Nobar Film Gie, Meneladani Perjuangan Mahasiswa 60-an

Malang. Dinginnya Kota Malang akhir-akhir ini tidak menyurutkan mahasiswa Universitas Negeri Malang  (UM) tadi malam (21/8) untuk mencari hiburan. Tak sekedar hiburan, tapi hiburan yang bermanfaat yaitu nonton bareng (Nobar) film yang cukup inspiratif berjudul Gie. Terlebih film karya sutradara berbakat Riri Riza yang diputar di Kafe Pustaka Perpustakaan UM itu cukup bermakna bagi mahasiswa, karena menceritakan lika-liku aktivis kampus dalam pergolakan politik tahun 1960-an.

Kegiatan yang digagas oleh sekelompok mahasiswa UM yang menyebut diri mereka komunitas Mendadak Nobar cukup mampu menghadirkan sosok tokoh Soe Hok Gie dengan semangat-semangat perubahannya. Film yang bersetting masa Orde Lama itupun memperlihatkan pergolakan dan perjuangan mahasiswa dalam menanggapi isu-isu politik disekitarnya saat itu.

Hingga akhirnya Gie yang merupakan aktivis mahasiswa Universitas Indonesia (UI) harus independen di tengah politik yang berkecamuk di Jakarta saat itu. “Mahasiswa yang dikenal sebagai intelektual masyarakat selain harus independen juga harus peduli terhadap sosialnya. Tokoh Gie adalah sosok mahasiswa yang ideal,” ujar Chairul Mustofa salah satu anggota Mendadak Nobar.

Mahasiswa S2 jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia ini mengaku Gie adalah mahasiswa yang kukuh pendirian yang tidak gampang terombang-ambingkan isu politik yang saat itu cukup masif di masyarakat. Terlebih ketika mahasiswa saat itu banyak yang terpengaruh ormas dan lebih menyuarakan golongannya masing-masing. Gie dan kawan-kawannya tetap berjalan lurus memperjuangkan masyarakat tanpa melihat golongan maupun ras manampun. “Intelektual mahasiswa harus hadir di tengah masyarakat bertugas melakukan penyadaran, bukan malah merombang-ambingkan oleh politik praktis dan kepentingan. Itulah Gie,” Tegasnya.

Pungky mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Inggris yang tadi malam hadir nobar pun juga cukup antusias menanggapi film berdurasi 2 jam ini. Terlebih menurutnya film ini cocok untuk ditonton mahasiswa karena sarat akan makna perjuangan atas tugas-tugas intelektualnya. Karena tugas Mahasiswa sendiri tidak hanya mencari ilmu tetapi memiliki tugas moral yang dia emban di tengah-tengah masyarakat. “Setelah menonton film ini saya jadi mengetahui mahasiswa harus peduli terhadap sekitar,” ujarnya.

Dia menambahkan memang setiap masa tantangan mahasiswa di tengah masyarakat berbeda-beda. Seperti di zaman Gie sendiri tantangan terhadap propaganda politik sangat gencar dan masif. Sehingga mahasiswa tidak bisa lepas dari aktivitas politik di zaman itu. Sehingga akan berbeda dengan mahasiswa saat ini yang juga mendapatkan tantangan lain di luar perpolitikan yang terjadi di negara ini. “Cukup seru filmnya, penuh perjuangan. Cocok ditonton mahasiswa,” tegas Pungky.

Nama          : Moh. Fikri Zulfikar

Mahasiswa  : Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM)

Post Author: Admin Berkarya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *