Mahasiswa FT UM Kombinasikan Tambak Lobster, Embedded System, dan Internet of Things

Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang (FT UM) yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yakni Prima Syams Fathurrachman, Putri Ayu Anggreini, dan Feri Kurniawan menciptakan sebuah aplikasi untuk mempermudah peternak lobster dalam memantau kualitas perkembangan dan tempat hidup lobster ternakannya. Aplikasi itu dinamai TALOPIN, yang merupakan akronim dari Tambak Lobster Pintar berbasis Embedded System dan Internet of Things. TALOPIN memiliki sistem otomasi yang berupa pengaturan kadar air, suhu, oksigen, pemberi pakan yang dilakukan secara otomatis dan dapat dimonitoring pada aplikasi monitoring TALOPIN yang dapat digunakan oleh peternak lobster.

“Lobster air laut tergolong dalam hasil laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi, termasuk di Indonesia,” ujar Syams, ketua tim. Terbukti, lanjut Syams, dengan tingginya angka ekspor komoditas lobster air laut ke pasar Asia dan Eropa. Peningkatan pasar Lobster di dunia ditunjukkan oleh data statistik perikanan FAO dan Globefish, di mana sejak tahun 1980-an permintaan lobster dari Jepang setiap tahunnya mengalami peningkatan sampai sekarang. “Semakin meningkatnya permintaan pasar tersebut, maka diperlukan kualitas lobster yang baik,” sambungnya.

Di Indonesia, perkembangan budidaya lobster air laut tergolong lambat (Mustafa, 2013:74). Hal ini dikarenakan pembudidaya lobster lebih memilih penangkapan lobster secara masif yang dapat merusak habitat lobster daripada membudidayakannya.

“Terlebih, pada Januari 2015 Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti mengeluarkan peraturan tentang batas ukuran minimum untuk penangkapan lobster dan kepiting yaitu >200 g/ekor selama tahun 2015. Sehingga para nelayan lobster menjadi lebih terbatasi dalam menangkap hewan crustacea ini,” ungkap mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika ini.

Lobster sangat sensitif terhadap perubahan kondisi habitatnya, seperti kandungan pH di dalam air, suhu air, kandungan oksigen, serta kandungan garam (salinitas) dalam air sehingga membutuhkan monitoring yang lebih intensif. Itulah yang membuat petani enggan membudidayakan lobster. “Dengan berbagai permasalahan mengenai lobster khususnya air laut. Maka, kami membuat suatu prototype yang memiliki kemampuan untuk  melakukan otomasi pengelolaan tambak lobster yang dapat dikontrol melalui aplikasi smartphone,” ujar Syams.

Tim ini tidak hanya mengembangan prototype dan aplikasi mobile TALOPIN, tetapi juga akan melakukan sosialisasi kepada pembudidaya lobster khususnya lobster air laut agar lebih mudah dalam mengelola budidaya lobster. “Dengan adanya TALOPIN ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi dari lobster air laut, serta dapat membantu Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan memberikan data statistik perkembangan lobster,” tutup sang ketua tim.

Penulis: Putri Ayu Anggreini

Editor: Arvendo Mahardika

Post Author: Admin Berkarya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *