraga hingga berteater bersama pun dilakukan untuk mengisi hari Minggu anak agar lebih bermanfaat. Seperti hari Minggu lalu, Walaupun berpuasa belasan anak-anak Minggu pagi (12/5) lalu tetap semangat mengisi hari mereka dengan kegiatan literasi. “Bulan puasa seperti ini anak-anak malah tambah semangat. Setelah tadarusan pagi di musala mereka langsung datang kemari,” ungkap Adi  pendiri TBM Jemari Riang.

Pria yang biasa disapa Adi ini menerangkan memang ada perbedaan ketika bulan Ramadan terkait dengan tema bacaan kesukaan anak-anak yang berkunjung di TBM-nya. Tema yang paling laris dibaca anak-anak gunung ini adalah tema islami seperti kisah para Nabi hingga kisah perjuangan Walisongo ketika menyiarkan agama islam. “Seperti Adik Farel tadi sepertinya getol membaca buku berjudul Wali Song Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa,” terang pria yang juga sebagai guru Bahasa Indonesia di MAN 1 Kota Malang ini.

Walaupun begitu, yang namanya anak-anak pasti mereka juga bebas membaca bacaan mereka sendiri. Terlebih memilih buku bacaan yang banyak gambarnya adalah kesenangan mereka. Walaupun tidak sedang membaca buku bertemakan islam, namun Minggu pagi itu Sabila lebih suka membaca buku bertema hewan-hewan di dunia yang berjudul Rahasia Jerapah. “Suka dengan gambarnya kak,”: ujar Sabila polos saat ditanya alasannya membaca buku Rahasia Jerapah.

Setelah anak-anak selesai asyik membaca buku, Adi pun menanyangkan film kartun Nussa untuk ditonton bareng-bareng oleh para anak yang mengunjungi TBM-nya. Dengan menonton film tersebut selain bisa meningkatkan daya imajinasi anak juga mampu menambah wawasan dalam memahami setiap hal. “Menurut anak-anak mereka bisa belajar bersyukur setelah menonton film tersebut. Minimal bisa meniru kebaikan tokoh Nussa, terlebih Nussa yang cacat saja bisa semangat membantu orang tua, apalagi mereka yang sehat. Kami harap ini bisa mengispirasi mereka,” terang Adi.

Selain menonton film bersama, untuk meningkatkan daya literasi anak Minggu pagi itu juga diperlihatkan video tentang hafalan Alquran 30 Juz yang ditorehkan bocah berusia sembilan tahun bernama Naja asal Mataram, Nusa Tenggara Barat ini. Kisah Naja yang merupakan Hafiz cilik ini cukup menginspirasi anak-anak TBM Jemari Riang karena walaupun cacat lumpuh otak dan hanya duduk di kursi roda, dia bisa hafal 30 juz beserta halaman dan nama suratnya. “Kami harap kisah Naja ini bisa menginspirasi anak-anak sini juga. Terlebih mereka sebenarnya juga pintar baca Alquran, tapi ya namanya anak-anak kadang ada malasnya,” ungkap pria yang kini juga menempuh kuliah pascasarjana ini.

Karena saking terharunya melihat perjuangan Naja yang cacat namun hafal Aquran ini, terlihat beberapa anak-anak yang menonton video tersebut ikut menangis. Selain menangis haru, mereka juga mengatakan akan bertekad lebih semangat belajar membaca Alquran sambil mereka hafalkan. “Saya ingin seperti Naja yang hafiz Alquran,” ungkap Farel sambil berlinang air mata.

Nama                   : Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa : Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)

 

Post Author: Admin Berkarya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *